KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Menikah


__ADS_3

Rindi telah sampai di sebuah Rumah megah bak istana bercat putih di setiap sisinya, dengan halaman yang luas menghampar juga beberapa paviliun yang mengelilinginya. Ya, ini adalah tempat tinggal calon suaminya jika pernikahan memang akan terjadi. Dengan setelan wajah tegasnya ia mulai melangkah, meski dengan gejolak rasa tak menentu dalam hatinya. Seperti memasukkan diri pada lubang buaya. Mengerikan.


Triing ...Triiing ... Triing


Bunyi ponsel menghentikan langkahnya seketika, " Halo ?"


' Rin ! ya ampun ! gimana ini ?!!!' suara heboh Tika amat memekak telinga, hingga ia harus menjauhkan ponsel beberapa saat.


" Ngomongnya pelan aja gue denger kali."


' MAYRA ILANG !!!!!' tak bisa, suara Tika malah semakin terdengar melengking.


" Whattt ??"


Apalagi ini ? astaga !


' Iya Rin, tadi gue telfon Hpnya yang angkat si manekin. Trus langsung di matiin. Rin, Mayra gimana ? tadi malem dia masih temenin gue di kamar. Dengerin curhatan gue. Masa paginya dia ilang sih ?' ucap Tika dengan emosional, mungkin air mata sudah meleleh dalam pipinya kini.


Rindi menghela napas dalam, sangat dalam. Mencoba berfikir jernih di antara situasi pelik ini.


" Ya udah, nanti kita cari sama-sama. Sekarang gue lagi ada urusan sebentar. Lo tungguin gue ya, bye .."


Tika tampak terbengong menatap ponselnya, karena kali kedua mendapat perlakuan semena-mena, dasar ! ini semakin membuatnya sedih saja. Ternyata memang sesepele itu ia dipandangan orang lain. Cih !


***


Zio tampak sama sekali tak konsen dalam rapat hari ini, pikirannya selalu dipenuhi tentang Mayra. Hah !! ia juga menyadari tak seharusnya masih berada disini sedang Mayra entah dimana bahkan bisa jadi dalam bahaya. Namun Radit selalu saja menenangkannya dengan dalih urusan Mayra telah di tangani oleh bagian Intel terbaik.


Tapi tidak bisa, sama sekali otaknya tak bisa berhenti memikirkan tentang Mayra. Bahkan ia sampai meremas kertas berkali-kali, mengutarakan kegusaran sang hati yang tak kunjung pergi. Rasanya ia tak tahan lagi. Ingin segera menghilang atau membelah diri jika bisa.


Dimana kamu May .... Siall !


***


Mayra mulai mengerjapkan mata perlahan, sakit kepala seketika menyapa membuat ia memegangi kening lalu memijitnya perlahan.


Awww... Pusing banget.


Matanya mulai menyapu sekeliling, pemandangan kamar yang sangat asing membuatnya mengerutkan dahi.

__ADS_1


Ini dimana ?


Dengan segera ia membuka selimut, mengecek seluruh tubuh yang ternyata masih lengkap menggunakan piyama semalam. Sedikit membuatnya lega. Lalu ia melangkah menuju pintu, membukanya namun tak bisa pintu tersebut terkunci.


Dugg !! dugg ! dugg !


Dengan rasa penuh ketakutan ia menggedor pintu tersebut sekuat tenaga." BUKAAA !!! Tolong buka pintunya !!!"


Kecemasan mulai merasuki dirinya, ia semakin berteriak dengan suara melengking. Hingga akhirnya pintu terbuka.


Mayra tertegun beberapa saat, Air mata nampak semakin deras terlihat, " Al ... Do ..."


" Hai ? apa kabar ?" ia bertanya seolah tak terjadi apapun dengan memasang wajah manisnya.


" Al ... Kamu ..." Mayra mulai berjalan mundur perlahan, karena Aldo yang tengah berjalan maju ke arahnya kini.


" Kenapa ? aku telah menepati janji. Aku sudah bertemu dengan keluargaku May .... !" Ia terlihat mendekap kedua pundak Mayra bahkan mengguncangnya pelan, dengan raut bahagianya.


Mayra semakin nanar menatapnya, berfikir dalam hati apa yang akan dilakukan Aldo padanya. Ia sungguh sangat takut kini. Kenapa Aldo yang dulu terlihat sangat manis, bisa berbeda seratus delapan puluh derajat begini. Bahkan aura keambisiusannya amat pekat ia rasakan. Air mata nampak kembali menetes, mengaliri wajah sendunya kini.


" Al ... Aku .."


" All ... Lepas !" Mayra berusaha mendorong dengan sekuat tenaga. " Al ! lepas aku bilang !"


" Gak akan ! aku gak akan melepaskan kamu lagi, sekalipun tidak akan pernah aku lakukan." semakin erat mendekap Mayra, bahkan sorotnya kembali menajam kini.


" Al .... kumohon ...." Mayra melemahkan suara, memelas agar Aldo melepaskan dekapannya.


Dan ya berhasil, Aldo tampak melepaskan pelukannya. Tapi, tangannya masih tersimpan rapi pada pinggang Mayra yang kini menghadapnya.


" Baiklah ... Persiapkan diri kamu. Kita akan menikah." Ucapnya dengan senyum manis, sangat manis sampai membuat Mayra terhanyut beberapa saat oleh ucapannya.


Seandainya kata itu terucap sebelum kamu pergi dengan wanita lain, hingga meruntut pada kejadian yang sangat mengguncangku lalu menghadirkan sesosok pangeran berkuda putih hingga mampu merebut hatiku, yang sebelumnya tersimpan utuh cintamu. Seandainya ....


Air mata kembali menderas dalam raut sendunya kini, membuat Aldo terkejut lalu dengan segera mengusapnya.


" Heii ... Kenapa ?"


Tak menjawab, Mayra malah semakin tersedu dan meninju-ninju dadanya dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


" Kamu jahat Al ! kamu jahat !! Jahat ! JAHAT !!! huuu... huu...uuu...hhuu !"


Aldo nampak terdiam, menerima pukulan demi pukulan yang dilontarkan Mayra.


" Kenapa baru sekarang ? harusnya dari dulu ! aku gak mau ! aku gak bisa !!! aaaa.... !!!"


Karena udah gak ada kamu dihatiku Al ! semuanya dipenuhi oleh Manekin gila itu !! aku benci !!! kalian semua jahat !!


" Apa bedanya dulu dan sekarang May ? aku masih sama, Aldo yang sangat mencintaimu."


Aku Al ! aku yang tidak mencintaimu ! hatiku telah dicuri oleh Tuan Manekin ! Bahkan sekarang aku sedang memikirkan apakah ia mencariku ? atau sedikit saja mengkhawatirkan ku ? apa dia tahu aku menghilang ?


Aldo masih degan telaten mengusap lembut bulir demi bulir yang membasahi pipi Mayra, perlakuan hangatnya sama sekali tak berubah. Tapi itu semua malah semakin membuat pikiran Mayra berlarian pada Zio, ia ingin berlindung pada tubuh tegap nan nyamannya. Memeluk tubuh hangatnya. Sebenarnya sejak kapan ia jadi sebergantung ini pada Zio, entahlah ia sendiri tak tahu. Yang jelas semua kebiasaan saat bersama Zio selalu terbayang meski kini ada Aldo yang masih dengan setia mengusap air mata karena mengingat Zio. Menyedihkan. Sangat menyedihkan.


" Sudah ya ... Persiapkan diri kamu. Aku akan menunggumu pengantinku ..."


Tubuh Mayra terasa merinding seketika, mendengar Aldo mengucap pengantinku dengan wajah manisnya. Semuanya terlalu terlambat Al. Aku harus bagaimana menjelaskan ini padamu ?


" Al ... Aku tidak bisa." Ucap Mayra pada akhirnya setelah berhasil mengumpulkan keberanian dalam diri.


" Kamu bercandakan ? ya pasti kamu bercanda. Mandilah sebentar lagi perias akan datang. Merias pengantinku dengan sangat cantik."


Jiwa Mayra semakin terasa terombang-ambing di tengah badai. " Nggak Al. Aku gak bisa. Aku tunangan Zio sekarang."


" Itu hanyalah sebuah pertunangan May ! aku akan menikahimu sekarang juga. Zio tidak akan bisa apa-apa. Heh ..." Ia tampak menyeringai, sangat licik sampai membuat Mayra kembali bergidik. Sungguh Aldo menjadi pribadi yang sangat berbeda.


" Tapi Al ... Kamu tahu, perasaan gak bisa dipaksa."


" May ! siapa yang memaksa ? kamu masih mencintaiku kan ?"


Mayra terdiam sejenak, lalu menunduk " Nggak ..."


" Bohong ! kamu bohong kan May ?! tatap aku sekarang bilang kamu gak cinta ?! pasti gak bisa kan ??" ia sampai mengguncang bahu Mayra tak sabar.


Mayra mulai menatapnya lekat, " Aku ... Nggak .. Cinta lagi sama kamu Al !!"


Aldo tertegun sesaat,wajah riangnya berubah pias. Ia mulai melepas tangan dari bahu Mayra. Berjalan mundur perlahan. Air mata nampak mulai menggenang di pelupuk matanya kini.


" Nggak.. May .... Pasti gak bener...Bilang sama aku itu semua gak bener."

__ADS_1


" NGGAK AL ! SEMUA ITU BENER ! semua karena kamu yang ninggalin aku karena wanita lain. Karena perselingkuhan kamu ! Sampai membuatku memberikan ruang kosong karena kepergianmu dengan dia. Dari awal kamu yang telah melepasku ! Dan Zio adalah orang yang selalu ada saat aku mengalami segala hal buruk. ZIOVANO ! BUKAN KAMU AL !"


__ADS_2