KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Kabar Baik


__ADS_3

" Gimana jalan-jalannya seru ?" tanya Rindi setelah Mayra mendudukkan diri pada kursi kerjanya.


" Lo tau ga Rin ?"


" Nggak.."


" Dengerin dulu kali, ternyata si bang dugannya Tika itu Radit.. Astaga ... Ga abis pikir de guee."


" Hah ? ko bisa ?"


Lalu Mayra menceritakan semua tentang kedekatan Tika dengan Radit juga pembicaraannya dengan Radit kemarin. Rindi hanya manggut-manggut, lalu mereka mulai bekerja berkutat dengan berbagai dokumen yang telah menanti.


***


Opa tengah berbincang dengan Manager hotel yang membutuhkan tanda tangan darinya, mereka nampak begitu akrab. Terang saja karena Pak Hendi adalah seseorang yang selalu membantu Opa saat perintisan hotel bahkan saat sebelum sesukses sekarang. Usia mereka hanya terpaut dua tahun, berbincang dengan orang sefrekuensi memanglah suatu kebahagiaan tersendiri.


" Bagaimana Pak ? apa sudah mendapat kabar baik ? jadi kapan ?" tanyanya tiba-tiba membuat kening Opa mengerut seketika.


" Maksudnya ?"


" Loh Pak Wakil belum membicarakan hal ini dengan Bapak ?"


Opa nampak menggeleng, sebenarnya kabar baik apa pikirnya. Seketika Pak Hendi tergugup, bisa gawat kalau hubungan Pak Wakil memang di rahasiakan bahkan dari sang Opa. Ia merutuki diri sendiri karena bisa seceroboh ini, berurusan dengan Zio sama dengan membuka jalan kenhancuran diri pikirnya.

__ADS_1


" Ti.. Tidak Pak.. Saya hanya asal bicara."


Opa menatapnya dengan penuh selidik, Pria paruh baya tersebut tahu bahwa ada sesutau yang di tutupi, " Bicaralah... Aku akan melindungimu jika terjadi sesuatu."


Pak Hendi menelan saliva, haruskah ia bicara ? ia nampak begitu gamang. Mengingat kebengisan Zio ketika membereskan masalah hingga ke akar jika itu menyangkut tentang kehidupan pribadinya. Namun Bapak CEO telah memberikan jaminan pikirnya.


" Ja...di wa... waktu itu saya melihat Pak Wakil menggendong seorang wanita menuju kamar VVIP di Hotel Pak, saya pikir ia sudah mempunyai kekasih dan akan segera melepas masa lajang. Maafkan jika saya salah Pak." ucapnya dengan menunduk.


Degg


Seketika Opa tersentak. Menggendong wanita ? batin Opa dengan perasaan tak menentu.


" Kau Yakin ? tidak ada laporan seperti itu yang di sampaikan padaku."


" Ini ... kalo Bapak tidak percaya.. " lalu mengacungkan ponsel dengan potret Zio dan Mayra yang mampu membuat semua mata salah paham, ketika Zio yang melepas sanggul Mayra yang membuat jarak di antara mereka kian mengikis hingga menimbulkan kesalah pahaman tentang yang akan terjadi selanjutnya, apalagi mereka berada di hotel dan hanya berdua. Membuat Pak Hendi semakin yakin jika itu kekasihnya. Karena Pak Wakil yang terkenal sama sekali tak pernah tersentuh wanita.


Opa membelalak melihat foto tersebut, bukankah trauma Zio akan kambuh jika bersentuhan dengan wanita ? tapi bagaimana bisa ia berinteraksi bahkan seintens ini dengan seorang wanita ? apa benar ia telah melakukannya dengan wanita ini ? sungguh Opa di kelilingi berbagai pertanyaan yang begitu mengusik hatinya. Bertanya pada Zio adalah hal sia-sia, maka ia memutuskan untuk mencari tahu lewat pengawal pribadinya. Setelahnya Pak Hendi undur diri dengan alasan sibuknya.


Opa masih termenung, tak beranjak dari ruang tamu tempatnya terduduk dengan Pak Hendi tadi. Memikirkan keadaan sang cucu, benarkah traumanya telah sembuh ? ia nampak menggeleng buktinya kemaren Zio sempat di rawat karena traumanya kambuh. Lalu siapa sebenarnya wanita itu, ia nampak memandangi potret dalam ponselnya dengan seksama, mencoba mengenali siapa wanita tersebut. Namun karena posisi wajah Mayra yang tertutup lengan Zio jadi ia tak bisa melihat dengan jelas, membuatnya semakin bertanya-tanya. Jika memang ia kekasihnya Opa berfikir akan langsung melamar gadis itu jika sudah mengetahui identitasnya nanti. Entah siapapun ia, asal bisa membuat kehidupan sang cucu berjalan dengan semestinya.


Mengingat Zio yang begitu menderita karena trauma yang di alaminya sedari kecil, mengigau setiap malamnya, tidur yang harusnya sebagai pelepas penat malah menjadi suatu petaka untuk Zio karena selalu terngiang dengan kematian naas sang Mama. Bahkan tersentuh oleh adik dari Papanya sendiripun akan menimbulkan traumanya. Hingga Zio kecil harus selalu di kurung di kamar, semua pelayan yang melayaninya adalah laki-laki, bahkan guru privatnya pun semua lelaki.


Opa telah membawanya pada Dokter psikologis terbaik di Tanah Air bahkan Luar Negeri, namun sama sekali tak membuahkan hasil. Karena perasaannyalah yang di serang sama sekali tak bisa tersembuhkan dengan obat. Sampai pada akhirnya Ibu dari Mama Zio yang mengambil alih Zio, membuat Opa dan sang Papa semakin di landa rasa bersalah yang begitu mendalamnya. Sudah kehilangan anak bahkan sang cucupun harus mengalami hal yang begitu memprihatinkan.

__ADS_1


Zio menjalani hari dengan sedikit lebih tenang oleh kasih sayang yang di berikan sang Nenek, meskipun masih dengan menjalani hari di dalam rumah tak bisa sebebas burung yang berterbangan kesana- kemari sesuai keinginannya. Namun ia tak pernah protes selalu diam dan menerima semuanya, karena ia sendiri tahu bertemu banyak orang apalagi wanita adalah kelemahan terbesarnya.


Opa terhanyut dalam lamunannya, hingga kedatangan Pak To sama sekali tak di rasa. Pak To adalah pelayan kepercayaan keluarga Wijaya juga satu-satunya pelayan yang mengetahui kerumitan yang menghimpit keluarga tersebut. Namun ia termasuk orang yang begitu loyal pada sang majikan, bukan tanpa alasan karena Tuan Besarlah yang selalu mempercayainya juga membantu semua masa sulitnya dalam menghadapi pahitnya sang takdir. Membuatnya selalu bersyukur karena dipertemukan orang sebaik Tuan Besar dalam hidupnya.


Dan kini sang Tuan sedang terduduk dengan raut gamangnya membuat Pak To berfikir pasti ada sesuatu yang terjadi.


" Ada apa tuan ?"


Opa nampak terkejut dengan kehadiran Pak To. Lalu mulai menetralkan raut dan menarik nafasnya dalam. Opa mengacungkan ponsel yang berisi foto Zio dan Mayra membuat Pak To terbelalak, karena ia juga mengetahui tentang trauma yang dimiliki Zio, namun ia dengan segera berfikir tenang, " Bagaimana menurutmu ?" tanya Opa pada akhirnya.


" Ini adalah kabar baik Tuan."


" Hmm... Tapi aku belum mengetahui siapa wanita ini."


" Itu bukanlah masalah besar Tuan. Anda harus meminum obat dengan rutin supaya sehat dan bisa melihat kebahagian Tuan Zio nantinya."


" Kau itu bisa saja. Aku itu sudah sangat sehat tahu."


Membuat Pak To jengah padahal kondisi sang Tuan sedang tidak baik karena asam lambungnya yang naik akhir-akhir ini. Ia nampak mengambil nampan yang berisi air putih juga obat untuk sang Tuan.


Tak bisa di pungkiri, walaupun banyak pertanyaan dalam benak Opa namun kebahagiaan jelas terpancar dari rautnya. Ia begitu lega sekarang karena akhirnya semua kekhawatiran tentang masa depan Zio telah berakhir kini.


》》》》》

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejaknya yaaa 💚💚💚


__ADS_2