
Sinar lembut sang mentari pagi menelusup jendela kamar nan megah dengan desain ala putri kerajaan yang menjadi tempat peristirahatan Mayra semalam.
Perlahan ia membuka mata, menyesuaikan cahaya yang menyambut netra. Yah, ia tak begitu terkejut dengan tata letak dalam ruangan ini. Uang memanglah segalanya.
Ia segera beranjak menuju kamar mandi, agar tak terlambat masuk kantor hari ini. Mengingat ada begitu banyak agenda juga beberapa file yang harus ia periksa dan rapikan sebelum sampai ke tangan Zio.
Kakinya berjalan menuju kamar mandi, yang otomatis menampakkan pemandangan walk in closet yang bahkan telah penuh terisi. Ia semakin merasakan bahagia yang teramat, belum lagi memasuki kamar mandi pribadi yang super elite ini. Dari mulai bathtub super mewah nan mengkilat, juga kaca dan wastafel yang setitikpun tak bernoda. Benar-benar definisi sempurna luar dalam. Dalam kamar mandi.hihi
Giling gak tuh ? kamar mandi kost an bisa nangis liat ini.
Ia tampak kembali terkikik sendiri. Lalu melanjutkan aktifitas mandi. Setelah usai bersiap selama kurang lebih satu jam akhirnya ia turun.
Hingga dikejutkan dengan sambutan tiga pelayan yang semalam, " Silahkan sarapan Nona ..."
" Aduh ! gak sempet nih. Buat kalian aja ya ..." lalu melenggang setelah menilik jam yang melingkar pada tangan kirinya.
Tak sampai disitu, bahkan ia kembali ternganga kala mobil sedan nan mewah berlogo bintang telah siap seolah memang menunggunya. Seorang pria paruh baya yang entah muncul dari mana segera membukakan pintu untuknya.
" Silahkan Nona ..."
Ha ?
Mayra menurut, duduk manis dengan irama musik jaz yang menggema.
*Apa kehidupan Cinderella memang seindah ini ya ?
Tapi kenapa perasaanku ... Aneh !
Ha ! toloong ! bagaimana caraku menggaji kalian semua* ????
***
" Selamat Pagi, Pak."
Zio mengibaskan tangan, tanda Mayra harus mengikutinya.
" Rapikan beberapa baju ganti, kita akan segera ke Maldives."
Apa ?
" Tapi, Pak ... Itu ?"
__ADS_1
" Tidak ada pertanyaan. Segera siapkan ! jam sepuluh kita sudah harus sampai bandara."
Gila ya ?! bahkan sekarang sudah setengah delapan !!!
Mayra segera berlari menuju apartemen yang tak jauh letaknya dari kantor Zio kini.
Kenapa gak siapin sendiri ?! dasar Bos yang super seenaknya !
Dengan gerakan kilat ia membawa beberapa baju ganti juga beberapa keperluan yang wajib yang Zio butuhkan. Setelah usai, ia tampak bernapas dengan memburu lalu merebahkan diri dalam sofa. Tak berselang, telepon dari Zio kembali membuat dengusan Mayra mengencang.
Tak mengangkatnya, ia segera kembali berlari menuju lobby. Zio telah menunggu di sana rupanya.
" Sudah ?"
Mayra mengangguk dengan napas tersengal.
Dia beneran makin gila !!
Zio menyodorkan air mineral," Makanya Olah raga."
Yang kubutuhkan bukan olah raga ! tapi menjauh darimu !!
Setelah minum setengah botol Mayra menuju mobil sedan hitam yang telah menunggu di pintu lobby. Keduanya berangkat menuju bandara bersama. Dengan tujuan ke kota K untuk menyelesaikan masalah yang cukup sulit ditangani penanggung jawab di sana.
***
Kenapa ? Kenapa harus terjadi padaku ?!
Tangisnya dalam guyuran shower yang menimpa tubuh, digosoknya dengan kuat setiap lekuk dalam tubuhnya seolah merasa jijik dengan segala macam kekhilafan yang berkelebat.
Fabio tersadar mendengar rintihan suara Rindi yang berpadu dengan shower kamar mandi. Pening menghinggap seketika. Namun suara tangis itu juga amat menganggunya.
Ia terbangun, menata ingatan yang tak begitu jelas dalam kepala. Hingga akhirnya Rindi keluar dengan menggunakan pakaian semalam, blezer dan celana kerja hitam selutut.
Ia tampak menghirup udara kuat-kuat.
" Kamu ..." Fabio tampak ragu melanjutkan kalimat.
" Anggap saja semua ini tidak pernah terjadi." ujarnya penuh ketegasan di balik wajah sembab yang tak tersembunyi kan.
Fabio tampak mengacak rambut frustasi. Padahal ia sudah bertekad meninggalkan dunia itu dan menjadi laki-laki baik dan berniat mencari calon istri. Tapi apa sekarang ? ternyata dia masih saja menjadi lelaki brengsek.
__ADS_1
***
Zio dan Mayra telah sampai, dengan segera menuju sebuah village yang bermasalah itu. Tak jarang Mayra terkagum-kagum menatap pemandangan pinggir pantai yang begitu menyegarkan netra.
" Wah ... Wahhh ... Ada beberapa bukit kecil. Wah ! di sana ! di sana air lautnya biru sekali. Aaah ... Indah sekali."
" Tutup jendelanya Mayra !"
Mayra mendecih dalam hati, Dasar penganggu !
Hingga akhirnya mereka sampai, sungguh suasana dan pemandangan yang amat menenangkan. Rasanya ia ingin hidup selamanya di tengah terpaan lembut angin pantai yang begitu menyegarkan ini.
Rapat berjalan selama lebih dari tiga jam, pemecahan masalah yang memang cukup rumit. Bahkan Mayra, sampai ikut pusing tujuh keliling untuk memecahkan masalahnya. Dari hasil yang selalu saja minus pada setiap tahunnya padahal pengunjung selalu saja mengalami peningkatan, sampai masalah hak tanah dan bangunan. Intinya Village ini sudah cukup bermasalah. Entah bisa terselamatkan atau tidak.
" Kumpulkan lagi data-data yang saya minta. Besok adalah batas maksimal. Mengerti ?"
" BAIK PAK."
Para karyawan tampak melenggang satu persatu, Mayra tampak menghela napas dalam.
" Akan saya buatkan kopi, Pak."
" Hm."
Ternyata Zio memang sudah dilahirkan untuk berwajah serius agar bisa menyelesaikan masalah dengan tanpa celah. Hah ! Mayra sampai heran sendiri di buatnya.
Ia segera menuju pantry yang menurut para pekerja terletak di ujung bangunan yang digunakan sebagai aula. Biasanya dipakai untuk mengadakan beberapa event seperti anniversary atau ulang tahun. Bangunan disini di tata terpisah dari bangunan satu dan lainnya, runtut seperti rumah super minimalis yang cukup fungsional.
Ia berjalan semakin mendekat mengikuti setiap pahatan demi pahatan kayu yang memanjang sebagai pembatas dengan taman. Namun seketika langkahnya terhenti, kala melihat sosok yang amat ia kenali.
Ia segera berlari untuk mengejarnya, melupakan kopi Zio yang seharusnya sudah ia antarkan dan diminum sang empu saat itu juga.
Langkah orang itu semakin menjauh, mengiring peraduan senja yang berganti gelap gulita. Mayra sampai berlari kecil untuk mengejarnya.
" Tunggu ..."
Namun si gadis tak mau menghentikan langkah, entah tak mendengar atau memang sengaja mengabaikan.
" Hey ..."
" Nona ..."
__ADS_1
Mayra sampai terjatuh, karena rok span yan ia gunakan tak cukup membuatnya untuk bisa bergerak leluasa. Ia kembali bangkit mengabaikan luka pada lutut yang lecet, hingga mengalirkan darah.