
Hari demi hari terlewati, hari pertama juga kedua Zio selalu datang kala jam besuk tiba. Bergilir dengan Ibu juga Bapak, Rindi dan Tika. Menstimulasi segala kalimat positif sesuai arahan Dokter. Karena walaupun Mayra dalam keadaan seperti ini tak menutup kemungkinan ia bisa mendengar semua ucapan dari keluarga juga orang terdekatnya. Agar mempermudah jalan kesembuhan untuk Mayra sendiri.
Semua terbukti, ketika Mayra menitikkan air mata kala Zio mencurahkan segala isi hatinya. Memberikan secerca harapan bahwa Mayra pasti bisa terbangun hingga bisa berkumpul bersama kembali.
Hari ketiga Zio harus pergi selama beberapa hari ke London, karena terjadi suatu masalah di salah satu anak perusahaan di sana. Sebenarnya sangat berat meninggalkan Mayra dalam keadaan seperti ini. Namun bagaimana, ia punya kewajiban untuk memimpin perusahaan Opa. Hingga dalam keadaan apapun harus siap sedia bertanggung jawab atas segala permasalahan.
Hei ... Cepatlah bangun ... Aku harap kamu sudah terbangun saat aku kembali nanti. Janji ? Zio meraih tangan kanan Mayra, menyatukan jari kelingking miliknya juga Mayra. Tersenyum haru setelahnya. Hingga berakhir menciumi tangan Mayra dalam, menggenggamnya erat-erat.
Kamu sudah berjanji Mayra. Kamu harus menepatinya oke ?
Mayra terlihat kembali menitikkan air mata. Zio mengusapnya perlahan, " Hei ... Kenapa ? aku pasti kembali, jangan menangis. Lebih baik memukulku atau menciumku juga tak masalah ..." Zio kembali termenung, sungguh ini situasi yang tak pernah ia hadapi berharap-harap cemas hingga memunculkan perasaan resah gelisah tak menentu. Sungguh perasaan yang amat ia benci. " Makanya bangunlah. Kalau kamu sehat seceria bisanya aku pasti akan mengajakmu kemanapun aku pergi. Setuju ?" air mata Mayra kembali menetes. Membuat Zio semakin kacau dengan perasaan hancur berkeping. Ia terlihat semakin dalam menciumi tangan Mayra.
Semua pemandangan tersebut tak pelak dari pandangan Ibu, sungguh begitu terharu. Ternyata setulus itu perasaan Zio untuk anaknya, hingga kedatangan Khadija juga Fahmi mengagetkannya.
" Ibu kenapa ? Kok kaget gitu sih ?" tanya Khadija lalu melongok pada kaca persegi yang memperlihatkan Zio telah berjalan keluar ruangan.
" Saya ada urusan bisnis sebentar Bu. Tolong beritahu saya jika ada kabar apapun tentang Mayra." ucap Zio lugas dengan penuh kesopanan.
Ibu terlihat mengangguk, Zio terlihat enggan melangkah kembali menatap kaca persegi dengan pemandangan Mayra terbaring di dalamnya, lalu menunduk menghembuskan napas dalam hingga melangkah dengan raut ala menekinnya.
Khadija memandangi punggung Zio hingga hilang di balik lorong, " Ngapain hayoo !!" hingga suara Fahmi sukses menggoncang jantungnya seakan ingin melompat. " Apaan si !? Isshh !"
__ADS_1
" Lagi ngalamun. Ti ati kesambet Rumah Sakit nih !"
" Yee ! siapa yang melamun. Orang aku tu suka aneh deh Bu. Ko orang kaya Ka Zio gitu bisa-bisanya Deket sama Ka May. Kan jauh banget tipikel orangnya, kebalikan 180° Celcius."
" Garis tegak lurus kali ah ! Ka Dija suka aneh deh !"
" Diem deh bocil !" Khadija tetlihat menuding Fahmi dengan jari telunjuk, bocah SD tersebut hanya melengos tak peduli.
" Jodoh, rezeki, maut gak ada yang tau Khadija. Mungkin mereka memang ditakdirkan bersama untuk saling melengkapi. Seperti halnya siang dan malam. Dingin dan panas. Saling berganti juga saling mengisi satu sama lainnya." Ibu terlihat tersenyum tulus setelahnya.
" Wahh iya ngerti nih Dija ! kalo Ka Zio pendiem Ka May rame. Ahahaha ..."
" Ahahaha... Iya. Tapi ..." Fahmi ikut menimpali, namun segera teringat keadaan Mayra yang masih terbaring tak berdaya bahkan di ruang ICU, ketiganya tampak saling pandang hingga tenggelam dalam tangis masing-masing.
Setelah mengetahui kepergian Zio yang tengah mengurus bisnis di luar negeri, Aldo tak menyisakan kesempatan untuk datang mengunjungi Mayra. Mama Linda pun turut serta menjenguk.
Keduanya telah sampai, Aldo meminta izin pada Ibu untuk masuk ke dalam. Ibu mengizinkan, sementara ia bercengkrama bersama Mama Linda.
*May ... Kalo aku tau keegoisanku akan berakhir menyakitimu, seribu langkah aku ingin mundur dan mengulang waktu. Lebih baik tidak bersama, daripada harus kehilanganmu selamanya.
Maafkan aku Mayra ...
__ADS_1
Aku hanya berharap kita bisa bersama seperti dulu. Saling mengerti dan menyayangi. Aku hanya ingin membuatmu bahagia. Sesuai janji kita. Tapi, semua itu gak akan terwujud jika aku hanyalah Aldo yang dulu.
Tapi ternyata aku salah. Kebahagiaan tidak pernah bisa diganti dengan materi. Aku salah melepas cinta tulusmu dengan egoku.
Bangunlah Mayra ... Aku janji tak akan pernah memaksa tentang kebersamaan kita. Lebih baik aku sendiri yang terluka dari pada tak bisa melihatmu selamanya.
Bangunlah Mayra* ...
Aldo terlihat menggenggam tangan Mayra menatapnya penuh kesenduan. Dunia bahagia yang ingin ia bangun bersama Mayra memanglah telah hancur tak berjejak, namun setidaknya ia ingin Mayra hidup. Tersenyum seceria biasanya. Merelakan jika cinta terkadang tak harus memiliki.
Hingga esok hari dan esok harinya teman teman satu divisi Mayra dulu datang bergantian. Ada Bu Meta dan suami, mengingatkan Mayra untuk segera sadar dan memesan banner kembali. Pak Anwar dan Istri mengingatkan ia agar menghubungi jika membutuhkan jasa catering. Hingga Anton yang sangat heboh menangis histeris lalu tertawa terbahak kala mengingat kekonyolan Mayra. Semua datang untuk memberi Mayra semangat, semangat membuka mata dan beraktifitas seperti biasa.
Tak lupa para anak Rumah Pelita juga para Orang Tua, meski tak dapat masuk bersama. Mereka terlihat begitu kusyu' berdo'a bersama untuk kesembuhan Mayra.
Bapak dan Ibu terlihat begitu terharu menatap kaca persegi dengan sang putri yang berada di dalamnya, " Bangun Nak ... Banyak yang menyayangimu. Bangun sayang ..." Ibu mengusap perlahan kaca dengan bayangan wajah Mayra, menitikkan air mata hingga terisak dalam pundak Bapak.
Seminggu telah berlalu namun Mayra tak juga membuka mata, membuat Bapak berpikir kemajuan kondisi yang di ucap Dokter hanyalah sebuah iming belaka.
Pernah ia berada pada titik berpasrah. Namun, sekejap kemudian mengingat masih begitu banyak hal yang belum bisa di capai putri kecilnya tersebut. Hingga kembali memohon kesembuhan juga kesehatan sang putri.
Di tengah kehancuran hatinya ia selalu menyempatkan sedikit waktu untuk bercerita tentang kisah masa lalu atau apapun itu. Terkadang Mayra meneteskan air mata kala ia menceritakan kisah sedih membuatnya semakin bersemangat untuk bercerita.
__ADS_1
" May ... Kamu inget dulu waktu Nenek kamu pergi dari dunia ini, kamu nangis kejer gak bolehin Nenek di kubur. ' Nenek jangan tinggalin Mayla' gitu kamu bilang. Terus Bapak gendong kamu, kita keliling makam. Sampe akhirnya kamu berhenti nangis juga. Karena apa kamu inget gak ? masa gara-gara liat ada Kaka ganteng Pak. Wah ... Bener-bener kamu. Gak ada takutnya sama Bapak." Bapak terlihat terdiam sejenak, menelan segala sesak juga air mata yang akan tumpah. Lalu kembali melanjutkan cerita." Kamu minta samperin, Ya Bapak nurut aja biar diem. Udah sampe minta diturunin. Ngehibur si anak cowok itu lagi, lupa udah sama tangisannya buat Nenek barusan. Sampe Bapak ngucek-ngucek mata saking gak percaya, jangan-jangan salah bawa anak orang." suara tawa sumbang Bapak terdengar.
Ia kembali melanjutkan cerita, " Dalam hati Bapak anak cowok kok nangis cemenos ! eh malah kamu ucapin beneran, sampe Bapak kikuk sendiri sama orang tuanya. Terus Bapak liat kamu janji kelingking sama anak tadi, walaupun gak tau itu janji apa. Bapak lihat semenjak hari itu kamu selalu giat belajar, berusaha ngomong 'R' dengan benar. Jadi anak yang selalu nurut sama Bapak sama Ibu bahkan Kakak yang baik buat adik-adik kamu." Bapak tampak tak kuasa hingga meluruhkan segala gumpalan kesedihan dengan lelehan air mata yang begitu derasnya.