
Mereka ber empat masih saling terkejut sampai beberapa detik kemudian. Hingga Mayra yang mulai menyadari wajah yang kini di pegangnya adalah sungguhan bukanlah bayangan. Iapun segera menarik diri.
" Awww !!!" Pekiknya yang merasakan nyeri yang teramat dari kaki kanannya yang tadi menubruk meja.
Zio yang melihatnyapun segera memapah Mayra menuju sofa, menyelonjorkan kaki Mayra bahkan sampai memijitnya pelan. Kalau tidak ada Opa dan Pak To ingin rasanya Mayra berteriak sekencang-kencangnya dan memaki Zio untuk segera menjauh dan tidak menyentuhnya seperti ini. Namun apa daya ia masih punya urat malu untuk tak melakukan itu semua di depan Opa yang telah berjasa menolongnya.
Kenapa harus ketemu dia lagiii siih ??? Ampuuunn.... Bisa-bisanya dia ada di sini, mana cuma pake anduk doang. Abis mandi apa gimana si bang ? pake baju ngapa ... Aduhh itu roti sobek ! Bikin mata orang khilaf kuadrattt. Batin Mayra dengan membuang muka merasa tak kuasa dengan pemandangan yang membuat otak traveling tak tentu arah, namun sesekali ia menatap penuh selidik pada Zio yang masih dengan telaten memijit punggung kakinya yang terkena meja.
Tunggu deh .. Dari Moge sampe pake begituan jangan-jangan ini rumah dia ?? kan waktu itu dia bilang tinggal sama Opanya, trus tadi cuma ada Kekek sama para pelayan. Bodoh Mayra bodohhh !! kenapa harus masuk kandang singa macam ini. Astagaa ...
Opa dan Pak To masih terbengong-bengong dengan semua perlakuan Zio pada Mayra, begitu tak percaya. Zio sungguh menyentuh seorang wanita dan traumanya tak kambuh setelahnya. Sungguh keajaiban itu nyata pikir mereka.
Hingga akhirnya mereka tersadar oleh anggukkan canggung yang di sertai senyum Mayra, merasa tak enak dengan kecerobohannya. Kakek dan Pak To pun balas melempar senyum padanya lalu bergegas dari tempat Zio dan Mayra. Tak ingin mengganggu kisah menggelora anak muda pikir mereka.
" Ketemu To !! ketemu juga akhirnya ha ha haa..." tawa Opa menggelegar memenuhi ruang kerjanya.
" Iya tuan..."
" Kamu tau kan apa yang harus kamu lakukan ?"
" Baik tuan..." Lalu dengan segera mengambil langkah dan meraih ponsel dari dalam saku jasnya, menelfon pengawal untuk mencari tahu tentang Mayra secepatnya.
Rekah Opa masih terpajang dengan indahnya, begitu lega dan bahagia di rasanya kini. Akhirnya sang cucu telah menemukan cinta sejati.
***
" Udahh ... Udahhh !!" Mayra menarik kakinya yang masih terasa begitu nyeri dan menampik tangan Zio.
Zio menatapnya begitu intens, sebenarnya benaknya begitu dipenuhi berbagai kacamuk pertanyaan untuk Mayra, namun tak mungkin bisa bertanya melihat raut Mayra yang sedang tak bersahabatnya kini. Ia hanya bersedekap lalu menyilangkan kaki dengan kaki kanan sebagai tumpuan, sambil menunggu penjelasan apapun itu dari Mayra.
__ADS_1
" Jangan GR !!! tadi tu Kakek nolongin aku dari copet kucrut trus dia lupa arah pulang, ya udah aku bantuin. Sama sekali aku gak tau kalo ini tu rumah kamu !" sungutnya dari pandangan penuh tuduhan dari Zio. Sambil sesekali memijit kakinya yang kini nampak telah sedikit membengkak.
Zio nampak menyipitkan mata mencari kejujuran dari perkataan Mayra, benarkah yang ia katakan tersebut. " Kalaupun kamu kemari untuk menemuiku, sama sekali itu bukan masalah." ucapnya dengan wajah datar dan sorot tajam pada Mayra.
Mayra yang merasa tertusuk-tusuk oleh pandangan Ziopun juga membalas menatap tajam padanya. " Di bilang jangan GR !!" kemarahan mulai menjalar dalam dirinya kini.
Zio menghela nafas lalu membuang muka dari Mayra, merasa begitu aneh dengan gadis yang datang dan pergi seenaknya dari hatinya tersebut. Sudah mengucap salam perpisahan tapi malah menghampiri di rumahnya kini, sungguh aneh pikirnya. Atau memang benar tadi yang di ucapnya, entahlah. Sungguh ia tak bisa berfikir jernih sekarang.
Ternyata kekhawatiranku sia-sia. Cih ! Batin Zio dengan masih menggunakan wajah datar tanpa ekspresinya, hanya matanya yang sedikit menampakkan perubahan.
Ia memang selalu mengkhawatirkan keadaan Mayra setelah memutuskan pergi dari sisinya, tapi yang di lihatnya kini adalah Mayra yang penuh semangat yang bahkan dengan kondisi tubuh sangat baik sama sekali bukan tipikel seseorang yang kehilangan seperti yang di alaminya. Sungguh membuatnya begitu kecewa.
" Sudahlah... Kamu terluka, biar ku bantu." tak tega juga Zio melihat Mayra yang berjalan terpincang dengan wajah meringis menahan perih.
" Gpp ! Aku bisa sendiri. Maaf udah ganggu waktu istirahat kamu. Aku ga bakalan lagi kok nemuin kamu walaupun ga sengaja kaya gini." lalu berjalan menjauh dengan langkah pincangnya. Tengsin sekali Mayra, ia yang mengucap perpisahan ia juga yang bahkan mendatangi rumah Zio. Memalukan.
Pak To yang melihat Mayra segera menuntunnya untuk duduk di sebuah kamar, " Tunggulah di sini nona, saya telah menelfon terapis ia akan segera datang." sebenarnya Mayra ingin menolak tapi enggan juga kalau harus pulang menggunakan sepeda dengan kaki yang begitu nyeri ini pikirnya.
" Kenapa ?" Suara Opa membuatnya terperanjat.
" Bukan apa-apa."
" Kamu mengenalnya ?"
Ia baru menyadari bahwa tadi telah menyentuh Mayra di hadapan Opa juga Pak To. Pasti Opa akan sangat penasaran kini.
" Tidak."
Opa berdecak, sangat tahu jika sang cucu sedang berbohong.
__ADS_1
Tutupilah sebisamu, karena Opa akan segera membukanya dan mengetahui semuanya. Sepandai-pandai anak tupai melompat akan kalah oleh lompatan tupai dewasa . Hahaha Zioo ... Zioo ... Batin Opa dengan senyum menyeringai.
Mayra telah keluar dari kamar setelah selesai di pijat. Opa dan Zio bersamaan menghampirinya.
" Gimana sudah baikan nak ?"
" Udah gpp ko Kek, makasih yaa... Maaf udah banyak ngerepotin kakek." dengan raut sendunya.
" Itu bukan apa-apa Mayra."
" Ya udah Kek Mayra pamit dulu ya ... Udah malem besok kan harus kerja."
" Lho kamu mau pulang dengan keadaan seperti ini, Zio
kamu antar Mayra pulang bisa kan ?" dengan menatap Zio yang sedari tadi berdiri tak bergeming bak manekin.
Belum Zio menjawab, Mayra sudah menyerobot. " Ehh... Nggak Kek gpp, Mayra bisa pulang sendiri makasih sekali lagi ya Kek..." dengan senyum tulusnya lalu segera berjalan menuju pintu agar segera keluar dari kandang singa tersebut.
Dasar keras kepala. Batin Zio yang melihat kepergian Mayra.
" Cepat kejar. Antar sampai tujuan dengan selamat sentosa." ucap Opa dengan menepuk bahu Zio lalau melenggang.
Zio mendengus, Opa itu benar-benar seenaknya. Lalu mengambil langkah menghampiri Mayra.
Melihat langkah terpincang Mayra membuat Zio tak sabar hingga menggendong Mayra ala bridal style menuju mobil yang telah di siapkan pengawal.
" Eeehhh !!! ngapain kamu ?!! turunin !! turunin aku Zioo !!!" pekik Mayra yang tengah berada dalam gendongan Zio bahkan sesekali memukuli dadanya asal.
Zio tak menggubris masih dengan tatapan lurus sama sekali tak terpengaruh oleh ocehan Mayra.
__ADS_1
" Sudah kan ?" dengan mendudukkan Mayra di kursi samping kemudi. Memasangkan seat belt yang membuat jaraknya dan Mayra kian mengikis, sejenak mereka saling beradu pandang menatap lekat wajah yang sebenarnya begitu di rindukan.
》》》》》