
Jangan harap kalian bisa bersatu ! berbahagia di balik semua lukaku ! mimpi saja kalian ! Cihh !!
Seorang wanita di dalam sedannya tampak menatap penuh awas pada Mayra yang telah berbalik lalu Aldo yang mengiringinya. Ia tampak memukul stir dengan kasar, lalu segera meraih ponsel, " Sekarang." ucapnya dengan raut mengerikan dengan warna bibir Semerah darah yang terlihat sedikit menyungging. Ia lalu terlihat menstater mobil lalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
Terlihat seorang penembak membidik dengan penuh konsentrasi, lalu melesatkan tembakan meski tak sesuai harapan karena terhalang oleh seseorang yang berjalan di belakang Mayra.
Doorrrrr
Sebuah suara tembakan terdengar begitu menakutkan, seketika Mayra terhenyak merasa begitu nyeri tak tertahan dalam tubuhnya. Hingga ia berakhir pingsan yang langsung di tangkap Aldo yang berada di belakangnya.
" May ! Mayra !!" Aldo masih sempat mengguncang tubuh Mayra, namun ia terperanjat kala menyadari begitu banyak darah yang mengalir di balik tubuh Mayra.
Zio segera bangkit, menipiskan segala nyeri badan lalu menghampiri Mayra dengan tergopoh.
Tidak ! kumohon jangan lagi !
" MAYRAAA !!!" ia berteriak histeris begitu melihat Mayra terkulai tak berdaya dalam tangan Aldo yang ikut shock hingga terperosot pada aspal.
Para pengawal menghentikan perkelahian, melihat ke luar gerbang untuk memastikan siapakah yang tertembak.
Dengan segera Zio merebut Mayra dari tangan Aldo yang terlihat begitu shock dengan kejadian di hadapannya ini. Dengan seluruh sisa tenaga yang ia miliki Zio menggendong Mayra dengan raut dinginnya. Berteriak pada pengawal untuk segera menyiapkan mobil. Mengabaikan segala kecamuk dalam kepala. Menyelamatkan Mayra adalah hal pertama yang harus ia lakukan saat ini. Meski tak bisa dipungkiri ia begitu takut melihat darah yang mengalir tanpa henti, kejadian ini sungguh mengingatkannya kembali pada kejadian masa lalu. Tapi, sekarang berbeda. Dia sudah dewasa dan mampu berpikir tentang hal apa yang harus di lakukan. Tak ada waktu memikirkan perasaan luka lama yang tertinggal. Karena keselamatan Mayra adalah segalanya baginya kini. Ia akan mengerahkan segala upaya agar Mayra selamat.
Radit menatap penuh selidik dengan semua kejadian ini, mau di pikir seperti apapun kenapa bisa Nona Mayra yang terkena tembakan. Ia menatap tajam Om Sam, " Bukan." sangkal Om Sam dengan mengangkat kedua tangan yang terlihat kosong. Namun Radit semakin tajam menatapnya, tentu tak mungkin langsung mempercayai seorang Boss dunia gelap seperti dirinya.
" Anak buahku tau dimana dan kapan harus mengeluarkan senjata." sanggahnya santai lalu menghampiri Aldo yang terlihat masih saja tertegun, menatap kosong pada darah segar Mayra di atas aspal.
" Sudah. Ayo ...!" Ucap Om Sam lalu menepuk pundak Aldo kemudian. Aldo tersadar lalu mengangkat tangannya yang penuh darah, " Om ... Mayra ... Dia akan selamatkan ? dia tidak akan meninggalkanku selamanya kan ?" suaranya terdengar begitu sendu dan lemah.
Om Sam menghela napas kasar, entah drama apa yang tengah berjalan kini begitu pikirnya. Sementara Radit segera menghubungi Dokter Bedah terbaik di Rumah Sakit terdekat agar bisa segera mengoperasi Mayra.
Rindi yang mendengar suara tembakan melihat dengan begitu penasaran dari jendela atas, ia sempat melihat Mayra digendong Oleh Zio juga darah yang berjejak di aspal. Kini Ia sedang berteriak menggedor pintu agar seseorang menolongnya keluar dari kamar tersebut. Hingga, Mama yang kebetulan melintas untuk bersembunyi dalam kamar mendengarnya. Membukakan pintu untuk Rindi, ia terlihat sudah tak dapat menahan air mata. Dengan tergesa juga suara bindengnya ia berterimakasih pada Mama lalu pamit untuk melihat kondisi Mayra.
Ia segera turun, dan keluar dari rumah yang terlihat kacau balau hingga keluar gerbang yang tak kalah kacau karena darah yang bercecer. Ia bertemu Radit, " Anda ..." Radit nampak terkejut akan kehadiran Rindi.
" Akan kujelaskan nanti. Mayra ?" air matanya kembali menetes, meski langsung ia usap.
Di sini Radit mengerti, bahwa seangkuh apapun sifat Rindi. Persahabatannya dengan Mayra terlihat begitu berharga hingga membuatnya terlihat begitu terluka saat Mayra dalam bahaya. Rindi mengacungkan kunci mobilnya, " Lebih baik Anda yang menyetir." ia sedang dalam kondisi emosional saat ini, akan berbahaya. Radit terlihat mengangguk mengerti.
****
Zio bersama beberapa orang perawat berpakaian biru muda terlihat mendorong tandu beroda untuk membawa Mayra menuju ruang operasi yang telah disiapkan.
__ADS_1
Perawat terlihat menutup pintu operasi, Zio semakin terlihat kacau. Memukul menendang udara, merutuki kebodohannya yang tak becus menjaga Mayra.
*Mayra jika kamu juga pergi meninggalkanku, sebenarnya untuk apa lagi aku hidup. Semua yang aku sayangi pergi, Mama dan sekarang kamu. Tidak Mayra kumohon jangan tinggalkan aku lagi. Jangan....
Kamu harus selamat. Apapun yang terjadi kamu hanya harus selamat Mayra. Aku akan berusaha. Aku akan mengerahkan Dokter terbaik. Kamu harus selamat Mayra* !
Zio terlihat terduduk di kursi tunggu dengan menundukkan kepala, menyangganya dengan kedua telapak tangan yang bersimbah darah.
Hingga Aldo terlihat berjalan mendekatinya, " Dimana Mayra ?" tanyanya dengan raut gamang, menengok kanan juga kiri bergantian mencari keberadaan Mayra.
Zio mengeluarkan aura mencekam, menatap Aldo dengan raut ala pemangsa.
Bugghh ... Bugghh ...Bugghh
" Brengsek ! sialan ! biadab !"
Ia melontarkan sumpah serapah juga memukuli Radit dengan membabi buta. " Tidak cukup menculiknya ! puas kau sekarang melihat Mayra terluka karena keegoisanmu Hahh ??!!!"
Bugg... Bugghh ... Draakkkhh
Pukulannya terhenti saat Aldo telah terhempas pada kursi ruang tunggu, Satpam datang dan menjaga di sisi kanan kiri Zio.
" Ini Rumah Sakit tidak boleh ribut disini !!! Anda harus keluar !!"
" Tidak ! Anda tidak di izinkan disini jika melanggar peraturan dengan membuat keributan." ucap Pak Satpam, dengan masih kepayahan menahan Zio yang memberontak.
" Cihhh !!! Akan kupecat kalian semua ! cepat lepaskan !!"
Akhirnya Zio dan Aldo digiring keluar dan tak di izinkan masuk kembali.
****
" Halo ... Assalamu'alaikum ..."
' Halo Bu, ini Rindi.'
" Iya ... Oalah Nak Rindi gimana kabarnya ?"
' Baik Bu, tapi Rindi ada kabar ...'
" Kabar apa ? nak Rindi mau menikah ya ?" Ibu masih sempat tersenyum dan menggoda sahabat karib anaknya tersebut.
__ADS_1
' Bukan Bu... Tapi ..."
" Kenapa nak ? ga pa pa bilang aja sama Ibu. Ada masalah ?"
' Mayra Bu ... Mayra tertembak.' Ucap Rindi dengan perasaan tak enak hati. Tapi bagaimanapun juga Kedua orang tua Mayra wajib tau akan keadaan anaknya.
Brukkkk
Ibu terhenyak. Dadanya terasa sesak, bulir bening mulai berjatuhan hingga ia terlihat terperosot ke lantai, tangisnya pecah seketika. Bapak terlihat menghampiri.
" Ada apa Bu ?"
Tak menjawab Ibu malah semakin meraung, hingga Bapak meraih ponsel Ibu namun sambungan telepon telah terputus. Hingga sebuah pesan dengan alamat Rumah Sakit tempat Mayra di rawat terbaca oleh Bapak.
" Ma... Maayra Pak .... Mayra kena tembak ...." Ibu semakin menangis meraung, sungguh dunianya seakan runtuh membayangkan anak seceria Mayra harus mengalami hal seperti ini.
Bapak tertegun, matanya nampak memerah, berkaca lalu bulir demi bulir mulai berjatuhan kemudian. Keduanya terlihat menangis dalam lantai beberapa saat, lalu Bapak menyadarkan.
" Sudah Bu ... Kita harus cepat melihat keadaan Mayra." Lalu beranjak untuk bersiap.
Ibu masih terlihat begitu shock, sungguh ia seperti seorang yang beraga tanpa nyawa. Berjalan lunglai, dengan bulir bening yang tiada henti menetes.
" Ibu kenapa ?" Khadija yang baru tiba nampak heran dengan ibunya yang melamun dalam tangis. Ibu malah terlihat tersedu mendengar pertanyaan Khadija.
" Sudah Jah ... Kamu baik-baik di Rumah jagain Fahmi. Bapak sama Ibu mau lihat Mayra."
" Loh ... Emang Ka May kenapa ? tumben dijengukin."
Bapak terlihat menghela napas, " Kakakmu kena tembak." Menepuk pelan bahu Khadija." Do'akan keselamatannya." lalu melenggang menaiki mobil sarter yang telah datang.
Hah ? maksudnya ?
Khadija berlari menghampiri Bapak," Maksudnya kena tembak beneran Pak ? kok bisa ?!" ia memekik tak percaya.
Bapak hanya mengangguk, lalu mobil telah berjalan menjauh. Meninggalkan Khadija yang telah berderai air mata di halaman rumah.
Kak May ... Dija becanda waktu bilang Kak May mati aja. Kenapa Kakak gak bisa jaga diri sampe bisa kena tembak. Tembak pistol ? sebenernya apa yang salah sama orang sebaik Kakak ? Dija mohon Kak... Kak May harus selamat. Katanya janji mau ajak kita liburan sekeluarga. Katanya Kaka mau hadir di saat perayaan wisuda Dija nanti, kan itu masih lama kak 6 tahun lagi ...
Air mata semakin berderai seiring hilangnya mobil dalam pandangan Khadija.
Kak May orang baik, kuat, Kita semua sayang Kakak. Kak May pasti akan selamat kan ? Nggak ! Kakak harus selamat dan hidup sampai kita tua barengan.
__ADS_1
" Huu... Uuuu...Huu..."