KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Vitamin Sea


__ADS_3

Tiga bulan kemudian ...


🎶🎶🎶


I spend my weekends ...


Tryna to get you of, my mind again ...


I can't make it's stop


Tryna pretend I'm good


But you can tell


Mm, I'm not ...


I spend my weekends tryna get you off


My mind again, but I can't make it stop


I'm tryna pretend I'm good, but you can tell


'Cause you know me, you know me too well (you know me too well)


🎶🎶🎶


Mayra terlihat lari berkejaran dengan Tika, Rindi, juga Anton. Terlihat begitu riang gembira, tertawa terbahak ketika bermain Voly bersama. Begitulah mereka mengisi liburan akhir pekan di pantai nan menawan ini. Melepas segala penat yang mendera. Membuang segala keluh kesah yang berkutat menggerogoti jiwa.


Sama sekali tak terlihat gurat kesenduan yang selama ini menghiasi wajah Mayra. Tentu saja, kehilangan dia yang telah sepenuhnya mengisi ruang dalam hati tak mungkin bisa membuatnya baik-baik saja. Hingga waktu 30 hari penuhnya di habiskan untuk menguatkan hati, tertidur bangun tertidur kembali lalu terbangun untuk sekedar mengisi perut yang kosong. Sudah tak terbendung kecemasan Bapak dan Ibu melihat keadaan gundah gulana sang Putri, namun yang bisa di lakukan hanya berdiam diri. Tak berani mendekat untuk sekedar mengucap kata semangat, atau akan melihat sang Putri semakin merasa menyedihkan.


Kehadiran para sahabatpun tak banyak membuat Mayra bisa kembali seceria biasanya, entah kenapa semua terlihat hambar di matanya. Membuat Ibu terkadang sampai tak kuasa, dan terisak sendirian di sudut kamar. Hingga suatu hari Khadija berinisiatif mengajaknya hadir dalam festival yang di adakan di sekolahnya.


Lalu seorang pria paruh baya terlihat mendekat, duduk di bangku sebelahnya. Terdiam lama, menatap Mayra yang sama sekali tak bergeming dengan kehadirannya.


" Mayra ..."


Mayra terperanjat, seketika ia menoleh, " P, Pak Danu ?"


" Ada Apa ? Ada masalah ?" Pak Danu adalah guru Mayra saat ia SMA, yang tentunya mengajar Khadija pula.


Mayra terdiam tak bersuara, sudah cukup membuktikan bahwa ucapan Pak Danu ada benarnya. Karena ia mengenal sosok Mayra yang ceria juga ramah terhadap siapa saja. Bukan tanpa alasan, karena dulu ia kerap mendampingi Mayra belajar untuk mengikuti beberapa olimpiade hingga mampu membuat harum nama sekolah.

__ADS_1


" Mayra ... Apa kamu masih mengingat ini ? 'Apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku."


Mayra mengangguk, " Oleh Umar bin Khattab."


Pak Danu tersenyum, " Begitulah kehidupan Mayra ... Apa yang di tentukan untukmu tidak akan pernah pergi darimu. Semua akan kembali jika ditakdirkan untukmu, dan juga pergi jika tak menjadi takdirmu. Bagaimana ? Masih ingin terus bersedih ?"


Mayra menghela napas, berkat Pak Danu ia akhirnya mengingat kutipan itu. Sebuah semangat hidup, yang terasa mudah di mengerti namun begitu sulit di jalani. Tapi setidaknya kini ia menyadari terlalu bersedih seperti ini sama sekali tidak berguna,.lebih baik membuat diri menjadi manfaat bagi orang lain itulah kehidupan yang sebenarnya.


Perlahan ia menerbitkan senyum terindah, " Terima Kasih untuk nasihatnya Pak ..." Pak Danu balas mengangguk lalu tersenyum.


Begitulah perlahan hari Mayra mulai membaik, hingga saat Aldo kembali datang menghampiri.


" Maaf May ... Tapi ... Kurasa hanya kamu yang bisa membantu."


" Tentang ?" Meski masih ada rasa sedikit membencinya, namun tak baik bukan menyimpan dendam selamanya.


" Sebuah Yayasan."


" Apa ? Kenapa tiba-tiba Yayasan ?"


" Semacam sebuah tugas, dan aku tahu ini adalah impianmu sejak lama. Kita bisa mewujudkannya bersama."


" Tidak jika untuk kembali mengikatku dengan paksa." Mayra melengos dengan tangan melipat di dada.


" Akan kupikirkan."


Aldo terlihat sedikit menarik garis bibir. Setidaknya Mayra tidak langsung menolak. Namun, hingga satu Minggu berlalu Mayra tak memberi kabar. Membuatnya putus asa. Tapi, rautnya berubah cerah dalam sekejap saat Mayra menghubunginya, memintanya bergabung dalam Rumah Pelita bersama teman yang lainnya.


Proyek tersebut berjalan lancar tanpa kendala. Meski terkadang diselipi berbagai perbedaan pendapat yang cukup wajar. Hingga saat ini, Aldo memberi Mayra dan yang lainnya sedikit ruang untuk melepas penat.


Mengingat usaha keras mereka untuk mewujudkan Rumah Pelita menjadi sebuah Yayasan Amal untuk memberi ruang bagi setiap anak mempelajari setiap bakat yang mereka inginkan. Berangkat dari sebuah pepatah, bahwa seseorang bisa menjadi berguna bukan dari kepintarannya tapi dari segala aspek kelebihan yang dimilikinya. Yayasan Rumah Pelita terbangun sesuai dengan harapan yang pernah dianggap mustahil bagi Mayra.


Meski masih terasa seperti mimpi, ia sungguh bahagia saat ini. Rasa membuncah dengan kebahagiaan yang meledak-ledak dalam hati yang telah lama berpenghuni dalam senyap.


Kini Mayra berada di atas tebing sebuah bibir pantai, memekik sesuka hati seperti arahan para sahabat yang menunggu di belakangnya.


Tak lupa memberinya sebuah kertas, pena juga balon.


Meski harapan untuk bahagia apapun keadaannya tak bisa terwujud.


Setidaknya salah satu mimpiku tergapai, meski dengan tanpamu.

__ADS_1


Maafkan perasaanku yang tak pernah bisa terhapus


Maafkan aku karena masih sangat mencintaimu


Maafkan aku karena masih menyebutmu dalam setiap do'a panjangku


Meski kita berada dalam dunia yang berbeda


Langit bumi yang tak akan pernah bersanding


Aku masih tetap menunggumu


Aku memang gadis bodoh seperti ucapanmu


Karena akan tetap menunggu seorang diri dengan sejuta kenangan manis di antara kita


Love you ...


Tuan Manekinku ...


Ia terlihat melipat surat tersebut, menggantungkannya pada segenggam benang berisi balon biru muda di atasnya, lalu melayangkannya pada udara.


" TUAN MANEKIN ?! APA KAMU DENGAR ?! AKU AKAN TETAP MENUNGGU !! SAMPAI KAMU MENGINGAT SEMUANYA !!!" pekik Mayra pada udara pantai yang begitu menyegarkan netra.


" Lo yakin, ga bakalan lompat dia ?" Anton tampak was-was melihat setiap pergerakan Mayra.


" Kaga lah ! Biarin sekali-kali semua gundukan dalam dada harus di lepasin." Timpal Tika.


" Hah ?! Bahaya dong ! Wa ... Ga bisa di biarin." Mengambil langkah ingin menghampiri Mayra, namun segera di cegah Tika, " Mo apa Lo ?"


" Kesian Mayra ntar ga bisa ***** in anaknya Oneng !" Seraya menoyor Tika.


" Dasar sengklek ! Ngeres mulu tau otaknya !" Menyentil jidat Anton.


" Aww ... Dasar Bebek lu ye !" Tak terima ingin membalas Tika, namun terhalang tubuh Rindi.


" Stop deh kalian ! Liat tuh Mayra nangis lagi, samperin yuk."


Ketiganya menghampiri Mayra, memberi pelukan hangat untuk jiwa yang kembali porak poranda tersambar badai bernama masa lalu.


***

__ADS_1


Music by: New Hope Club feat. Danna Paola - you know me too well


__ADS_2