
Mereka terdiam dalam hening, hanya terdengar deru suara mesin mobil yang kini tengah melaju. Membelah lengangnya jalanan Ibu Kota di tengah malam ini.
Zio menatap lekat Mayra yang tengah mengalihkan pandangan ke luar jendela. Meski tak dapat dipungkiri, pantulan raut penyesalan Zio terlihat jelas dalam kaca jendela tersebut. Mayra terhanyut beberapa saat, merasa bersalah melihat raut sendu Zio. Tapi, biarlah. Dia memang bersalah, tidak seharusnya melakukan hal tersebut meski dalam keadaan apapun kan. Dasar laki-laki brengsek. Ternyata di balik raut manekinnya itu tersimpan sejuta hasrat menggelora. Mayra tampak kembali bergidik mengingat kelebatan insiden mendebarkan sekaligus memalukan yang baru pertama kali di alaminya.
Aaa Ziio !! kenapa sih kenangan ciuman pertama harus seburuk itu !! dasar jahat !!
Rautnya kembali menajam, melotot kesal pada bayangan Zio dalam kaca jendela. Membuat Zio semakin tak berdaya, harus bagaimana menjinakkan harimau betina yang tengah di Landa amarah ini pikirnya.
" Maafkan aku May ..." gumamnya sangat pelan, bahkan Mayra sedikit tak jelas mendengarnya hingga kembali mengacuhkannya.
" Mayra maafkan aku !" seru Zio kemudian karena merasa diabaikan. Radit terlihat menggeleng lalu menatap lurus kedepan kembali.
" Aku gak mau bahas itu dulu. Bawaannya pengen nelen orang, mau kamu aku telen mentah-mentah." ucapnya dengan nada datar. Sangat datar sampai membuat Zio bergidik. Menyeramkan.
" May ..." Zio tampak memandanginya nanar, mencari sebuah harapan agar termaafkan. Ia memang sedang berada di luar kendali saat itu. Bagaimana tidak, bisa-bisanya Mayra bersender pada Fabio yang notabene seorang playboy kelas kakap itu. Ia tidak mau Mayra menjadi sasaran selanjutnya, mengingat betapa lugunya Mayra itu. Lalu ucapan Mayra tentang membatalkan pertunangan, bahkan memintanya bersama Shanon sungguh membuat amarahnya semakin memuncak saja. Sedangkal itukah perasaannya Dimata Mayra. Meski ia memang mencintai Shanon meskipun itu dulu, karena entah dengan sekarang. Intinya ia tak mau dan tak akan pernah melepaskan Mayra kepada siapapun itu, karena Mayra adalah Dewi penyelamat hidupnya. Kehilangan Mayra ? dia tak akan pernah rela !
Apakah aku terlalu serakah ? setidaknya biarkan aku sekali ini saja, karena kehidupan tanpamu adalah sebuah ruang hampa yang sangat kubenci.
" Aku mau pulang."
" Kita sedang menuju ke apartemen."
" Ke kost an."
Zio tertegun sesaat, hatinya kembali terasa nyeri. " Radit, kau dengar ?" ucapnya dengan raut senetral mungkin, berusaha tak menapakkan betapa kecewanya ia saat ini.
" Baik Tuan." Lalu dengan segera memutar arah kemudi.
Suasana kembali hening, Ketiganya tampak terhanyut dalam pikiran yang berlarian ke sana kemari menyusun kembali kelebatan peristiwa yang mereka alami malam ini.
__ADS_1
***
Mayra sudah sampai, membersihkan diri lalu segera bergegas merebahkan diri dalam kasur kesayangannya. Namun, tak berselang lama setelah ia memejamkan mata ada sebuah suara yang amat menganggu. Bukan, menyeramkan lebih tepatnya. Ia berusaha menutup telinga, namun suara itu masih saja terdengar.
" Huu..Uu..Huu..Uuu...Huee ...."
Mayra terbangun, menempelkan telinga pada tembok. Mencoba memastikan apakah benar suara Tika. Lalu ia segera beranjak ketika menyadari bahwa benar itu suara Tika.
Ia nampak tergesa menghampiri kamar Tika yang hanya berada di sebelah kamarnya.
Ckleekkk
Tika mendongak seketika, " Maayy ....." ia nampak semakin menangis tersedu, Mayra segera menghambur memeluknya lalu mengusap lembut punggung Tika, pikirannya berkelana beriringan dengan sebuah penyesalan karena tadi ia melupakan Tika dalam pesta. Apakah terjadi sesuatu padanya ? jangan-jangan dia bertemu Kalista. Namun dengan segera ia menggeleng, menampik segala kemungkinan buruk yang berkelebat.
" Kenapa sih ?" tanya Mayra setelah Tika mulai tenang.
" Hu.. uhuuu... Huuue..."
Tika nampak mengulurkan tangan, menggiring telunjuknya pada bibir Mayra. " Ssstt.. Cup dari elo ga enak."
" Yeee...." Mayra sampai menggeplak Tika saking kesalnya, " Itu ember bocor ditambal dulu ngapa. Ishh !"
" Ehh.. Tapi May ? kok bibir lu bengkak gitu si ? jangan-jangan ...." Tika nampak menatapnya penuh selidik.
Mayra nampak terperanjat, namun dengan segera mengelak. " Apa sih ? biasa aja kok." Lalu menyambar cermin dalam meja kecil sebelah kasur Tika. Memandangi bibirnya dengan seksama.
Dasarr Zio sialan ! brengsek ! kurang ajar ! trus ngapain dia dulu nyelametin ? buat dicicip dia sendiri gitu !! iisshhh !!!
" Lo tau ga May ..." Tika nampak kembali meratap, " Masa dia tega banget bilang gua muka dua ... Aaaa ... aaa ...aaa Jahat bangetkan ? edyan Kowe ! modyar Kono ! huuuu Huee ....!!!"
__ADS_1
" Siapa ?" tanya Mayra penasaran.
" Ya si Dugan sapa lagi."
" Hah ? Radit ? kapan ?"
" Ya tadi ! ngeselin tauk ! masa katanya 'tolong jauhi putri saya. Maaf saya ga bisa membalas perasaan anda'." ucapnya dengan bibir yang di buat-buat seolah mengikuti gaya bicara Radit." Sakitt May !! Sakit banget ati gua !!"
Mayra nampak menghela napas kasar, " Makanya jan suka ngeledekin ! kena sendiri kan Lo ? emang enak !"
" Yahh May ! Ko Lo gitu si Ama gua. Sahabat sejati elo ini disakitin, belain dikit ngapa ?"
" Dihh ! ngapain di belain tar ngelunjak !"
" Waa ... Dasar ni lampir lama-lama ga punya ati ! kebanyakan gaul Ama menekin lu jadi begini. Dihh !"
" Huhh !! Iya kayanya. Gue juga maunya ga gaul Ama dia, tapi gimana dianya nempel mulu."
" Diih ! PD amat !"
" Kenapa jadi bahas gua lagi si ?" pasalnya saat ini Ia masih sangat kesal mengingat perlakuan kasar Zio tadi. Rasanya ingin meremasnya menjadi remahan rempeyek saja ! dasar manekin gila !
" Udah ni sekarang bahas elo aja. Ya udah sih kalo Radit ngomong gitu. Cari aja yang lain, masih banyak Tik cowok di dunia ini yang perjaka juga banyak. Gak usahlah nungguin Dugan ga jelas." Raditkan pribadi yang cukup kaku meskipun peka, kasihan juga Tika nantinya pikir Mayra mengiba.
" Iihh apaan ! kaga ya ! kaga ada kata nyerah sebelum janur kuning melengkung !"
" Lahh .. Lo masih mau ? setelah disakitin dan nangis kaya gini ?"
" Emang gua elo ! yang mundur sebelum perang ! gua mah harus bangkit lagi, musti lebih all out lagi. Besok gua mo nyalon ahh biar glow up. Biar Bang Dugan ga akan punya alesan buat nolak gua lagi. Kalo temboknya terlalu kuat, kita juga harus bikin senjata penembusan yang lebih kuat ! Inget itu May !!" ucap Tika dengan kobaran semangat empat lima. Bahkan sampai membuat wejangan agar di dengar Mayra dengan menepuk bahunya.
__ADS_1
" Lahh ???"