
Mansion yang terlihat masih sama ,dengan pemilik yang sama itu terlihat masih mencengangkan bagi Abel. Walaupun dia pernah tinggal di mansion itu, tapi hanya sebentar dan dia belum sempat berkeliling tempat megah ini.
Abel melihat Keira yang duduk dibelakang, lalu beralih ke sampingnya dan mendapati Acarl yang sedang fokus. Yap, sekarang dalam mobil itu hanya ada mereka bertiga. Acarl ,Keira dan Abel dengan di kemudikan oleh Acarl. Sebenarnya Cheiz sudah melarang Acarl untuk mengemudikan sendiri, bahkan Abel yang sudah menawarkan diri juga ditolak oleh Acarl dengan alasan jika Abel masih dibawah umur.
"Ada apa melihatku?" pertanyaan tiba-tiba dari Acarl yang tentu saja mengagetkan Abel yang sedang menatap Acarl . Abel langsung memalingkan wajahnya kedepan, dan sudah terlihat pintu utama mansion itu.
"Memalukan sekali," batin Abel merutuki dirinya sendiri.
Mobil berhenti tepat didepan pintu utama, dan dengan segera Abel turun untuk membukakan pintu Acarl. Acarl yabg sebenarnya ingin membuka pintunya sendiri, setelah melihat Abel yang tergesa-gesa langsung mengurungkan niatnya seakan tau apa yang akan dilakukan Abel.
Setelah memastikan Acarl sudah berada diluar, Abel segera menutup pintunya dan beralih ke tempat Keira berada. "Kakak cantik, aku bisa sendiri." ujar Keira setelah melihat Abel berada didepannya dengan tangan memegang pintu untuk menahannya.
"Sini kakak gendong, ini tinggi nanti kamu jatuh." jawab Abel lembut. Tanpa protes lagi , Keira merentangkan kedua tangannya seolah menerima ajakan Abel .
Abel tersenyum melihat Keira yang entah kenapa berubah cepat sekali. Yang tadinya menolak untuk dibantu, sekarang malah mau digendong. Abel yang gemas, mencubit hidung mungil milik Keira itu. "Ishh, gemasnya!" ujar Abel seraya jari telunjuk dan tengahnya masih mengapit hidung Keira. Keira tertawa dengan apa yang dilakukan Abel padanya.
Acarl melihat pemandangan yang membuat hatinya menghangat, seolah itu hal yang sangat indah baginya. Entah sejak kapan, Acarl terseyum tipis namun terkesan tulus . Abel yang berusia enam belas tahun, tapi memiliki kasih sayang untuk anak kecil yang bahkan tidak ada ikatan darah dengannya. Dan juga bagaimana bisa seorang Abel yang tidak tersentuh kasih sayang ibu ,tapi memiliki jiwa keibuan itu.
"Tuan, tuan Eron ingin berkunjung di kantor besok," ujar seseorang yang tak lain adalah Cheiz. Sontak itu membuat Acarl terkejut dan langsung menatap tajam kearah Cheiz.
"Habislah kau Cheiz," batin Cheiz .
Acarl kembali memutar kepalanya agar bisa melihat Abel dan Keira. Tapi yang ingin dilihat malah sudah menghilang dari tempatnya tadi. "Kemana mereka?" batin Acarl bertanya.
Seperti mengerti apa yang diinginkan Acarl, Cheiz memberi tau Acarl dimana Abel dan Keira berada. Dan benar saja, Acarl langsung melangkahkan kakinya ditempat Abel berada.
Dalam kamar, ada dua gadis beda generasi itu yang masih tertawa bahagia. Abel yang bersama Keira, melupakan jika Acarl sejak tadi masih berada diluar. Dan tanpa sadar, dia meninggalkan Acarl yang seharusnya berjalan masuk lebih dulu.
Acarl yang berjalan ke kamarnya, berhenti tepat didepan kamar Abel yang masih terbuka. Menampilkan dua gadis beda generasi itu. Perasaan hangat selalu muncul saat melihat keduanya, entah apa yang membuat Acarl yang berhati dingin menjadi sedikit mencair. Acarl mengabaikan perasaannya dan kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
__ADS_1
Sore menjelang malam, terasa begitu cepat. Rasanya seperti hanya hitungan detik dari resort tadi. Kucuran air shower membasahi sekujur tubuh lelaki yang masih bingung dengan perasaannya itu. Sejak kapan perasaan itu muncul? Dan kenapa bisa?
Bahkan bagi seorang Acarl, menemui gadis itu hal yang mudah. Dalam semua perjalanan bisnisnya saja dia sudah sampai muak jika para gadis bahkan tante-tante mendekatinya. Tapi itu terasa tidak berlaku untuk Abel, rasanya ada pengecualian tersendiri untuk itu.
Setelah merasakan dingin dikepalanya, Acarl keluar dari kamar mandi. Senyum terukir, tatkala matanya melihat satu set baju santai tergeletak di kasurnya. Meraih baju itu, dia segera memakainya tanpa memperdulikan apapun lagi.
Tok tok tok.....
Suara ketukan pintu menginterupsi kegiatan Acarl yang sedang mengaca penampilannya. Memperbolehkan orang didepan masuk, memunculkan dua gadis yang menjadi pikirannya sejak tadi.
"Ada apa?" tanya Acarl datar setelah berbalik untuk melihat kedua gadis itu.
Abel menurunkan Keira yang tadi digendongnya dan berjalan mendekat kepada Acarl. Reflek Acarl memundurkan tubuhnya seiring bertambahnya langkahnya Abel . Namun tak berselang lama, Acarl diam tak bergerak lagi. "Apa yang ku lakukan? kenapa aku mundur?" batin Acarl .
Acarl menelan ludahnya sendiri dan merasakan oksigen menipis seiring Abel mendekat padanya. "Apakah anda tidak bisa mandi dengan benar, Tuan?" tanya Abel seraya tangannya mengusap belakang kepala Acarl.
Acarl terkejut dengan apa yang dikatakan Abel, tapi rasa terkejutnya menjadi malu saat tau apa maksud dari ucapan Abel. Tangan dengan busa berwarna putih itu, terlihat memalukan bagi Acarl. Seketika tangannya menyentuh kepalanya dan terasa masih ada sabun dikepala belakangnya.
Dengan segera ,Acarl beranjak menuju kamar mandi . Sedangkan Abel yang masih terlalu polos, tidak memahami sama sekali reaksi yang diberikan Acarl saat dia mendekat tadi.
Diruang makan
Ruang makan yang biasanya terasa sepi, kini berbeda karena adanya Abel dan Keira. Rasanya seperti makan keluarga yang sesungguhnya jika orang yang tidak tahu melihatnya. Abel yang masih berdiri, mengambilkan makanan untuk Acarl dan juga Keira.
"Kakak cantik, aku tidak mau pakai brokoli." ujar Keira yang melihat Abel menyentuh lauk yang berisi brokoli. Abel tersenyum melihat reaksi Keira saat melihat brokoli.
"Kenapa tidak mau? ini sayur sehat tau," jawab Abel seraya membujuk Keira agar mau memakan sayur. Namun gelengan tegas langsung diberikan Keira. Abel mengerucutkan bibirnya , seolah berekspresi kecewa dengan Keira.
"Baiklah, kalau begitu nanti aku akan tidur dikamarku sendiri." ancam Abel yang benar saja langsung membuat Keira dengan sendoknya segera mengambil beberapa brokoli dan dimasukkan kedalam piringnya.
__ADS_1
Keira melirik Acarl takut, tapi Acarl acuh saja. Namun tak lama lirikan Keira berbuah hasil, Acarl juga ikut meliriknya dan langsung mengacungkan jempolnya. Senyum terbit di wajah Keira. Abel yang melihat Keira tiba-tiba tersenyum, langsung bertanya saat itu juga. " Kamu kenapa?" tanya Abel pada Keira. Keira langsung menatap Abel masih dengan senyumnya seraya memikirkan jawaban yang tepat .
"Kakak cantik, kamu satu-satunya orang yang berhasil membujukku memakan brokoli." alibi Keira yang langsung dipercayai Abel. Abel tersenyum dan langsung mengacak rambut Keira gemas. Keira bernapas lega setelah melihat Abel percaya dengan alibinya.
"Bisa mati dicekik kakak bos aku kalau sampai ketahuan,"
.
.
.
.
.
.
Hay semua ❤️
Aku comeback😙
Jangan lupa like, komen dan vote ya 😙
Maklumi aku yang jarang up ya😭
Selain karena sinyal, tapi aku masih sekolah juga😭
Makasih buat yang udah baca 😘
__ADS_1
see you next part:)