
Radit menghela nafas dengan kasarnya, meski bukan itu maksud yang sebenarnya. Tapi lebih baik menyakitinya di awal dari pada ia menderita sampai akhir kan ? ia memutuskan untuk beranjak, mengabaikan keinginan mengejar Tika agar tak di anggap memberi harapan palsu.
Zio nampak mondar-mandir sembari memandangi layar ponsel yang masih saja terlihat hitam legam.
" Ada apa Tuan ?" tanya Radit setelah tiba di ruang istirahat tempat Zio kini berada.
" Aku sama sekali tak melihat Mayra. Dimana dia ?" lalu menempelkan ponsel pada telinga.
" Sialll ! tak di angkat ! cepat cari dia Radit !" titahnya dengan nada tak sabar.
" Baik Tuan."
Astaga Nona. Apalagi ini.
Ia segera bergerak menuju ruang CCTV untuk mencari tahu dimana keberadaan Mayra kini. Setelah setengah jam, barulah ia mendapatkan lokasi Mayra yang sedang bersama seorang pria di ujung balkon. Siapa dia ? Aldokah ?
Ia memutuskan untuk menghampiri sendiri sebelum sang Tuan melihat pemandangan ini dan murka pada akhirnya.
***
" Aku mencintai seseorang, tapi dia mencintai seorang wanita bahkan jauh sebelum mengenalku. Dia seseorang yang dingin sangat dingin, aku bisa mengerti karena pasti sulit jika mengalami hal seperti dirinya. Tapi, semakin mengenalnya membuatku merasakan hangatnya semua perlakuannya. Manisnya setiap kata yang dia ucapkan. Indahnya dunia saat aku bersama dengannya. Aku terlena. Hingga terperangkap dalam kubangan cinta yang tak nyata." Mayra berhenti sejenak, meraih beberapa lembar tisu dari tangan Fabio. Lalu menyusut lendir dalam hidung yang menyulitkan jalan masuk oksigen ke dalam paru-paru.
Ia kembali melanjutkan curhatan singkatnya pada Fabio, " Aku pasti menjadi orang paling menyedihkan di Dunia kan ?" menengok pada Fabio dengan seulas senyum paksa dalam tangisnya.
" Aku punya bahu. Kamu boleh pinjam. Gratis." lalu mengulurkan tangan pada kepala Mayra dan mengarahkannya pada bahu lebarnya.
" Dari awal, aku sudah menyiapkan hati untuk berpisah. Tapi ... Takdir mempertemukan kembali dengan cara yang sangat tak terduga." ingatannya berkelebat saat memasuki rumah megah milik Opa yang ditolongnya di jalan karena tersesat. Saat terjatuh dan Zio menangkapnya. Saat Zio menggendongnya ke mobil untuk mengantarnya pulang. Saat bersepeda dengan Zio, meski dengan kondisi kaki membengkak tapi hatinya berbunga. Air mata kembali meleleh tanpa bisa terbendung. " Sangat manis, sampai aku lupa bahwa kita bukanlah siapa-siapa. Dan malah membuat cinta itu benar-benar tumbuh subur dengan sangat sempurna."
Hening beberapa saat. Hingga akhirnya suara Fabio memecah keheningan, " Ya. Terkadang cinta memang sekejam itu. Tapi, setidaknya ... Kamu pernah merasakan bahagia bukan ? kamu hanya harus bangkit. Tinggalkan masa lalu, dan sambut masa depan. Hidup adalah tentang hari ini, dan untuk bahagia. Kamu hanya harus tanamkan itu sedalam mungkin di hati." setidaknya kata itu juga yang pernah menyelamatkannya dari keterpurukan. Ia berharap, kalimat tersebut juga bisa menyelamatkan gadis di hadapannya ini. Cintanya terlihat sangat tulus. Sungguh pria beruntung yang sangat bodoh !
Zio tiba dengan nafas yang masih tersengal. Tapi bukannya tenang telah menemukan Mayra, ia malah semakin murka melihat Mayra sedang berada di bahu pria asing.
Dasar gadis bodoh ! aku mencarimu sedari tadi, tapi lihat apa yang dia lakukan ! astaga !
__ADS_1
Dengan segera ia menarik lengan Mayra, membuat Mayra terperanjat seketika.
" Hey Bro ..." sapa Fabio saat melihat Zio, tapi pandangan matanya langsung mengarah pada tangan Zio yang menggenggam erat pergelangan tangan Mayra.
" Apa yang kamu lakukan ?! dasar gadis bodoh !"
" Memang apa yang kamu harap bisa dilakukan gadis bodoh sepertiku ? sudahlah pergilah. Tak perlu mencariku seperti ini." dengan berusaha melepas genggaman Zio.
" Apa ? Aku ...!" Zio memekik dengan suara lantangnya, sama sekali tak habis pikir dengan Mayra. Ia sudah khawatir terjadi sesuatu padanya, hingga berlari ke sana kemari untuk mencarinya malah di suruh pergi begitu saja. Bahkan dia sedang bersantai dengan seorang pria, Zio segera berbalik untuk memberi pelajaran pada pria kurang ajar tersebut.
Ia sudah melayangkan tinju yang tinggal beberapa centi lagi mendarat pada wajah pria tersebut, " Waittt ... Waiitt Bro !!" pekik Fabio dengan berusaha berlindung di antara kedua tangannya, Mata Zio membola dalam sekejap, " Kau ?!"
" Yeahhh ... I'am your brother !"
" Pergilah !"
" Tunggu dulu. Kalian saling kenal ?"
Fabio nampak terperanjat, Zio sedang dalam amarah yang memuncak apakah tak apa meninggalkan gadis itu bersamanya. Ia tahu sekali, bahwa saat Zio seperti ini. Tak akan ada siapapun yang bisa menjinakkannya. Ia harus bagaimana ? Hingga Mayra menatapnya dengan sorot tegasnya, lalu mengangguk setelahnya. Meski dengan sedikit rasa keraguan ia mulai berjalan menjauh.
Jangan bilang laki-laki bodoh itu Zio ? astaga ! lalu siapa gadis yang dicintainya itu ? kenapa aku tidak tahu ? diakan sahabat terbaikku ! astaga !!
" Ada hubungan apa diantara kalian ?"
" Apa urusannya denganmu." kembali menatap ke bawah balkon.
" May ! kamu tahu seperti apa hubunganku dan Shanon itu. Tadi adalah bentuk penghormatan, tidak seharusnya kamu malah membalas berpelukan dengan lelaki lain seperti ini !"
" Ooh ... Jadi, kalau itu kamu tidak masalah tapi jika aku menjadi masalah ? udahlah Zio ! Stop sama semua ini ! aku capek !"
Capek mencintai kamu seorang diri !
" May ?? fine. Kita bicara pelan-pelan."
__ADS_1
" Gak perlu. Lebih baik kamu balik aja ke acara."
" Tidak, jika tanpa kamu."
" Aku ? apa gunanya lagi aku di sana Zio ?"
" Kamu masih bertanya ? karena kamu calon tunangan ku May !"
" Sekarang sudah tidak lagi." ucapnya dengan menelan segala rasa kecewa dalam dada.
" Apa maksudmu ?"
" Kamu udah sembuh Zio. Dan wanita yang kamu cintai ada di depan mata sekarang. Gak ada lagi halangan untuk kalian berbahagia. Apalagi ? buat apalagi aku di sana ? pergilah. Aku masih mau di sini." sungguh Mayra mengucapnya dengan perasaan remuk redam, porak poranda tak berbentuk sama sekali.
" May ...." suara Zio terdengar melemah, sudut matanya sudah terlihat memerah kini. " Bagaimana dengan Opa ? Orang tua kamu ?" kenapa hatinya terasa nyeri. Ia bahkan sampai harus melayangkan alasan tak masuk akal tersebut.
Mayra terlihat menarik senyum simpul, " Hehh ... Opa ? dia tidak akan masalah. Malah mungkin akan sangat senang karena mendapatkan calon yang sepadan. Dan orang tuaku ? that's not your business."
" May ... Sudahlah. Orang-orang sudah menunggu." mencoba tak peduli dengan ucapan panjang lebar Mayra. Ia hanya menarik kesimpulan, Mayra hanya sedang sedikit kesal. Nanti pasti akan membaik dengan sendirinya. Ia menarik lengan Mayra, namun Mayra sama sekali tak bergerak.
" Enggak Zio. Kamu berhak bahagia. Dan itu bersama Shanon kan ? bukan aku."
" MAYRA !! Ikut aku sekarang !" Zio nampak sangat berusaha menguasai diri dengan sekuat tenaga, namun ternyata sama sekali tak berhasil hingga membentak Mayra bahkan menarik paksa dengan kekuatan penuhnya. Sorotnya kembali menajam. Sama sekali tak menghiraukan bisik-bisik sekitar.
Mayra nampak terkejut beberapa saat. Lalu hanya menangis tanpa suara, sama sekali tak mengerti dengan sikap Zio yang terlihat sangat marah. Bukankah harusnya dia bahagia ? tapi kenapa ia merasa Zio sangat terluka, kenapa bahkan hatinya tak kuasa menolak segala tindakan kasar Zio ini. Kenapa ?
****
Lanjut ga niiih ???
Boleh dong tinggalin jejak, ato kasi hadiah, ato votenya ... Hehehehe
Nanti kalo banyak yang kasih, Author up lagi sore yaahh ... Oke ?????
__ADS_1