
*Ternyata cintaku memang sedangkal itu kan Zio. Bahkan hari ulang tahunmu saja aku tak tahu. Sampai dia bisa bersanding di panggung itu bersamamu. Atau mungkin ini hadiah ulang tahun yang telah dikabulkan Tuhan untukmu.
Entahlah Zio. Aku benci. Aku marah. Tapi aku tahu sama sekali tak berhak. Lalu aku harus bagaimana ? dengan semua perasaan rumit untukmu ini ? merelakanmu ? Ya. Akhir yang paling aku takutkan telah datang menjemput. Dan sekali lagi, aku menjadi seseorang yang terbuang*.
Ia semakin tak kuasa, lalu berlari menjauhi kerumunan. Tak tahu akan kemana, hanya memasrahkan diri pada si kaki di balik tangisnya.
Kenapa ? kenapa harus sesakit ini ?
Tidak ! inikan yang kamu mau May ?! mempersatukan Zio dan cintanya. Tugasmu berakhir dan berhasil. Apa yang kamu tangisi ? Kamu tidak boleh lemah. Kamu adalah wanita yang kuat. Sangat kuat sampai bisa melupakan kekasih sialan yang berselingkuh* !
Hatinya terasa tertusuk semakin dalam, sangat sakit. Ternyata memang sangat sakit, bahkan sakit ini lebih dalam dari sebelumnya. Mayra sendiri baru menyadari, bahwa sedalam itulah Zio telah bersemayam dalam hatinya.
Inilah akhirnya May ! kamu harus benar-benar bangun dari mimpi indah yang sama sekali tak nyata. Bangun Mayra. Bangunlah !! Jangan bermimpi mendapatkan sosok 1000% itu lagi !
Ia semakin tersedu, dengan tanpa menyadari bahwa kini telah sampai di cafe room lantai dua Hotel tersebut. Dengan langkah perlahan matanya menyapu sekeliling, mencari tempat yang nyaman jauh dari keramaian.
Hingga langkahnya membawa Mayra pada sebuah ujung balkon dengan temaram lampu yang tak akan memperlihatkan dirinya yang kini tampak menyedihkan.
Ia segera melangkah ke sana, menikmati semilir dingin angin malam yang sama sekali tak mampu mengguyur panasnya hatinya saat ini. Melihat kebawah dengan berbagai kelap kelip lampu di sepanjang jalan masuk hotel juga pemandangan malam lainnya. Memandang ke atas, yang terdapat gumpalan awan hitam seperti rasa hatinya saat ini.
Begitu nelangsa di rasa Mayra kini, kenapa hidup harus sebercanda ini dengan hatinya. Datang, memberi sejuta kebahagiaan bahkan kehangatan lalu berakhir pergi dengan wanita lain lagi dan lagi. Kenapa harus selalu seperti ini. Sekuat hati ia ingin memberontak, tapi apa daya. Tidak akan ada yang berubah sedikitpun. Semua sudah terskenario tanpa memberinya bahagia. Percuma. Percuma saja menyalahkan siapapun. Karena pada kenyataannya dialah yang tak bisa menjaga hati, hingga terjebak lagi dan lagi.
" Hai cantik ..." sebuah suara yang terasa amat ringan untuk di dengar menyapa telinganya.
Mayra nampak mengangkat wajah dan mengusap air mata, " Jangan menangis ..." Lalu mengacungkan sebuah tisu pada Mayra.
Mayra meraihnya, " Kita memang harus menangis saat membutuhkannya bukan ?" ucapnya dengan Manarik senyum simpul.
" Iya. Tapi tidak boleh berkepanjangan."
Kali ini Mayra memberanikan diri untuk menoleh, ia nampak terhenyak beberapa saat, menatap seorang pria di hadapannya kini.
Wajah itu ....
" Kenapa ? terpesona ? aku memang tampan Nona. Hahaha ..."
Bukan menjawab Mayra malah semakin dalam menatapnya, kenapa bisa sama. Mirip sekali dengan Shanon pikirnya. Mata biru, rambut kecoklatan, bahkan garis wajahnya terlihat begitu mirip.
" Anda siapa ?" tanyanya kemudian.
Laki-laki tersebut nampak mengulurkan tangan, " Fabio..." jawabnya dengan melempar senyum penuh arti, jurus mautnya dalam menggaet wanita. Tentu saja bersamaan dengan mengandalkan wajah di atas rata-ratanya tersebut.
" Tidak penting." jawabnya mengacuhkan uluran tangan Fabio.
" Ada apa denganmu ?" dengan menarik uluran tangan yang terabaikan.
" Tidak usah sok akrab !"
" Hei Nona. Niatku itu sangat baik, aku tidak bisa melihat wanita cantik seperti dirimu ini merana. Jadi Nona ceritakanlah semua masalahmu. Maka aku akan menjadi solusi terbaik untukmu."
__ADS_1
" Dihh !!"
" Ayolah ... Come on girl ..."
" Aku ga pa pa. Kamu cari mangsa lain aja sana."
" Mangsa ? seburuk itukah aku dimatamu Nona ?"
" Yaa !"
" Kenapa ?"
" Ya karena kamu itu buaya ! playboy !"
" Jangan salah Nona. Aku tidak seperti apa yang kamu katakan. Don't judge people by cover, you know ?"
" Oh .. ya ? lalu siapa wanita yang duduk di pangkuanmu tadi ?" ternyata Mayra melihat pemandangan tak senonohnya ketika melintas menuju balkon tadi.
" Astaga. Banyak sekali wanita yang cemburu padaku padahal tak memiliki hubungan apapun." selorohnya menatap ke bawah seperti yang dilakukan Mayra, lalu segera berbalik. Kini tubuhnya membelakangi pagar pembatas. Menatap tepat pada wajah Mayra.
" Ge-eR sekali !"
" Aku memang seperti itu." lalu mengedipkan sebelah mata.
" Tuh kan. Jurus para buaya tuh begitu."
Seketika Fabio tergelak, " Kamu itu lucu sekali Nona. Ingin kutraktir sesuatu ?"
Fabio nampak menggeleng cepat, " Aku tidak akan pergi. Ceritakan dulu padaku kenapa kamu menangis ?"
Mayra nampak menghembuskan nafas, " Berisik sekali ! seperti burung beo ! pergi sana dasar burung beo !!"
" Heii Nona. Aku itu memang burung, tapi bukan beo. Sembarangan sekali !"
Mayra membulatkan mata sempurna, dan memukul asal lengan si pria yang baru di temuinya tersebut. Ternyata ada laki-laki yang sefrekuensi dengan Tika.
" Awww ! pukulanmu mantap kali Nona."
Plakkk
" Awww ! ampun !"
Plakkk
Plakkk
Plakkkkk
" Haahhhhh !!!!" pekiknya kemudian, seolah telah berhasil membuang puluhan ton batu yang menimpa dadanya.
__ADS_1
" Sudah puas ? pukullah lagi. Aku relakan jadi samsak buat gadis cantik yang sedang patah hati. Hahaha .."
" Cihh ! dasar ! kenapa tidak ada lelaki baik sih di dunia ini ?! semuanya brengsek ! aku benci !! Aaarrrrgghhhh !!!!" pekiknya pada udara di malam gelap ini.
" Woahhh !! suaramu itu sampai berapa oktaf sih Nona ?" ucapnya sambil menutup sebelah telinga.
" Kamu pikir aku seenggak punya kerjaan itu, segala ngitungin suara !"
" Tipe-tipe kaya kamu ni, pemarah tapi kalo sayang gak pernah main-main. Rela memberikan segalanya. Iyakan ?"
" Wah kamu pintar sekali membaca hati seseorang..." jawabnya menimpali tebakan Fabio dengan senyum secerah mentari. Lalu berubah datar setelahnya, " Sok tau itu gak baik buat kesehatan lambung !"
" Wahh kamu pintar sekali membaca hati seseorang." ucapnya menirukan Mayra.
" Dasar beo !!"
Fabio nampak mengulas senyum penuh arti, ia terdengar berbicara kesana kemari yang sama sekali tak dimengerti Mayra. Namun entah kenapa Mayra tak menghentikannya, membiarkan dia menjadi radio penyiram jiwanya yang tengah di Landa gundah saat ini.
***
Tika nampak berjalan dengan canggungnya, sebenarnya ia sudah menolak untuk datang tapi Mayra memaksanya. Dan mengancam dengan hutang seumur hidupnya itu, hah. Sangat menyebalkan. Ia jadi seperti orang Bodoh di tengah kerumunan orang pintar yang tengah berkumpul.
Hingga suara yang begitu tak asing menghampiri telinganya, " Bisa bicara sebentar ?"
Ia mengangguk setuju secepat kilat, mengikuti langkah Radit yang membawanya ke taman. Keduanya terduduk dalam diam hingga beberapa saat. Tika akhirnya membuka suara untuk mengakhiri kecanggungan yang terjadi.
" Bagaimana Aurora ?"
" Tepat." bukan menjawab Radit malah nampak mulai bisa memulai pembicaraan ini.
" Tentang Aurora. Tolong jangan beri dia harapan palsu Dangan semua kebaikan tidak tulus anda."
" Apa ? maksudnya ?"
" Tolong jauhi putri saya, jika mendekatinya hanya untuk meraih hati saya. Karena semua itu percuma. Dan akan menyakiti Aurora pada akhirnya."
" Apa ?" Tika masih mencoba menelaah apa yang di maksud Radit.
Jadi maksudnya aku hanya berpura-pura menyayangi Aurora, demi dia gitu ? astaga !! Bener sih. Tapi kok kaya aneh ya ?
" Jadi saya mohon dengan sangat, lebih baik anda jauhi putri saya. Sebelum dia menaruh harapan lebih jauh pada anda, yang tak bisa saya kabulkan."
" Tunggu ! Maksudnya harapan saya menjadi mamanya ? ternyata Anda itu peka sekali ya ?" ucapnya masih sempat dengan tersipu.
" Iya ... Dari awal saya tidak mengira. Tapi anda mengakuinya sendiri rupanya . Dan dengan berat hati, Maaf saya tidak bisa membalasnya. Jadi lebih baik anda berhenti sampai disini, Putri saya masih terlalu kecil untuk mengetahui tentang kejamnya dua sisi yang saling bertolak belakang seperti yang anda lakukan."
Tika nampak memandangnya tak percaya dengan sudut mata yang mulai mengembun, nafasnya terasa tercekat. Ternyata inilah keinginan Radit. Melemparnya sejauh-jauhnya agar tak mengganggu kehidupan indahnya bersama sang putri. Tapi bagaimana, Tika sudah terlanjur sangat menyayangi Aurora. Rasa sayang hingga bahkan bisa merelakan ia berbahagia meski ia tak akan menjadi mamanya. Ternyata rasa sayang itu memang berbahaya, entah untuk orang dewasa atau anak kecil sekalipun. Sangat berbahaya.
Tika mulai menghela nafas dengan panjangnya, mengusap air mata yang akhirnya lolos. Lalu berdiri, " Saya memang bodoh. Gadis bodoh yang tidak pantas bersanding dengan anda ataupun menjadi Mama Aurora. Saya memang Tidak pantas. Tapi jangan hina perasaan saya yang tulus menyayangi putri anda. Saya menyukai anak kecil, dan putri anda salah satunya. Terserah dengan anda yang tidak bisa membalas perasaan saya. Tapi jangan, menghina kasih sayang saya pada Aurora karena itu memang satu-satunya ketulusan yang saya miliki. Anda boleh melakukan apapun. Asal tidak meremehkan ketulusan orang lain seperti ini !!"
__ADS_1
Tika segera mengambil langkah, berlari sekencang-kencangnya meski dengan kepayahan karena menggunakan sepatu hak dan dress dengan menelan rasa kecewa yang memenuhi rongga dadanya untuk lelaki idaman yang selama ini di dambanya tersebut. Betapa tidak, angan bahagia yang selama ini selalu terbayang hancur begitu saja. Ternyata Radit memang tak pernah menganggapnya, bahkan sampai akhir. Sangat sakit, dihantam kenyataan pahit tanpa aba-aba ternyata sesakit ini.