KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Luka


__ADS_3

Zio nampak makan dengan khidmatnya dibalik latar suara Mayra dan Nenek yang sedang asyik bercengkerama di ruang keluarga.


" Ko Nenek tadi panggil Zio Jaka Tarub si Nek ?"


Nenek menarik senyum simpul hingga menambah kerutan pada pipinya, " Karena dia," menunjuk Zio, " Kaya Jaka Tarub. Baru akan datang jika mendapat kiriman selendang."


" Selendang ?" Mayra tampak kebingungan sendiri.


" Iya, Kamu tau ? Selendang adalah lambang duka cita di keluarga ini." dengan melirik pada Zio sekilas, karena ruangan memang lengang tak bersekat.


Zio sampai menoleh, dan mendesah tak percaya Nenek menceritakan rahasia keluarga pada Mayra.


" Beneran Nek ?" menatap tak percaya pada Nenek, yang segera dijawab dengan anggukkan olehnya. " Waa Zio kamu parah banget, ga boleh gitu tauk sama Nenek." beralih menengok pada Zio, dengan nada menggurui. Membuat Zio membuang muka, lalu segera beranjak. Sebelum mendapat ceramah yang lebih panjang kali lebar oleh kedua wanita yang sedari tadi sibuk bercengkerama tersebut.


***


Fajar mulai menyingsing, aktifitas pagi di Rumah Nenek mulai terdengar. Suara ayam berkokokpun menjadi pembuka pagi indah ini untuk Mayra. " Hoahhmm..." ia nampak menguap juga meregangkan otot setelah terlelap.


Mayra nampak menuruni anak tangga dengan semangat empat lima setelah selesai membersihkan diri, ia segera menuju dapur yang telah ada Nenek dan Bi Ning di sana. Memasak menu kesukaan Zio jika bertandang ke rumah Nenek, ikan bakar bumbu khas ala Nenek. Yang rasanya memang tiada duanya. Bahkan semerbak aromanya telah memenuhi ruangan.


Hingga ketiganya nampak makan dengan sesekali bercanda tawa, sungguh keramaian yang selama ini tak pernah dirasa oleh Nenek. Kehadiran Mayra sudah seperti air dalam keringnya hasrat hidup Nenek. Ia sempat menyeka air mata tanpa sepengetahuan Mayra juga Zio, sangat terharu dengan suasana indah ini.


Setelah selesai Zio nampak kembali ke kamar, mengerjakan segala dokumen yang menumpuk selama beberapa hari ditinggalkan, yang dibawa oleh para pengawal yang ditugaskan menjaga Zio dan Mayra sementara di rumah Nenek. Semua sesuai arahan Radit, agar suasana tegang berubah tenang perlahan barulah Zio dan Mayra diperbolehkan pulang. Sementara dia yang akan menghandle segala urusan di Ibu Kota termasuk juga Aldo, yang tak akan diloloskan begitu saja.

__ADS_1


Mayra nampak bersuka cita, mengikuti segala kegiatan Nenek dari berkebun yang membuatnya nampak sangat antusias karena banyaknya bunga juga buah-buahan yang di tanam Nenek tumbuh dengan suburnya. Lalu mengikuti Nenek mengawasi kinerja pekerja di pabrik olahan susu sapi murni yang terletak dua kilo meter dari Rumah Nenek. Rumah Nenek memang terletak di ujung perkampungan bahkan berbatasan langsung dengan hutan yang sebenarnya miliknya sendiri. Kecintaan sang Kakek pada tumbuhan hingga para satwa dahulu masih digenggamnya erat dengan selalu menjaga hutan tersebut agar tak terjamah tangan usil.


Hingga saat Nenek mengajaknya ke perpustakaan, tempat favoritnya bahkan Zio. Walaupun Mayra nampak sedikit bosan karena hanya ada buku tentang berbagai ilmu, motifasi, bahkan banyak filosofi yang membuatnya semakin terkantuk bahkan tertidur di sofa, membuat Nenek yang melihatnya menggeleng pelan.


Dan begitulah Mayra menjalani hari di Rumah Nenek dengan penuh antusias hingga beberapa hari berlalu begitu tak terasa untuknya.


Setelah selesai mengabari Bapak dan Ibu bahwa ia akan pulang esok hari. Ia segera bergegas mencari keberadaan Nenek dari dapur, ruang makan, gazebo, perpustakaan Nenek tak ada lalu kemanakah ? dengan pikiran yang sedikit panik ia membuka kamar Zio, membuat Zio menengok seketika.


" Zio.. Nenek ilang !!"


Zio tampak mengernyit, " Nenek ? Hilang ? hahaha ..." seketika ia tergelak, melepas segala penat dari berbagai dokumen dalam laptop.


" Ko ketawa sih ?"


" Isshh... Dibilangin ga percaya, kalo kenapa-napa sama Nenek jangan salahin aku loh." ucapnya kesal lalu melenggang meninggalkan kamar Zio.


Ia nampak berjalan dengan lunglainya, Nenek kemana si ? sepi nih May ga ada Nenek.. Uhh..


Hingga Mang Oleh nampak melintas dengan membawa secangkir kopi, " Mang !" panggil Mayra yang seketika menghentikan langkah Mang Oleh.


" Aya naon Neng ?"


" Nenek dimana sih ? ko ga ada dimana-mana." ucapnya dengan memandang sekeliling.

__ADS_1


" Ohh.. Pasti teh lagi di kamar atas yang paling ujung Neng."


" Oh ya ? makasih ya Mang ..." ucap Mayra dengan langkah terburu memijaki anak tangga menuju lantai atas.


Mayra terlihat mengetuk pintu berulang kali, namun tak mendapat jawaban membuatnya semakin penasaran hingga membuka pintu dengan perlahan.


Dan terlihatlah Nenek yang sedang menangis haru dengan memeluk sebuah pigura di sudut kasur, membuat Mayra terenyuh seketika. Lalu dilihatnya sekeliling kamar yang nampak tak jauh berbeda dari kamar lainnya, ia memberanikan diri mendekati Nenek, merengkuhnya dalam pelukan mengelus lembut punggungnya. Meski tak dapat melihat isi dalam pigura tersebut, Mayra dapat memastikan bahwa mungkin Ibu dari Zio. Membuatnya semakin terhenyak, ternyata bukan hanya Zio yang masih menyimpan serpihan luka itu, namun Nenekpun sama bahkan mungkin lebih dalam dan lebarnya. Terlihat dari Nenek yang selalu saja memakai pakaian hitam, tanda duka cita mendalam yang mungkin belum bisa dilupakannya bahkan hingga kini.


Nenek nampak menangis tersedu, ia yang tadinya hanya ingin melihat foto sang anak dan memberitahu jika kini Zio telah berhasil menjalani hidup normal dan sebentar lagi akan menikah, hingga membuat Nenek menangis haru mengingat betapa bahagia sang anak saat menimang Zio dimasa bayinya. Mengingat betapa berat perasaan saat kehilangan seorang anak dengan sangat tak wajarnya, mengingat kehidupan pilu yang dijalani Zio setelah kehilangan Mamanya. Dari dia yang selalu histeris ketika akan memejamkan mata, menjadi antisosial bahkan sangat takut bertemu orang lain. Selalu meminta menjenguk makam Mama sesuai keinginannya. Hari-hari yang begitu beratnya hingga terkadang membuat nurani yang telah porak poranda tersebut meraung menyalahkan takdir. Namun segera kembali terlihat sekuat baja, agar menjadi sandaran kuat untuk sang cucu yang tersesat dalam jalan buntu karena kehilangan penunjuk arah dalam hidupnya.


Hingga hangat tubuh seseorang membuatnya bukan berhenti malah semakin tersedu. Sesungguhnya ia merasa tak kuasa terlihat rapuh oleh anak muda yang bahkan akan menjadi cucu menantunya. Namun egonya terkalahkan oleh perasaan membuncah dari kehangatan yang diberikan Mayra beberapa hari ini bahkan saat ini.


" Terimakasih Mayra ..." Ucap Nenek setelah kembali tenang.


" Mayra ga lakuin apa-apa ko Nek .."


" Terimakasih telah hadir dalam hidup Zio, menjadi penerang untuk kehidupan hampanya, terimakasih banyak telah mewujudkan impian anak Nenek ..." ucapnya penuh haru hingga menampakkan lelehan air mata kembali. Dengan mengingat ucapan sang anak yang selalu terngiang bahkan menjadi obat mujarab dalam kepiluan yang dialaminya agar berdiri tegak, hingga mampu memberi kekuatan untuk sang cucu tercinta.


" Apapun itu Ma ... Asal Zio bahagia. Aku akan melakukannya." sungguh cinta seorang Ibu tida berujung.


" Nek..." Bahkan Mayra ikut terhanyut, merasa tak pantas mendapat ucapan terimakasih yang begitu tulusnya dari Nenek. Kerena pada kenyataannya hubungannya dengan Zio hanyalah kepalsuan belaka.


\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Senin guyss jangan lupa votenya buat dukung Ziora Yee 😻😽


__ADS_2