
Zio nampak terdiam, merenungi semua ucapan Radit barusan.
Shanon ?
Mayra ?
Apakah itu perlu ditanya ? bahkan ia tak akan punya jawaban selain memilih Mayra. Tapi ... Rasanya tidak akan rela juga jika melihat Shanon dengan laki-laki lain. Rumit sekali.
" Saya mengerti. Tidak akan semudah itu menghapus perasaan yang telah melekat bertahun-tahun lamanya."
" Tapi ketegasan anda adalah jawaban terbaik untuk semuanya." Radit nampak mengimbuhi, membuat Zio semakin dibuat meragu antara kedua pilihan tersebut.
" Karena kehidupan pernikahan bukanlah permainan. Hanya dilakukan satu kali seumur hidup, jika bisa." batinnya terasa tertusuk setelah mengucapnya, karena pada akhirnya ia tak bisa menyelamatkan sang istri hingga harus kehilangannya.
" Dan jika pilihan anda adalah Nona Shanon. Seperti rencana awal yang hanya menjadikan Nona Mayra sebagai kelinci percobaan. Anda harus mengikuti rencana Nona Mayra membatalkan pernikahan ini. Lagipula ia juga sudah berjanji akan membantu anda sembuh dari trauma bukan ? sama sekali bukan pilihan yang buruk." suasana tampak kembali hening, Zio masih berusaha menelaah semua ucapan Radit. Tidak buruk katanya, keduanya adalah pilihan yang sangat sulit baginya.
Ting
Suara pesan dari ponsel Radit memecah keheningan.
Sopir Nona : Tuan saya sedang bersama dengan Nona Mayra, ada insiden dengan Nona Kalista saat makan siang dan sekarang Nona sedang menangis. Saya harus mengantarnya kemana Tuan ?
Kening Radit nampak berkerut, Kalista ? sungguh tak ada jeranya. Hahh ... Menambah pekerjaanku saja. Tcck
Radit : Antar saja ke apartemen.
" Ada apa ?"
" Tidak ada Tuan."
Bukannya percaya, ia malah semakin menajamkan tatapan. " Bicara atau mutasi."
" Hahhh... Anda itu curang sekali. Selalu saja mengancam seperti anak kecil."
Zio nampak tersenyum tipis, lalu kembali bertanya dengan wajah ala menekinnya, " Katakan."
" Nona Mayra bertengkar dengan Nona Kalista, sekarang sedang menangis dalam perjalanan menuju apartemen." ucapnya kemudian, lalu menenggak jus jeruk miliknya, " Jadi jangan berpikir tentang mutasi, karena saya sama sekali tak berniat dalam jangka panjang sekalipun. Yang benar saja, saya masih sangat menyayangi putri kecil saya tahu !"
__ADS_1
" Lagipula masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan. Dan semua itu karena anda. Hah.. Menyebalkan."
" Memang sudah tugasmu. Ada apa lagi dengannya ?"
Radit nampak memandangnya hati-hati, menerawang raut sang Tuan, akan seperti apa ia jika mengetahui ulah Kalista.
" Nona bertengkar." Dengan menatap Zio mantap, lalu segera dijawab tatapan menyelidik dalam rautnya, " Dengan Nona... Kalista. Dia melempar segepok uang pada wajah Nona."
Zio nampak berdecak tak percaya, " Beraninya !" Sorot amarah jelas terpancar dalam wajahnya kini, bahkan ia telah mencengkeram tangan kanan dengan sekuat tenaga. Hingga suasanapun berubah menegang dalam sekejap.
Hii.. Lihat matanya, mengerikan sekali. Bagaimana jika tahu tentang otak di balik scandal itu. Nona Kalista bisa hancur tak tersisa. Batin Radit dengan raut bergidik, melihat perubahan raut ala manekin menjadi monster masih saja membuatnya tak bisa terbiasa meski sudah berulang kali menyaksikannya.
Hahh...Pekerjaanku banyak sekali... Kapan aku bisa bermain dengan putriku kecilku Tuannn ... Bisa-bisa ia berubah dewasa dalam sekejap, karena saya tak pernah ada waktu untuknya. Mengurusi Tuan Monster seperti anda ! Batin Radit kembali meronta, karena agenda pekerjaannya kembali bertambah. Masalah Aldo yang tak kunjung menemukan titik terang, mengurusi acara peringatan berdirinya perusahaan yang bahkan ditambahkan pertunangan sang Tuan di dalamnya, dan kini soal Kalista. Belum lagi tumpukan dokumen yang wajib diperiksanya kini. Hahhh... Sungguh perjalanan pulang yang panjang menanjak bahkan berliku. Melelahkan !
" Anda mau kemana Tuan ?" tanya Radit yang melihat Zio ternyata sudah beranjak.
" Kau fikir aku bisa duduk tenang saat Mayra sedang menangis ? dia pasti sangat membutuhkan es krim sekarang." ucapnya dengan berhenti sebentar menoleh pada Radit. Lalu berlari secepat kilat untuk membersihkan diri agar dapat menghampiri Mayra dengan segera.
Ia sangat mencemaskannya, Mayra yang terlalu berhati lembut seperti kapas itu bertengkar dengan ular selicik Shanon. Ia pasti sedang menangis meraung sendirian di ujung kamar saat ini, pikirannya tersebut membuatnya semakin memacu mobil dalam kecepatan tinggi. Tak lupa ia berhenti di sebuah minimarket untuk membelikan es krim, senjata terbaik dalam usaha membujuk Mayra.
Kalista. Ia sedang mengamuk memaki Bartender dengan segala sumpah serapah dalam benaknya dengan kesadaran yang sudah hilang bersama beberapa gelas bir yang ditenggaknya. Betapa tidak, ia sendiri yang memunguti uang yang bercecer di lantai atas ancaman Mayra, Nama Zio benar-benar sangat ampuh membuatnya bertekuk lutut. Sial ! dasar gadis sialan !
Ia sampai harus menanggung malu oleh semua bisikan orang di Resto bahkan yang hilir mudik meliriknya dengan bisikan yang amat membuat gatal telinga. Jika tak ingat ini tempat umum sudah ditamparnya mulut sembarangan mereka semua. Dasar ! benar-benar menyebalkan ! lihat saja nanti, akan kuberi pelajaran berharga !
Sungguh Kalista tak mengenal kata jera, rasa benci karena selalu terkalahkan oleh Mayra membuat kobaran amarah dalam dirinya semakin memuncak bagai Piramida saja. Hingga selalu saja memikirkan cara licik untuk menghancurkan Mayra.
...----------------...
Zio nampak telah sampai, dengan tergesa ia menaiki lift dan menuju Apartemen miliknya.
Namun sayang, sama sekali tak dilihatnya batang hidung Mayra disemua sudut ruangan. Kemanakah ? lalu dengan segera meraih telepon dan mengusap nama Radit di sana.
' Apa lagi Tuan, saya sedang sibuk.'
" Di mana Mayra ?"
' Tentu saja di apartemen.'
__ADS_1
" Tak ada."
Radit nampak membulatkan bola mata, ' Baik saya mengerti.' lalu segera tersadar dan mematikan sambungan telepon untuk berganti menelepon pengawal yang menjaga Mayra.
Ia segera kembali menelepon Zio untuk memberitahu keberadaan Mayra oleh laporan pengawal.
Zio terlihat berlari dari lobby menuju taman apartemen. Pandangannya menyapu sekeliling, namun sama sekali tak bisa menemukan sosok Mayra. Ia kembali berlari, dengan pandangan menelisik Taman.
Hingga akhirnya sepasang mata Zio berhasil menemukan Mayra, sedang terduduk di sebuah kursi taman di antara tumbuhan anak nakal tengah menunduk dengan kedua tangan menelungkup menutupi wajah.
Zio segera menghampiri, melewati kedua pengawal yang menjaga Mayra di belakangnya.
Tanpa suara ia terduduk disebelah Mayra, mendengarnya menangis sesenggukan di balik kedua telapak tangannya dengan tanpa mengeluarkan sepatah kata. Membiarkan Mayra meluapkan segala perasaan sedihnya tanpa tersisa, jika bisa.
...----------------...
Hai-haiii Readers kesayangan ...
Jangan lupa jejak dan dukungannya ...
keep fighting !!!!
Always be happy biar daya tahan tubuh terstimulasi dengan baik buat ngelawan virus ...
( E...Buset ngomong apa dah lu Thor sok iyee Amitt )
😆😆😆
Jangan anggep Author sombong gegara ga bales koment Yee,,, kan Author jawabnya langsung cubles pake perbuatan... Ahhahah ( Ngeles mulu ngalahin bajaiiii )
🤣🤣🤣
Pokoknya jangan lupa bahagia, walaupun ga bisa milikin diaaa 😂😂😂
Dah ahh... Mulai ngawur ni Author jadinya
See you soon ,,,, 😘
__ADS_1