KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Menyelamatkan


__ADS_3

" Saya terima nikah dan kawinnya Mayra Shadiqa binti Ahmad Ramdhani dengan mas kawin tersebut Tunai !"


Habis ! habis sudah hidupku. Masa depanku. Air mata semakin deras mengalir dalam wajah sendunya.


" Bagaimana saksi ?"


Brakkkk


Sebuah suara yang amat keras mengalihkan perhatian semua pasang mata di area akad. Hingga muncullah sosok dengan sejuta pesona meski dengan penampilan sedikit tak rapi, akibat berkelahi mengalahkan para pengawal Aldo.


Semua orang menampakkan raut bingung hingga menautkan kedua alis, kecuali Mayra yang menerbitkan secerca senyum harapan penuh suka cita. Ingin rasanya ia segera berlari dan memeluk pria itu.


Zio ... Terimakasih telah datang.


Bugh .. Buggh ... Buggh


Zio berjalan tergesa di balik latar semua pengawal yang mempertahankan posisi masing-masing kubu. Tatapannya amat tajam, bahkan sangat menusuk hingga para hadirin tak berani melihatnya. Sangat menyeramkan.


Hingga sampailah ia pada tempat Mayra berada, menarik tangannya. Namun, tak bisa Aldo menggenggamnya begitu erat. Mayra memandanginya nanar, " Ziio ...." bulir bening kembali berjatuhan.


" Lepas saat aku masih berbicara baik-baik."


" Tidak akan ! dia milikku ! dari awal dia milikku !"


" Tunggu. Ada apa ini ?" Pak Penghulu nampak menengahi karena tak mengerti dengan situasi yang telah terjadi.


" Kau !!" Zio tampak tersulut emosi.


Bugghh

__ADS_1


Dengan kekuatan penuh amarah Ia menendang perut Aldo hingga genggamannya pada Mayra terlepas, lalu seketika menarik Mayra dalam dekapan. Mayra semakin terisak dalam dada bidangnya. Tak ayal, ia masih berusaha sekuat tenaga melawan Aldo dan melindungi Mayra bersamaan.


Para tamu undangan berteriak histeris ketika keributan terjadi, mereka berhambur berlarian mencari tempat aman. Tak terkecuali Mama juga Pak Penghulu. Dengan segera Mama menghubungi Om Sam memberitahu tentang semua kekacauan yang terjadi.


Om Sam segera melenggang dari ruangan Rindi, terlihat mengumpat dan menendang asal pada udara. Rindi memandangi setiap geriknya, apa ini ? apa Zio sudah datang ? dengan segera ia menengok pada jendela, hingga tampaklah pemandangan puluhan manusia yang saling baku hantam. Ia terlihat menarik seutas senyum dengan tangan di dada. Alhamdulillah.. Mayra selamat.


***


Aldo terlihat terkapar dengan badan penuh lebam, bahkan tampak darah mengalir dari hidungnya. Membuat Mayra merasa sedikit bersimpati padanya, namun tak ada waktu. Karena Zio telah menariknya dengan gerakan kilatnya.


Zio tampak membimbing Mayra untuk berlari keluar rumah tersebut, menghindari para pengawal yang menghalau jalan keduanya dengan melontarkan pukulan maut bahkan menendang dengan tanpa perasaan. Hingga keduanya kembali berjalan dengan Mayra yang sedikit kepayahan karena memakai kain batik dan atasan kebaya putih khas pengantin wanita. Dengan segera Zio membopongnya, berlari menembus keriuhan di tengah para pengawal yang sedang baku hantam.


Mayra semakin menunduk, memejamkan mata dengan tangan yang melekat erat memeluk leher Zio.


Kumohon selamatkan kami ya Allah ... Selamatkan kami ...


Hingga sampailah keduanya di luar gerbang, dengan segera menuju mobil. Namun langkah Zio terhenti, melihat barisan orang berpakaian hitam yang kesemuanya berbadan tegap. Ia menurunkan Mayra, lalu mulai melawan satu persatu orang suruhan Om Sam tersebut.


" Stop ! Stop sama semua ini Do !! berenti ! kasian Zio !!!" pandangan Mayra menatap Zio begitu sendu, ia masih berjuang melawan kesepuluh anak buah Aldo dengan kepayahan. Bagaimana tidak, mereka adalah orang terlatih. Mayra semakin terisak, menangis pilu melihat Zio yang terkadang terkena pukulan. " Zio pergilah !! kamu terluka ! aku ga pa pa ! Zio kumohon !!" kata itulah yang mampu ia ucapkan, sangat terpukul karena Zio kembali merelakan tubuhnya untuk menyelamatkan ia yang tak begitu berharga.


" Aldo ! aku udah bilang kita udah selesai ! gak ada gunanya pukulin Zio kaya gitu ! cepet suruh anak buah kamu berhenti !!" pekik Mayra yang telah kembali menatap Aldo.


" Nggak May ! nggak ada yang selesai di antara kita. Aku masih sangat mencintai kamu ?! kenapa yang kamu pedulikan hanya monster gila itu !!" Aldo turut terbawa emosi.


"Dia bukan monster ! dan kamu yang gila !" nafas Mayra terlihat semakin memburu. Hingga akhirnya ia tersadar bahwa berteriak pada Aldo seperti ini tak akan menyelesaikan masalah. Sementara Zio, dia sudah terlihat sangat kelelahan meski masih memaksakan diri untuk kembali melawan.


Saat tersungkur, dengan sekuat tenaga ia bangkit kembali menghiraukan segala lebam juga pukulan kesepuluh orang yang mengelilinginya. Sorotnya kian menajam, sungguh dalam hati ia ingin membunuh semua biadab ini. Tapi, kondisinya sangat tak memungkinkan. Mereka benar-benar orang tangguh yang cukup sulit ia tangani. Jika seseorang tak datang dalam sepuluh menit, ia benar-benar bisa habis.


Ia kembali memfokuskan diri, memukul menendang dada ataupun kepala lawan sekenanya. Karena memang kondisinya sudah tak begitu baik, akibat pukulan demi pukulan yang ia terima.

__ADS_1


Dugghh ... Daagghh ... Brukkk


" TOLONGG !!!! TOLONG ZIO ! DIA DISINI !!!!" Mayra memekik dengan sekuat tenaga, agar para pengawal kemari dan membantu Zio. Tapi, entah kemana semua orang tak ada seorangpun yang muncul dari gerbang.


" Sudahlah Mayra, masuklah ... Kita menikah dan semua selesai ..." ucap Aldo dengan santainya.


Mayra semakin lekat menatap Zio yang tengah berkelahi dengan begitu banyaknya orang bertubuh tinggi tegap, bulir bening kian menetes tanpa berniat untuk berhenti.


Zio ... Lebih baik kamu tidak datang. Maafkan aku yang telah menggantungkan harapan. Zio mungkin ini jalan terbaik untuk kita. Kamu bisa berbahagia dengan Shanon. Selamat tinggal Zio ...


Mayra mengusap air mata terakhir yang menetes, menguatkan hati dengan menghela nafas yang begitu panjang.


" Fine !" Mayra berbalik untuk kembali memasuki gerbang rumah Om Sam, Aldo terlihat menyeringai lalu menatap Om Sam yang juga tengah menyeringai sekilas.


Tak ada jalan lain, hanya ini yang bisa lakukan untuk menyelamatkan Zio. Meski dengan hati teriris melangkahkan kaki bagai berjalan di atas ratusan duri. Meski berat, sangat berat seperti menanggung bongkahan bangunan rumah yang terpampang di depan mata dengan bahunya.


" Cepat hentikan Al !" seru Mayra karena masih mendengar suara pukulan demi pukulan.


Hingga tangan Aldo terlihat mengibas, membuat para anak buah menghentikan aksi menendang juga meninju Zio yang telah terkapar.


Tidak Mayra ! Siall !!! rutuk Zio dalam hati melihat Mayra berjalan menjauh bersama Aldo di sampingnya.


Kurang ajar kalian semua ! akan kubunuh kalian semua ! ckk ! sial ! tubuh sialan !!


Ia semakin terdengar merutuk tak terima merasakan sang tubuh yang tak bisa beranjak oleh berbagai pukulan anak buah Om Sam. Ia terdiam sejenak. Mengistirahatkan tubuh juga kepala di jalan aspal depan rumah Aldo, yang terletak di sebuah komplek yang cukup sepi.


Doorrrrr


Hingga sebuah suara membuatnya terperanjat, lalu membuka mata dengan membulat sempurna.

__ADS_1


Suara itu lagi. Siapa ?


__ADS_2