KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Scandal


__ADS_3

Kantor JS Group sedang dilanda keributan yang teramat, karena di luar terdapat begitu banyaknya pendemo yang mayoritas Ibu-ibu menghujat bahkan memaki Mayra dengan lantangnya. Semua ujaran kebencian terdengar mengusik para karyawan yang harusnya berfokus dengan pekerjaan.


Dan di sinilah Mayra di ruang HRD.


" Kamu bisa jelaskan ?"


" Saya sama sekali tidak tau apa-apa Pak." ucap Mayra dengan memelas bahkan mata jernihnya telah nampak berkaca-kaca kini, begitu syok dengan semua hujatan yang di dengarnya.


Kepala HRD menujukkan sebuah potret yang tersebar di Group Chat kantor, bentuk awal dari semua keributan yang terjadi.


Mayra melihatnya, itu adalah potret Pak Johan yang membantunya berdiri kemarin yang sedikit di ubah lebih intens sepertinya hingga membuat kesalah pahaman semakin membesar saja.


" Ini Pak Johan hanya membantu saya Pak, kaki saya sakit dan kesulitan berdiri jadi Pak Johan datang menolong. Dan interaksi kita tidak se intens ini pak, ini di edit !" Mayra mencoba meyakinkan Kepala HRD.


Kepala HRD nampak membuang nafas kasar, melihat riwayat kerja Mayra yang sama sekali tak bercelah namun sayangnya malah terkena scandal memalukan seperti ini.


" Baiklah Mayra, mungkin orang yang mengenal dan tau siapa kamu tidak akan percaya ini. Tapi orang di luar adalah orang luar yang tidak akan peduli dengan semua sanggahan kamu ini. Jadi dengan berat hati, kamu boleh mengundurkan diri secara suka rela." ucap Kepala HRD dengan raut kemantapan, lalu merasa bersalah ketika lelehan air mata mulai menganak sungai pada pipi Mayra.


Dunia Mayra seakan runtuh seketika. Kenapa ia harus kehilangan pekerjaan karena suatu hal sepele seperti itu, lalu akan berlabuh kemana kredibilitas yang selama ini begitu di jaganya jika harus kehilangan pekerjaan dengan sangat tidak terhormat seperti ini. Apakah kantorpun tak akan membantunya dan mencoba menjelaskan pada para pendemo di luar, benaknya begitu di penuhi dengan berbagai kekacauan, memikirkan akan sekacau apa hidupnya jika harus kehilangan pekerjaan yang begitu di inginnya ini.


" Bukan kantor tak ingin membantumu Mayra, tapi semua ini melebihi wewenang kantor. Karena semua pihak sudah memojokkan posisi kamu, maka kepergian kamu adalah tindakan terbaik untuk kita semua. Kamu bisa melamar pekerjaan lain setelah gosip ini mereda Mayra." ucap Kepala HRD mencoba menghibur Mayra.

__ADS_1


" Nggak pak... Nggak .. Semua ini gak bener !! kenapa saya harus sampai kehilangan pekerjaan Pak ?! Saya mohon ... Saya mohon Pak jangan seperti ini." Mayra memelas. Ia seakan memijaki sisa-sisa keruntuhan dengan harap mampu menopangnya.


" Maaf Mayra ..." Habis sudah, Mayra seakan terhanyut dalam derasnya arus bersama semua keruntuhan dari semua angan indah dalam benaknya.


Ia hanya menangis dengan tersedu, merasa tak adil dengan segala yang menimpanya. Semuanya begitu menghimpit bahkan tak menyisakan ruang untuknya bisa bernafas lega.


Kepala HRD membiarkan Mayra, ia yang mengetahui hancurnya hati bahkan karir Mayra setelah ini. Sedikit merasa bersalah, namun tak memiliki wewenang sebesar itu untuk melindungi Mayra.


Mayra mulai menghentikan tangisnya dan mencoba menguatkan dirinya, " Saya permisi..." ucap Mayra dengan suara bindengnya. Mengambil langkah keluar ruangan bahkan dengan segala kemantapan hati mengarah pada lobby membuka pintu hingga menampakkan semua pemandangan pendemo yang semakin histeris menghinanya.


" STOPPP ...STOOOPPP KALIAN SEMUA !! SEMUA ITU SAMA SEKALI TIDAK BENAR !!!" pekiknya dengan segala gumpalan kemarahan dalam dadanya.


" Gak tahu diri !!!"


" Mikir ga kamu ha ?? Pak Johan sudah punya dua anak bahkan istrinya sedang hamil anak ketiga !!! tega-teganya dasarr j****** sialan !!!"


" Gila !!! Gak laku-laku malah godain laki orang !!!"


Pekik semua pendemo dengan berbagai hujatan yang begitu mengiris hati Mayra. Mayra semakin tak kuasa mendengarnya hingga menutup telinga. Untungnya para pendemo berada di balik pagar besi dengan penjagaan security, jika tidak entah apa yang terjadi pada Mayra.


Hingga segerombol orang bergabung dengan para pendemo dengan kantong kresek hitam yang memenuhi kedua tangan mereka. Seketika semua mengerubungi lalu melempari Mayra dengan puluhan telur dari balik pagar besi yang mengelilingi.

__ADS_1


Zio yang sengaja datang untuk melihat keadaan Mayra malah di kejutkan dengan semua kericuhan yang terjadi. Ia dengan segera menghampiri Mayra dengan melewati pintu kecil di samping kantor tersebut.


Ia nampak berlari sekencang mungkin untuk membantu Mayra menghindari serangan puluhan telur yang menimpa. Hingga sampailah ia pada Mayra dengan membelekangi pendemo, di raihnya tengkuk juga tubuh ringkih Mayra dalam dekapannya, " Tak apa Mayra... Semua akan baik-baik saja ..." bisiknya pada Mayra dengan mengelus lembut punggung Mayra mencoba memberi kekuatan juga perlindungan pada Mayra dari berbagai serangan telur yang menerpa. Bahkan beberapa telur telah mendarat dalam punggungnya kini. Para bodyguard Zio segera berjejer membelakangi para pendemo mencoba melindungi sang tuan dan Mayra dari serangan brutal para pendemo tersebut.


Mayra semakin tersedu, merasakan dekapan hangat Zio dalam tubuh yang begitu porak poranda dengan semua kejadian buruk yang menimpa.


Kenapa Zio ? kenapa selalu kamu ? kenapa kamu selalu datang memberi kehangatan, jika akan menghempasku tanpa perasaan pada akhirnya. Kenapa ? batin Mayra dengan bulir bening yang semakin membasahi jas hitam bermerk ternama milik Zio.


Hingga akhirnya semua pendemo berhasil di ringkus oleh polisi yang di panggil oleh Radit.


Zio mulai melepaskan pelukannya lalu menuntun Mayra pada mobilnya, Mayra yang telah kehabisan tenaga untuk menolakpun hanya menurut saja dengan semua tindakan Zio, pandangannya kosong memikirkan akan jadi seperti apa masa depannya, sandaran tak ada bahkan pekerjaanpun juga tak punya. Haruskah kembali pada keluarga ? pasti akan sangat merepotkan Bapak dan Ibu pikirnya.


Pandangannya masih nanar menatap keluar jendela, membuat Zio semakin resah harus berbuat apa agar tetesan airmata Mayra bisa berhenti. Ia menghela nafas, sungguh otaknya terasa begitu buntu kini.


Hingga sampailah mereka di Apartemen milik Zio, Mayra melenggang dengan langkah gontainya dengan pandangan mata nanar masih begitu syok dengan kejadian yang menimpanya hari ini. Zio nampak mengepalkan tangan begitu geram, sebenarnya darimana semua keributan tentang Mayra ini berasal pikirnya. Ia segera memberi titah pada Radit untuk menyelidiki semua masalah ini hingga ke akarnya lewat ponsel, setelah melihat hilangnya bayangan Mayra dari balik pintu kamarnya.


Mayra segera mengambil baju ganti yang memang di siapkan Radit saat dulu Mayra menempati apartemen ini, lalu melangkah menuju Toilet untuk membersihkan diri bahkan semua kesialan dalam dirinya jika bisa. Ia masih tersedu di balik guyuran shower yang menerpa dengan derasnya, meratapi hidup yang semakin di rundung pilu setiap harinya ini membuatnya begitu tak kuasa.


Setelah selesai Mayra menghampiri kasur king size dengan sprei putihnya, semua harum sabun, shampo bahkan kamar ini membuatnya terbuai, hingga memejamkan mata dengan semua kecamuk dalam kepala, berharap bahwa semua ini adalah mimpi dan keadaan akan membaik ketika terbangun nanti.


》》》》》

__ADS_1


__ADS_2