
" Hu... uuu... Huuuee ...." Mayra nampak tak kuasa kembali menahan airmatanya hingga berakhir tumpah ruah di pipi mulusnya kini.
Tika tiba dengan membawa sekotak penuh es krim yang di belinya tadi. " Udah sii May ... Lo itu harus mengamalkan pepatah 'Buanglah mantan pada tempatnya' itu May ...." Lalu menyuapkan es krim pada Mayra yang tak kunjung tenang.
" Huee... Hueee.... " malah makin kejer saja menangisnya, namun langsung di suapi es krim kembali oleh Tika.
" Lo tu sebenernya nangisin Aldo apa dramanya sih May ?!" kesabaran Tika mulai mengikis, mendengar Mayra yang semakin menjadi.
" Gue .. Tuh ... salah ... apa coba Tik ? kenapa semua cowok yang parkir di hati gue ga ada yang jelas. Heuu... Heuuu .."
Tika meluruskan bibirnya," Sama kali May... Kayanya kita musti ke pesantren deh biar syaiton pada minggat, ga berani mendekat... Fyuuhhh"
" Udahh sih nangisnya... lo bobok yang anteng yaa... Jangan lupa kita besok masak buat calon anak masa depan gue loh... Demi kelancar jayaan masa depan indah gue nih. Oke ??" ucap Tika dengan mematikan drama yang di tonton Mayra lalu melipat laptop dan membaringkan Mayra. Ia beranjak dengan membawa kotak es krim yang telah habis, lalu melenggang dari kamar Mayra.
Mayra yang mulai tenang menatap langit-langit kamarnya dalam keadaan terbaringnya kini, begitu banyaknya kelebatan pertanyaan dan bayangan Aldo juga Zio saling tumpang tindih memenuhi kepalanya. Hati dan fikirannya terasa begitu beratnya, lelah dengan segala perlakuan semua lelaki yang singgah dalam hatinya. Mayra sama sekali tak bisa menebak dengan apa yang akan di lakukan kedua laki-laki itu nantinya.
Segala kerumitan hubungan palsu yang mengelilinginya ini begitu membuatnya muak. Gundah dengan langkah selanjutnya yang harus ia ambil, harus mengambil sikap yang seperti apa dan bagaimana nantinya. Mayra nampak mulai meneteskan airmatanya kembali, namun dengan segera menghapusnya.
Di raihnya ponsel yang berada di meja kecil samping tempat tidurnya, melihatnya nanar, menyadari tak ada satu pesanpun dari Zio di sana, membuat fikirannya semakin kacau saja. Ingin menekan icon dengan gambar telepon, namun ia urungkan. Hingga berakhir memandangi profil Zio yang terpampang di layar ponselnya dengan posisi berdiri menggunakan setelan jas di balik jendela membelakangi kamera, semakin menatapnya semakin membuat Mayra menyadari seberapa jauh ia telah terhanyut dengan pesona yang Zio miliki. Bahkan sebagian sudut hatinya begitu meronta ingin merasakan lagi hangatnya dekapan pria yang selalu ada pada masa sulitnya itu, ia semakin terlena rupanya hingga berharap untuk selalu bersamanya dan bahkan memilikinya seutuhnya.
__ADS_1
Begitulah hati manusia, bergerak sendiri tanpa peduli dengan perintah dari sang otak. Seberapa kuatnya Mayra menolak rasa itu, maka ia akan semakin kuat mendorongnya.
Belum lagi memikirkan fakta tentang Aldo yang ternyata masih begitu mencintainya dan hanya memanfaatkan Kalista, sungguh membuat Mayra semakin di landa nelangsa. Meskipun kini cintanya untuk Aldo terasa kian mengikis dengan kehadiran Zio, namun Ziopun sama sekali tak bisa Mayra harapkan menjadi sandaran, karena perbedaan yang begitu melangit bumikan ia dan Zio, nalar Mayra memang masih bekerja dengan baiknya hingga masih memikirkan perbedaan status dan juga wanita yang di cintai Zio,tak seperti sang hati yan telah menghianatinya. Sungguh cinta begitu rumit pikirnya.
Ia nampak mencari posisi nyaman untuk terpulas dengan membawa segala hal yang berkecamuk dalam benaknya, memikirkan semua kerumitan ini membuat Mayra begitu lelahnya hingga dalam sekejap nafasnya telah berembus dengan teraturnya.
***
Bukan hanya Mayra yang di landa kegundahan, Ziopun sama. Ia hanya mampu memandang profil Mayra dalam ponselnya, tanpa sanggup menekan tombol hijau untuk menyambungkan suara pada Mayra.
Ucapan Rindi begitu mengusik hatinya, bimbang dengan langkah yang harus ia ambil. Haruskah melanjutkan rencananya ? yang artinya akan semakin menyakiti Mayra, atau berhenti di sini ? tapi tak akan ada perubahan dalam hidupnya, memiliki hubungan bahagia dengan Shanon hanya akan menjadi angan untuknya selamanya.
Sungguh ia bingung harus berbuat apa dengan keadaan yang begitu sulit ini. Jika dulu ia dengan mudahnya melancarkan ide gila dalam benaknya tanpa peduli dengan perasaan Mayra sedikitpun. Namun kini, semakin ia mengenal Mayra semakin meresapi setiap sifat Mayra membuat nurani yang telah lama mati itu perlahan hidup kembali bahkan nampak mulai tumbuh dengan suburnya.
Menyakiti Mayra ? adalah hal gila. Melihat Mayra yang menangis pilu karena kejadian kemarin saja telah mampu membuat hati dinginnya terasa tercabik, lalu bagaimana ia bisa menyakiti Mayra dengan alasan kebahagiaannya dengan Shanon kelak. Sungguh ia akan menjadi manusia yang paling egois di muka bumi fikirnya.
Zio nampak berguling ke kiri dan kanan sama sekali matanya tak bisa terpejam, ia sendiri bingung kenapa ia bisa segelisah ini memikirkan perasaan Mayra.
Padahal dulu, sebelum pertemuannya dengan Mayra sama sekali hatinya seperti tak bekerja dengan seharusnya, terasa dingin dan hampa, bahkan tangisan para karyawan yang memohon ampun karena membuat kesalahan besar sama sekali tak bisa menggerakkan hatinya, hingga menghukum mereka dengan tanpa ampun.
__ADS_1
Tapi kini setelah mengenal Mayra, ia merasa semakin bisa merasakan kehangatan yang mengalir dalam hatinya lebih bisa mengerti tentang perasaan orang lain dan mulai mengubahnya, dia yang biasa berkata sesuka hatinya, menjadi sedikit menahan diri walaupun masih tetap dengan manampakkan sisi angkuh yang sudah mendarah daging dalam dirinya itu.
***
" Apa yang terjadi dengan anda tuan ?" tanya Radit yang baru datang di apartemen Zio di pagi buta ini dengan membawa laporan yang di minta Zio, melihat bawah mata Zio yang nampak hitam dan wajah kusut seperti tak tidur semalaman.
Namun memang benar Zio sama sekali tak bisa terpulas semalaman mimikirkan Mayra, bahkan ia merutuki hal gila yang ia lakukan itu, sungguh bukan sifat seorang Ziovano pikirnya.
Zio nampak diam membaca dengan seksama laporan yang di bawa Radit, nampak tak ingin menjawab pertanyaan Radit.
Radit yang begitu pekapun terdiam, lalu mulai bertanya kembali, " Bagaimana dengan nona Mayra tuan ?"
Zio nampak menghela nafas, Radit ini tau saja permasalahn dalam hidupnya yang malah menambah kerumitan isi kepala Zio yang tak bisa istirahat sedari kemarin itu.
" Tak usah bahas dia dulu."
Zio akan mencoba berfikir jernih dengan kepala dingin untuk memutuskan langkah selanjutnya yang akan ia ambil, dengan tanpa pertemuan atau sekedar berkirim pesan pada Mayra. Mencoba menantang hatinya apakah benar Mayra seberharga itu untuk dirinya atau ini memang hanya ego untuk mendapatkan kebahagiaannya semata.
》》》》》》
__ADS_1