
" Walaikumsalam ..." jawab Nenek dan Mayra bersamaan.
Tampak seorang lelaki mulai berjalan mendekat pada Mayra dengan sebuah gulungan dalam tangannya, " Mau dipasang dimana May ?" tanyanya pada Mayra dengan mengacungkan gulungan dalam tangannya, nampak seperti sebuah banner.
" Mana coba lihat dulu Pak Ren." dengan meraih gulungan dari tangan Pak Reno suami Bu Meta yang memiliki usaha percetakan meski hanya berskala kecil.
" Pokoknya saya buat sesuai keinginan kamu, spesial..."
Nenek tampak tersenyum, " Silahkan diicip kuenya ..." dengan menunjuk beberapa toples kue kering di meja.
" Iya Bu, terimakasih ... Gimana May ?" beralih pada Mayra kembali.
" Keren Pak ..." dengan mengangkat kedua jempolnya. Yang diiringi senyuman dari Nenek juga Pak Reno.
Mereka nampak sibuk kembali menata banner yang ternyata berisi foto keluarga nan bahagia jika dalam sekali lihat. Ya, potret yang ternyata diambil Mayra saat pertemuan tak terduga antara Radit dan Tika di sebuah Pantai kala senja waktu itu, kini terpampang nyata di pintu masuk bahkan ruang acara, sudah seperti banner penjualan saja. Bedanya, berisi adegan romantisme yang tak terelakkan. Pasti Tika akan sangat terkejut. Batin Mayra terkikik.
Hingga kue tart yang dipesan tiba, tak pelak masih menggunakan potret yang sama. Mayra nampak tersenyum puas. Kejutan yang mengejutkan bukan ? ahh ... Bahagianya ...
" Nek Mayra mandi sebentar ya ..." pamitnya pada Nenek. Lalu melenggang menuju kamar tamu yang memang di sediakan Nenek untuk Tika dan Mayra.
Setelah pertemuan pertama Tika dan Aurora, ia memang gencar sekali mendekati gadis cilik tersebut segala daya ia upayakan agar bisa dekat dengannya bahkan sang Papa jika bisa. Hingga selalu memberi bekal, bermain kerumahnya, membawakan mainan kesukaannya. Namun sayangnya, sama sekali tak bisa bertemu barang sedetikpun dengan manusia super duper sibuk itu, jangankan Tika. Aurora yang anaknya saja jarang bertemu.
Bukan Nenek tak menyadari gelagat Tika, dari dia yang selalu mencoba akrab dengannya dan bertanya ini itu tentang Radit juga Aurora. Sudah cukup membuatnya meyakini bahwa Tika memang menyimpan rasa pada putra semata wayangnya tersebut. Namun apalah artinya ia tahu atau tidak. Karena pada kenyataannya hati anaknya itu masih terpenuhi oleh mantan istrinya. Jadi, ya ... Nenek memutuskan untuk mengambil sikap netral. Membiarkan saja Tika berusaha, tidak melarang juga tidak memberi dukungan. Biarkan Radit sendiri yang memutuskan, begitulah pikiran Nenek berkelana hingga terbuyarkan oleh kedatangan sang cucu tercinta.
Aurora terlihat begitu menggemaskan dalam balutan dress ala Elsa dengan memegang sebuah tongkat berwarna biru muda senada dengan dress yang dipakainya. Tamu mulai berdatangan, nampak kasak kusuk. Mungkin terheran dengan banner-banner yang menampakkan kehangatan keluarga, karena yang mereka ketahui Aurora tak punya seorang Ibu.
Begitupun dengan Aurora yang seketika bersorak Sorai kala melihat potret dirinya dan Papa juga Tante Tika begitu hangat layaknya keluarga. Ia berjingkrak, bahagia tak terkira karena impiannya memiliki seorang Mama terkabul di hari Ulang tahunnya kini.
" Ra ternyata kamu punya Ibu ? Tante itu mau jadi Mama baru kamu ya ?"
__ADS_1
" Iyaa dong ... Makanya jangan ledekin lagi. Akukan udah punya Mama sekalang." jawab Aurora jumawa.
" Iya .. Bagus banget Ra pestanya. Ini siapa yang bikin ?"
" Ya Mama dooong ...Ini bajunya juga Mama yang siapin, mahkotanya juga." ia nampak berputar-putar membuat dress-nya berkibar indah dengan mengayun tongkat sihir di tangan kanannya.
Teman-temannya bertepuk tangan ria, membuat hati Aurora kian berbunga. Hari ini sungguh hari terbahagia dalam sepanjang lima tahun hidupnya.
Tika dan Mayra nampak berjalan beriringan dengan memakai dress biru muda selaras dengan yang digunakan Aurora. Bukan tanpa sengaja, memang ia telah mempersiapkan segalanya sejak kemarin. Agar membuat acara berkesan untuk Aurora dan memudahkan jalannya untuk meraih hati Dugan kesayangan. Sekali dayung dua pulau terlampaui, begitulah pikir Tika.
" Selamat datang adik-adik semua ...?? gimana kabarnya hari ini ??" Tika mengambil suara untuk beramah-tamah.
" BAIIIKKK ...." seru mereka bersamaan.
" Wahh ... Semangat sekali ya ..." lalu tertawa ramah kemudian.
" Iyaaa ....."
" MUUURRR ..."
" Sehat selaaa ???"
" Luuu !!"
" Jadi anak pintar, sehat, berbakti kepada orang tua. Dan segala mimpinya tercapai ... Aminnn."
" AAMIINN ..."
Hingga iringan lagu selamat ulang tahun dengan tepuk tangan riuh berjalan dengan meriahnya, senyum Aurora tak pernah pudar di buatnya sungguh ia sangat bahagia saat ini. Ada Mama yang mendampinginya, teman-teman yang bersorak Sorai untuknya. Membuatnya melupakan sang Papa, hingga tak mempermasalahkan kehadiran sang Papa yang ujungnya selalu membuatnya kecewa karena pasti selalu terlambat. Tapi sekarang tak datang pun tak akan masalah. Apalagi foto bertiga yang terpampang nyata di tempat acara, membuatnya semakin menguatkan keyakinan bahwa Tika akan benar-benar menjadi Mamanya.
__ADS_1
" Giling lu May ! kenapa kaga bilang kalo nyimpen foto beginian, tau gitu gua jadiin wallpaper biar tambah semangat. Wkwk" bisik Tika pada Mayra kala sedang menikmati kue bersama.
" Dihh.. Jangan lupa. Utang seumur idup nih !"
" Ashiappp !"
Tika juga amat berbunga, memandang potret dalam banner dengan keromantisan ala keluarga yang selama ini diimpinya. Sungguh ia bahagia tak terkira, tujuannya membuat pesta yang berkesan berhasil berkat Mayra. Mayraaa ... You're the best !
Ia masih saja nampak terharu kala melihat potret tersebut. Hingga suara deru mobil nampak memasuki pelataran rumah. Terlihat dua orang lelaki yang nampak mengerutkan dahi bersamaan saat mendapati keriuhan di dalam rumah. Tak Sampai disitu keduanya nampak semakin dibuat bingung saat melihat potret yang menyambut di depan pintu. Dengan langkah cepatnya mereka memasuki rumah.
Apa-apaan !! batin Radit dengan raut geramnya, ia sangat membenci sebuah kelancangan.
Tak .. Tak ...Tak
Hingga terlihatlah asal keramaian tersebut, bahkan tatanan rumah yang tak seperti tadi pagi kala ditinggal. Putri kecilnya yang sebelumnya tampak mengumbar bahagia memakan kue bersama teman-temannya, seketika merubah raut pias.
Hening seketika, saat ia mulai melangkah mendekat pada Aurora. Suasana mencekam amat terasa, sudah seperti saat guru memergoki muridnya bermain dan tak mengerjakan tugas. Aurora nampak menatapnya nanar. Sangat takut Papanya akan menghancurkan pesta impiannya ini.
Begitupun dengan Mayra dan Tika, yang saling beradu sikut dan menunduk. Sangat takut bahwa kedua singa tersebut akan melahap keduanya mentah-mentah.
Keduanya sangat ketakutan. Meski dengan ketakutan berbeda, Mayra yang ketakutan jika Zio memarahinya karena menghabiskan banyak uang untuk menunjang pesta nan berkesan ini. Dan Tika, ia sangat takut jika Radit tak berkenan dan malah membencinya. Awalnya ia sama sekali tak memikirkan tentang situasi ini. Karena Aurora bilang Papanya selalu saja sibuk, tak punya waktu untuknya. Tapi ...
Astagaaa !
Hingga badut dengan kostum Olaf, Anna dan Elsa mengenali Radit sebagai ayah si gadis cilik yang tengah berulang tahunpun menghampiri Radit dan Zio, mengajak keduanya berdansa mengiringi lagu alunan ulang tahun yang menggema.
🎶🎶🎶*Happy birthday to you 🎶
Happy birthday to you 🎶🎶
__ADS_1
Happy birthday 🎶🎶 happy birthday 🎶🎶
Happy birthday to you 🎶🎶*