KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Murka part 3


__ADS_3

Zio nampak begitu frustasi bahkan ia sampai menendang kursi beroda dalam ruang rapat tersebut hingga menghantam tembok. Sama seperti rasa hatinya kini, yang serasa terhempas oleh semua cacian Mayra tadi.


Cklekk


Radit datang, memperhatikan sisa kehancuran, " Rapat akan di mulai sepuluh menit lagi Tuan." lalu mengambil ponsel untuk memanggil petugas kebersihan.


Zio nampak menuju ruangannya, sementara ruang rapat sedang di bersihkan. Ia terlihat begitu geramnya dengan Opa yang mengambil langkah tergesa seperti ini, bahkan kini Mayra sampai membencinya kembali. Masih terngiang jelas betapa susahnya ia mengambil hati Mayra dulu, dan kini akankah ada kesempatan kedua ? ia sampai menggebrak meja karena sama sekali tak tahu jawabannya.


Haruskah ia kehilangan satu-satunya obat traumanya ? haruskah ia mengubur dalam-dalam impian bahagia bersama Shanon ? haruskah ia hidup sendiri selamanya.


Kamu benar Mayra... Hidupku begitu menyedihkan. Batin Zio dengan mengusap asal wajahnya lalu menghela nafas panjang.


***


Zio melangkah menuju Rumah Utama dengan sorot kilatan penuh amarah, dengan segera ia menghampiri Opa di ruang keluarga yang nampak sibuk membaca koran di tangannya.


" Sebenarnya apa maksud Opa ?" dengan nafas memburu ia bertanya pada Opa yang kini terduduk pada kursi di depannya.


Opa nampak tak mengerti, " Ada apa Zio ?" masih tak beralih dari koran di tangannya.


" Tentang Mayra."


Mata Opa terlihat sedikit bergetar, " Kenapa ? bukankah itu yang kamu inginkan ?"


Deggh


Sudah seperti mendapat pukulan telak pada ulu hatinya, " Kenapa Opa ? kenapa sampai akhirpun Opa sama sekali tidak bisa mengerti ?" mata Zio bahkan sudah memerah dan menggenang kini, mencoba menuntut hak yang selama ini telah ia abaikan.


Opa nampak menoleh, " Laki-laki itu tak boleh cengeng Zio ! jangan tunjukkan perasaanmu, supaya tidak terlihat lemah oleh musuh sekalipun." inilah doktrin yang di tanamkan Opa pada Zio sedari kecilnya. Hingga terciptalah Zio segarang singa juga sekejam monster seperti sekarang.


" Selama ini aku sudah menuruti semua keinginan Opa, berjalan pada satu jalan lurus yang telah Opa ciptakan dengan menelan semua halang rintang. Aku yang kehilangan tujuan karena kehilangan Mama, Opa manfaatkan seperti anak robot yang harus menuruti semua keinginan Opa. Menjadi murid teladan, berprestasi, harus selalu menjadi nomor satu, menjadi kebanggaan keluarga. Tanpa peduli apa mau dan inginku, haruskah Opa bersikap seegois itu bahkan setelah aku dewasa. Bahkan Opa selalu tak percaya dengan semua langkah yang aku ambil !"


" Zio apa yang kamu ... "


Zio nampak mengangkat tangannya, " Cukup Opa, cukup atas semua campur tangan Opa dalam hidupku yang telah hancur berantakan ini !"

__ADS_1


" Biarkan aku hidup sendiri, biarkan aku memutuskan sendiri apa yang baik dan tidak dalam hidupku."


" Zio dengarkan Opa ..."


" Aku sama sekali tidak mau mendengar apapun lagi dari Opa, di mata Opa aku hanya seseorang yang hanya akan menuruti semua keinginan Opakan ? tak lebih dari sebuah robot yang bisa Opa atur sesuai keinginan Opa. Bukan cucu yang pantas untuk di sayangi seperti Kalista dan yang lainnya." Zio tetaplah manusia biasa yang juga bisa berada di titik lelah berjuang seperti sekarang.


" Karena Opa, aku sekali lagi kehilangan cahaya dalam kehidupan gelap ini. Aku jadi kehilangan obat traumaku, itu semua karena Opa !"


Apa maksudnya obat trauma, Mayrakah ?


" Opa tau ? Opa adalah orang kedua yang aku benci di dunia ini setelah pembunuh Mama."


Deggh


Dada Opa serasa ditimpa puluhan sembilu, begitu sakit di rasanya kini. Bahkan ia sampai memegangi dada dengan tangan kirinya.


" Zio apa yang kamu katakan ?!" beranjak ingin menghampiri Zio.


" Berhenti di sana Opa. Biarkan aku memilih jalan untukku sendiri mulai sekarang. Berhenti ikut campur urusan hidupku !" ia nampak sudah begitu lelahnya, karena segala sesuatu dalam hidupnya yang selalu di atur Opa selama ini. Dengan segera ia membalik badan tanpa sedetikpun menoleh pada Opa yang kini sudah terlihat pucat pasi.


" TUAN BESARRR !!!" pekik Pak To yang melihat Opa telah tak sadarkan diri di lantai.


Dengan segera ia memanggil pengawal untuk mengantar Opa ke Rumah Sakit.


***


Opa telah terbaring di ruang ICU, Pak To terlihat begitu khawatirnya. Apa yang terjadi hingga penyakit jantung Tuannya bisa kambuh seperti ini. Ia memandang nanar sang Tuan Besar, berharap kesembuhan segera datang menyapa.


Seorang wanita nampak melangkah terburu menuju ruangan Opa di rawat, ia berhenti ketika melihat bayangan Pak To di depan sebuah ruang ICU berkaca.


" Gimana keadaan Papa Pak ?" dengan raut khawatirnya, bahkan airmata telah menetes kini.


" Penyakit jantung Tuan Besar kambuh Nyonya." Ucapnya pada Renata anak bungsu Opa, ibu dari Kalista.


Mama Rena nampak menutup mulut, airmata sudah menganak sungai dalam pipinya kini.

__ADS_1


" Papa...." dengan mengusap kaca, yang terdapat Opa yang terbaring di dalam ruangan ICU tersebut.


***


" Permisi, dengan Nona Mayra ?" tanya salah seorang pengawal, setelah Mayra keluar dari Butik bersama Tika di sampingnya.


" Yaa..."


" Ada perintah untuk membawa Nona ke rumah sakit sekarang."


Degh


A..apa terjadi sesuatu pada Zio ? Mayra terperanjat, seketika ia menyesali perbuatannya bahkan airmata mulai menggenang di pelupuk matanya.


" Siapa yang sakit ?" tanya Tika yang melihat Mayra begitu syok hingga tak bergeming.


" Tuan Besar."


" Kakek ?" Kekhawatiran Mayra malah semakin menjadi saja kini.


" Iyaa... Beliau telah sadar dari masa kritis dan selalu saja menyebut nama Nona."


" Ayo..." lalu menoleh pada Tika, " Gue duluan ya Tik ..." Tika hanya mengangguk, sebenarnya ia penasaran juga siapa lagi Tuan Besar itu, namun situasi sedang genting kini pikirnya.


Mayra menatap nanar ke luar jendela mobil, hatinya tak berhenti berdo'a untuk kesehatan Opa agar kembali seperti sedia kala. Pertemuan singkatnya dengan Opa begitu membekas rupanya, Opa memang sosok yang tegas namun terselip sisi humoris dalam dirinya. Hingga membuat Mayra besimpati, dan tak rela jika harus kehilangannya. Ia kembali mengusap airmata yang entah sudah yang keberapa kalinya.


***


" Ma.. y..ra.." racau Opa di balik selang oksigen di hidungnya.


" Iya Pa.. Tadi sudah di panggilkan Pak To." ucap Mama Rena, lalu kembali mengusap airmatanya. Begitu tak kuasa melihat kondisi Papanya yang biasa segar bugar malah terbaring tak berdaya seperti sekarang.


" Papa jangan banyak pikiran, Papa harus sehat ya Pa .." dengan mengusap punggung tangan Opa yang nampak telah berkerut tersebut, airmatanya semakin terlihat menganak sungai saja kini.


Pak To yang melihat dari luar begitu tak kuasa melihat kondisi sang Tuan Besar. Ia telah mengecek CCTV dan menemukan pertengkaran Zio dan Opa, Ia begitu menyayangkan tingkah sembrono Zio yang berbicara buruk pada Tuan Besarnya. Meski ia tahu tak sepenuhnya salah Zio, karena Zio juga termasuk korban di sini. Ia nampak menghembuskan nafas panjang, dadanya begitu sesak berada dalam keadaan yang begitu menghimpit ini.

__ADS_1


__ADS_2