
Makanan yang dipesankan Noara sudah datang, juga minuman yang sama sekali tidak ada campur tangan Abel. Abel mengamati setiap gerak gerik pelayan yang mengantarkan makanan mereka, tapi dilihatnya tidak ada yang mencurigakan dari tingkah pelayan itu.
Abel beralih mengamati makanan yang tersaji, tidak lupa dengan minuman yang sekarang berada di tangannya. Abel bukan menaruh curiga berlebih, tapi rasa waspadanya agar dirinya aman dan tidak merepotkan orang-orang kalau terjadi sesuatu padanya.
"Apa kamu pikir aku akan memberi sianida di minumanmu?" tanya Noara yang sejal tadi juga mengamati Abel. Abel tentu saja terkejut dengan pertanyaan Noara yang sangat benar.
"Aku tidak menaruh curiga padamu, hanya saja ada beberapa makanan atau minuman yang tidak bisa kumakan." bohong. Untuk kali ini, tolong izinkan Abel berbohong. Abel sudah tidak punya jawaban yang tepat, karena sudah ketahuan.
Noara menatap Abel dengan tatapan bertanya, tentu saja itu membuat Abel sedikit gelagapan. "Ah iya, ada apa kamu mengajak aku kesini?" tanya Abel dengan cepat untuk mengalihkan topik. Ingat ya! kalau sosialisasi Abel itu 0%.
Noara tersenyum sembari mendaratkan tangannya dipunggung tangan Abel yang berada diatas meja. "Tidak ada maksud apa-apa. Hanya saja, aku ingin lebih akrab dengan pasangan Carl. Aku dan Carl sudah lama berteman, jadi sulit juga bagiku menerima kalau Carl memiliki kekasih tanpa sepengetahuan ku." jawab Noara.
Abel hanya menanggapinya dengan senyuman. Dengan mengambil minumnya, Abel mencoba menikmati situasi ini. Yang pasti dengan kewaspadaan penuh juga! Noara yang melihat Abel minum dengan tenang, mengeluarkan smirknya. Dan tiba-tiba....
Prangg.....
"Aaww!!" pekik Noara
Abel yang terkejut, langsung menoleh dan mendapati cangkir milik Noara sudah tergeletak pecah dilantai. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Abel yang melihat Noara mengibas-kibaskan tangannya.
"Aaww!! Cangkir itu panas sekali. Tanganku tidak sengaja terkena percikan airnya. " ujar Noara sembari meniup-niup kecil tangannya yang memerah.
Abel dengan rasa sepenuh hati, berusaha membantu mengembalikan suasana yang buruk tadi agar tidak bertambah buruk. Menggeser sedikit tubuhnya, Abel mencoba meraih pecahan-pecahan cangkir agar tidak mengenai seseorang nantinya. "Aduh Abel, kenapa kamu harus membersihkannya? Suruh saja pelayan kemari." ujar Noara yang melihat Abel mengambil beberapa pecahan cangkir itu.
"Tidak apa, daripada menunggu pelayan lebih baik sekarang aku bersihkan dulu. Kalau nanti ada yang terluka, itu malah lebih bahaya." jawab Abel sembari masih fokus mengambil pecahan cangkir itu.
"Sini aku bantu,"
Cresss....
Tetesan darah, menetes berulang kali. Lantai yang tadinya dipenuhi pecahan cangkir, kini sudah bertambah dengan tetesan darah yang masih mengalir dengan cepatnya.
__ADS_1
"ASTAGA! ABEL KAMU BERDARAH!!"
Yap, Abel lah yang mendapat luka itu. Kini telapak tangannya tergores pecahan cangkir yang entah darimana bisa mengenainya. Padahal pecahan besar-besar sudah ia ambil dari awal, tapi sekarang dia terluka karena itu?
"Apa ini rencananya dari awal?" batin Abel melirik Noara yang terlihat panik.
"Jangan khawatir, hanya luka kecil." ujar Abel yang kini mulai menekan tombol untuk memanggil pelayan restoran ini.
Pelayan akhirnya datang dan langsung mengambil alih pecahan cangkir. Sedangkan Abel memilih permisi untuk ke kamar mandi, mengurus lukanya yang kini baru terasa nyeri.
Melihat kepergian Abel, senyum manis tercetak jelas di wajah gadis yang tak lain adalah Noara. "Kamu tau? Itu hanyalah permulaan sayang. Permainan sesungguhnya pasti akan menemuimu." gumam Noara dengan senyum yang tak lepas darinya.
Melihat Abel terluka seperti tadi, perasaan bahagia langsung muncul saat itu juga. Hanya berbekal pecahan cangkir yang sempat ia sembunyikan tadi, ia bisa melukai Abel dengan aktingnya. Hah, rasanya berjalan dengan rencana yang sudah Noara buat.
Abel yang berada di toilet, dengan segera membasuh tangannya yang terluka. Merasakan perihnya, Abel teringat akan Acarl yang pernah mengobatinya saat tangannya terbakar dulu. Tapi sekarang Acarl tidak ada untuk membantunya seperti dulu. "Jika kamu ada disini, aku yakin bakal ada helikopter mendarat sambil membawa dokter bedah, dokter saraf, dokter kandungan juga yang datang." gumam Abel.
Benar saja alasan semua orang menyuruh Abel menjauhi Noara. Kini Abel sendiri yang merasakan, bagaimana tampang polos gadis itu yang menipu dengan sempurna untuk mencelakai seseorang yang tidak disukainya. "Dia benar-benar nekat untuk dikatakan demi orang yang dicintainya." pikir Abel sembari menatap dirinya dipantulan cermin didepannya.
Abel yang sudah membalut lukanya dengan kasa seadanya yang ia bawa, akhirnya memilih keluar dan menghampiri Noara. Disana, Noara terlihat menatap kosong kearah meja didepannya. Abel segera mendekat dan duduk ditempatnya tadi, yang kini sudah bersih dari darah maupun pecahan cangkir.
"Bagaimana lukamu? Cerobohnya aku!" tanya Noara juga memaki dirinya sendiri. Abel menampilkan senyumnya, Noara yang seperti ini menurut Abel sangat menarik.
"Tidak apa, hanya luka kecil saja." jawab Abel sembari menunjukkan tangannya yang sudah ia perban. Untungnya Abel sudah bersiap saat akan menuju ke sini. Baju hitamnya juga, membantunya agar tetesan darah yang terciprat di baju tidak kelihatan.
Sudah dibilangkan?! Kalau baju warna hitam adalah baju yang sesuai untuk bertemu dengan Noara. "Untunglah semua sudah aku persiapkan." batin Abel bangga.
"Aku jadi merasa bersalah sekarang." ujar Noara yang menatap sendu luka Abel.
"Hanya luka kecil saja. Tidak perlu bertemu dokter atau sampai ke rumah sakit segala," jawab Abel tersenyum sembari menarik tangannya. Waspada itu harus kan?
Acara makan-makan kembali dilanjutkan. Walaupun Abel tidak tau harus membahas apa, tapi dengan kebesaran hati Noara, dia yang menceritakan pengalaman pribadinya selama bersama Acarl saat kecil. Walaupun bikin hati gedek, tapi tetap saja Abel bersyukur tidak ada kecanggungan yang terjadi.
__ADS_1
"Apa aku cerewet ya? Maaf deh, aku emang gini." ujar Noara merasa bersalah pada Abel yang hanya diam memperhatikan sejak tadi.
"Tidak apa. Lagipula, aku jadi mengerti bagaimana Acarl dulunya." jawab Abel positif. Walaupun dalam hatinya panas, tapi Abel tidak boleh sampai terpancing. Permainan Noara itu adalah menjatuhkan Abel secara ketidak sengajaan, dan Abel harus menyerangnya balik lewat serangan yang Noara berikan.
"Kuharap kamu jangan cemburu mendengarnya. Aku dan Acarl memang sudah sedekat itu dulu." ujar Noara dengan aura wajah yang menurut Abel seperti memperingati sesuatu. Tapi tak berselang lama, wajah itu kembali tersenyum ramah seakan tadi tidak terjadi apa-apa. Abel hanya tersenyum dan segera menyelesaikan acara absurd ini.
Akhirnya mereka memilih keluar dan berpisah saat sopir datang menjemput mereka. Abel yang sudah berada didalam mobil, langsung terpikirkan wajah Noara yang tiba-tiba dingin dan menakutkan tadi. "Pasti ada sesuatu dengan kalimat itu tadi." batin Abel.
Abel mengenyahkan segala pikirannya tentang Noara. Sekarang yang terpenting adalah menyembunyikan tangannya yang terluka dari para pelayan, yang pastinya nanti akan berujung pada Acarl.
"Nona?!"
.
.
.
.
.
Hai semua ðŸ˜
Aku comeback 🥺
Jangan lupa like, komen dan vote ya 😂
Dukung wajib 😂
See you next part:)
__ADS_1