KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Resign


__ADS_3

" Dasar wanita kurang ajar, beraninya kamu dengan seorang Kalista." ucap Kalista yang terduduk di meja kerjanya dengan tangan mengepal dan sorot tajam yang menatap pada robekan foto di atas meja, yang di berikan pengawal yang membuntuti Aldo atas perintah darinya. Ia begitu geram dengan kedekatan Aldo dan Mayra, berfikir bahwa Mayra menggoda Aldo untuk berpaling darinya. Sungguh benaknya di penuhi kebencian yang teramat dalam untuk Mayra.


Ia terlihat meraih benda pipih dalam tas branded miliknya lalu mulai mengusap sebuah kontak di sana, " Kerjakan sekarang." dengan suara dingin lalu menyeringai jahat dengan wajah cantiknya.


Kita lihat saja, semakin kamu mendekati Aldo. Maka kamu akan semakin menderita. Aldo adalah milikku sekarang dan selamanya. Batin Kalista dengan seringai jahat dan jari yang mengusap potret pertunangannya dengan Aldo yang menjadi wallpaper dalam ponselnya. Sungguh obsesinya untuk Aldo telah membutakan Kalista.


***


" Huuu...Uu..Huuu....Hueeee....." tangis Anton pecah dalam ruangan kerja mereka.


" Apa sii lu, brisik tau !" seru Rindi yang merasa berisik dengan suara Anton.


" Tegaaa Rin, teganya dirimu padaku... Huuu....Huuu...Huuu..."


Rindi membiarkan saja akhirnya, berbicara pada Anton malah semakin memperburuk suasana hatinya.


" Loh Rin ? lo mau pindah ruangan ? lo naik jabatan ya ? wahhh ... Selamat yaa..." Mayra yang baru datang dengan langkah sedikit terpincang segera menghampiri Rindi untuk memberi selamat.


Namun wajah Rindi semakin gamang saja di buatnya, bagaimana cara menjelaskan pada Mayra. Ia mulai mengambil nafas dalam, " Nggak... Lo emang uda baikan ? ko uda masuk sih ? Izin aja dulu, liat tuh kaki lo masi bengkak gitu." ia nampak mengalihkan perhatian.


" Hhuueeee.... " suara Anton kian menggema saja membuat sakit telinga.


" Kenapa tuh si sengklek ??" tanya Mayra yang melihat Anton terjongkok di sudut ruangan dengan tangis meraung tak karuan.


Rindi mengedikkan bahu, lalu mulai kembali memasukkan barang-barangnya dalam wadah container kecil.


" Lo naik jabatan apa Rin ?" tanya Mayra dengan wajah cerahnya, seraya mendudukkan diri pada kursi kerjanya.

__ADS_1


Hening beberapa saat, Mayra yang merasa aneh dengan reaksi Rindi mulai curiga. " Lo... Nggak mungkin resign kan ?"


Rindi menghela nafas, lalu mengangguk pelan ia yang biasa tampak dingin dan tegas seketika merubah raut seakan ingin menangis, sebenarnya ia masih ingin bersahabat dengan Mayra namun apa yang akan di pikirkan Mayra tentangnya jika mengetahui kebohongannya yang seorang pewaris sebuah hotel, pasti Mayra akan membencinya pikirnya. Bulir bening jatuh seketika membayangkannya.


Mayra yang melihat lelehan air mata Rindipun segera meraih tubuhnya untuk di dekapnya, sebenarnya apa yang terjadi pada Rindi pikirnya." Udah... Gpp kok kalo lo belum siap cerita ... Gue bakal tunggu sampe lo siap.. Oke ??" bujuknya pada Rindi agar berhenti menangis, sebenarnya ia begitu penasaran juga dengan alasan Rindi untuk resign namun biarlah, biar Rindi bercerita setelah merasa nyaman pikirnya.


" Bisa ga May gue minta sesuatu sama lo ?" pinta Rindi dengan masih memeluk erat Mayra.


" Apa ?"


" Apapun yang terjadi, please jangan benci sama gue... Pleasee ..." mohonnya pada Mayra, ia benar-benar takut kehilangan Mayra.


" Astaga Rindi gue kira mo minta apaan, iyaa ... Iyaaa udah ya ?? jangan nangis lagi masa seorang Rindi nangis sih ?" sambil mengusap bulir bening dalam pipi tirus Rindi yang malah semakin deras saja mengalir, membuat Mayra menjadi turut tersedu membayangkan hari-harinya bekerja tanpa Rindi sungguh membuatnya tak kuasa menahan air mata.


" Kok jadi elo yang nangis sih ?" sambil mengusap bulir bening Mayra yang ikut tumpah ruah," Elo sih...." mereka masih saling mengusap air mata dengan senyum simpul menghiasi wajah keduanya. Begitu tak rela kehilangan satu sama lain.


" Huuuaaa..... Ayang Rindiii jangan tinggallin Aa' Antonnnn dong... Huaaaa"


***


" Tuan.. Nampaknya Tuan Besar semakin gencar menyelidiki tentang nona Mayra, sudah ada dua detektive yang tertangkap para pengawal." lapor Radit pada Zio.


" Cegah."


Astaga... Sebenarnya apa yang telah terjadi ? kalian itu satu kubu, kenapa malah menjadi musuh. Tuan Besar dan Tuan Muda itu sungguh sama saja.


" Akan kami usahakan Tuan."

__ADS_1


Zio tampak berfikir tak mungkin selamanya akan bersembunyi dari Opa, pasti Opa akan melakukan segala cara untuk bisa mengetahui tentang Mayra. Ia sangat geram sekali, kenapa tak bisa menjaga diri dari Mayra bahkan di hadapan Opa dan Pak To. Kenapa ia begitu bodoh jika bersangkutan tentang Mayra, kemana IQ di atas rata-ratanya berada sebenarnya ketika bersama Mayra, sungguh perasaan yang aneh pikirnya.


" Kapan meeting dengan QR Group ?"


" Besok jam sepuluh Tuan."


Baguslah setelah meeting aku bisa melihat keadaan Mayra, dan mengajaknya makan siang. Batinnya dengan menarik sudut bibirnya.


Membuat Radit langsung mengetahui rencananya karena kantor QR Group yang melintasi JS Group tempat kerja Mayra.


Sebenarnya Zio sangat penasaran dengan keadaan Mayra, namun begitu enggan untuk menghubungi lewat ponsel takut tertolak sebenarnya. Hingga ia memutuskan bertahan hingga esok hari tiba.


***


Mayra dan Pak Johan sedang terduduk berdua di sebuah ruangan membahas detail kelebihan product untuk membuat iklan yang tepat setelah rapat. Semua sudah pergi meninggalkan ruangan, Pak Johan memang sering berdiskusi dengan Mayra karena pola pikir Mayra yang luas menurutnya juga ucapannya yang mudah di fahami.


Hingga akhirnya sesi diskusipun berakhir, Pak Johan mulai mengambil langkah untuk keluar. Namun terhenti sejenak, menoleh pada Mayra yang nampaknya begitu kesulitan untuk berdiri menahan nyeri di kaki bengkaknya.


" Kenapa May ?"


" Gpp ko Pak..." dengan sedikit meringis menahan nyeri.


Pak Johan nampak menghampiri, dan mulai membantu Mayra berdiri. " Kaki kamu kenapa May ?" tanya Pak Johan melihat kaki bengkak Mayra.


" Ehehe... Gpp ko pak ini cuman kena meja kemaren." dengan senyum canggung Mayra menjawab.


" Harusnya istirahat dulu May, nanti tambah bengkak malah lama sembuhnya." Nasihat Pak Johan.

__ADS_1


" Hehe.. Nggak enak Pak, saya kan udah banyak Izin." Ingatan Mayra memutar waktu indah liburannya bersama Zio beberapa saat lalu. Lalu menghembuskan kasar, mengingat Zio hanya membuatnya sesak dada fikirnya.


Semua pemandangan tersebut tak lepas oleh sorot kamera di balik pintu, ia beranjak setelah Pak Johan dan Mayra mengarah pada pintu keluar. Ia menatap penuh binar pada potret dalam ponselnya, lalu tersenyum menyeringai di balik tembok persembunyian agar tak terlihat Pak Johan juga Mayra.


__ADS_2