
Meski dengan gerakan canggung dan semburat ketidak relaan pada wajah keduanya, tapi mereka tetap mengikuti iringan tangan yang mengayun menyelaraskan irama. Jangan tanya tentang perasaan mereka, inginnya meledak dan memarahi badut sialan ini. Tapi, senyum cerah Aurora yang terpancar indahnya membuat keduanya tak tega juga hingga mengurungkan niat dan kembali menuruti si badut.
Mayra dan Tika yang masih menunduk perlahan mengangkat wajah, membulatkan mata lalu saling pandang. Benarkah yang dilihatnya ini, begitulah raut mereka berisyarat.
Hingga Aurora nampak menghampiri keduanya, meraih tangan dan menuntun mereka agar ikut menari bersama badut dan sang Papa.
Mereka nampak menari menikmati alunan lagu ulang tahun dengan wajah penuh suka cita, bahkan tak jarang Mayra meraih tangan Zio juga Aurora untuk menari bersama. Melupakan segala ketakutan yang beberapa saat lalu mendera, mengganti dengan rekah bahagia . Begitupun dengan Radit dan Tika yang nampak terbawa suasana menari bersama, seperti sama sekali tak menyimpan beban saja.
Hingga acarapun berakhir, para tamu nampak hilir mudik bersalaman dengan tuan rumah bergantian. Banyak dari mereka yang mengucapkan selamat menempuh hidup baru, ucapan yang selalu membuat kening Radit berkerut bersamaan dengan senyum yang terluas dari wajahnya.
Kesempatan ini tentu tak disiakan oleh Mayra, Ia segera menarik Tika menjauh. Memberitahunya bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk kabur. Tika nampak tak setuju, susah payah ia membuat acara yang berkesan ini masa harus pergi begitu saja. Tapi Mayra segera memberinya alasan kuat. Biarkan pesta ini menjadi memori indah untuk Aurora, jangan merusaknya dengan pertengkaran yang mungkin terjadi jika mereka masih ada di sana. Mengingat sifat Radit yang angkuh tak jauh berbeda dengan Tuan Manekin. Dan kabur adalah opsi terbaik saat ini.
Tika nampak luluh, meski sebagian sudut hatinya masih saja tak terima. Ia nampak berjalan dengan gontai untuk mengambil sepeda motor.
Mayra menunggu di balik pagar, sesekali tampak menyapa para ibu yang lalu-lalang menjemput anak mereka.
Hingga ia dikagetkan dengan deheman seseorang, ia menoleh. Dan, di lihatnya Zio telah memandangnya penuh selidik dengan tangan bersedekap.
" Mau kabur kemana kamu ?" semakin mendekat, membuat tubuh Mayra terpojok hingga terantuk tembok gerbang.
" Nggak kok, itu aku ada urusan. Jadi harus cepet pulang." dengan menunduk, sama sekali tak berani menatap Zio.
" Oh ya ? aku penasaran. Apa kesibukan yang dimiliki seorang pengangguran itu ?"
Buset, masi sempet menghina pula.
" Yaa, pokonya ada lah ... Kamu kenapa sih ? sanaan ah sempit nih !" mendorong bahu Zio, supaya menjauh darinya.
Namun sayangnya Zio sama sekali tak mundur se-centipun, malah semakin mendekatkan wajah pada Mayra. Membuat jantung Mayra berdetak semakin tak menentu.
" K.. k...Kamu mau apa sih ?"
" Mau memberimu hukuman."
" Hukuman apa ? aku salah apa coba ? munduran dikit dulu dooong !" masih berusaha sekuat tenaga mendorong bahu Zio agar menjauh. Lalu mendaratkan cubitan pada perutnya kemudian, karena tak kunjung berpindah posisi.
__ADS_1
" Awww !!" pekik Zio seketika.
" Makanya ! disuruh munduran malah maju terus !" dengan merapikan baju, agar terlihat rapi kembali, " Lagian pestanyakan buat anaknya Radit, jadi ya ga pa pa dong. Anggep aja bentuk loyalitas sama pegawai." selorohnya sebelum Zio menyalahkannya.
" Apa ?"
" Ya kamu mau marah kan gara-gara uangnya kepake banyak buat pesta ini ? lagian kartunya kan udah dikasih ke aku, jadi terserah aku dong harusnya mau dipake apa ! Isshh !"
Tinn ... Tiinn
Tika tiba dengan motor maticnya, " Ya udah. Aku mau pulang. By !" dengan langkah tergesa menghampiri Tika, dan menaiki jok belakang.
" Oh ya, kan aku pengangguran jadi Sorry belum bisa ganti !" suaranya beriringan dengan suara deru motor yang mulai berjalan menjauh.
Zio nampak tercengang, ditinggalkan begitu saja dipinggir jalan. Benar-benar gadis aneh !
Niatnya ingin menginterogasi dan memberitahu Mayra agar selalu memberinya kabar sesibuk apapun ia, tidak seperti hari ini yang mengacuhkan telepon juga mengabaikan pesan darinya. Tapi malah berakhir diabaikan begitu saja.
***
" Papa, makasih ya udah ada di pesta aku hari ini. Aku seneeeeng banget, ada Mama, Papa, Nenek, temen-temen. I love you Papa ...."
" Aku mau buka kado sama mbok Nah ya Pa ?"
Radit mengangguk, membuat Aurora kembali berjingkrak lalu melangkah penuh semangat menuju kamarnya. Membuka kado demi kado dari teman-temannya bersama mbok Nah.
" Aurora terlihat sangat bahagia."
" Buu ... Kenapa tidak melarang ?"
" Kenapa seorang Nenek harus melarang jika itu untuk kebahagiaan cucunya ?"
" Astaga !" Radit membuang muka malas, " Seharusnya Ibu tidak memberikan Aurora harapan palsu seperti ini."
" Kenapa ? karena kamu ?"
__ADS_1
" Tolong Bu ..."
" Itukan masalahmu, jadi ya kamu urus sendiri. Orang tua itu tidak perlu terlalu ikut campur, mengerti kamu ?" lalu beranjak, untuk menyusul Aurora di kamar. Namun setelah beberapa langkah Nenek berhenti, " Lagipula dia gadis yang baik, menyayangi Aurora dengan tulus. Dan anakmu itu juga bahagia saat bersama dengan dia, jadi apalagi yang membuatmu ragu ?"
" Bu. Jangan bilang Ibu ? ( meresteui )" Radit mendesis kesal dengan gestur penuh penolakan. Nenek kembali berjalan dengan senyum tipisnya, tak menghiraukan Radit yang masih saja memanggilnya untuk meminta penjelasan.
" Ada apa denganmu ?" tanya Zio yang kini sudah terduduk di sofa sebelah Radit.
Masih dengan memegangi kepala dengan kedua tangan dan menunduk Radit menjawab, " Semua ini berkat calon istri anda yang sangat aneh itu !" ujarnya dengan nada penuh kesengitan.
" Apa kau bilang ?" rautnya tak kalah sebal. " Kalau tidak ada calon istriku yang manis itu, putrimu tidak akan sebahagia itu di hari ulang tahunnya ini. Mengerti ?!"
Hah ! selalu saja harus mengerti orang lain. Kapan orang lain mau mengerti dirinya batin Radit dengan raut kesalnya, "Maafkan saya Tuan, biar saya antarkan anda pulang."
" Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. Kau perbaiki saja cara bicaramu itu. Menyebalkan !" ucapnya dengan melenggang keluar rumah menuju mobil di pelataran.
***
" Rindi gak mau Mah !"
" Tapi Rin ... Ini demi SF Hotel. Demi keutuhan keluarga."
" Dengan Rindi sebagai syaratnya ?! Kenapa sih Ma ? kenapa Mama selalu egois kaya gini ? Rindi benci Mama !"
Jblessss
Mama Sarah terlonjak bahkan sampai memegangi dada juga menutup mata. Tak menyerah, ia masih berusaha mengetuk pelan pintu kamar Rindi, " Mama mohon sayang ... Ini demi Hotel peninggalan Opa kamu, Mama mohon nak ?"
" Bukan demi hotel ! tapi demi Mama ! cih !" suara Rindi menggema memenuhi sisi apartemen.
" Sayaaang ??" Mama Sarah nampak tak kuasa, hingga meneteskan air mata dengan tubuh muali merosot di balik pintu kamar Rindi.
Sungguh bukan ingin Mama seperti ini Rindi, tapi kondisi hotel benar-benar buruk. Kita butuh suntikan dana. Dan kamu adalah harapan terbesar yang Mama punya saat ini.
Rindi nampak melihat laporan dalam laptopnya dengan nafas memburu dan tangan yang mengepal kuat, hingga perlahan air mata telah meluncur bebas memenuhi raut angkuhnya.
__ADS_1
Apakah jalannya memang sebuntu ini ? apakah ia harus mengorbankan diri demi kekokohan Hotel kembali ? apa ia harus menggadai harga diri. Pernikahan karena bisnis ? lalu apa yang akan tersisa untuknya selanjutnya. Kehancuran kehidupan untuk kedua kali, karena egoisme sang Mama ?
Air mata nampak semakin menderas, di balik wajah tegasnya. Menahan segala gejolak kemarahan, karena ketidak mampuan diri untuk melawan arus. *M*engenaskan !