
Aldo termenung beberapa saat dalam area parkir. Mencari kemantapan dari segala perasaan campur aduk yang berseteru tanpa henti. Ia terlihat menghembuskan nafas dengan kasarnya, lalu berjalan menuju mobil sport putih yang nampak sangat mencolok di antara deretan mobil yang terparkir.
Ia tampak mengemudi dengan tenang, sangat tenang cenderung melamun. Masih terbuai bayangan betapa indah dunia kala tengah bersama Mayra dulu. Ia benar-benar kehilangan seseorang yang mampu membangkitkan semangat juga tempat dimana ia merasakan arti nyaman yang sesungguhnya. Begitulah arti Mayra baginya. Tapi karena kecerobohannya, gadis itu pergi karena mencintai pria lain. Sangat menyakitkan.
Ia terlihat semakin memacu mobil dengan kecepatan penuh, tak peduli setiap bunyi nyaring klakson beberapa mobil karena berhasil ia salip dengan kecepatan tinggi. Hingga ada sebuah mobil dari arah berlawanan kala ia sedang berbelok dengan menyalip mobil. Mengerem mendadak pun sudah terlalu terlambat, hingga sebuah tabrakanpun tak dapat terelakkan. Orang-orang segera menghampiri. Ambulace datang beberapa menit kemudian. Dengan segera membawa kedua pengemudi tersebut menuju Rumah Sakit terdekat.
Kabar kecelakaan tersebut begitu cepat menyebar, dari siaran langsung berita TV Nasional. Mama Linda dan Om Sam bahkan langsung menuju Rumah Sakit tempat korban di larikan. Mama Linda menangis menjerit berulang kali, bahkan beberapa satpam sampai menghampiri agar tetap tenang. Om Sam berusaha menenangkan, menguatkan Mama Linda bahwa Aldo akan baik-baik saja.
Namun tak berselang lama, Opa Dharma berjalan tergopoh. Bertanya pada suster, " Pasien kecelakaan atas nama Zio sebelah mana Sus ?"
" Mari saya antar Pak ..." Suster menuntun Opa pada ruangan dimana Zio ditangani.
" Pasien harus segera mendapatkan tindakan Pak. Ada pendarahan pada otak bagian kanan. Dengan skala keberhasilan kurang lebih enam puluh persen. Silahkan tanda tangan jika anda setuju."
" Apa ?" Opa sungguh tak menyangka, mengapa kejadian buruk ini harus menimpa Zio, cucu kebanggaan sekaligus kesayangannya. Ia semakin tak kuasa kala mendengar keadaan Zio, dadanya terasa sesak. Begitu shock dengan semua ini. Hingga Papa Ardhi dan Radit tiba bersamaan.Radit segera membawa Opa pada Dokter spesialis jantung di Rumah Sakit tersebut.
Lalu Papa Ardhi duduk di hadapan Dokter menggantikan Opa, " Lakukan yang terbaik Dok." Apa Ardhi segera mengambil pena dan akan menandatangi surat persetujuan operasi tersebut.
" Tapi, mungkin ini bisa terjadi atau tidak. Pasien akan mengalami kehilangan beberapa ingatan." Imbuh Dokter kemudian.
Papa Ardhi tampak termenung sejenak, lalu kembali bertanda tangan dengan mantap. Apapun itu, keselamatan Zio saat ini adalah yang terpenting. Operasi ini adalah jalan satu-satunya bagi Zio.
" Baik, kami akan menghubungi Dokter bedah terbaik. Operasi akan segera di laksanakan."
" Tolong ... Selamatkan putra saya Dok. Tolong ... Dia ..." Papa Ardhi bahkan tak mampu lagi berkata-kata, air mata yang menggenang pada pelupuk mata telah meluncur bebas mengaliri pipi kini. Dokter beranjak dan menepuk pundak Papa Ardhi.
" Kami akan berusaha semaksimal mungkin Pak."
⚡⚡⚡
Entah kenapa perasaan Mayra jadi semakin tak enak saja. Kecemasan berlebih yang sangat aneh, sebenarnya apa ini ? Ia pun tak mengerti. Apa karena Opa yang pamit dengan terburu setelah mendapatkan telepon tentang Zio ? Sebenarnya ada apa ? Ia semakin gelisah. Hingga memutuskan untuk berjalan keluar ruangan mencari udara segar. Ia berjanji tak akan lama pada diri sendiri, akan kembali sebelum Ibu selesai sholat di mushola dan makan siang.
Ia tampak berjalan menuju taman, dengan perlahan. Kondisinya memang membaik namun belum bisa di katakan pulih total, bahkan luka bekas tembakan akan terasa kala ia mengangkat tangan. Namun, segala kecamuk pikiran yang amat menggangu mendorongnya untuk keluar ruangan mencari sebuah ketenangan.
Tapi, bukan sebuah ketenangan yang ia dapatkan melainkan rasa sesak juga nyeri hati yang seketika menyelinap ketika melihat Radit berlari tergesa.
Pasti ada sesuatu kan ? Ia berusaha mengikuti namun langkah Radit begitu cepat hingga tak bisa terkejar olehnya. Namun satu hal pasti yang membuat titik cemasnya berpangkal ialah, Radit menuju ruang operasi ? Sebenarnya siapa ? Dengan langkah perlahan ia berjalan ke dalam. Semakin dalam melewati beberapa orang yang menunggu kerabat mereka saat operasi berlangsung. Menengok ke kanan dan kiri bergantian, mencari keberadaan Radit.
__ADS_1
Apakah Opa ?
Atau ?
Ia semakin diliputi rasa penasaran. Namun sebuah tandu beroda yang melewatinya seketika membuatnya tercengang.
Nggak ... Nggak ... Ini nggak mungkin ...
Nggak ... Nggak boleh ... Ini mimpi pasti ini mimpi ...
Dengan segera ia berusaha menghentikan iringan suster tersebut, " Tunggu ..." Ia berjalan menghampiri, " Ziio ... Kamu kenapa ? Zio ? Kenapa ada banyak darah ? Zio kamu denger aku ?" Air mata telah meleleh dengan tanpa jeda. Hatinya remuk redam, bagai terhempas pada kedalaman samudra. Melihat Zio yang terkapar dengan begitu banyaknya darah dalam setelan jas hitam favoritnya.
" Maaf Nona, minggirlah .. kami harus segera melakukan operasi." Lalu salah seorang suster bergegas mengangkat tumpuan tubuh Mayra, dan melewatinya kemudian.
Operasi katanya ?
Zio ?
Kenapa ini bukan mimpi ? Aku bahkan masih merasakan sakit pada bahuku ini.
Mayra tersungkur, menangis terisak tanpa peduli aliran darah dari bahu bekas tembakan memenuhi piyama Rumah Sakitnya.
" Nggak sus ... Saya mau di sini. Saya harus di sini."
Zio sebenarnya ada apa ? Kenapa kamu terluka ?
Mayra semakin terisak dengan hati porak poranda. Mengharap keberhasilan operasi yang akan di jalani Zio. Terlepas dari apapun penyebabnya.
" Nona darahnya banyak sekali ... Saya mohon-" Suster terhenti, karena Mayra yang telah tumbang dalam dekapannya kini.
.
.
.
Om Sam berjalan pada resepsionis, menyelesaikan pembayaran.
__ADS_1
" Bagaimana dengan kondisi pasien yang datang bersama keponakan saya Sus ?" Tanyanya pada salah seorang Suster yang melintasi ruang IGD tempat Aldo di tangani.
" Sedang menjalani Operasi Tuan."
" Separah itu ?" Om Sam menaikkan sebilah alisnya, mengingat Aldo hanya mengalami cidera ringan dan retak pada tangan kanan. Tapi sangat terkejut jika korban lainnya malah di operasi.
" Iya Tuan. Saya permisi."
Tak puas bertanya pada Suster, ia segera menelepon anak buahnya agar mencari tahu perihal kecelakaan tersebut. Hingga informasi korban lainnya.
Tak berselang lama ia mendapatkan informasi.
' Keponakan Anda terlibat masalah besar Tuan, karena orang yang bertabrakan dengan keponakan Anda adalah Ziovano.'
Kebetulan macam apa ini ? Benar-benar mengejutkan. Sangat.
Ia segera memasuki ruang rawat Aldo, dimana Mama Linda tengah menyuapi Aldo buah. Tampak hangat dan penuh kasih, membuatnya urung untuk membahas tentang kecelakaan tersebut.
.
.
.
' Lapor Tuan, berdasarkan kesaksian beberapa orang di TKP. Mobil menyalip dengan ugal-ugalan bahkan saat berbelok hingga berakibat kecelakaan, dengan mobil Tuan Zio yang banting stir menghantam pembatas jalan.'
Hati Radit terasa mencelos sesaat, " Siapa ?"
' Keponakan yang baru di temukan oleh keluarga Samuel Pratama Tuan.'
Sial !
" Bagaimana keadaannya ?"
' Tak separah Tuan Zio. Mengalami cedera ringan di kepala dan retak pada pergelangan tangan kanan.'
Tangan Radit terlihat mengepal dengan sangat kuat. Lalu menghantamkan pada tembok ketika mematikan sambungan telepon.
__ADS_1
Sungguh sebenarnya ia sangat terpukul, merasa sangat tak becus menjaga Zio karena membiarkan sang Tuan menyetir sendirian untuk menemui Mayra di kala kondisi tubuh yang pastinya lelah karena baru tiba namun langsung menghadiri rapat. Namun Tuannya bersikeras untuk menjenguk Mayra saat rapat telah usai, bahkan bertekad menyetir sendiri saat sopir tak kunjung datang.
Saya mengerti anda sangat mencintainya. Tapi, tidak dengan mengorbankan nyawa ... Tuan ... Saya mohon ... Bertahanlah ...