
" Tunggu !" akhirnya Mayra berhasil meraih tangan si gadis.
Gadis itu tampak menoleh, rambut yang sengaja dicat kepirangan dikuncir kuda semakin membuat Mayra membelalak karena bisa melihat dengan jelas siapa pemilik wajah itu.
" Heh ! Puas Lo sekarang ?!" tatapan penuh kebencian memancar dengan ganasnya.
" Kalista. Aku ..."
" Udahlah Mayra, gak usah sok jadi malaikat lagi. Gue benci !"
Mayra tampak menghela napas, " Kenapa kamu lakuin semua itu sama aku ? dan kenapa kamu bisa sampai ada disini ?"
" Gak penting." Kalista menampik tangan Mayra dan akan bergegas kemudian. Sekuat tenaga Mayra mencoba meraihnya kembali, namun malah ia yang tersungkur.
Sebenarnya kenapa Kalista bisa di sini, dan apa seragam office girl yang dia pakai itu ?
" Apa yang kamu lakukan ?" tiba-tiba suara dingin yang amat familiar merasuk Indra pendengaran, membuatnya tersadar dari lamunan.
Mayra mendongak, lalu menatap dirinya sendiri yang ternyata masih terduduk di lantai. Ia tampak kepayahan berdiri, hingga tangan Zio terulur untuk membantunya.
" Terimakasih Pak."
" Apa bermain seperti itu bisa menghasilkan kopi ?"
" Bermain apa Pak ? saya hanya sedang terjatuh saja tadi."
" Orang jatuh itu langsung berdiri. Tapi kamu tadi malah seperti sedang tidak dalam keadaan tertekan."
Sudahlah, menyerah saja. Bisa habis suara meladeni orang seperti dia.
" Kenapa kakimu ?"
" Iya, sedikit lecet kayanya Pak. GPP kok, saya masih bisa jalan."
" Siapa juga yang mau menggendongmu." langkahnya semakin melaju, meninggalkan Mayra yang berjalan tertatih.
Dasar menekin ngeselin !!
__ADS_1
Hari esok yang penuh kepadatan berjalan dengan cukup lancar. Hanya ada satu hal yang benar-benar mengganjal hati Mayra. Keberadaan Kalista yang tak lagi ada di sepanjang kegiatan. Kemana dia ?
Tak menyerah, setelah beberapa kegiatan meeting selesai Mayra segera berkeliling kesana kemari menanyai setiap orang tentang Kalista, namun semuanya sama saja hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Hingga suara bising sampai pada telinganya, ia berjalan mendekati arah suara.
" Kerja yang bener !"
" GAK USAH SOK JADI TUAN PUTRI !!!"
" DASAR TUKANG MIMPI !!"
" HA ... HA ... HAA"
Mayra semakin mendekatkan langkah.
" Ayokk buruan !! Jangan lelet macam siput !!"
" MAU MAKAN INI GAK ? HMM... Enak lhooo... hahaha ya gak gengs ??" sang senior tampak melirik beberapa teman yang ikut ke dalam.
Kalista menatap penuh harap pada roti isi yang di ayunkan sang pekerja senior.
Kalista mengangguk, perutnya amat perih kini dari semalam ia bahkan belum makan sesuap pun.
" KERJA DULU YANG BENER !!! HAHAHHAA" sang senior tampak semakin tertawa riang gembira, seolah mengerjai Kalista adalah moodbooster terbaik untuk memulai harinya.
Air mata Kalista tampak meleleh, ia yang biasanya hidup serba berkecukupan. Bisa berbuat sesuka hati tanpa memikirkan orang lain. Termasuk juga berbuat keji pada Mayra, tapi kini ? inikah karma untuknya ? bahkan untuk sekedar mengisi perut yang perih ini ia harus sampai menguras keringat dengan mencuci sendiri separuh kamar mandi yang ada di village ini.
Ia ingin marah. Pada Radit yang mengirimnya kesini tanpa sepengetahuan orang tuanya, pada Opa yang menyetejui ide gila Radit. Pada semua tingkah kejinya yang mungkin berakibat fatal pada seseorang. Hingga mengirimnya pada kehidupan bak neraka ini.
" Malah bengong !!" sang senior tampak menoyor kepala Kalista.
" Kerja wooy kerja !!!" bahkan sepakan demi sepakan ia dapatkan juga.
Ini bukan yang pertama atau kedua, bahkan mereka sering melakukan hal gila ini jika mendapat teguran dari atasan. Dan Kalistalah sasaran utama setelahnya. Kalista bukanlah orang bodoh yang akan menurut saja diperlakukan seperti itu. Tapi, seperti apapun ia membalas perbuatan mereka malah akan lebih kejam.
Tak jarang Kalista menghubungi Radit, melaporkan setiap hal gila yang para senior itu lakukan padanya. Namun Radit sama sekali tak percaya, dan menganggapnya hanya berpura-pura agar segera bisa pulang.
__ADS_1
" Sudah Kak.." Kalista tampak telah selesai, dan segera menghampiri senior yang bersantai di ruang janitor.
" Periksa Ki !" pekiknya pada salah satu anak buah.
" Beres." ucap si anak Buah setelah kembali.
" Nih !" dengan wajah tengilnya ia menyodorkan sebungkus roti pada Kalista. Namun segera menjatuhkannya dengan sengaja sebelum sampai pada tangan Kalista.
" Uupps sorryy .... Hahaha" suara tawa kembali menggema, hingga Kedatangan Mayra membuat mereka terperangah.
" Ayo Kalista !" Mayra segera meraih tangan Kalista untuk mengikutinya.
" Heh ! siapa Lo main serobot-serobot aja ! hadepin gua dulu nih !" ucap sang senior. Hingga anak buahnya menghampiri dan memberitahu bahwa Mayra adalah orang yang datang bersama pemilik Village ini.
" Maaf, Bu." ia tampak tunduk seketika.
" Saya sudah rekam semua perbuatan kalian. Silahkan pertanggung jawabkan sendiri akibat dari ulah brutal kalian." Mayra segera melenggang dengan menggandeng tangan Kalista.
Kalista amat shock dengan keadaan ini. Mayra yang dulu ia lukai sampai nyaris kehilangan nyawa malah menjadi penyelamat baginya. Lalu sekarang ia harus bersikap bagaimana pada Mayra. Ia bahkan pernah mengucap janji siapapun yang bisa menolongnya dari kubangan berlumpur ini, akan ia jadikan sahabat semur hidup.
Hingga langkah Mayra terhenti, " Kenapa kamu diam aja Kalista ?" bahkan Mayra turut bersedih melihat keadaan Kalista kini. Tidak ada tampilan glamor super mewah, hanya balutan kain usang yang di sebut seragam OB dan tampilan acak-acakan.
" Kamu wanita berpendidikan Kalista ! kamu bisa lawan mereka, kenapa kamu ..." Mayra sampai tak habis pikir sendiri, seorang Kalista yang di matanya bak buaya betina bisa tunduk hanya dengan serbuan para pekerja kelas bawah.
" Sudahlah, aku GPP !" ingin melenggang kembali.
Mayra baru tersadar, inikah yang dimaksud Radit dengan pelajaran setimpal itu ? tapi bagaimana bisa seorang Kalista, cucu dari keluarga WIJAYA yang terhormat diperlakukan semena-mena seperti ini.
" Aku akan bicara pada Radit. Diamlah, aku akan mengobati lukamu dulu." terdapat beberapa lebam di bagian tangan Kalista.
" Maaf."
Mayra tertegun sesaat, lalu melanjutkan kembali mengusapkan salep yang dibawakan petugas yang ia kenal.
" Aku minta maaf udah jahat sama kamu. Aku minta maaf udah menilai kamu sesuka hatiku. Dan makasih karena kamu udah nolongin aku."
Mayra menatapnya lekat, tak dipungkiri ada sebersit kemarahan yang melintas saat mengingat tingkah Kalista di masa lalu. Tapi, tidak dengan membiarkan ia terluka seorang diri seperti ini. Bukan luka dibalas luka yang ia harapkan. Tapi, biarlah luka itu menjadi kenangan yang bisa menguatkan baginya.
__ADS_1
Sesungguhnya Mayra tak sepenuhnya membenci Kalista, mengingat ucapan Mama Rena yang memang selalu mencukupkan kehidupan Kalista sepanjang hidupnya. Tak pernah ada kata tidak, hingga ambisinya untuk mendapatkan Aldo semakin menjadi saat akan merencanakan kehidupan pernikahan indah dengan Mayra. Apalagi mengingat Usia Kalista yang masih berada pada tingkat kelabilan, hingga membuat Mayra kembali berpikir untuk tak akan mempermasalahkannya lebih lanjut.
Mayra menggenggam punggung tangan Kalista, tersenyum penuh haru kemudian, " Ternyata kamu memang anak baik."