KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Takdir Kelam


__ADS_3

Radit dan Rindi akhirnya tiba di Rumah Sakit, namun begitu tercengang dengan penampakan kedua manusia yang terduduk di sebuah bangku taman memenuhi ujung kanan dan kirinya. Merekapun menghampirinya, " Tckk ...Tckk... Tck ... Di saat seperti ini kenapa kalian yang mempunyai sikap sedingin es bisa bertengkar seperti anak kecil. Menyedihkan !" ucap Rindi dengan nada penuh sindiran dengan tangan melipat di dada dan pandangan beralih dari keduanya.


" DIAM !!" keduanya tampak menjawab bersamaan.


Radit menggeleng pelan, entah kenapa ia merasa keduanya memiliki sedikit kemiripan. Keras kepala, " Mari ikuti saya Tuan." lalu beranjak membimbing jalan.


" Siapa yang menyuruhmu ikut ?! diam di sana !"


" Aku juga ingin melihat keadaan Mayra !"


" Kau !" menuding Aldo dengan jari telunjuk, " Sama sekali tidak berhak !" lalu menguarkan sorot nan tajam khas miliknya.


" Siapa elo ?! bisa nentuin berhak atau enggak ! gue mau lihat Mayra ! Gak ada urusannya sama elo !"


" Urus dia." ucap Zio dingin, lalu para pengawal bersiap memegangi Aldo agar tak masuk mengikuti sang Tuan.


" Sialan kalian !! hancurlah Ziovano !! hancur lebur lah hingga tak bersisa !! Mayra milikku !!! Lo yang gak berhak !!!" Pekik Aldo dengan mengeluarkan seluruh tenaga untuk memberontak melawan para pengawal Zio, jika bukan karena Om Sam tiba-tiba ada urusan dia tak akan diperlakukan seperti ini. Sial !


Ketiganya telah sampai di depan ruang tunggu operasi, dengan perasaan gamang tak menentu menunggu dalam ketidak pastian. Hanya menyematkan keselamatan Mayra di setiap helaan nafas panjang yang silih berganti terdengar dari ketiganya.


Satu jam .... Dua jam ... Tiga jam .... Masih tak ada tanda pintu tempat Mayra dioperasi terbuka, bahkan lampu penanda masih berwarna merah menyala. Ketiganya semakin dikerubuti ketakutan, tak ayal bulir demi bulir telah terjun bebas meski tak diketahui satu sama lainnya. Sungguh mereka dilanda kecemasan akan keadaan Mayra.


Hingga Bapak dan Ibu terlihat mendekat dengan langkah sedikit tergopoh, " Bagaimana Mayra ?" adalah pertanyaan pertama Ibu yang terlontar ketika melihat ketiganya yang langsung berdiri menghampiri Bapak dan Ibu.


Rindi menggeleng tak kuasa, lalu mengalihkan pandangan pada ruang operasi yang masih tertutup rapat. Membuat Ibu semakin tersedu, air mata kembali menganak sungai membasahi pipi, Rindi menuntunnya untuk duduk di kursi tunggu. Menepuk-nepuk pelan punggung Ibu dan mengucap segala kalimat positif agar Ibu tak terlarut hingga berpikiran negative pada akhirnya. Meski masih dengan lelehan air mata yang tak terbendung Ibu selalu berdo'a agar Mayra diberi kekuatan, dan Operasi bisa berjalan lancar.


Bapak, Zio dan Radit terlihat termenung dengan pikiran yang melayang-layang entah kemana. Namun tak bisa dipungkiri raut kesedihan begitu terpancar meski tak terjelaskan dengan lelehan air mata seperti yang Ibu lakukan.


Ting

__ADS_1


Akhirnya lampu telah padam, tanda operasi usai. Terlihat beberapa iringan Dokter juga perawat yang bergilir keluar ruangan, tak ayal raut tegang cemas juga gamang begitu terlihat membuat Kelima orang tersebut segera mendekat untuk memastikan keadaan Mayra.


" Bagaimana Dok ?" Zio membuka pertanyaan dengan raut ala manekinnya.


Dokter paling akhir yang keluar terlihat berhenti sejenak, menghela napas dengan begitu dalam membuat Ibu kembali merasakan sayatan yang teramat dalam hati hingga terhuyung namun masih sempat tertangkap oleh Bapak. Bapak menatap Ibu, mengangguk kemudian memberi kekuatan untuk mendengar ucapan Dokter.


" Kami sudah berusaha semampu kami, tapi ..."


Zio tertegun, napasnya terasa terhenti sejenak ia seperti seorang yang telah terlempar pada kedalaman jurang yang penuh kegelapan, sekuat tenaga ia menetralkan raut. Meski mata tajamnya telah berubah memerah juga berkaca,sangat tak bisa memungkiri akan berita yang selanjutnya Dokter ucapkan.


" Tapi apa Dok ? sahabat saya gak apa-apa kan ? Lima jam kalian semua di dalam, pasti Mayra selamat kan Dok ?" ucap Rindi yang tak bisa menahan luapan emosi yang akhirnya terpecah hingga menangis tersedu.


Dokter kembali menghela napas," Bisa saya bicara pada wali pasien ?"


Bapak terkesiap, setelah terbangun dari segala lamunan pilu tentang keadaan sang putri, " S ... Sa ... Saya Bapaknya Dok."


Bapak mengangguk, " Buk ... Sebentar, Bapak ketemu sama Dokter dulu." lalu mendudukkan Ibu pada kursi tunggu. Ibu semakin tak kuasa menahan lelehan air mata yang telah menderas kembali. Memikirkan sebenarnya bagaimana keadaan sang putri ? mengapa tak mengatakan disini saja ? apakah Mayra ? Ia kembali tersedu di balik syal berwarna ungu muda kesayangannya karena hadiah dari Putri pertamanya tersebut.


***


" Maaf Pak ... Saya tahu ini pasti berat untuk Bapak sekeluarga. Tapi, keadaan pasien saat ini sedang dalam kondisi tidak stabil. Kami memang berhasil mengeluarkan peluru dari bahunya. Tetapi, mungkin karena pasien sedang dalam keadaan shock berat atas kejadian ini hingga mengakibatkan kondisi psikisnya ..." Dokter yang berumur setengah abad tersebut terlihat memejamkan mata sejenak, " Melemah. Mungkin akan sedikit membutuhkan waktu untuk ia bisa tersadar atau bahkan kemungkinan terburuk dia tidak akan tersadar, dalam arti koma." ucap sang Dokter dengan seprofesional mungkin, meskipun memang tidak akan mudah bahkan mengguncang ia harus tetap memberitahu kemungkinan terburuk ini.


Seakan petir datang menghantam kepala Bapak, pikirannya kosong dikerubuti rasa bersalah saat ia dengan tega memarahi bahkan menampar Mayra hingga tersungkur. Penyesalan demi penyesalan menyelinap hingga meruntuhkan pertahanan Bapak, Ia menangis bahkan hinggan bersuara membuat sang Dokter terdiam sejenak, sangat mengerti betapa hancur hati seorang ayah di hadapannya ini.


***


' Halo Radit ? bagaimana Mayra ? kalian menemukannya kan ?' suara Opa terdengar begitu terburu, bersemangat mendapat kabar baik tentang Mayra.


" Sudah ... Tuan ..." Suara Radit melemah, sangat lemah sampai membuat Opa terheran.

__ADS_1


' Hei, ada apa ? ada sesuatu terjadi ? sekarang kalian dimana ?'


Radit menghela napas panjang, " Di Rumah Sakit Husada Tuan."


' Siapa yang sakit ? Zio tak apa kan ?' Opa terdengar begitu cemas.


" Bukan Tuan Muda tapi, Nona Mayra Tuan."


' APA ? ADA APA DENGAN MAYRA ??'


" Maaf Tuan, tapi ..."


Napas Opa sudah terlihat memburu, dadanya terasa sesak hingga tangan kanannya mencoba menepuknya pelan.


' Halo Radit ? sebenarnya ada apa ?' terdengar suara Papa Ardhi di seberang telepon, menggantikan Opa.


" Nona Mayra tertembak saat kami berusaha menyelamatkannya. Sekarang dia sedang di ruang ICU, setelah menjalani operasi Tuan."


' Lalu Zio ?'


" Tuan hanya terluka memar. Saya akan meminta Dokter untuk segera mengobatinya."


" Hm ..." Papa Ardi terlihat mematikan ponsel, memandangi Opa yang terlihat sudah mulai bisa terduduk tegak.


" Kenapa dengan Mayra Dhi ?"


*Daripada luka fisiknya aku lebih mengkhawatirkan luka batinnya. Baru saja ia bisa terbebas dari semua kenangan kelam itu, tapi sekarang ...


Ziovano ... Kamu adalah anak Papa yang paling hebat Nak. Papa yakin kamu bisa melewati takdir kelam berulang ini*.

__ADS_1


__ADS_2