
Mendengar suara adzan shubuh, Mayra mulai mengerjabkan mata. Karena sudah terbiasa bangun shubuh suara itu sudah seperti alarm saja baginya.
Ia mulai meregangkan otot selepas terlelap, setelah menyadari ia tertidur di ranjang Zio iapun panik sendiri.
Loh kok ? Zio mana ? Batin Mayra lalu matanya mulai menyapu sekeliling ruangan dengan cahaya temaram lampu tidur yang mengelilinginya, dan kini ia melongo tak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya di pagi buta ini. Zio dan Radit yang tertidur di sofa.
Astaga ... Sebenernya siapa pasiennya ? bener-bener apa dia uda ga papa ? bisa-bisanya tidur di sofa, pantesan tidurku enak banget. Dasar kasur VVIP ! Batin Mayra lalu bergegas turun dari ranjang, melangkah menuju sofa tempat Zio dan Radit terpulas sedikit menunduk lalu mengulurkan tangan memegangi kening Zio yang tertidur dalam duduknya.
Syukurlah ... Uda ga sedingin kemaren. Fyuhhh ...
Zio ... Aku pulang dulu ya ... Mau kerja ... Semoga kamu lekas membaik .... Bisiknya begitu pelan di telinga Zio.
Mayra mengambil boneka merah muda yang berada antara Zio dan Radit lalu melenggang dari kamar rawat Zio tersebut.
***
Mayra telah sampai di kantornya, dengan anggunnya berjalan penuh pesona karena menggunakan kacamata sepertinya, jadi menampakkan sisi elegannya. Bukan tanpa alasan, ia memakai kacamata karena matanya yang bengkak melebihi mata panda akibat kemarin tiada henti menangisi Zio.
Ia mulai memencet tombol lift, dan masuk ketika lift terbuka namun ada sebuah suara yang begitu mengganggunya, " Tungguuuu ... Neng pijitt !!!"
Dasar sengklekk !! Batin Mayra,lalu dengan segera memencet lift agar segera tertutup. Meninggalkan Anton yang berteriak tak jelas.
***
Mayra melangkah menuju kursi kerjanya, Rindi telah sampai lebih dulu nampaknya ," Kesambet apa May ? pake kacamata item di dalem kantor, eee... Bentar deh !" Seraya mengambil kacamata yang nampaknya dari Brand ternama.
" Eeehh ... Apaan si Rin !" seru Mayra.
" Itu mata kenapa May ?! Lo di campakkin Zio ?" tanya Rindi mencoba menerka, melihat mata Mayra yang sedikit merah dan begitu sembabnya.
" Panjang ceritanya, nanti aja." Kilah Mayra, seraya mengambil kacamata hitam di tangan Rindi lalu mulai merapikan berkas yang akan di kerjakannya lebih dahulu.
" Itu kacamata dari Zio ya ?" lolos juga petanyaan itu dari mulut Rindi.
" Hmm... Emang napa ?"
" Gpp ...."
Bisa pingsan lo May kalo tau harganya, Ziovano gila ! dasar konglomerat generasi ke tiga !
***
__ADS_1
Tika terlihat keluar dari Butik membawa paperbag berlogo Butiknya, ia akan mengantar pesanan untuk pelanggan nampaknya.
Ia mulai melajukan motor, namun seketika berhenti saat melihat anak kecil dengan bando biru muda menghiasi rambut ikalnya sedang berjongkok dengan seragam cerah khas anak Paud di pinggir jalan.
Tika turun dari motornya ikut berjongkok di samping si anak kecil, " Hai anak cantik kamu sedang apa disini ?" tanyanya kemudian, Tika memang menyukai anak kecil. Itulah salah satu alasan ia ingin segera menikah.
Anak kecil itu menengok pada Tika, memandangnya dengan tatapan penuh arti, " Aku lagi kasih makan kucing tante." Jawabnya kemudian lalu jari telunjuknya mengarah pada kucing yang sedang melahap ayam goreng miliknya.
" Loh itu bukannya makanan kamu ?"
" Aku ga suka ayam goleng tante, nyelilit ga enak !"
" Hahh ?" Tika melongo tak percaya, bukannya anak kecil sangat menyukai ayam goreng pikirnya.
" Ohh ya.. Nama kamu siapa sayang ?" keramahan ala sales mode on.
" Aulola tante."
" Hahh ... Apa Lola ?"
" Buuukan ! tapii Aulola." Masih mengeyel saja ia, dengan melipat tangan pada dadanya dan bibir yang di tarik ke depan.
" Iya iya ... Papa Mama kamu mana ? ko belum jemput kamu." tanya Tika mencoba mengalihkan perhatian.
Gadis cilik itupun merubah rautnya seketika, " Papaku sibuk tante, Mamaku udah di Sulga ..." ucapnya dengan penuh kesenduan.
Raut Tika mulai mengiba, " Oohh... Maaf ? Trus yang biasa jemput kamu siapa ?"
Si gadis cilik nampak mengangguk lalu menjawab pertanyaan Tika, " Nenek."
" Kamu pasti laper kan ? Yuk ikut tante, tante beliin donat putri salju, mau kann ?" bujuk Tika.
Anak kecil itu nampak waspada, sama sekali tak bergeming dengan ajakan Tika, " Kenapa ?" tanya Tika kemudian.
" Kata Papa ga boleh sembalangan ikut olang asing."
Astagaa !
" Tante bukan orang asing sayang, nama tante Tika tante kerja di Butik depan itu." ucap Tika penuh kelembutan, lalu menunjuk butiknya.
Anak kecil itu masih saja nampak waspada, " Ya udah deh kalo gak mau tante pergi ya, daaa ...." ucap Tika seraya berbalik sambil mencuri pandang siapa tau si gadis cilik berubah pikiran, namun sayang ia sama sekali tak bergerak.
__ADS_1
Huhh... Anak kecil aja bisa-bisaan waspada gitu, Mayra yang uda gede mah lewattt ...Hihihii Tika tergelak sendiri mengingat kelakuan Mayra yang kadang begitu cerobohnya. Sebenarnya sebelas dua belas dengan dirinya sendiri. Haha
" Tantee !" pekik si gadis kecil melihat Tika akan melajukan motornya.
" Kenapa sayang ?" tanya Tika sambil menoleh.
" Tante benelan mo beliin aku donat putli salju ?"
" Iyaa doong... Yukk .." si gadis kecilpun berlari menuju motor Tika, menaiki jok motor Tika lalu memeluk Tika dengan eratnya. Tika tersenyum simpul mendapat perlakuan hangat dari si gadis kecil.
Tika mulai menarik gas di tangan sebelah kanannya, lalu berhenti ketika sampai di pos satpam tempat sekolah si gadis kecil.
" Pak anak ini saya bawa sebentar yaa... Nanti kalo jemputannya dateng suruh nunggu sebentar yaa ..."
" Ehh ...Mba Tika kenal sama orang tuanya juga ya ?" Tika hanya mengangguk dengan canggungnya. Ia memang telah lama mengenal Pak Satpam karena sering membeli baju di Butiknya untuk sang istri.
Tika dan si gadis cilik pun melaju dengan motor maticnya membelah gang perumahan tempat Tika mengantarkan pesanan baju, yang tempatnya memang berjarak tak begitu jauh dari Butik tempatnya bekerja itu.
Setelahnya mereka menuju Toko donat dan membeli varian putri salju seperti keinginan si gadis cilik, rekah senyum si gadis cilik nampak begitu indahnya membuat Tika semakin gemas saja.
" Gimana enakkan ?" tanya Tika di tengah perjalanan pulang mereka.
" Iya tante... Heheee" jawabnya dengan menengok pada Tika, karena kini ia berdiri di depan Tika. Tika nampak begitu gemasnya melihat gula halus yang belepotan di mulut si gadis cilik, lalu segera mengelapnya dengan tangan kirinya sekenanya.
Tika telah sampai di sekolah si gadis cilik, nampak di matanya mobil sedan hitam yang terlihat begitu mewahnya menyilaukan mata, apalagi tak berselang lama si empu mobil mengeluarkan kaki jenjangnya dan berdiri membawa tubuh idealnya yang memakai kemeja merah marun panjang yang di lipat se siku, lalu membuka kaca mata hitamnya menengok ke arah Tika berada.
" Papaaa !!!" pekik si gadis cilik dengan girangnya, lalu bergegas turun dari motor Tika, menghambur menuju sang Papa.
" Auroraa ..." ucapnya dengan menundukkan badan dengan kaki kiri sebagai penopangnya, lalu merentangkan tangannya.
Mereka saling berpelukan dengan hangatnya, dengan rekah yang begitu bahagianya, seperti sudah begitu lama tak berjumpa.
Tika hanya melongo tak percaya dengan pemandangan di depannya kini.
Astagaaaa ...! ternyata Papanya cogaaaannn ! Batinnya begitu meronta ingin rasanya menimbrung pelukan hangat sang Ayah dan anak.
》》》》
Siapa hayooo ???
Hihihiiii ....
__ADS_1