Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu

Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu
Chapter 70


__ADS_3

"Hahahaha benarkah?"


"Tentu saja, dan kalo lo tau kakak gue tuh orang paling nyebelin diseluruh dunia."


"Emang iya sih, tapi ketutup sama gantengnya."


"Ganteng doang, pinter kagak."


Didalam cafe dipenuhi tawa dua gadis yang baru akur itu. Bukan tertawa bahagia, tapi tertawa devil karena gosip yang mereka buat. Clara yang tau kalau Abel berada dirumah Acarl, langsung membongkar semua kebusukan kakaknya itu. Walau tidak terlalu akrab, tapi Clara tau apa saja yang menjadi kelemahan kakaknya itu.


"Aduh perut gue," keluh Abel yang merasakan keram diperutnya.


"Ahaha, bener perut gue juga." setuju Clara yang juga merasakan hal yang sama dengan Abel.


Keduanya berhenti tertawa dan mengatur nafas agar perutnya kembali normal. Terbesit rasa suka pada hati Abel. Clara tidak terlalu buruk untuk dijadikan teman, bahkan teman curhat yang tau seluk beluk Acarl.


Senyum terus terpampang diwajah kedua gadis itu , sampai mereka tidak sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Clara yang tidak sengaja menyenggol ponselnya, membuat ponselnya menyala dan jam sebelas lebih tujuh menit terpampang nyata membuat Clara melongo.


"Ada apa?" tanya Abel saat melihat raut wajah terkejut Clara.


Clara menoleh pada Abel dengan mulut terbuka, membuat Abel semakin penasaran dengan gadis didepannya. "Lo tau nggak ini jam berapa?" tanya Clara yang membuat Abel mengangkat bahunya tanda tidak tahu.


Clara mengangkat ponselnya dan seketika membuat Abel ikut ternganga melihat layar ponsel yang menunjukkan pukul sebelas lebih sebelas itu. Abel mengedipkan matanya berulang kali, berharap penglihatannya salah.


"Gue rasa kita harus pulang sekarang," ujar Clara yang langsung diangguki Abel.


Keduanya langsung bergegas keluar cafe setelah membayar. Dengan baiknya, Clara memberi tumpangan pada Abel. Dengan gas yang kencang, Clara mengemudi seakan-akan mau menantang maut saja.


"Weeeeyyyyyy gue belum mau mati," pekik Abel seraya berpegangan kencang pada pintu. Berjaga-jaga kalau terjadi apa-apa dia bakal lari duluan.


"Tenang aja, gue santai kok." jawab Clara sembari memutar stir mobil karena menyalip kendaraan-kendaraan didepannya.


"Tuhan, aku belum mau mati. Belum juga nikah sama Acarl. Tolong jaga aku Tuhan." doa Abel dalam hati.


Tak lama kemudian, mobil berhenti tepat didepan gerbang mansion Acarl. Suasana sepi langsung terasa saat Abel turun dari mobil Clara. Dengan bergegas tanpa pamit, Clara menginjak pedal gas dan sudahlah tidak terlihat lagi mobilnya.


Abel menghela nafasnya sebelum membuka gerbang pintu itu. Dengan persiapan penuh tadi, Abel memang sudah membawa kunci gerbang untuk berjaga-jaga. Walaupun ada satpam yang bertugas,tapi jam segini mereka akan berkeliling. Jadi untuk menghindari harus berteriak, Abel membawa sendiri kunci yang dia butuhkan.


Masuk dengan santai, namun melelahkan. Jarak gerbang menuju mansion Acarl memanglah jauh kalau ditempuh dengan berjalan kaki saja. Sampailah sekarang Abel didepan pintu mansion Acarl dengan napas terengah-engah.


"Aku kembali," sapa Abel pada mansion Acarl. Abel memang sudah menganggap mansion ini seperti rumahnya sendiri agar dia betah.


"Oh udah kembali,"

__ADS_1


Deg deg, suara sahutan yang tidak Abel duga terdengar dengan nyata sekarang. Abel menahan napasnya saat mendengar suara itu, kemudian tertawa karena berpikiran jika dia hanya berhalusinasi.


"Aduh , efek merindu emang gini ya." gumam Abel pada dirinya sendiri.


"Oh rindu?"


Lagi-lagi suara itu menyahut gumaman Abel. Dengan cepat Abel memutar tubuhnya mencari sumber suara. Tak lama sorot matanya menemukan siluet pria jangkung dengan jas formal yang masih melekat ditubuhnya.


"Ha ha hai, Udah kembali?" tanya Abel pada Acarl dengan cengiran khasnya.


Yapp, setelah mendengar izin Abel yang akan pergi bersama cowo lain. Acarl langsung meminta Cheiz untuk menyiapkan jet pribadinya dan langsung terbang kembali ke negaranya.


"Banyak juga belanjaannya," sindir Acarl sembari melihat tumpukan paper bag dimeja dekat pintu.


Abel menggerutu dalam hati, menyumpahi Eron yang hanya menaruh barang-barang ini di dekat pintu. Abel menatap Acarl dengan tatapan rasa bersalah namun dengan cengiran yang masih menempel sempurna diwajahnya.


"Anu itu, tadi aku..." berusaha mencari alasan, malah membuat Abel semakin bingung dan akhirnya hanya itu yang terucap. Apalagi sekarang dirinya tambah gugup saat Acarl berjalan mendekat padanya.


Setiap langkah maju Acarl, adalah langkah mundur Abel. Tanpa disadari, kini tubuh Abel sudah terkunci lengan kekar Acarl dan sudah mepet dengan tembok dibelakangnya. "Habislah aku,"


"Mau hukuman manis, atau sesuai yang aku mau?" tanya Acarl dengan smirknya, membuat Abel menelan ludahnya dengan susah.


"Itu, aku..mmpphh,"


Dengan memukul dada Acarl, Abel berusaha memberitahu Acarl kalau dirinya sudah tidak kuat lagi. Tapi dengan kemarahan yang masih melekat pada diri Acarl, membuat Acarl menghiraukan aksi berontak Abel . Malah sekarang Acarl menarik kedua tangan Abel dan digenggamnya menjadi satu.


Abel sudah pasrah sekarang, bagaimanapun juga ini salahnya . Abel juga sudah tau kalau Acarl pulang secepat ini pasti juga gara-gara dia yang marah saat meminta izin padanya tadi.


"Dimana lagi aku harus memberimu hukuman?" tanya Acarl yang akhirnya melepas ciuman itu. Tentu saja Abel langsung mengambil napas sebanyak-banyaknya sampai dia terbatuk-batuk.


Acarl yang sudah dikerubungi kabut pria normal, langsung menggendong Abel ala bridal style. Ingin Abel berontak, tapi tenaganya sedikit mengabur saat harus menahan napas lumayan lama tadi.


Kamar luas dengan aroma maskulin yang menyengat, langsung membuat Abel sedikit ketakutan. Apakah ini akhir baginya? Bahkan sebelum Abel mengungkapkan isi hatinya pada Acarl?


Abel memejamkan matanya saat dengan sedikit kasar Acarl melemparnya dikasur king size itu. Dengan sekali langkah saja, kini Acarl sudah berada diatas Abel. Mengunci kaki itu agar Abel tidak bisa kabur.


"Hei lihat aku nona," ujar Acarl seraya menarik dagu Abel.


Tetesan air bening mengalir begitu saja membuat tangan Acarl yang berada di wajah Abel menjadi basah. Entah bagaimana, Acarl langsung tersadar dari naluri laki-lakinya dan langsung turun dari kasur.


"ARGGGHHHHHH!!" teriak Acarl sembari memukul tembok putih itu dengan tangan kanannya.


Sementara Abel yang masih terbaring dikasur hanya bisa menangis tanpa suara. Rasa bersalah dan rasa takut pada Acarl bercampur jadi satu. Ini bukan salah Acarl, tapi Abel takut saat melihat sorot mata yang asing itu.

__ADS_1


Acarl melihat Abel yang menangis tanpa bersuara itu. Tubuh bergetar gadis itu terpampang nyata dimatanya. Mana janji dia yang akan menghentikan tangis gadis itu? Dan kenapa malah sekarang dia yang membuat gadisnya menangis.


Lagi-lagi Acarl meninju tembok itu dengan tangan yang sama. Darah segar mengalir sedikit demi sedikit. Acarl melihat luka itu seakan luka itu adalah Abel yang sedang menangis dikasurnya.


Tangan mungil yang melingkar dipinggang pria itu, menyadarkan Acarl dari lamunannya. Dilihatnya tangan melingkar itu seperti menahannya untuk tetap tinggal. Acarl berbalik dan mendapati gadisnya dengan tubuh masih bergetar karena menangis itu menatapnya dengan iris bersalah.


Dengan tangan kanannya, Acarl menghapus air mata yang mengalir itu. Namun dengan cepat Abel meraih tangan Acarl yang berada di pipinya. Melihat darah yang mengelilingi kulit putih Acarl.


Tanpa bicara apapun, Abel menarik Acarl menuju kasur dimana dia dilempar tadi. Setelah memastikan Acarl duduk, Abel berjalan menuju kotak P3K yang ada dikamar itu. Bergegas mengambil semua yang dia butuhkan.


Abel meraih tangan Acarl yang terluka, lalu membersihkan luka itu dengan kapas yang sudah dia beri pembersih luka agar tidak infeksi. "Shhh," ringis Acarl saat kapas itu menyentuh lukanya.


Melupakan rasa sakit lukanya, Acarl beralih menatap Abel yang fokus mengobati lukanya. Acarl menarik napasnya, " maaf." satu kata keluar dari mulut Acarl yang membuat Abel mengehentikan kegiatannya sebentar.


"Maafkan aku, tidak seharusnya aku bertindak seperti itu. Aku terlalu..." ucap Acarl menggantung karena dengan cepat bibir hangat dengan lembut menempel di bibirnya.


Yapp, Abel langsung mencium bibir Acarl sebelum lelaki itu menyelesaikan kalimatnya. Bukan apa, tapi Abel sadar disini bukan hanya Acarl yang bersalah.


Abel menarik kepalanya menjauh dari Acarl. Dengan pelan, Abel menggelengkan kepalanya seraya menatap mata biru emerald itu yang juga sedang menatapnya.


"Ini tidak semua salahmu, aku juga." ujar Abel pelan. Lalu melanjutkan kembali kegiatannya yang sempat tertunda.


Acarl lega, saat Abel membuka suaranya dengan mengucapkan kalimat singkat tapi bermakna itu. Kini Acarl bukan hanya terpesona dengan wajah, tingkah dan segala kelucuan yang ada dalam diri Abel. Kini Acarl menyadari juga kalau Abel lebih dari yang dia tau. Hati polos namun bijak itu membuat Acarl langsung merasakan jika Abel memang pilihan yang tepat untuknya.


"Terimakasih sudah hadir,"


.


.


.


.


.


Hay semua ❤️


Aku comeback 😅


Jangan lupa like, komen dan vote ya 😙


Dukung juga boleh 😁

__ADS_1


See you next part:)


__ADS_2