
Ditempat yang sama, namun dengan atmosfer yang berbeda. Abel dengan rasa bahagianya, sedangkan Acarl dengan rasa kesal, bosan, dan malasnya . Semenjak Keira datang, Acarl merasa menjadi orang lain disini. Bahkan Acarl yang sejak tadi ada didekat Abel dan Keira, tidak kelihatan bagi mereka.
Acarl hanya mampu melihat Abel dan Keira yang sedang asik bermain ditepi pantai. Ingin rasanya dia menarik Abel saat ini juga, bagaimanapun Abel itu adalah asisten pribadinya. Entah ancaman Keira atau hati Acarl yang sudah sedikit meleleh, membuatnya tidak mampu melawan Keira. Akhirnya dia mengizinkan Keira untuk membawa Abel.
Malam sudah semakin pekat, tapi dua gadis berbeda umur itu masih asik berjalan kecil menyusuri pantai. Memang benar di resort Acarl walaupun malam ,cahaya masih terang karena lampu disetiap sudut itu. Tapi tetap saja suasana malam terasa pekat saat ini.
"Keira, ayolah kita kembali! Nanti kalau ibumu mencari bagaimana?" ajak Abel pada Keira agar gadis kecil itu mau kembali ke resort. Namun entah kenapa, Abel menangkap wajah sendu dari Keira seakan ajakannya tadi sangat membebani gadis kecil itu.
"Aku tidak mau kembali ,Kak." lirih Keira sambil menggenggam tangan Abel dengan erat, seakan tak ingin berpisah walau hanya sebentar saja. Tangan kecil Keira yang hanya mampu menggenggam tangan kiri Abel, membuat tangan kanan Abel bisa ikut menggenggam tangan Keira yang berada diatas tangan kanannya.
"Lalu? apa kamu mau jika aku disebut penculikan anak?" tanya Abel yang sebenarnya hanya ingin menggoda Keira saja. Niatnya untuk menghibur Keira malah membuat wajah gadis kecil itu tambah murung dengan tatapan mengarah kebawah terus.
Abel yang melihat ekspresi Keira yang murung, tak mampu untuk menahan rasa penasarannya sejak tadi. Akhirnya dengan keberanian yang dia punya, Abel mencoba bertanya dengan pelan pada Keira. "Memangnya kenapa kamu tidak mau kembali, hem?" tanya Abel dengan senyumnya .
Pertanyaan yang berhasil lolos dari bibir Abel, mampu membuat Keira yang tadi menatap kosong pasir dibawahnya menjadi menoleh pada Abel. Tatapan sendu itu masih kentara, tapi dengan sekuat tenaga Abel pastikan dia tetap tersenyum. "Aku tidak suka pada mama, Kak. Dia tidak peduli padaku, dan bahkan aku kesini saja dia tidak akan tau atau lebih tepatnya dia tidak mau tau." jawab Keira lirih namun mampu membuat dada Abel seketika sesak seperti ada yang menusuk disana.
"Kenapa? bagaimana bisa dia tidak peduli dengan gadis manis sepertimu?" tanya Abel dengan sedikit mencubit hidung Keira yang memang sudah mancung itu.
"Kakak, apa aku anak yang menyebalkan ya? mama selalu berteriak kalau aku ini anak nakal." ujar Keira seraya melepaskan genggamannya pada Abel tadi.
Abel yang dari tadi berdiri, kini memilih untuk berjongkok agar menyamai tinggi Keira. Tidak tega rasanya Abel mendengar apa yang dikatakan Keira dari tadi. Anak sekecil Keira harusnya berbahagia , tapi ini wajah murung yang sangat kentara.
Walaupun cara bicara gadis kecil itu masih terbata-bata, tapi sudah terdengar jelas ditelinga Abel. Bahkan sampai kesedihannya terdengar sempurna. Abel yang sudah tidak tahan, akhirnya pecah juga bendungan yang dari tadi dia tahan. Dalam tangisnya, Abel memeluk Keira dengan lembut. Dari semua yang dikatakan Keira itu, membuat Abel teringat akan dirinya sendiri.
"Kau sama sepertiku, Keira." batin Abel menangis.
Keira yang merasakan bahu bergetar Abel, menjadi ikut menangis. Bukan Abel ingin membuat Keira menangis, tapi dia sudah tidak tahan untuk mendengar lebih dalam semua keluhan yang Keira rasakan. Rasanya berat, bahkan dia juga mengalaminya sendiri.
"Hei, bagaimana kalau kamu ikut aku semalam saja?" tawar Abel pada Keira, agar gadis itu diam. Akhirnya ,Keira melepaskan pelukannya dan menatap Abel dalam dengan nafas tersengal-sengal karena menangis.
"Apa hiks boleh kak? Bagaimana dengan hiks orang yang disana?" tanya Keira dengan raut muka berharap , lalu beralih menunjuk Acarl yang berdiri tak jauh dari mereka berada. Abel mengikuti arah tangan Keira, dan mendapati Acarl yang berdiri seraya melipat tangannya didada.
Abel kembali menatap Keira, dengan senyumnya dan arah matanya Abel seperti meminta izin untuk bertanya pada Acarl terlebih dahulu. Mengerti maksud Abel, Keira pun mengangguk . Abel berjalan mendekat ke tempat Acarl berdiri.
"Tuan, apa boleh saya..."
"Tidak," jawab Acarl singkat namun langsung membuat Abel bergidik ngeri. Bahkan Abel belum menyelesaikan kalimatnya tadi, tapi jawaban Acarl mampu menjawab pertanyaan yang ingin Abel tanyakan.
"Tuan, saya mohon?" ujar Abel dengan wajah dibuat semelas mungkin dengan tatapan puppy eyes nya, namun lagi-lagi usahanya gagal. Gelengan Acarl kembali terjadi walau sudah dibujuk apapun.
"Kakak bos, izinkan aku semalam saja dengan kakak cantik. Dia sangat menemaniku , kata kakak cantik juga besok sore kalian pulang kan?" ujar anak kecil yang tak lain adalah Keira yang entah kapan sudah berada didekat Abel.
__ADS_1
Acarl menatap Keira dengan menundukkan kepalanya. Melihat wajah sendu gadis kecil itu, membuat Acarl sedikit tergoyah hatinya yang beku itu. Wajah datar dan sombong milik Acarl sedikit mencair karena melihat sudut bibirnya yang merosot dibibir mungil Keira .
Acarl mengendurkan tangannya yang dilipat, lalu berjongkok menyamai tingginya dengan Keira. Melihat lebih dalam gadis kecil itu, tiba-tiba Acarl mengangguk. Abel yang melihat anggukan kecil dari Acarl ,menatap bingung dengan arti anggukan itu.
"Kakak bos hiks aku ingin kakak cantik, izinkan ya?" lirih Keira setelah melihat anggukan Acarl. Acarl menengadahkan kepalanya menatap Abel yang berdiri.
"Antar gadis ini ke kamarnya!" ujar Acarl pada Abel. Abel dengan perasaan tidak tega, tapi apa yang bisa dia lakukan jika ini perintah Acarl sendiri. Akhirnya dia mengangguk saja.
"HUAAAAAAA KAKAK BOS JAHAT!" pekik Keira yang bertambah menangis dengan kencang. Acarl gelagapan melihat gadis didepannya menangis sampai membuat telinganya sakit, dengan menahan suara melengking itu, Acarl memegang bahu Keira.
"Hei! dengarkan aku!" ujar Acarl pada Keira. Walaupun menangis dengan kencang, tapi Keira masih bisa mendengar jika Acarl berbicara padanya. Keirapun membuka matanya melihat Acarl yang juga melihatnya .
"Hiks Kakak bos hiks Jahat! Sama seperti mama!" lirih Keira yang sudah terlampau kesal pada Acarl.
"Hei dengarkan dulu! Aku menyuruh dia mengantarmu kekamar untuk meminta izin mama mu! Aku tidak mau disebut penculik!" ujar Acarl yang juga kesal . Keira menatap Acarl tak percaya, ternyata lelaki didepannya baik tidak seperti yang dia bayangkan.
"A-apa benar, Kak?" tanya Keira memastikan. Anggukan dari Acarl mampu membuat Keira langsung senang dan melompat memeluk leher Acarl. Semua itu tak luput dari pandangan Abel yang merasakan rasa bahagia juga atas kebaikan Acarl.
Sama seperti yang Keira rasakan, Abel juga merasakan bahagia saat bersama Acarl. Acarl yang membawakan atas nama tanggungjawab, tapi Acarl juga yang sudah mengajari Abel akan dunia luar yang sebenarnya. Itu membuat Abel merasa jika dia hidup kembali.
"Covermu sungguh berbeda dengan hatimu,Tuan." batin Abel berbahagia.
...----------------...
Tok tok tok......
Belum ada sahutan dari dalam kamar. Abel tau jika di jam ini orang sedang tidur, bagaimana tidak? saat ini itu sudah jam sebelas malam. Tak lama suara derap langkah terdengar mendekat kearah pintu dan...
"Ya?" sapa seorang wanita yang sedang menggunakan kimono berwarna hitam itu, yang sudah diduga Abel adalah mamanya Keira.
"Ah itu, Keira ..."
"Astaga Keira! Apa kamu berbuat masalah? Dasar anak nakal!" maki mama Keira sambil melihat Keira yang bersembunyi dibelakang Abel. Abel yang mendengar makian itu , merutuki kebodohan wanita didepannya.
"Tidak nyonya, Keira tidak membuat masalah. " ujar Abel segera menenangkan suasana, karena cengkraman tangan di kakinya menandakan gadis yang bersembunyi dibelakangnya sedang ketakutan.
"Aa iya maaf, saya hanya khawatir dengan Keira. Oh iya, terimakasih sudah mengantarkan Keira ya," jawab wanita didepannya dengan senyum canggungnya. Entah kenapa Abel merasa muak melihat wanita didepannya. Dengan dugaannya, Abel berpikir jika pasti wanita didepannya ini sedang melakukan ritual malamnya setelah melihat beberapa tanda dileher wanita didepannya ini.
"Tidak , tidak apa. Bahkan saya kesini mau meminta izin membawa Keira untuk menginap dikamar saya malam ini." ujar Abel dengan senyumnya. Tampak wanita didepannya ini berbinar, seperti bahagia jika tidak ada Keira.
"Oh benarkah? kalau begitu bawa saja. Ah iya namaku Vera, siapa namamu?" basa basi Vera pada Abel yang langsung mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Abel. Dengan sedikit tidak rela jika tangannya kotor, Abel menjabat tangan Vera dan tersenyum.
__ADS_1
"Saya Abel." jawab Abel.
"Kamu darimana?" tanya Vera seraya melepaskan uluran tangannya tadi dengan pelan. Begitu juga dengan Abel, bahkan Abel tidak mendekatkan tangannya pada baju ataupun celana yang dipakainya. Terlalu kotor, batin Abel.
"Saya dari pantai tadi dengan Keira." jawab Abel.
"Bukan itu maksud saya. Maksud saya kamu berasal darimana?" tanya Vera membenarkan pertanyaan tadi. Sedangkan Abel menggerutu dalam hati karena kesal dengan basa basi Vera sejak tadi.
"Haha ah iya maafkan saya. Saya dari kota N sebelah barat." jawab Abel. Tatapan berbinar kembali terlihat diwajah Vera.
"Kalau begitu apakah saya boleh menitip Keira padamu? Kebetulan saya juga berasal dari kota N , jadi sekitar seminggu nanti aku akan jemput Keira . Oh iya kapan kamu pulang?" ujar Vera yang membuat Abel melongo, bahkan pertanyaan Vera diakhir kalimat seperti tak terdengar dengan jelas. Namun dengan cepat Abel sadar dari bingungnya.
"Hah oh itu besok saya keluarnya," jawab Abel.
"Baiklah kalau begitu, aku mohon ya kamu jaga Keira sebentar saja ." mohon Vera dengan wajah memelasnya. Bukan Abel kasian pada Vera, melainkan dia kasian pada Keira jika membiarkan gadis kecil ini tinggal dengan mamanya yang sudah dipastikan Abel jika dia tidak benar.
"Baiklah, lagipula Keira anak yang manis." jawab Abel sambil memikirkan cara nanti menjelaskan pada Acarl mengenai keputusan yang mendadak tanpa izin darinya ini.
"Oke oke terimakasih, sekarang aku akan ambilkan barang Keira." ujar Vera yang lalu berbalik menuju kamarnya meninggalkan Keira dan Abel yang berdiri didepan pintu itu.
"Ya Tuhan, semoga saja Tuan Acarl memahami maksudku,"
.
.
.
.
.
.
.
Aku comeback ❤️
Makasih buat semua yang udah support 🥳
Jangan lupa like, komen dan vote ya 😙
__ADS_1
Dukung juga😁
See you next part:)