KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Sepucuk Surat


__ADS_3

" Apa dia gila ?" Tanya Zio dengan pandangan tertuju pada seorang gadis yang memekik frustasi setelah melepaskan balon ke udara.


Radit menengoknya sekilas, " Mungkin patah hati."


" Sampai seperti itu hanya karena patah hati. Bodoh sekali." Lalu menyembulkan senyum mengejek.


Dasar ! Anda bahkan lebih parah dari dia ketika sedang patah hati.


" Omong-omong Radit, seperti apa rasa patah hati itu ?" Tanya Zio setelah terdiam beberapa saat.


Radit terhenyak, namun segera menetralkan raut kembali. Seketika kelebatan kepergian sang istri berputar mengelilingi kepalanya, " Sebuah rasa kehilangan yang membawa kita pada lubang penyesalan berkedalaman tak terhingga." Ingatannya bergelenyar kala bercanda tawa dengan sang istri di taman penuh bunga." Terasa sesak dan hampa saat dia yang selalu ada dalam suka duka tak ada dalam pandangan. Pastinya sangat menyakitkan."


Zio termenung, lalu kenapa semua hal itu terjadi padaku sekalipun ada Shanon dalam hidupku. Kenapa perasaanku hampa seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga.


Balon Mayra semakin meninggi, terombang-ambing terbawa angin pantai. Hingga sesaat kemudian menyangkut pada sebuah hellykopter yang melintas.


Zio kembali menengok ke bawah, dilihatnya ke-empat sahabat yang saling berpelukan seperti teletubies.


" Kekanakan." Lalu menutup gorden jendela hellykopter yang kini sedang membawanya menuju sebuah pulau yang baru saja ia beli. Ia berencana membangun sebuah resort di sana.


Kehilangan ingatan sama sekali tak membuat Zio tergoyahkan, bahkan posisinya semakin menjulang terbukti dengan terbentuknya sebuah perusahaan atas namanya sendiri


'ZIO CORPORATION' sebuah perusahaan yang menggabungkan segala macam aspek perbisnisan yang digeluti Zio. Semua terangkum di dalamnya. Tentu saja semua tak instan, berawal dari segala tekanan yang amat membelenggu di balik perintah Opa dulu, diam-diam ia mengumpulkan kekuatan untuk mendirikan perusahaan sendiri dengan menyebar kepemilikan dalam setiap penjualan saham. Hingga bertumbuh menjadi penguasa tak terkalahkan dalam bidang bisnis.


Meski berproses dari sebelum ia hilang ingatan, namun berkat ketangkasan sang asisten nan kompeten semua dapat terkendalikan hingga berhasil mendirikan sebuah perusahaan sendiri tersebut seperti kini. Tabiat gila kerja yang berkombinasi dengan rasa hampa membuat Zio semakin menggila dan hanya memikirkan tentang pekerjaan. Tak jauh berbeda dengan dirinya yang dulu.


Akhirnya hellykopter mendarat, para pengawal dengan siaga berjaga. Hingga terkejut saat melihat sebuah balon biru muda yang terpaut entah bagaimana caranya dengan hellykopter tersebut. Dengan segera mereka membereskannya, namun Zio yang telah turun terpaku menatap sebuah balon tersebut.


" Apa itu ?"


" Balon Tuan. Saya akan segera membuangnya."


" Tunggu." Lalu melambaikan tangan agar pengawal mendekat.

__ADS_1


Pengawal berjalan mendekat, lalu memberikan sebuah balon dengan sepucuk surat dalam ujung benangnya. Ia terlihat membuka surat tersebut. Entah kenapa hatinya terasa sesak sesaat. Lalu menghembuskan napas, menaruh surat dalam saku celana dan melepaskan balon itu kembali.


Radit hanya melihat setiap gerakan sang Tuan, meski merasa sangat aneh namun ia hanya terdiam. Ia memang sangatlah cenderung diam jika sang Tuan bertingkah aneh, karena itu menunjukkan bahwa hatinya tengah mengingat Mayra namun sayangnya tidak dengan pikirannya. Ia hanya berharap semoga sang Tuan bisa kembali mengingat Mayra dan keduanya bisa bersama.


Hah ! Entah ! Mungkin mustahil.


Setelah menyelesaikan segala urusan pembangunan resort Zio kembali ke Jakarta, beberapa anak buah terlihat menunduk saat berpapasan. Ia semakin berjalan dan berpapasan dengan seorang pemuda.


" Selamat siang Pak ?"


" Menjelang sore."


Pemuda tersebut tersenyum, " Apa ada berkas yang tertinggal ?"


" Bukan urusanmu."


" Baik saya permisi." Pemuda tersebut terlihat melenggang.


Zio memang sangat enggan meski hanya sekedar bercakap dengannya, mengetahui fakta sebenarnya bahwa ia ternyata adalah saudara yang dulu menghilang. Jika bukan karena sebuah balas Budi, ia tak akan pernah Sudi mengakuinya sebagai saudara.


" Zio drop lagi ?!"


" Iya Pak. Ia mengalami pendarahan parah, dia butuh pendonor darah sebanyak mungkin."


" Tolong Carikan di Rumah Sakit lainnya Dok. Selamatkan anak saya !" Papa Ardhi tampak tak kuasa bahkan sampai berteriak dalam ruangan Dokter.


" Kami sudah menghubungi beberapa Rumah Sakit, tapi karena darah Tuan Zio tergolong langka jadi sulit mendapatkannya Pak."


Ya, Zio memang seperti dirinya memiliki golongan darah yang terbilang langka. Tapi dimana lagi ia mendapatkannya, kondisi Opa sangat tak memungkinkan, Mama Rena juga tak sama. Papa Ardhi sangat terpukul kini, menyesali izin yang ia berikan agar Mayra menemui Zio karena malah berakhir pendarahan bagi Zio.


Bodoh ! Bodoh ! Bodoh !


Nenek telah menangis meratap di balik pintu operasi Zio. Sangat menyakitkan melihat kondisi sang cucu yang seperti ini. Padahal beberapa saat lalu ia terlihat begitu bahagia, ia berubah bahkan membawa seorang gadis juga. Tapi sekarang, Nenek kembali terisak dalam tangis.

__ADS_1


Aldo datang menghampiri ruang operasi dengan suster di belakangnya.


" Siapa dia Sus ?"


" Pendonor darah untuk Tuan Zio." Lalu bergegas membuka pintu, mempersilahkan Aldo berbaring menggantikan Papa Ardhi yang terlihat pucat pasi.


Papa Ardhi terperanjat, mengapa Aldo bisa di sini. Namun, sama sekali tak terucap karena seorang suster telah menuntunnya keluar.


Aldo berbaring, " Ambil semua darah saya Dok, selamatkan saudara yang sangat berharga untuk orang di sekitarnya ini." Lalu memejamkan mata.


Papa Ardhi yang merasa bersalah pada sang anak yang tak pernah ia ketahui keberadaannya tersebut semakin melemah. Hingga berakhir tak menindaknya tegas, memaafkan ia bahkan hanya memberi hukuman untuk membangun sebuah yayasan sosial. Tak masalah dengan Zio karena ia memang tak mengingat persis kecelakaan yang di alaminya. Bahkan orang sekitar selalu bungkam jika ia bertanya perihal kecelakaan apalagi Mayra. Termasuk Radit sekalipun. Tentu saja Papa Ardhi yang berada di balik garis keras tersebut. Ia takut hal buruk akan kembali menimpa sang putra, hingga memilih mengubur dalam-dalam kecelakaan yang di alami Zio.


***


Zio memandangi setiap huruf dalam secarik kertas yang dibawa balon tadi, merasa sangat familiar. Apalagi dengan sebutan manekin di dalamnya. Entah kenapa ada gelenyar aneh yang membuatnya terpikat dengan tulisan demi tulisan dalam kertas tersebut.


Tok .. tok ...tokkk


" Masuk."


Aldo menyodorkan sebuah map, Zio dengan segera menandatangi. Hingga tanpa sengaja Aldo melihat surat yang terbuka tersebut. Meski tak jelas, ia bisa memastikan siapa yang menulis surat tersebut.


Mungkin inilah yang dinamakan jodoh.


Ia terlihat mengulas senyum penuh arti, lalu melenggang dari ruangan Zio.


__________


maapkeun author yang updatenya angot-angotan Yaa readers tersayang ...


gak disengajain Lo ini, memang kadang suka kurang dapet feel nulis jadi ya ... dari pada gak sesusai lebih baik menunda ... hehe


jangan lupa dukungannya Yaa like, komen, gift, vote ...

__ADS_1


Terimakasih semua 💚💚


__ADS_2