KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Terwujud


__ADS_3

Ibu dan Mayra melangkah menuju ruang tamu dengan membawa nampan berisikan kopi untuk Bapak juga berbagai cemilan.


Dengan segera Bapak mengusap airmatanya.


" Lho nak Radit mana ?" tanya Ibu yang tak melihat keberadaan Radit.


" Sedang menerima telfon, Bu ..." jawab Zio dengan sedikit canggung. Sebenarnya ia sangat takut jika tak sengaja bersentuhan dangan Ibu hingga menampakkan pemandangan saat ia trauma, memalukan.


" Nak Zio menginap atau pulang ?"


" Ya pulang Buk, diakan sibuk." serobot Mayra.


" Biarlah Buk, diakan sibuk cari nafkah yang nantinya juga buat anak kita. Yang penting sudah kesini, sudah lihat orangnya. Bapak sudah lega." seketika Mayra mencebik dan membuang muka mendengar ucapan Bapak.


Udah kaya iya aja, segala nafkah. Dihh ...


Zio nampak menarik sedikit sudut bibirnya ketika melihat bibir Mayra yang mendumel tak terdengar telinga, sangat imut pikirnya. Dan itu tak lepas dari pandangan Bapak. Ternyata di balik sifat dingin dan kakunya ia bisa tersenyum seperti itu ketika melihat putrinya, tidak ada yang bisa mengerti tentang isi hati seorang lelaki namun pandangan matanya sama sekali tak bisa dibohongi, hingga mampu menampakkan semua isi hati, begitulah pikiran Bapak berkelana tentang Zio.


***


Aldo telah memegang sebuah kertas berisikan alamat rumah juga nomor telepon. Ia nampak tersenyum menyeringai. Akhirnya tujuannya tinggal selangkah lagi, menemui keluarga yang selama ini selalu ia damba.


Kepergian Kalista malah semakin mempermudah geraknya untuk mencari keluarganya. Hingga akhirnya ia mendapat informasi sebuah nama yang menjadi donatur untuk panti asuhan selama beberapa bulan setelah kedatangannya dua puluh dua tahun lalu, membuatnya meyakini bahwa pasti ada alasan dibaliknya hingga mencari semua informasi tentang tempat tinggal juga nomor teleponnya.


Sedikit memakan waktu memang, karena harus meneliti dari pemilik rekening itu hingga bisa menemukan segala informasinya seperti sekarang. Namun semua tak mematahkan semangat Aldo, bertemu keluarga yang begitu ia dambakan bahkan hingga harus mengorbankan perasaan, juga menyakiti seseorang yang begitu dicintanya. Rasanya akan sangat setimpal pikirnya.


Ia masih menaruh harapan besar pada Mayra untuk mau menerimanya kembali, setalah ia bertemu juga berkumpul bersama keluarganya nanti.

__ADS_1


Senyum tersungging dengan indahnya dalam wajah tampannya. Merasa begitu bahagia akhirnya harapan terbesarnya bisa terwujud kini. Dengan menggenggam erat kalung peninggalan dari bayinya dan memandangi tiket pesawat menuju kota K jam dua siang ini dia nampak tersenyum dengan riang gembira.


***


Ibu sedang membersihkan ayam kampung yang di sembelih Bapak untuk memasak opor. Mayra mempersiapkan bumbu, " Kenapa pake acara potong ayam segala sih Bu ? kesian ini ayam kesayangannya Fahmi, nanti dia marah loh." ucapnya pada Ibu dengan tangan yqng mengulek bumbu.


" Halah... Fahmi nanti di beliin kuota juga udah diem. Namanya menyambut tamu itu harus totalitas May, biar gak kapok kesini lagi ntar." Ibu beranjak karena telah selesai membubuti ayam, menuju wastafel untuk memotong-motongnya menjadi delapan bagian.


" Lagian ga tau dia doyan apa enggak ini entar. Ibu mah ribet." dengan menambah kecepatan karena si bumbu yang tak kunjung halus.


" Jangan di gebrak gitu May, bisa ancur itu cobek ! Diputer terus diteken pake tenaga biar cepet alus."


Zio yang niatnya ingin minum karena haus jadi terhenti seketika di ambang hordeng yang memisah antara ruang TV dan dapur.


Apa pula yang diputer terus ditekan pake tenaga itu, astaga !


" Ada apa nak Zio ?"


" Saya haus." Jawab Zio cepat lalu menuang air segelas penuh dan menenggaknya hingga habis tak tersisa. Mendinginkan kepala yang sejak tadi terasa memanas walau dengan hal-hal kecil saja.


" Pelan-pelan nak Zio ... Kalo capek istirahat dulu aja. Bapak emang suka gitu kalo dapet lawan yang cocok jadi gak ingat waktu."


" Saya gak pa pa kok Bu, saya juga suka catur kok." sebenarnya tak terlalu, bahkan ini permainan hanya permainan keduanya. Karena yang pertama saat dipaksa Opa yang sedang merajuk seperti anak kecil karena sang cucu yang selalu sibuk sepanjang hari. Ia kembali tersadar, melirik Mayra sekilas lalu kembali menemani Bapak bermain catur.


" Ganteng banget ya dia May,, Kamu nih diem-diem seleranya sundul langit kaya mukamu. Hihii ..."


" Ibu lagi menghina apa muji ? aku jadi bingung mau seneng apa sedih. Huh !" dengan kembali menggebrak cobek.

__ADS_1


" Heh.. Ini anak ya, nanti ancur cobeknya ibu suruh kamu yang gantiin ya ?! ini tuh cobek warisan turun-temurun dari mbah moyangmu !!" lalu merebut cobek dari Mayra.


Gpp lah jadi cobek juga, kan jadi ga usah nikah ama Zio ! Huhh ! Mayra mencebik dalam hati.


***


Makan malam keluarga yang terasa begitu hangatnya bagi Zio. Bapak yang duduk santai masih dengan koran di tangan, dengan Ibu dan Mayra yang sibuk menata lauk pauk. Adik-adik Mayra yang sesekali tampak saling ledek hingga membuat tawa renyah memecah kesunyian rumah. Sungguh pemandangan yang tak pernah ia jumpai selama ini, makan malam bersama memang pernah, namun tak bisa menyamai suasana kehangatan sang keluarga cemara ini.


" Nak Zio suka Opor ?" tanya Ibu dengan lembutnya, yang seketika membuat dada Zio tergetar. Ingatannya bergelanyar pada saat dirinya kecil saat sang Mama yang selalu menyiapkan semua makan untuknya, raut Zio nampak berubah membuat Ibu menyikut Mayra yang sudah tampak asyik makan. Matanya melotot seakan menyuruh Mayra untuk melayani Zio terlebih dahulu.


Dengan setengah hati Mayra mengambilkan Zio nasi, opor ayam, sambal ati kentang, hingga kerupuk udang. Ibu memang sudah heboh sekali saat memasak tadi hingga menghidangkan berbagai menu untuk menyambut kedatangan sang calon menantu.


Dengan senyum cerah Mayra memberikan piring tersebut pada Zio yang duduk berseberangan dengannya. Zio nampak tersenyum menerimanya, membuat Khadija tersedak dengan pemandangan di hadapannya, sangat tampan.


" Ati-ati jah. Jangan cuma liat dari luarnya tapi juga harus liat dalemnya." ceplos Mayra yang melihatnya.


Krik .. Krikk ...Krik


Hening seketika, suasana makan malam nan hangat jadi terasa dingin oleh ucapan Mayra. Bapak bahkan sampai mendelik dengan ucapan putri tercintanya tersebut.


Mayra yang menyadari perubahan suasana segera memperjelas ucapannya, " Maksudnya hatinya. Iya kan Pak ? Bapakkan sering nasehatin Mayra kaya gitu..." pungkasnya dengan menampakkan semua deretan gigi rata atas dan bawahnya.


" Sudah, Sudah ayo dimakan. Gak usah didengerin ini Mayra lagi kesenengan dia, kan bentar lagi sold out. Hahaha ..." seketika suasana tegang terasa mencair, dangan gelak tawa dari semua yang berada di meja makan kecuali Mayra.


Ibuuuu !!!


Zio nampak bersemangat menghabiskan nasi yang diambilkan Mayra, ini adalah makan malam terindahnya sepanjang masa tiga puluh satu tahun hidupnya, pikirnya dengan hati yang kian berbunga-bunga mendengar semua candaan Ibu bahkan Mayra. Sungguh hubungan keluarga yang begitu indahnya dalam mata Zio.

__ADS_1


Aku juga ingin memilikinya. Batinnya berseloroh dengan tanpa sadar saat melihat tawa renyah Mayra di sela-sela sesi makannya.


__ADS_2