
Mayra telah sampai dan terduduk di sebelah kanan Opa dengan menggenggam tangannya, " Kakek ... Cepet sembuh ya .." ucapnya dengan raut sendu.
" Sebenarnya dia siapa Pak ?" tanya Mama Rena yang berdiri berdampingan dengan Pak To di sisi kiri Opa.
" Calon istri Tuan muda."
" Apa ? Zio ?? bukannya dia ...." terhenti karena mendapat gelengan kepala dari Pak To.
Dia sudah punya kekasih, gitukan tante.. Hufft ...Batin Mayra melanjutkan perkataan Mama Rena.
Ia masih menunggui Opa yang telah tertidur kini. Semakin geram saja ia pada Zio karena sampai membuat Opa seperti ini hanya karena ia melampiaskan semua kekesalan padanya, dasar cucu durhaka pikirnya.
Begitulah hari-hari berikutnya berlanjut, hingga keadan Opa kian membaik, bahkan airmukanya sudah terlihat begitu cerahnya pagi ini.
" Mayra Opa ingin bicara..." ucap Opa setelah terduduk di ranjang rumah sakit setelah berjemur menggunakan kursi roda bersama Mayra tadi.
Mayra nampak mengangguk dan mulai mendengarkan dengan seksama.
" Opa mohon jangan membenci Zio atas semua kejadian ini, dia sudah hidup cukup menderita selama ini. Opa yang salah karena mengambil langkah yang begitu terburu-buru. Opa pikir kalian berdua saling memiliki rasa, tapi ternyata tidak seperti itu. Maafkan Opa Mayra ... Opa hanya berharap Zio bisa hidup bahagia sama seperti yang lainnya. Di sisa umur Opa yang setiap saat bisa saja terenggut ini."
" Opa ... Jangan bicara seperti itu, Opa udah sehatkan sekarang, Opa udah baik-baik aja. Lagian Opa, Zio itu sudah punya wanita yang dicintai, jadi gak mungkin Mayra ngelanjutin hubungan ini Opa."
Opa menggeleng pelan, " Entah kamu tahu atau tidak Mayra, tapi ada sebuah kisah kelam dalam hidup Zio yang tak semua orang tahu."
" Apa itu Opa ?" Mayra nampak penasaran juga, karena selama ini ia hanya mengenal Zio dari permukaan tanpa menelisik ke dalam. Begitu takut jika itu malah akan memperdalam perasaannya.
__ADS_1
" Apa kamu bersedia bersanding dengan Zio jika Opa menceritakan semuanya ?"
" Opa ... Zio mencintai wanita lain dan itu bukan Mayra."
" Opa mohon Mayra ... hanya kamu yang bisa bersama Zio, bukan wanita lain itu." Opa menatap penuh harap. Membuat Mayra tak kuasa, masih teringat jelas di kepalanya saat Dokter meminta untuk selalu menjaga perasaan Opa, karena penyakit Jantungnya yang bisa kambuh kapan saja. Kesembuhan ini merupakan keajaiban yang mungkin tak akan pernah terulang untuk kedua kalinya.
Mayra begitu di landa gundah, di satu sisi ia tak mungkin bersanding dengan Zio, namun di sisi lain tak bisa juga menolak permintaan Opa yang dalam keadaan baru saja membaik kini.
Mayra kembali menatap Opa dengan penuh tanya, kenapa Opa bisa seyakin itu pikirnya.
" Iya ..." lebih baik mengorbankan hatinya, daripada harus mempertaruhkan nyawa Opa.
Opa mulai menceritakan kejadian dua puluh satu silam.
Mama Zio terlihat berbicara pada suaminya yang baru pulang dari kegiatan super sibuknya, di pertengahan malam. Ia begitu di landa rasa takut oleh teror yang selalu datang menghantui, dari mengancam dia bahkan anaknya. Dia sampai memohon pada suaminya untuk menyelidiki semua ini.
Pernikahan karena sebuah perjodohan, tak begitu membuat keduanya saling terikat. Bahkan untuk saling berkomunikasi sangat sulit bagi keduanya lakukan.
Hingga teror tersebut berada di puncaknya pada suatu malam, saat Zio yang bermain dengan mainan robot terbaru yang di belikan Papa di balkon kamar.
Mama yang akan memasuki kamar mandi di kejutkan dengan tulisan merah pada kaca 'Tinggalkan suamimu jika ingin anakmu selamat' Seketika ia berlari menghampiri Zio di balkon. Mendekapnya erat, mencoba memberi perlindungan kepada putra tercintanya, satu-satunya alasan ia bertahan dalam rumah tangga tanpa cinta bersama suaminya.
Ia menangis tersedu, " Mama kenapa ?" tanya bocah polos tersebut.
" Gpp sayang... Mama akan melindungi Zio, apapun yang terjadi Mama akan selalu ada untuk Zio. Zio harus jadi anak yang kuat dan bisa di andalkan, oke sayang ?" mencoba tersenyum di balik tangisnya.
__ADS_1
" Iya... Zio janji, Zio akan buat Mama bahagia setelah Zio dewasa nanti." ucapnya dengan riang gembira.
" Iya sayang... " Kembali memeluk Zio.
Hingga ia melihat ada sebuah senapan dari jendela Rumah sebrang mereka sedang mengarah pada Zio.
Dorrr
Peluru yang harusnya menimpa Zio, melesat menembus punggung Mama yang secepat kilat baralih ketika menyadari suara tembakan barusan. Dengan rambut tergerai ia mendekap erat Zio dan memutar posisi untuk menyelamatkan anak tercintanya. Hingga berakhir tersungkur dengan darah yang mengalir dengan derasnya.
Zio panik tak terkira, karena sang Mama yang telah tersungkur tak berdaya dengan bersimbah darah di hadapannya. Ia menangis meraung, memohon kesadaran kembali sang Mama. Hingga Pak To dan para pengawal menghampiri dan mengejar pembunuh di Rumah seberang tersebut.
Ia meringkuk, mengguncang bahu sang Mama yang tak menunjukkan tanda-tanda pergerakan, sang Mama telah menghembuskan nafas terkhirnya. Zio berteriak sekencang-kencangnya pada senyapnya sang malam untuk mengembalikan sang Mama, Namun Mama sama sekali tak bergeming.
Hingga Pak To menuntunnya berdiri, " Nyonya telah tiada Tuan muda." dengan raut penuh kegetirannya.
" TIDAKKK .... MAMA MASIH HIDUP... MAMA ZIO JANJI AKAN JADI ANAK BAIK !! ZIO JANJI GAK AKAN NAKAL !! TAPI MAMA HARUS BANGUNN !!! MAMAAAAA !!!!" Ia meronta lalu bersimpuh memeluk sang Mama yang begitu ia cintai, Mama yang selalu menyayanginya, Mama yang mendekapnya erat jika mendapat omelan Opa karena nilai jeleknya, Mama yang selalu memberikan senyum tulusnya, Mama yang selalu membuatnya merasa bahagia dan sangat beruntung terlahir di Dunia. Ia tak akan pernah rela kehilangan, apalagi dengan cara yang sangat menyedihkan seperti ini. Ia masih saja meronta, meraung, menangis sejadi-jadinya.
Mulai dari sanalah ia menjadi trauma jika bersentuhan dengan wanita, kehilangan orang terkasih dalam hidupnya begitu mengguncang jiwanya hingga tak sanggup walaupun hanya sekedar bersentuhan dengan wanita lainnya. Karena akan langsung mengingatkannya pada sang Mama dan semua kejadian naas yang menimpanya.
Anak mana yang akan baik-baik saja jika melihat dengan mata kepalanya sendiri kepergian sang Mama dengan cara yang begitu mengenaskan. Dunianya terasa runtuh, jiwanya hancur berkeping, kebahagiaannya lenyap bersama hilangnya mentari dalam hidupnya. Kejadian naas tersebut begitu mengguncang jiwa seorang anak kecil berusia sepuluh tahun itu. Bisa melihat Zio tumbuh dan menjadi kebanggaan keluarga seperti sekarang adalah suatu keajaiban yang selalu Opa syukuri, meski meninggalkan luka hati dan perasaan yang selama ini tak pernah bisa Zio ungkapkan kepada siapapun itu.
Mayra tersentak dengan sebuah fakta tentang Zio yang diceritakan Opa, Ia merasa begitu kasihan dengan hidup yang Zio jalani selama ini. Ternyata ia menyimpan sejuta luka di balik raut manekinnya. Mayra nampak mengingat dulu kejadian di Mall saat Zio pingsan dan dikerubungi banyak wanita, saat itukah traumanya kambuh. Membuat rasa bersalah Mayra pada Zio semakin membesar saja kini.
" Tapi kenapa Zio terlihat baik-baik saja ketika bersentuhan dengan Mayra ?" bahkan lebih daripada itupun trauma Zio sama sekali tak muncul pikirnya.
__ADS_1
" Karena itulah Opa berfikir bahwa kamulah jodoh yang telah dikirimkan Tuhan dalam hidup Zio Mayra."
Seketika Mayra terhenyak, sedikit tak percaya dengan hal yang dipikirnya tak nyata namun benar-benar menggoreskan luka yang teramat dalamnya bagi seseorang. Dan dia adalah seorang ZIOVANO pemilik dada bidang yang pernah memberinya sejuta kenyamanan, juga lelaki yang terlihat begitu kokoh tak terkalahkan.