KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Nyaman


__ADS_3

Rindi terlihat kepayahan membopong tubuh lemah Fabio memasuki sebuah hotel yang tak begitu terkenal. Hingga seorang satpam tampak menghampiri dan membantunya. Setelah beberapa saat mengurus check-in hotel ia dan pak Satpam kembali memapah Fabio hingga kamar tujuan.


Rindi membuang napas kasar. Mengenali siapa laki-laki dihadapannya ini. Playboy yang sama kakapnya dengan Om Sam meski dengan skala mangsa yang berbeda kelas.


Sebenarnya ada apa denganku ? selalu saja dihadapkan dengan lelaki mata keranjang. Apa stok lelaki baik hati memang telah sepunah itu ?


Ia tampak menggelengkan kepala pelan. Lalu hendak beranjak pergi, namun tangannya di genggam erat oleh Fabio. Rindi sampai mengernyit heran. Apa dia berpura-pura mabuk ? Ia sampai mengibaskan tangan kasar di depan wajah Fabio untuk memastikan.


Tak melihat reaksi Fabio, ia tampak akan kembali beranjak. Namun kembali tertahan bahkan sampai tertarik hingga menimpa dada bidang Fabio. Bau alkohol menguar seketika. Beriringan dengan degup yang tak bisa ia kondisikan.


" Mau lari kemana ?"


Rindi tampak gugup, tangan yang bergetar ia gunakan untuk mencengkeram sprei.


" Temani aku Nona cantik ..."


Sial ! Kelihatannya Dia mabuk berat.


Rindi masih berusaha tenang, dengan harapan Fabio dapat terpulas kemudian.


Tapi, naasnya beberapa detik ia berdiam hingga memutuskan berdiri pada menit berikutnya tubuhnya ditahan Fabio dengan kekuatan penuhnya.


Sosoknya yang seperti singa kelaparan memandang Rindi penuh hasrat. Mengunci tubuh Rindi bahkan sampai tak dapat bergerak. Dengan decapan yang semakin menggila merubuhkan logika Rindi.


Segala macam rasa seolah membuncah dalam satu waktu, bak kembang api yang meletup tanpa peduli tentang apa dan bagaimana menghadapi akibat yang akan terjadi di depan sana. Keduanya terbuai, menghabiskan malam penuh hasrat seolah dunia milik berdua.


***


" Apa kamu keong ? Lambat sekali."


Kenapa juga masih menunggu disitu ? Pulang sana !

__ADS_1


Mayra tampak melengos, mendahului Zio yang masih berduduk manis di ruang TV menuju meja makan.


" Wah ... Apa ini ? Hmm ... Wanginyaaa ..." Mayra tampak antusias mendorong bangku lalu menyendok Nasi dan lauk dengan bersemangat.


" Kamu lapar atau doyan ?"


Astaga manusia ini ! Kuminta tenggelamkan Bu Susi baru tahu rasa kali ya. Eh, tapi jangan Ding. Nanti aku nangis.


" Eh iya ... Kamu kan gak bisa makan seafood. Aku bikinin dulu deh sebentar. Tunggu ya ..." Seketika Mayra teringat bahwa Zio alergi berbagai macam seafood. Dengan segera ia tampak menuju dapur, mengambil beberapa bahan di kulkas untuk membuatkan Zio sesuatu.


" Biar saya saja Nona ..." Salah seorang tampak menghampirinya.


" Ga pa pa, kalian istirahat saja. Zio agak rewel kalo soal masakan. Dia gak suka yang terlalu berbumbu atau keasinan sedikit saja." Lalu menoleh menampakkan gigi rata dengan senyum seadanya.


Mayra tampak kembali asyik melanjutkan aktifitas memasak, senandung kecil tak luput terdengar dari mulut mungilnya. Bahkan sesekali ia tampak mengusap penuh kasih beberapa peralatan memasak serba baru dalam kitchen set super elegan dengan warna hitam yang mendominasi ini.


Tentu saja semua pemandangan ini membuat alis Zio kian bertaut, sebenarnya apa-apaan semua ini ? Kenapa ia bersikap seolah sangat mengenalku ? Dan apa detak jantung yang bahkan lebih terasa menggema dibanding saat bersama Shanon ini ?


Zio semakin tak habis pikir saja, bahkan Mayra sampai meninggalkan makanan favorit yang ia pandang penuh binar demi membuatkannya makanan. Semua ini terlalu berlebihan dilakukan seorang sekertaris baru seperti dirinya.


Sekejap kemudian ia tersadar, menampik segala kemungkinan. Bertekad mencari tahunya dengan perlahan. Ia tampak menghampiri Mayra.


" Zio cobain deh," Mayra tampak memberinya suapan sesendok nasi goreng yang telah matang yang tentu saja sebelumnya ia tiup dengan penuh perasaan. Tak dapat menghindar Zio hanya menerimanya dalam keling-lungan. " Enak gak ?"


Tak menjawab, Zio malah memberinya sorot tajam. Membuat Mayra tersadar apa yang telah ia perbuat. Ia segera menundukkan kepala.


Astaga Mayra ! How stupid you are !


Sesekali ia tampak melempar senyum canggung pada Zio sembari memindahkan nasi goreng sosis keju ke atas piring saji.


" Mari Pak kita makan. Bapak pasti suka." Menuntun Zio agar kembali ke meja makan.

__ADS_1


Mayra tampak kembali melanjutkan makannya yang tertunda. Zio masih menatapnya penuh curiga.


" Saya masih sayang nyawa kok Pak. Gak mungkin saya kasih racun makanannya."


Apa dia gak lihat tadi aku juga mencobanya ? Dasar !


Zio tampak menghembuskan napas kasar, memakan suap demi suap nasi goreng Mayra yang sangat sesuai dengan seleranya. Bahkan rasanya sudah lama sekali ia tak memakan yang seperti ini meski di Rumah Utama terdapat masakan koki ternama.


" Ssst ... Lihat deh mereka cocok banget kan ?" Salah seorang pelayan tampak mengintip di balik dinding dapur.


" Iya yah ... Kalau bukan karena kecelakaan yang dialami Tuan mereka pasti sudah menjadi pengantin baru sekarang."


" Ehmm !! Jaga bicara kalian jika masih ingin bekerja lebih lama." Ujar sang pelayan senior.


Kedua pelayan perempuan tersebut tampak mengangguk penuh kegugupan lalu meminta maaf kemudian.


" Jangan ulangi lagi."


" B.. ba ... Baik..." Lalu melenggang kemudian.


Hah ... Nona, saya tahu anda orang seperti apa. Cinta anda yang setulus itu pada Tuan bahkan tidak bisa tertutupi dengan dalih seorang sekertaris. Saya harap kalian berdua bisa bersatu dan berbahagia di rumah impian anda ini.


Usai makan, Zio masih tampak enggan beranjak tampak fokus membaca beberap laporan yang terbawa. Padahal Mayra sudah sangat mengantuk.


" Apa Bapak masih lama ?"


" Apanya ? kamu mau usir saya ? lupa kamu ini semua dari siapa ?" nadanya semakin terdengar meninggi saja.


Mayra yang sudah terkantuk hanya menjawab seadanya, " Tidak Pak," lalu kepalanya tampak tertunduk dengan mata memejam.


Zio tampak menyunggingkan seulas senyum.

__ADS_1


Lucu sekali. Padahal berkas ini juga tak terlalu penting. Tapi rasanya aku masih sangat ingin disini.


Entah karena suasana Rumah Baru atau memang karena si pemilik. Yang jelas berada disini membuat hatinya tenang dan merasa begitu nyaman. Namun akhirnya Zio melangkahkan kaki keluar dari rumah Mayra setelah memindahkannya ke kamar utama.


__ADS_2