
Mayra sedang berguling ke kanan juga kiri dalam single bednya. Memikirkan harus membuat cara apalagi agar Opa membatalkan pernikahannya. Sungguh ia dilanda frustasi bahkan tampilannya sangat terlihat acak-acakkan kini.
" May ..." suara Tika terdengar di balik pintu.
" Hmm ..."
Cklekk
Pintu terbuka dan menunjukkan kamar berantakan Mayra, sungguh bukan tipikel Mayra sama sekali awut-awutan seperti ini batin Tika berseloroh.
" Kenapa lagi si May ?" mulai duduk di samping Mayra.
" Galon gue Tik, bantuin dong gimana caranya biar bisa batal ini acara. Isshh ... Sebelll !"
Tika nampak memandangnya sinis, " Aneh lo ! harusnya seneng bisa di nikahin konglomerat, bukan malah stress kek gini."
" Sekarang gue baru sadar Tik, ternyata gak semua pangeran berkuda putih datang dengan membawa cinta. Sungguh hidupku tak seindah drama... Huhuhu !"
" Elah lo May ! justru idup lo tu penuh drama. Kalo lo gak mau buat gua aja gimana itu acara nikahan ? ama babang dugan.. Ouhh."
" Kaya dugannya mau aja ma elo !"
" Ah.. Elu mah May ! kaga ada dukungnya, pantes aja hubungan gue bukan lagi jalan di tempat tapi auto gak mau gerak. Huh !"
Belum sempat Mayra menimpali suara ponselnya telah berbunyi, tertera nama Zio disana.
" Kenapa ?"
' Sedang apa ?'
" Tiduran. Ada apa ?"
' Besok kujemput jam delapan.'
" Mau apa ?"
' Jogging. Katanya ingin membantuku.'
" Ahh ... Yaa, tapii ...."
Tut ..Tut.. Tut
Belum selesai Mayra berbicara sambungan telepon telah terputus. Padahal ia ingin protes jika terus-menerus izin ia jadi tak enak juga pada Budhenya Tika. Seharusnya hari ini saja tepat hari liburnya, namun apa yang bisa diharapkan dari manusia super sibuk yang menghasilkan miliyaran rupiah dalam setiap gerakannya itu.
Hahh... Astaga ! semua memang salahku. Salahku semuanya !! Aaa... Batin Mayra dengan menggusar rambut asal.
__ADS_1
" Kenapa lagi deh May ?"
" Mo kencan." dengan wajah kusut nan semrawut ia menjawab.
" Baru kali ini gua liat, orang mo kencan ga ada semangatnya. Mana kusut banget tu muka. Idiwh ..."
" Bodo amat. Tapi gue izin terus emang boleh Tik ?"
" Ya udah mending keluar aja. Lagian calon Nyonya Wijaya mah kaga penting duit receh gituan."
" Elu mah, kalo ngomong nyelekit amat. Giliran ntar gua kaga jadi Nyonya Wijaya ketawa lo pasti yang paling kenceng dah."
" Hahaha .... Kaga lah May. Tapi gua bakal ketawa sambil koprol ampe kebawa mimpi Kkkk..."
" Dihh ! ti ati tu mulut keselek cicak !"
***
" Tuan ada undangan dari WZ Group untuk sabtu malam nanti."
" Acara apa ?"
" Ulang Tahun Perusahaan."
" Nona Shanon juga di kabarkan akan datang."
Bukankah dia selalu senang dengan segala hal yang bersangkutan dengan Nona Shanon ? apa ini artinya Nona Mayra telah berhasil memenuhi ruang kosong dalam hatinya itu ? hah.. Entah.
" Apakah anda akan mengajak Nona Mayra ?" ia berusaha mengalihkan perhatian.
Zio masih menatapnya tajam seolah sadar Radit tak menjawab pertanyaannya, " Boleh juga." jawab Zio dengan menyeringai. Akan seperti apa ekspresi Mayra ketika bertemu Shanon nanti, paati akan sangat menarik pikirnya.
" Siapkan segalanya Radit."
" Baik Tuan."
Mereka tidak akan saling cakarkan ?
****
Sesuai arahan Dokter bahwa Zio harus selalu dalam kondisi tenang juga rileks, dan olahraga adalah salah satu cara mendapatkan keduanya hingga akhirnya kini Zio dan Mayra terlihat berlari kecil mengitari taman, meski pada akhirnya Mayra tertinggal karena tak bisa mengimbangi stamina Zio. Ia tampak terengah-engah di tengah taman dengan sinar mentari yang kian meninggi. Lalu pandangannya menyapu sekeliling mencari tempat berteduh untuk melepas penat, masa bodoh dengan Zio yang sudah berlari entah sampai mana pikirnya.
Ia nampak terduduk dengan tenangnya, menikmati semilir angin di bawah pohon rindang. Namun seketika pipinya terasa sejuk juga dingin, dengan segera ia menoleh. Dan telah ada Zio dengan membawa dua botol air mineral dingin menempel pada pipinya, lalu tersenyum melihat wajah terkejut Mayra.
" Dingin Zio !" lalu menjauhkan kedua tangan Zio bersamaan.
__ADS_1
Zio nampak masih menyunggingkan bibirnya, lalu membuka tutup botol dan memberikan pada Mayra, " Minumlah."
" Kok bukan es krim sih ?" lalu meraih botol dan menenggaknya hingga hampir separuh.
" Habis lari itu harus minum air putih, bukan makan es krim."
" Tapi ..." Seketika Mayra tersadar. Untung saja ia belum keceplosan jika dulu Aldo selalu memberinya es krim ketika selesai berlari bersama.
Zio nampak masih menunggu ucapan Mayra, " Tapikan aku suka...." jawab Mayra akhirnya.
" Tetap tidak boleh, habiskan itu." Entah kenapa Zio merasa jengkel sendiri, IQ diatas rata-ratanya ternyata mampu melihat isi hati Mayra yang tak tersampaikan padanya.
" Keluar lagi deh sifat menekinnya." celetuk Mayra dengan pandangan beralih lalu kembali menenggak air mineral miliknya.
Zio tak menjawab, sedang meminum air dengan tampannya di balik sengatan matahari juga pohon rindang bahkan sesekali semilir angin menyibak rambut lebatnya yang semakin menambah ketampanannya.
Jahat banget ! masa aku mulu yang dibuat terpesona sama dia. Batin Mayra mendecih.
" Besok malam ikut aku menghadiri pesta."
" Nggak."
" Harus mau."
" Tetep gak mau."
" Bicara sendiri dengan Opa."
" Dasar ! kamu tu aneh deh, jangan-jangan kamu seneng ya bisa nikah sama aku ?"
" Kamu yang aneh. Aku juga sangat terpakasa mau menikahi gadis cerewet sepertimu."
" Dasar ! udah capek-capek akutu bikin alesan segala rumah ala kerajaan. Kamu bukannya bantuin malah tambah dukung ! kesel tau gak !!" seketika kelebatan ingatan kemarin malam saat Zio malah menyanggupi dan akan mendatangkan Tukang dengan kualitas dan kuantitas mumpuni agar rumah segera terselesaikan kembali menyapa Mayra.
" Kamu tu harusnya bilang permintaan aku gak masuk akal, kita ribut, udah putus gabisa lanjutin lagi, end. Isshh !!
" Kamu pikir Opa orang yang sebodoh itu ? dia adalah orang terlicik bahkan lebih daripada aku Mayra. Sia-sia menolak semua keinginannya, karena aku yang sudah puluhan tahun mencoba sama sekali tak bisa berhasil mengalahkannya."
" Baru tau aku, sifat licik juga bisa diturunin." decih Mayra, lalu kembali menatap Zio dengan semangat empat lima, " Makanya kita berdua yang lawan pasti Opa bakalan kalah, gimana setujukan ?!" tanyanya dengan penuh semangat seperti seseorang yang akan berangkat berperang. Memang perang, perang melawan kelicikan Opa.Hihii
" Caranya ?"
" Ya kamu bantu mikir juga dong ! aku ko kaya aneh sih sama kamu sama sekali gak nunjukkin penolakan bahkan kemarahan sekalipun. Apa udah gak cinta sama Shanon ?"
Zio terdiam sejenak, " Aku hanya tidak mau Opa sakit lagi." dengan raut nanar takut kehilangan. Karena seperti apapun Opa, ia tetaplah orang berharga bagi Zio karena selalu ada dalam masa terpuruk ketika mimpi buruk itu datang menghampirinya. Bahkan berkat Opa Zio bisa menjadi orang yang begitu disegani seperti saat ini.
__ADS_1
Selalu. Selalu tak mau menjawab jika itu tentang Shanon. Sebenernya kenapa ? udah kaya suami takut identitas selingkuhannya terbongkar aja ! kalo cinta tu harusnya jujur aja. Biar ga bikin aku tambah berharap. Huhh !!