KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Sekertaris


__ADS_3

" Apa ?" Mayra memekik tak percaya di tengah bisingnya suasana kafe dengan berbagai varian rasa kopi dalam menunya.


Radit menutup sebelah telinga, menghiraukan tatapan aneh orang sekitar hingga mereka melakukan aktivitas seperti biasa kembali.


" Anda hanya harus menandatanganinya Nona."


" Radit !" mengacungkan telunjuk tepat di hadapan Radit, " Kamu tahu ini bukan hanya tentang masalah tanda tangan !"


Radit memutar bola mata malas, " Lalu apalagi ?" menengok jam tangan, " Cepatlah Nona, saya tidak punya banyak waktu."


" Apa ?" Mayra menunjuk baris judul sebuah berkas yang di berikan Radit, " Kamu menyuruhku menandatanganinya ?! aku gak mau Radit !"


" Baiklah. Saya akan segera melaksanakan perintah alih fungsi ba-." beranjak ingin meninggalkan Mayra.


" Stop ! okey !" dengan napas tersengal penuh amarah. Kekuasaan sialan !


Dengan segera ia meraih pulpen, lalu bertanda tangan di barisan paling bawah dalam sebuah berkas yang berjudul.


SURAT PEREKRUTAN SEKERTARIS PRESIDEN DIREKTUR.


Dasar manekin ngeselin !


" Apa yang kalian lakukan." sangat dingin, sampai membuat bulu kuduk Mayra berdiri seketika.


Mayra dan Opa terkesiap, menarik tangan masing-masing. Zio berjalan mendekat, meraih map hitam di atas meja.


Rautnya terlihat amat kesal setelah membaca, itu adalah sertifikat kepelimilikan rumah ala kerajaan yang dulu diminta Mayra menjadi syarat untuk melaksanakan pernikahan. Lalu Menatap Opa dan Mayra bergantian.


Brukk


Zio melempar map hitam tepat di wajah Mayra, sontak membuat Mayra membelalak tak percaya.


" ZIO !" suara garang Opa terdengar mendengung memenuhi ruangan.


" Aku sudah curiga bagaimana seorang gadis biasa bisa di percaya menjadi Kepala sebuah Yayasan sebesar ini, tapi ternyata ada hubungannya dengan Opa." Lalu beralih pada Mayra, " Kamu saya pecat !" dengan menatapnya tajam, namun seketika ada gejolak aneh yang menjalar dalam setiap desiran darahnya. Entah apa yang salah begitu pikirnya.


" Apa ? tapi salah saya apa Pak ?" meski sempat termenung beberapa saat, akhirnya Mayra bisa menetralkan raut kembali.


" Kamu masih bertanya ? dasar wanita ***** !"


Bulir bening jatuh seketika membasahi pipi Mayra.


Plaakk


Opa menampar lalu menjewer telinga Zio, " Minta maaf kamu !!"

__ADS_1


" Aww Opa ! sakit ! memang aku anak kecil ?! lepas !" berusaha melepaskan tangan Opa. Namun tak bisa.


" MINTA MAAF Opa bilang !! bahkan anak kecil tidak akan berbicara sekasar itu pada wanita !"


" Opa bahkan sampai membelanya seperti ini ?! Dasar ! hey wanita ****** apa kamu buta ?! dia sudah bau tanah ! enyah kau !" Opa malah semakin erat menjewernya.


" Apa kamu bilang ?! kamu pikir kalau bukan karena Opa kamu bisa jadi seperti sekarang Ha ?! dasar anak nakal !! cepat minta maaf !"


Mayra menghapus air mata, " Sudahlah Opa ... Mayra gak pa pa ..."


" Tidak usah berpura-pura dasar ular berbisa !" Opa semakin tinggi menarik telinga Zio, " Aww ! AW !! Opa hentikan !"


" Tidak akan ! minta maaf padanya !"


" Tidak mau !" lalu menarik tangan Opa dengan kekuatan penuhnya, agar segera melepaskan tangan dari telinganya.


" Dasar licik !" Opa mengelus tangan bekas tarikan kuat Zio. Mayra segera menghampiri, " Opa gak pa pa ?"


" Tak apa Mayra. Tolong maafkan Zio, entah kenapa sekarang dia berubah menjadi sangat kasar." Mayra mengangguk mengerti.


" Ini harus segera dioles salep agar tidak bengkak Opa." lalu menuntun Opa menuju pintu keluar, namun tangannya di tarik Zio, " Mau lari kemana kau ?" seketika Mayra oleng hingga terjatuh menimpa dada bidang Zio, sekejap keduanya terpenjara dalam lamunan wajah yang sebenarnya begitu dirindukan namun sedikitpun tak dapat di luapkan. Serentak dengan debaran jantung yang saling bersahutan namun tak dapat saling menyatukan.


Ziovano ternyata aku memang masih sangat mencintaimu. Searah dengan lelehan air mata juga dentuman dalam dada yang kian menggema.


" Apa menggoda dengan air mata adalah jurusmu dalam mendapatkan mangsa ? cih !" lalu mendorong Mayra hingga tersungkur, " Maaf Nona aku tidak akan pernah terjerat !!" lalu melenggang, meninggalkan Mayra yang terisak. Merasakan perlakuan buruk dari seseorang yang sangat ia cintai, sungguh lebih menyakitkan di banding apapun.


" Apa kamu pikir yang seperti ini pantas disebut bentuk permintaan maaf ?" Mayra masih amat kesal setelah kembali terngiang perlakuan kasar Zio kemarin.


" Sangat pantas." dengan tanpa dosa Radit menjawab.


" Apa ?! Dasar kalian berdua sama saja ! Radit kamu tau segalanya setidaknya jelaskan padanya kenapa diam saja ?!" rasanya gemas sendiri Mayra dengan kelakuan dua manusia satu setelan tersebut.


Radit menghela napas, " Maaf Nona, terkadang ada begitu banyak hal yang tidak berada dalam jangkauan saya. Termasuk keputusan Tuan. Apa anda mengerti ?"


" Enggak !"


Dan nggak akan pernah mau ngerti ! puas !?


" Saya harap anda membaca semua Syarat dan Ketentuan yang berlaku, dan jangan lupakan kewajiban yang tertera dalam lembar terakhir surat." Radit tampak beranjak. Mayra tampak menahan gumpalan amarah sekuat tenaga.


" Oh .. Iya. Besok Anda sudah mulai bekerja, jangan sampai terlambat. Saya harap anda bisa bekerja sama dengan baik." Lalu pergi meninggalkan Mayra dengan berbagai sumpah serapah dalam bibir mungil komat-kamitnya.


Aarrgh !!!!


***

__ADS_1


Zio telah sampai di kantor, berjalan dengan membawa berjuta pesona memanjakan selera mata. Para karyawan terlihat menunduk kala berpapasan dengannya, meski setelahnya gemetar hebat bahkan tak bisa berdiri dengan benar. Seperti itulah sosok seorang Ziovano, seperti makhluk yang berperisai baja yang sama sekali tak dapat tersentuh meski tengah berhadapan sekalipun.


" Mana dia ?"


" Mungkin masih di jalan."


" Dasar ! hari pertama sudah terlambat." masuk dalam ruangan kebesaran miliknya.


Beberapa saat kemudian ...


Tok ... Tok ..Tokk


" Masuk."


Mayra memasuki ruangan dengan setelan rapi ala sekertaris lainnya, " Maaf Pak sa-"


" Baru hari pertama dan kamu sudah terlambat." Zio bertepuk tangan, " Wow ! hebat sekali !"


" Maaf Pak, tapi saya sampai tepat waktu." dengan melihat pada jam yang melingkar pada pergelangan tangan.


" Tepat waktu kamu bilang ? kalau saya sudah sampai dan kamu belum itu artinya kamu terlambat !"


Sabar ... Sabar ... Inhale ... Exhale ...


" Lihat apa kamu ? saya sedang bicara."


Kan peraturannya tidak boleh bertatapan secara langsung ! dasar ! kenapa sifat nyebelinnya gak ikutan ngilang aja sih !?


" Maafkan saya Pak, tapi tadi macet sekali. Saya harus naik tiga angkutan umum yang berbeda untuk sampai sini."


" Berani sekali kamu meminta kendaraan setelah belum genap satu hari bekerja. Aku sangat terkejut."


Apa ?


" Bukan Pak, Bukan itu maksud saya..."


Gimana jelasinnya ?


" Kemarin baru satu hari menjabat sebagai Kepala Yayasan kamu mendapat Rumah seharga triliunan, dan sekarang baru beberapa menit menjadi sekertaris berani meminta kendaraan. Hebat sekali." Sorotnya kian menajam saja, membuat Mayra kian tertusuk-tusuk oleh tatapannya.


Aku gak minta ! kamu yang kasih ! ambil kembali saja aku tidak butuh !!!


" Maaf Pak, tapi bukan seperti itu maksud saya ..."


Zio tampak memundurkan kursi kebesarannya, menyilangkan kaki setelahnya, " Bilang saja. Ingin apa ? Aventador ? Rolls ROYCE ? BMW ? Sport ?" ucapnya dengan raut menantang.

__ADS_1


Sudah kubilang bukan itu maksudku !!!


__ADS_2