
Acarl yang sudah selesai melayani tamu tidak pentingnya itu, kemudian meninggalkan ruang tamu dan berjalan menuju kamarnya. Saat melewati pintu kamar Abel, ada rasa kesal dalam dirinya saat mengingat kejadian tadi yang tertunda atau bahkan tidak terlaksana itu karena datangnya orang tidak penting itu.
Acarl melanjutkan langkahnya dan membuka pintu kamarnya. Namun saat membuka pintu kamarnya, pintu kamar yang sempat membuat rasa kesalnya meledak itu terbuka dan menampilkan seorang gadis yang ada dipikirannya tadi sampai sekarang.
"Tuan," sapa Abel sopan pada Acarl.
Acarl melihat Abel yang menyapanya tapi wajahnya menghadap ke lain itu. Seketika dirinya tertawa kecil sampai terdengar ditelinga Abel. Bukan maksud Acarl menertawakan Abel, hanya saja tingkah Abel yang menggemaskan membuat Acarl tidak bisa mengendalikan dirinya untuk menahan tawa.
"Bisakah kamu melihatku? Aku tidak ada disebelahmu," ujar Acarl memperingati Abel. Abel dengan ragu-ragu menggerakan kepalanya agar melihat Acarl yang berdiri tepat didepannya itu.
"Hey, wajahku diatas bukan dibawah." ujar Acarl lagi saat melihat Abel yang memang sudah memutar kepalanya agar menghadapnya, tapi hanya kepala bukan matanya. Dengan pelan-pelan , Abel mendongakkan kepalanya dan menyipitkan matanya menghindari tatapan langsung dengan Acarl.
Acarl yang gemas, mengulurkan tangannya dan meraih kepala Abel. Dengan dibantu kedua jari telunjuk dan jempolnya, Acarl membuka mata Abel agar terbuka sempurna. Walau Abel masih enggan membukanya, tapi menghindari rasa sakit akhirnya Abel membuka matanya saat Acarl menggerakkan jarinya itu.
"Sudah kuduga," ujar Acarl seraya tersenyum saat mata Abel sudah terbuka sempurna. Dengan pelan, Acarl melepaskan jarinya lalu menundukkan badannya agar kepalanya setara dengan wajah Abel.
"Brownis," ujar Acarl pelan namun masih bisa didengar Abel. Mendengar itu, Abel mengerjapkan matanya dan tanpa sengaja memundurkan langkahnya . Tapi dengan kecerobohan yang ada dalam diri Abel, membuat dirinya kehilangan keseimbangan dan...
Syuutttttt.....
Tangan kekar dari orang didepannya itu ,terulur dengan cepat menangkap Abel. Tidak seperti di film-film, Abel segera berdiri sebelum dirinya khilaf memandang mata Acarl yang selalu menghipnotisnya itu.
"Hati-hatilah!" ujar Acarl seraya menarik tangannya dari tubuh Abel.
"Anda tadi berkata brownis, a-apa anda ma-mau brownis?" tanya Abel mengalihkan rasa gugupnya karena kejadian demi kejadian yang terjadi padanya ini.
Acarl tersenyum mendengar pertanyaan Abel. Dengan segera, dia meggelengkan kepalanya pelan yang membuat Abel mengerutkan dahinya.
"Kalau bukan meminta brownis, lalu apa?" batin Abel.
__ADS_1
Acarl mendekatkan wajahnya lagi seraya menatap mata Abel seperti tadi. "Matamu seperti brownis, sangat manis dan coklat." ujar Acarl membuat semu merah dipipi Abel menjalar sampai keseluruh wajahnya.
"Tu-tuan, ki-kita kan berte-teman." Abel terbata-bata mengatakannya. Saking dekatnya wajah Acarl, membuat segelintir ingatan di ruang makan tadi mengalir lagi dibenak Abel. Begitu juga dengan Acarl, mengabaikan ucapan Abel yang memperingatinya Acarl lebih memilih memajukan lagi wajahnya sampai dahi keduanya menyatu membuat kaki Abel lemas . Dengan sigap, Acarl meraih pinggang itu menahan agar tidak terjatuh. Namun dengan tatapan yang masih terpaut, membuat keduanya terdiam .
Seperti mendapat izin dari Abel yang diam, Acarl menghilangkan rasa ragunya dan lebih lagi memajukan wajahnya yang tadi hanya dahi yang menyatu, dan sekarang hidungnya juga sudah bertarung dengan indahnya.
"Maaf Tuan, tapi Tuan Acarl sudah ada dikamarnya sekarang."
"Huh, ada yang penting sekarang."
Suara gaduh didepan membuat kegiatan Abel dan Acarl menjadi kacau lagi. Dan sekarang Acarl sudah yakin jika dirinya dikutuk tidak bisa berdua dengan Abel. Masih dalam posisinya, Acarl dengan cepat mengecup pucuk kepala Abel sebelum melepaskan tubuh kecil itu dari rengkuhannya.
Abel yang sama terkejutnya karena suara gaduh didepan, tambah terkejut dengan Acarl yang memberi pucuk kepalanya rasa hangat yang entah sejak kapan menjadi salah satu hal yang disukainya itu.
Acarl yang sudah muak dengan keadaan, menjadi tidak mood dan pergi meninggalkan Abel yang masih mematung didepan pintu kamarnya itu. Sedangkan Acarl membawa mood buruknya melangkah menghampiri keributan diluar itu. Sesampainya diluar, Acarl langsung disapa Eron yang masih berdebat dengan Cheiz yang mencoba menghentikan Eron yang mau mengotot ingin bertemu Acarl itu.
"Ada apa malam begini kau kesini?" tanya Acarl dengan nada kesalnya karena mood nya yang buruk, sangat sangat buruk.
"Hey hey, aku tau kau tak pernah berkata manis padaku. Tapi apa ini? Acarl menggunakan nada berbeda lagi?" sindir Eron yang hanya bergurau namun masih membuat raut wajah Acarl tidak berubah dari tadi .
"Baiklah baiklah, aku kesini untuk mengantarkan dokumen penting untukmu. Pihak ENS company ingin bekerja sama dengan XLN company. Karna kau berhasil merebut sepenuhnya XLN company, maka aku dengan senang hati menawarkan kerja sama secara damaiii, " ujar Eron lagi dengan tangan yang terentang menggambarkan betapa indahnya apa yang dia ucapkan.
"Cheiz, terima!" perintah Acarl pada Cheiz. Cheiz dengan segera mengambil dokumen itu sesuai perintah Acarl. Raut wajah Acarl tentu saja tidak berubah sama sekali, walaupun dia menerima kerja sama dengan perusahan yang berpengaruh besar itu.
Eron bertanya pada Cheiz yang mengambil dokumen darinya, tapi hanya dengan isyarat dagu saja dia bertanyanya. Cheiz yang paham arti dagu Eron, memilih mengangkat kedua bahunya tanda dia tidak tau dengan apa yang terjadi.
"Dimana Abel?" pertanyaan yang berhasil lolos dari mulut lemes Eron. Dengan pertanyaan itu, mampu membuat Acarl langsung melayangkan tatapan tajam pada Eron. Eron menelan ludahnya susah karena tatapan Acarl yang menusuk itu.
Acarl yang saking kesalnya ,memutar tubuhnya dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya lagi tanpa pamit pada Eron maupun Cheiz. Barulah sekarang Eron mampu bernapas lega setelah kepergian Acarl dari hadapannya. Eron menatap kepergian Acarl dengan rasa yang aneh, seperti bingung namun lebih ke kesal karena Acarl yang dingin tambah dingin hari ini.
__ADS_1
"Huh, bahkan tidak ada sambutan untukku yang datang dari negara jauh ini." batin Eron kesal.
Eron menghela napasnya lalu dengan yakin dia pamit pada Cheiz yang menatap sendu pada Eron yang mendapat perlakuam seperti itu. Tapi Cheiz yakin jika Eron yang membuat Tuannya itu marah, karena terlihat dari tatapannya pada Eron tadi.
__--__
Acarl yang mau masuk kekamarnya, berhenti ditengah jalan atau lebih tepatnya didepan pintu kamar Abel. Ingatan tadi muncul lagi dan membuatnya kesal lagi. "Hampir saja," batin Acarl.
Meratapi nasibnya yang buruk hari ini, Acarl memutar kenop pintu kamarnya dan masuk untuk melampiaskan rasa kesalnya pada tidur yang indah nanti. Juga Acarl berharap akan bertemu dan menuntaskan kegiatan tadi dengan Abel walau hanya dalam mimpi.
.
.
.
.
.
Hay semua ❤️
Aku comeback 😅
Jangan lupa like, komen dan vote ya😙
Dukung juga boleh 😁
See you next part:)
__ADS_1