KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Akhir Bahagia


__ADS_3

Ketiganya kembali ke Ibu kota bersama, di sepanjang perjalanan Mayra dan Kalista tak hentinya mengobrol kan segala hal. Ternyata sangat menyenangkan, bahkan keduanya juga baru menyadari bahwa bisa senyambung ini. Meski sudah terlihat saat keduanya memiliki selera lelaki yang sama. Haha


Zio sampai tak berhenti merutuk mendengar celotehan keduanya, sangat menganggu baginya. Namun sorot tajam dari keduanya membuatnya berhenti, dua lawan satu akan tetap kalah sekalipun itu seorang Ziovano.


Hari berlanjut, Rindi yang menyadari suatu keanehan terjadi padanya segera memeriksakan diri ke dokter. Dan yang tak pernah ia sangka, malam naas penuh kobaran itu benar-benar berujung petaka baginya. Bagaimana sekarang ia akan bertahan ? Bahkan pernikahannya dan Om Sam akan berlangsung Minggu depan.


Mayra yang mulai menyadari setiap tingkah aneh Rindi, selalu bertanya dalam hati. Tak berani langsung bertanya karena Rindi adalah tipikal orang pendiam yang sangat benci terusik. Tapi, kini Mayra tak sanggup lagi. Rindi bahkan sampai melamun dan menumpahkan kopi panas.


" Lo kenapa sih Rin ?"


" GPP kok," Sambil berusaha mengusap celana yang terkena tumpahan kopi.


Mayra menarik kedua bahunya, " Lo bisa cerita apapun itu ke gue Rin ? Gue selalu di pihak Lo. Jangan sedih sendirian kaya gini, ada apa ?"


Rindi tak kuasa menahan mimik cemasnya, tangisnya pecah seketika. Mayra menangkupnya dalam dekapan. " Kita Cerita di rumah aja."


Brakkk


Suara gebrakan tangan Mayra pada meja sampai membuat Rindi berjingkat.


" Dasar cowok brengsek !! Cepet bilang siapa dia Rindiana ?!!" Pekik Mayra dengan amarah membara.


Bahkan kekesalannya semakin bertambah kala bersitatap langsung dengan si pelaku. Dengan langkah bak seorang pemburu ia menghampiri si pria.


Plaakkkk


" Woy, santai ... Apaan sih Lo May ?"


Mayra tampak menarik ujung kerahny, " Gak usah sok bego ya Lo ! Cepet tanggung jawab ! Dasar Beo kurang ajar !!! Punya burung tu diajar yang bener !! Maen celap celup sana sini gue kutuk jadi teh jenggot baru tau rasa lu ye !!!"


Fabio tampak kelabakan menanggapi amarah Mayra, " Ngomong apa sih May ? Gak jelas deh, lepas." Ia berusaha melepaskan cengkraman tangan Mayra.


" Gak usah ngebloon Ya Beo sialan ! Pokonya gue tunggu itikad baik lo buat selesein masalah ini baek-baek, ato pilih ditempuh pake jalur hukum !! Biar lu dipenjara seumur hidup sekalian !"


" Lo ngomong apa ? Ini lepas dulu coba. Oke, calm down." Mayra tampak melepaskan cengkraman tangannya, lalu menarik Rindi yang sedari tadi berdiri tepat dibelakangnya. " Inget siapa dia ?"


Fabio tampak menggaruk rambut abu bak idolnya, " Siapa ya ?"


Rasanya Mayra ingin menangis saja sekarang, bisa-bisanya Rindi yang baik hati walaupun judes bisa punya masa depan dengan lelaki begajulan yang auto playboy seperti dia. Aargh !


Mayra memberitahu Fabio tentang keadaan Rindi yang tengah berbadan dua akibat perbuatan keduanya, Fabio tampak shock. Karena pada dasarnya selama ini ia memang selalu menggunakan pengaman jadi tak pernah ada kejadian seperti ini. Tapi ini, astaga ! Ia bahkan tampak jauh lebih frustasi di banding Rindi yang terduduk berseberang.


" Aku bisa urus ini sendiri," Rindi bangkit, hancur sudah dunianya. Mau apapun yang terjadi ia harus tetap maju, berbicara pada sang Mama terlebih dahulu.

__ADS_1


Mayra melirik Fabio dengan sorot tajamnya, " Pecundang banget si Lo ! Berani berbuat ga berani tanggung jawab ! Cowok sialan !! Gue sumpahin jadi teh jenggot beneran !" Ia turut berdiri hingga membuat kursi yang ia duduki berdenting keras akibat ulahnya.


Bukannya udah ya ?


Fabio kembali menelaah segalanya dalam diam. Inikah saatnya ? Ia berhenti dan memulai semuanya dari awal bersama wanita tadi ? Anak ? Konyol sekali. Tapi mungkin, memang akan membahagiakan. Ia tampak menghela napas dalam.


Tak sampai disitu, setelah kembali ke kantorpun Mayra di hadapkan dengan situasi tak terduga kembali. Shanon yang tengah membujuk Zio setengah mati untuk segera melangsungkan pernikahan. Tentu saja karena desakan sang Papi yang usahanya tengah berada di ujung tanduk kini. Ia kembali berusaha membujuk Zio begini dan begitu, sampai bertekad akan membuat Zio mabuk dan mengaku hamil saja jika tak juga dikabulkan Zio.


Namun melihat tatapan datar Mayra, seolah ada gejolak aneh dalam dadanya hingga menyetujui permintaan Shanon pada akhirnya.


Mayra kembali terluka, namun ia mencoba tegar. Meski sudah menyiapakan hati untuk kejadian hingga ratusan kali ternyata sama sekali tak berguna. Ia tetap sakit dan berakhir pilu seorang diri.


Jadwal pekerjaan sekertaris ini memang seharusnya berakhir tiga bulan, tapi karena sesak yang teramat akibat pernikahan Zio dan Shanon yang dipercepat. Ia memohon pada Radit untuk memberi keringanan, Radit mengerti seberapa dalam luka Mayra ia menyetujui dan berjanji akan memberikan alasan yang cukup tepat pada Zio.


***


Fabio memberanikan langkah menuju rumah Rindi. Ia sudah bertekad untuk bertanggung jawab. Berubah menjadi manusia lebih baik, jika Rindi mau menerimanya.


Meski kemarahan juga caci maki ia dapatkan dari Mama Farah, ia tetap mencoba bertahan. Dan berjanji akan membahagiakan Rindi nantinya. Mama Farah tak setuju dan tetap mengusirnya pergi. Namun yang tak disangka Rindi datang menghampiri Fabio, mungkin inilah jalan keluar agar ia terbebas dari kekangan Om Sam.


" Rindi mencintainya Ma," ucapnya mantap dengan menggenggam tangan Fabio, bukan hanya Mama Farah bahkan Fabio sampai melongo mendengar ungkapan perasaan spontan Rindi.


" Kamu gila Rindi !"


" Kemanapun."


" Tapi aku belum memiliki rumah sendiri." Ucap Fabio dengan wajah cengonya, Rindi sampai menepuk jidat dengan kelakuan sembrono laki-laki dihadapannya ini.


***


Kalista terlihat memprotes Opa dan Papa Ardhi. Kenapa mereka malah menyetujui begitu saja pernikahan Zio dan Shanon. Apa mereka melupakan perjuangan keduanya, cinta tulus yang bahkan tidak butuh terlisan. Terhancurkan oleh kedatangan orang ketiga, bahkan ia juga menyadarkan bahwa kesembuhan Zio adalah berkat Mayra yang selalu setia menemaninya, mengajarinya banyak hal tentang arti kehidupan. Dan apa sekarang ? Bahkan Mayra harus kehilangan Zio begitu saja.


Kalista bahkan yakin, jika Zio sadar ia akan memarahi mereka semua karena tak mencegah pernikahan ini dan membiarkan Mayra pergi. Ia berteriak dengan amat berapi-api, hingga membuat Mama Rena menggeleng pelan. Ternyata putrinya memanglah anak baik. Ia tampak menangis haru.


" Kita harus buat Ka Zio kembali mengingat Mayra !" Serunya penuh semangat dengan menatap Opa, Papa Ardhi, Pak Beni, Mama Rena bahkan Pak To yang tengah berkumpul di ruang keluarga Rumah Utama.


Namun semua itu terpatahkan oleh keputusan Zio yang tak ingin kembali mengubah jadwal pernikahan. Ia tetap berpendirian untuk melanjutkan pernikahan dengan Shanon. Tak patah arang, Kalista berusaha memancingnya agar kembali mengingat Mayra. Namun tetap nihil. Acara pernikahan tengah terpampang di depan mata kini, Zio telah bersiap di ruang pengantin. Tampak gagah dan menawan dengan balutan tuksedo silver.


Kalista masih saja berusaha mencari akal, hingga tanpa sengaja melihat sebuah album foto dalam ruangan kerja Radit. Ini dia yang ia butuhkan. Ia melangkah menuju ballroom dengan penuh kemenangan. Lihat apa yang akan terjadi, jangan pernah bermain-main dengan Kalista. Heh !


Hingga acara akad akan dilangsungkan, namun para hadirin dikejutkan dengan potret demi potret yang terpampang di layar TV super besar dalam ballroom. Kasak kusuk kembali terdengar semakin membising.


Zio tampak menoleh, seketika kepalanya terasa bak dihantam bongkahan batu besar. Telinganya berdengung, kelebatan demi kelebatan ingatan tentang Mayra menghampiri bergantian. Ia memekik penuh kepiluan, para hadirin tampak iba. Suara riuh rendah mengiringi langkah Radit membopong sang Tuan menuju Rumah Sakit terdekat.

__ADS_1


" Ini keterlaluan Nona !" Sentak Radit pada Kalista.


Namun bukan menciut, Kalista malah semakin berani menatapnya, " Lebih keterlaluan mana sama kalian yang memisahkan cinta suci kedua sejoli yang saling menyayangi ?!"


Radit berdecak, " Tapi lihat keadaan Tuan akibat ulah Nona !" Suaranya bahkan meninggi, tak biasanya Radit seperti ini. Ia akan selalu tenang dalam keadaan apapun, tapi melihat keadaan Zio ia kembali merasakan miris yang teramat.


" Ka Zio bakal baik-baik aja ! Aku yakin sama kekuatan cinta mereka !!"


" Lebih baik anda pergi Nona," suaranya melemah, mungkin ia sudah terlalu lelah berdebat dengan Kalista yang sama sekali tak mau mengalah.


" Huh !!" Dengus Kalista dengan menghentak kaki sekencang mungkin, ia berbalik pergi.


Radit menggusar rambut frustasi, terduduk dalam ruang tunggu dengan pikiran berkelana ke berbagai arah. Tentunya seputar keselamatan sang Tuan.


" Radit,"


Sebuah suara membuatnya mendongak, dan betapa terkejutnya ia melihat siapa yang memanggilnya, " T..Tuan ?"


" Di mana Mayra sekarang ?"


***


Zio berdiri pada area pemakaman yang amat tak asing. Kata Ibu Mayra ia sedang menjenguk Kakek dan Nenek di pemakaman ini, hingga Zio bergegas menyusulnya.


Hatinya kembali berdesir seiring langkah demi langkah yang terayun, debaran dada yang sama seperti dua puluh satu tahun silam, rasa nyeri, sakit dan hancur kembali menghampirinya. Namun, ia sama sekali tak berhenti melangkah. Berusaha mencari sosok Mayra di tengah hamparan begitu banyak makam yang tersaji di depan netra.


Dan, ketemu. Zio segera berlari menuju seorang gadis yang berdiri di depan makam yang penuh bunga berpakaian serba hitam.


Segera ia merengkuh gadis itu, menangis penuh haru. " MAAF ..."


Hati Mayra seolah meloncat dari tempatnya, dia sungguh Zio. Apa ia sudah mengingat semuanya ?


Mayra berbalik, " Zio kamu ...?" Bulir bening tampak menetes seketika.


Zio menghapusnya perlahan, " Iya, aku ingat. Maaf, karena sudah membuatmu menunggu terlalu lama." Mayra menjawab dengan anggukan bahagia lalu kembali meraih tubuh tegap Zio dalam dekapan.


" I LOVE YOU, MANEKINKU."


" Me too."


Perasaan keduanya bersatu, ditengah awan cerah di sore hari dalam hamparan makam warna warni yang menjadi saksi pertemuan kembali CINTA SEJATI.


Meski dimulai dengan sebuah hubungan palsu, tak ada yang tahu apa yang terjadi selanjutnya. Takdir apa yang akan datang dan pergi. Dan begitulah setiap kehidupan ini bekerja, berputar mengelilingi poros. Ada kala terang benderang, ada juga gelap gulita. Ada bahagia pun juga ada kesedihan.

__ADS_1


- THE END -


__ADS_2