
"APA YANG KAU LAKUKAN DISINI!" teriak tuan besar Xelone setelah melihat kedatangan Abel.
Mendapati teriakan itu, Abel memundurkan langkahnya karena tidak paham dengan situasi yang terjadi saat ini. Abel melirik Acarl seperti meminta bantuan. Tentu saja Acarl dengan senang hati menolongnya tanpa disuruhpun.
"Tuan Xelone, dia pekerjaku. Ada apa memang dengan anda?" tanya Acarl seolah tidak tau dengan respon tuan besar Xelone. Tuan besar Xelone tentu saja langsung tau jika ini rencana Acarl, tapi untuk apa tuan besar Xelone tidak tau apa maksud dari ini.
"Tu-tuan, saya keluar dulu." pamit Abel setelah menaruh dokumen di meja depan Acarl. Tapi sebelum dia melangkahkan kakinya, tangan Abel sudah dicekal Acarl terlebih dahulu.
"Untuk apa kau pergi? biarkan Tuan Xelone menyatakan maksudnya dulu," ujar Acarl mencegah Abel. Disitu, Abel teringat akan kata-kata Acarl yang mengatakan jika apapun yang terjadi Abel harus mengikuti apa kata Acarl. Hanya itu.
Abelpun memilih diam dan menurut pada Acarl. Walau rasanya saat itu Abel ingin pergi, tapi dia urungkan niatnya itu karena Acarl. Abel akhirnya hanya diam menurut dan menundukkan kepalanya ,meghindari tatapan semua orang yang ada dalam ruangan itu.
"Tuan Xelone, ada apa denganmu. Bahkan dia hanya asisten saja, dan kenapa anda sampai bereaksi seperti itu?" tanya salah satu dewan direksi pada tuan Xelone yang terlihat sangat kesal sekarang.
"Ahaha, bukan apa-apa Tuan Lin." jawab Tuan Xelone dengan cengirannya yang terlihat terpaksa itu.
Acarl tersenyum mengejek melihat reaksi tuan Xelone yang menurutnya lucu itu. Raut gelagapan yang menggemaskan menurut Acarl. Acarl yang sudah tidak tahan lagi, akhirnya memilih segera memanggil Cheiz untuk mengantarkan beberapa i-pad untuk para dewan direksi.
Cheiz masuk dalam ruangan dan langsung saja menyerahkan i-pad itu pada masing-masing dewan direksi. Setelah itu Cheiz keluar sesudah memberi salam .
"Para hadirin yang ada dalam ruangan ini, anda sekalian bisa membuka i-pad ini dan menyaksikan sendiri apa yang terjadi sebenarnya." ujar Acarl lantang karena merasa puas dengan semua yang terjadi hari ini, dan juga tidak sabar lagi melihat raut wajah tuan besar Xelone itu.
Masing-masing dewan direksi membuka i-pad itu. Wajah terkejut mulai muncul kecuali tuan besar Xelone yang ketakutan sekarang.
"Apa ini tuan Xelone? Dia merusak reputasinya dihadapan anak SMA?" ujar salah satu dewan direksi yang menatap tak percaya dengan apa yang di lihatnya itu.
"APA MAKSUDMU DENGAN SEMUA INI!!" teriak tuan besar Xelone pada Acarl yang tersenyum padanya.
"Bukan apa tuan Xe.lone, saya hanya ingin menunjukan dan meminta saran pada dewan direksi saja. Bukankah reputasi sangat penting bagi CEO perusahan?" jawab Acarl yang langsung dibalas anggukan para dewan direksi dalam ruangan itu.
"Memang benar apa katamu Acarl, sebagai pemilik perusahan harus menjaga reputasi agar menuju puncaknya. " setuju salah satu dewan direksi yang lalu diangguki oleh yang lainnya.
Tuan Xelone merasa terpojok saat itu juga. Namanya mulai terancam sekarang, dan matanya langsung fokus pada Abel yang berdiri diam disamping Acarl. "INI SEMUA KARENA DIA!" teriak tuan Xelone seraya menunjuk Abel dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
Semua mata langsung mengarah pada Abel, membuat Abel menjadi semakin takut sekarang. Abel hanya bisa meremas tangannya untuk sedikit meredakan rasa takutnya. Dalam rasa takut itu, tiba-tiba ada tangan terulur dari bawah yang hanya bisa dilihat Abel. Tanpa menunggu lama, tangan itu sudah menggenggam tangan Abel dan akhirnya saling bertautan.
"Dia hanya anak sekolah yang tidak bersalah, bahkan dalam video itu saja sudah terlihat siapa yang salah dan siapa yang benar." ujar Acarl menyangkal teriakan tuan Xelone.
"Kami sudah putuskan, jika perusahaan ini memang lebih baik jika tuan Xelone tidak ikut campur lagi." ujar dewan direksi. Acarl tersenyum menang menatap tuan besar Xelone itu.
"Itu semua.."
"Jika terus seperti ini, maka perusahan XLN company akan menurun. Dan sekarang Acarl sudah besar, dia sudah menunjukan potensinya disini." sela dewan direksi yang memotong apa yang mau dikatakan tuan Xelone.
"Dengan ini, semua saham juga perusahan akan diserahkan pada tuan Acarl saja. Rapat selesai!" tutup salah satu dewan direksi.
"Semudah itu kan tuan Xelone? " batin Acarl berteriak kemenangan.
Tuan Xelone yang sudah terlanjur kesal, langsung berdiri tanpa pamit lalu keluar begitu saja tanpa pamit. Para dewan direksi yang masih ada diruangan itu hanya mengedikkan bahunya acuh melihat tuan Xelone yang bereaksi seperti itu.
Acara selanjutnya berlanjut ke makan siang. Setelah makan siang berjalan lancar, akhirnya dewan direksi keluar dengan berkas-berkas pemindahan saham yang sudah disetujui tadi.
"Tuan, kenapa tuan Xelone ada disini?" tanya Abel pada Acarl dengan tatapan kosong. Abel merasa jika semua ini bukanlah kebetulan, dan juga tadi Acarl melarangnya untuk pergi padahal dirinya ingin pergi .
Mendengar pertanyaan yang sudah pasti ditujukan untuknya, Acarl melihat Abel yang duduk dengan menatap dengam tatapan kosong itu. Menghela nafasnya, Acarl berjalan mendekati Abel dan mengambil sofa didekat gadis itu.
Acarl meraih lalu menggenggam tangan Abel. Abel mulai tersadar dari lamunannya yang kemudian menolehkan kepalanya pada Acarl. Acarl yang mendapat tatapan langsung dari Abel, menampilkan senyumnya. Senyum itu terus terukir sampai Acarl selesai merangkai kata-kata yang harus dia katakan untuk menjawab Abel.
"Maafkan aku, kau boleh memukulku jika mau. Aku tau aku egois karena aku memanfaatkanmu. Tapi aku terpaksa harus begini, dia bukan orang baik dan dia tidak berhak untuk memegang perusahaan ini lagi." ujar Acarl yang langsung dicerna Abel. Abel yang masih menatap Acarl, membuatnya tau perubahan raut wajah lelaki itu yang sekarang terlihat sendu.
"Apakah benar kata tuan Cheiz," gumam Abel yang bisa didengar Acarl. Acarl mengerutkan dahinya setelah mendengar Abel bergumam itu.
"Apa yang dikatakan Cheiz?" tanya Acarl yang membuat Abel gelagapan karena ternyata Acarl mendengarnya.
"Huuhhh... Tuan Cheiz pernah bilang pada saya, sekarang Tuan Acarl mudah tersenyum tidak seperti dulu ." jawab Abel yang akhirnya memutuskan untuk jujur saja.
"Dan Tuan, saya tidak marah pada anda. Hanya saja saya tadi sedikit terkejut dengan apa yang tiba-tiba terjadi. Tapi saat melihat uluran tangan anda tadi, saya langsung terpikirkan mungkin anda sedang dalam masalah saat ini. Dan Tuan, saya tidak akan melarang anda untuk melakukan apapun bahkan memanfaatkan saya. Karena bagaimana pun juga, saya hanyalah seorang asisten." lanjut Abel panjang lebar.
__ADS_1
Acarl terkejut dengan pernyataan Abel, bahkan telinganya terfokus dengan kata asisten yang disematkan Abel. Bukan itu maksud Acarl memanfaatkan Abel, tapi sekarang gadis itu berpikiran jika Acarl memanfaatkannya karena dia adalah asistennya.
"Saya berterima kasih pada Tuan, karena dengan adanya Tuan disini saya merasa seperti hidup kembali. Saya tidak pernah merasakan apa itu hidup sesungguhnya, tapi dengan anda saya tidak merasakan.. merasakan..hiks.. kesep- i,"
Grebbb....
Pelukan hangat dari seorang Acarl mampu membuat Abel menghentikan ucapannya. Pelukan hangat dan erat itu membuat Abel semakin tidak bisa menaham air mata yang sejak tadi berada dipelupuknya itu.
"Kau tidak akan kesepian lagi, aku janji padamu!" ujar Acarl pasti, sampai-sampai Acarl mengeratkan pelukannya lagi. Merasakan seperti apa tubuh bergetar itu melepaskan penatnya hari ini.
Abel melampiaskan semuanya sekarang, ia menangis sejadi-jadinya. Menerima pelukan hangat dan dada bidang yang memberinya kehangatan itu. Saat ini ,ingin rasanya Abel menghentikan waktu untuk sementara merasakan pelukan itu lebih lama lagi.
.
.
.
.
.
.
Hay semua❤️
Aku comeback 😅
Jangan lupa like, komen dan vote ya😙
Dukung juga boleh😁
See you next part:)
__ADS_1