
Menatap Eron? Yapp dilakukan oleh Abel. Dengan keberanian yang tersisa , Abel menatap Eron ,walaupun saat menatap dia harus menahan nafasnya agar terlihat stabil.
Menahan tawa melihat Abel yang menatapnya atau lebih tepatnya melotot . Bola mata yang bulat itu seakan ingin keluar sekarang juga. Dan jangan lupa dengan tubuh kecilnya yang terlihat membeku karena menahan nafas. Merasa sudah cukup menggoda Abel, Eronpun mengangguk dengan terpaksa sambil mengelus lembut pucuk kepala Abel saking gemasnya.
Acara makan pun berjalan lancar tanpa ada pembicaraan. Acaranya sih lancar, namun kecanggungan bertebaran kemana-mana. Acarl yang memang irit bicara jika tidak ada hal penting yang harus dibicarakan, Eron yang sebenarnya kesal namun tak bisa menolak permintaan Abel untuk makan bersama Acarl dan Clara, Clara yang memang tidak dekat dengan semua yang ada disini dan Abel yang berada ditengah-tengah masalah. Masalah dengan Acarl dan juga masalah dengan Clara, juga masalah dari dirinya yang sebenarnya ingin mentraktir Eron karena telah menyelamatkan hidupnya.
Tepat saat semua makanan habis, Eron yang memang menahan diri dari tadi pun akhirnya berdiri dan langsung menarik lengan Abel . Beruntung Abel sudah selesai makan .
Melihat hal itu, Acarl hanya menatap kedua manusia yang bergegas pergi itu pun dengan smirk yang orang lain tidak tau apa artinya.
"Kak, Apa kau kenal dengan Abel?" tanya Clara pelan karena takut menyinggung perasaan Acarl.
Mendengar pertanyaan dari Clara membuat Acarl ingat akan tujuannya mengajak Clara ke restauran ini selain mengikuti Abel dan Eron. "Apa kau pikir aku akan melupakan tujuan kita kemari?" ujar Acarl mengabaikan pertanyaan Clara tadi.
Clara yang mendengar langsung menelan salivanya dengan susah payah."Habislah aku!!"tangis Clara dalam hati.
"Kau tau apa akibat dari hal bodoh yang kau lakukan?" tanya Acarl to the poin
Menundukkan kepalanya, Clara mencoba mencari jawaban yang tepat untuk menjawab Acarl. Seakan buntu untuk mencari elakan, Clara hanya mampu mengangguk tanpa menatap Acarl.
"Apa kau ingin konsekuensi dariku atau kau bersumpah ?" tanya Acarl lagi dengan nada sedikit lembut dibandingkan dengan tadi.
"Tidak!! Aku.. aku sangat menyesal kak," Tolak Clara dengan cepat. Clara tau jika semua pilihan yang diberikan Acarl akan merugikan baginya.
"Tidak?? " tanya Acarl tak terima dengan penolakan Clara.
Mendapat pertanyaan dari Acarl membuat Clara bergidik ngeri. Jika dipikir-pikir Acarl bertanya dengan suara yang lembut, namun dengan nada yang menyeramkan.
Dengan menundukkan kepalanya, Clara hanya diam meratapi kebodohannya. Biasanya dia akan menang saat melawan, namun entah kenapa dengan Abel dia kalah. Gadis yang satu tahun lebih muda darinya itu bahkan membuatnya malu , bukan hanya dia namun juga keluarganya.
"Arghhh sial! Kenapa jadi begini!?" umpat Clara dalam hati.
Tidak mendapat jawaban dari Clara, membuat Acarl berdiri dari duduknya. Mendengar suara deritan kursi yang bergeser membuat Clara menatap Acarl. "Jangan harap kau bisa lepas dari ini. Perbaiki kesalahanmu !" perintah Acarl yang kemudian berlalu meninggalkan Clara yang masih diam ditempat.
.
.
.
__ADS_1
.
.
Sementara itu, dua manusia yang tadi mendahului pergi pun masuk kedalam mobil milik Eron. Abel yang dipaksa masuk hanya diam saja. Melihat dari ekspresi wajah Eron, Abel tau jika Eron saat ini sedang dalam mood yang sangat buruk. Dengan begitu dia hanya diam saja.
Eron yang merasakan keterdiaman Abel merasa sesak. Ingin rasanya dia memulai pembicaraan, namun lidahnya seakan kelu untuk berbicara.
Tanpa tujuan, Eron mengendarai mobilnya dengan lambat seakan untuk mengulur waktu bersama Abel. Yapp, Eron tertarik dengan Abel namun untuk menyukai mungkin belum.
"Kamu.." ucap mereka yang berada didalam mobil secara bersamaan.
Abel memberi isyarat pada Eron jika Eron bisa memulai dulu. "Kamu mau pergi kemana? Aku bertanya untuk mengganti rugi waktu yang seharusnya kita habiskan bersama tadi." ujar Eron
"Sebenarnya aku juga ingin bertanya padamu kemana kamu akan membawaku. Tapi sepertinya kita sepemikiran," jawab Abel sambil tersenyum manis pada Eron.
"Jangan menatapku begitu! kamu membuatku sakit jantung." ujar Eron dengan datar.
"Pfftt... Hahahaha," tawa Abel pecah saat mendengar ucapan Eron yang tak masuk akal .
Eron yang mendengar tawa menggelegar dari Abel , langsung merutuki kebodohannya yang tidak bisa menjaga mulut saat berbicara. Dengan wajah menahan malu, Eron menatap Abel dengan mata elangnya .
Mendapat ancaman dari Eron tak membuat Abel berhenti tertawa. Wajah Eron yang menahan malu malah membuat Abel tertawa semakin kencang.
Ckittttttttt....
Suara ban mobil yang mengerem mendadak pun terdengar nyaring ditelinga Abel. Membuat yang tadinya tertawa kencang menjadi diam seketika, Abel menatap tajam kearah Eron yang juga menatapnya tajam.
"Dia bilang ingin membuangku, tapi ini ingin membunuh ku! Dasar lelaki tak pernah sama apa yang dibilang!" umpat Abel dalam hati.
"Apa kamu tau jika kamu tertawa itu membuat jantungku copot? " umpat Eron dalam hati.
Masih dalam posisi saling menatap, Eron yang tadinya berhenti mendadak tak sadar jika mereka masih dalam jalan raya. Beruntung saat tadi mengerem ,kondisi jalan seperti tak ada penghuninya. Namun ....
Tiiinnnnnnn..........
Suara klakson dibelakang mobil membuat Abel dan Eron bersamaan melihat kebelakang. Dan terlihat banyak mobil terjejer rapi dibelakang mereka.
Mengakhiri aksi tatap menatap, Eronpun yang masih dalam mode kesal pun melajukan mobilnya dengan kencang tanpa memperdulikan seorang gadis disampingnya yang mencengkeram rok sekolah nya untuk menghilangkan rasa takutnya.
__ADS_1
--------------------
Seakan hilang dari dunia, mobil Eron yang tadi berhenti tepat didepan rumah Abel kini melaju dengan kencangnya setelah memastikan Abel keluar dari dalam mobil.
"Dasar baperan, anak-anak." umpat Abel pada Eron yang sudah hilang dari pandangannya.
Memasuki rumahnya, Abel langsung disapa seseorang yang dia sayangi di keluarga ini. Siapa lagi jika bukan ayahnya. Seorang yang kini tak terlihat gagah lagi itu duduk di ruang keluarga sambil membaca koran dengan pandangan yang tegas.
Abel yang melihat ayahnya itupun segera menghampiri ayahnya. Berjalan mendekat, lalu memeluk leher ayahnya dari belakang. Abel memang akan menunjukkan sifat anak kecilnya hanya pada ayahnya seorang, bukan apa . Tapi di dunia yang keras ini, Abel tidak ingin jika terlihat lemah dan tak berdaya . Seperi halnya kejadian kemarin, Abel yang meghadapi Clara dengan beraninya walaupun sebenarnya dalam dirinya dia setengah takut untuk menghadapi sendiri.
"Ada apa?" pertanyaan dengan nada lembut itu menyapa pendengaran Abel ,membuat Abel tersenyum .
"Aku kangen sama ayah," jawan Abel jujur, ya dia sangat rindu akan kehadiran ayahnya yang membuat harinya berwarna.
"Maaf, ada banyak pekerjaan yang harus ayah kerjakan sebelum menyerahkan semua perusahaan pada kakakmu." jawab ayah Abel sambil mengelus lembut kepala Abel.
Ya ,Abel memang memiliki kakak laki-laki yang sekarang berada di Kanada untuk mengurus cabang perusahaan disana. Seperti kakak laki-laki biasanya, jika Abel dan kakaknya bertemu pasti akan ada adegan berantem ala mereka. Kakaknya yang jail dan Abel yang merasa tak mau kalah.
back to topic, "Iya ayah aku paham," jawab Abel. Namun tak lama, kata-kata ayahnya sekarang menyerang pikiran Abel. Pekerjaan ayahnya yang banyak itu bisa dipastikan jika itu karenanya. Argghhh ....... kenapa dia bisa lupa!
Setelah memantapkan hatinya, Abel akan mengungkapkan pada Ayahnya jika dia harus bertanggungjawab. "Ayah... ada yang ingin aku bicarakan dengan ayah." ucap Abel sedikit takut.
"Katakan saja, ayah pasti mendengar," jawab ayahnya dengan lembut
"Ayah a-aku....."
Aku kembali up❤️
Maaf kalo aku baru up🙁
Masuk sekolah bikin tugas banyak😭
eh, malah curhat 😳
Intinya makasih buat yang udah baca😘
Jangan lupa like,komen dan vote ya👍
see you next part:)
__ADS_1