KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Menemukan Badan


__ADS_3

Radit terduduk di sebuah restoran dengan mengetuk-ngetukkan jari teratur sambil memandangi ponsel yang tampak hitam pada layarnya.


Si gadis SMP sedang menikmati santapan lezatnya di hadapan Radit kini, akhirnya ia bisa memberi nafkah para cacing yang berdemo ria seperti kelakuan emaknya dan kawan-kawan pikirnya.


Akhirnya sebuah telepon masuk, Radit mendapat laporan dari anak buahnya yang telah menemukan kakak si Gadis SMP di salah satu stasiun. Radit segera memerintahkan untuk menyekapnya di tempat biasa, ruang hukuman untuk semua manusia yang dengan beraninya berurusan dengan seorang Ziovano.


Radit nampak menghampiri si gadis SMP, " Sudah selesai ? akan kuantar pulang." lalu melenggang keluar restoran menuju mobilnya.


" Elahh Om, bentaran napa ..." lalu menyeruput habis jus jeruk miliknya, dan berlari mengikuti langkah Radit.


" Ko pulang Om, katanya tadi mo nyari kaka ?" tanyanya setelah memasukkan diri dalam mobil Radit.


" Anak kecil sebaiknya tidur siang saja, akan kucari sendiri." ucap Radit dengan tatapan lurus pada jalanan.


" Dihh... Aku aja lupa kapan terakhir tidur siang." lalu beralih menatap ke luar jendela, " Om... Kaka ga bakalan kenapa-napa kan ? Om beneran bisa bikin Mamakku bebas kan ?" dengan menatap penuh harap pada Radit.


Tergantung.


" Om ?"


" Ya "


***


" Zioo kapan aku bisa pulang ??" dengan wajah lelahnya, setelah mencoba berbagai alat fitnes milik Zio di aparteman tersebut. Mencoba mengatasi semua kegabutan yang menerpa, karena Zio yang hanya sibuk pada tumpukan dokumen dan laptopnya.


" Terlalu berbahaya." tanpa menengok, masih fokus dengan dokumennya.


Mayra mendengus, tapi inikan masalahnya ? memangnya wajar ia malah bersantai seperti ini di apartemen seorang laki-laki yang bahkan mencintai wanita lain ? tentu tidakkan ? tapi berapa kalipun ia memprotes dengan semua dalih yang terlintas di kepalanya, sama sekali Zio tak mengizinkan keluar barang sejengkalpun jika untuk menyelidiki kasusnya, semua akan di bereskan Radit katanya.


Coba jadi istrinya beneran, pasti bahagia bangetkan ? kaya, cakep, pinter ga ada minesnya pless semua. Iih ... ngarepin apaan si May... Batin Mayra dengan menggelengkan kepala dengan posisi yang masih menyelonjor di depan TV samping tempat fitnes.


Zio nampak terheran, kemana suara bising Mayra yang selama beberapa jam ini sangat sukses membuyarkan konsentrasinya. Hingga membuat pekerjaannya bukan selesai malah semakin membenang kusut saja. Ia nampak menengok, melihat Mayra yang terbengong dengan menggelengkan kepala.


" Kenapa kamu ?"


" Aku bosen Zioo ..." dengan pandangan memelas, mencoba mencari kesempatan sekalipun hanya 1%.


" Tidak." kembali mengacuhkan Mayra.

__ADS_1


" Huh..." berdiri lalu menghentakkan kaki sekuat tenaga. Melenggang menuju kamar untuk mandi.


" Bersiapalah, kita akan makan malam..."


" Bodo... Maless !!! makan sendiri sono !" suara teriakan Mayra menggema memenuhi ruang apartemen Zio.


" Di luar." dengan nada suara serendah mungkin.


Suara kaki berlari begitu terdengar hingga muncullah Mayra dari balik pintu kamar, " Beneran ? ga boongkan ? awas ya kalo boong !"


Jblesss


Mayra menutup pintu dengan tergesa lalu menuju kamar mandi, begitu bahagianya ia akhirnya bisa menghirup udara luar.


Zio nampak mengecek ponsel Mayra yang mendapat berbagai berondongan pesan dari para sahabatnya. Meskipun Vidio viral telah di hapus, mungkin mereka sempat melihatnya pikirnya. Lalu memutuskan mematikan ponsel Mayra dan menyimpannya di laci meja kerja dengan kunci yang di bawanya.


Lalu terdengar bunyi pesan dari ponselnya.


Ting


Radit : Saya telah berhasil menemukan BADANNYA.


Ting


" Zioo aku udah selesai, gantian mandi sana !!" teriakan Mayra bahkan terdengar sampai ruang kerja Zio, membuat Zio benar-benar semakin menyesal telah merindukan semua perlakuan ini dulu.


" Yaaa..." Zio memasuki kamar mengambil baju ganti, lalu menuju kamar mandi dengan Mayra yang sedang bermake up di meja rias yang telah di persiapkan Radit dulu.


Mayra telah siap, dan mendudukkan diri pada kursi yang baru di lihatnya di kamar ini. Zio nampak telah keluar dari kamar mandi dengan membawa sejuta pesonanya meskipun hanya menggunakan pakaian casual.


" Zio ko bisa ada kursi di sini ? bentuknya lucu banget lagi ala-ala putri gini, lucunya..." sambil mengelus kursi ala putri kerajaan berwarna cream tersebut. " Kayanya ini bukan selera kamu deh..."


" Baguslah jika kamu menyukainya." dengan mengingat kemarahannya pada Radit karena memilih kursi macam tersebut. Ia nampak sedikit menyunggingkan senyum.


" Ko ngikutin selera aku sih ? kan ini apartemen kamu." dengan membuang muka, jangan-jangan ini bukan karena seleranya tapi karena selera Shanon itu pikirnya.


" Sudahlah..." lalu menggandeng Mayra keluar dari apartemannya.


*****

__ADS_1


' Rinn... Si maemunah gimana ???' tanya Tika di seberang telepon.


" Dia aman."


' Ko lo yakin banget sih ?'


Yakinlah... Seenggaknya dia ada di tempat paling aman sekarang. Walaupun hatinya si yang ga aman.


" Iya.. Udah lo tenang aja."


' Ya.. Udah dehh... Kalo ada apa-apa kabarin gue ya ?'


" Yaa.." Rindi nampak mematikan sambungan telepon. Baru sehari ia keluar kantor sudah ada kejadian buruk seperti ini, benaknya begitu di penuhi dengan siapa sebenarnya yang dengan tega melakukan ini pada Mayra. Namun fikirannya telah tertuju pada satu nama. Entah itu benar atau tidak namun hanya dialah yang paling berpotensi melakukan semua ini.


***


Mayra nampak makan dengan sedikit perasaan dongkolnya, pasalnya bukan berjalan-jalan ria seperti dalam bayangannya tapi malah makan di ruangan privat room, sudah dari aparteman naik mobil. Ini namanya tetap terkurung dalam berbagai tempat yang berbeda pikirnya sambil menatap penuh kesal pada Zio.


Yang di tatap hanya diam tak bergeming dengan tatapan Mayra, menghabiskan makanannya dengan tenang.


Bahkan hingga sampai apartemen dan berganti baju Mayra masih saja menampakkan raut kesalnya.


" HPku mana Zio ? siniin dong aku mo liat ..." dengan raut memohonnya.


Zio yang telah selesai membuat kopi, merasa begitu berisik dengan rengekan Mayra yang selalu saja meminta ponselnya.


" Kenapa ? kamu mau lihat bocah ingusan itu khawatir atau tidak ?" dengan menyesap kopinya.


" Iihh... Apaan si ? ya itukan HP aku kenapa kamu umpetin ayo sini balikin !"


Hingga sebuah ide menjaili Mayra terlintas dalam kepalanya, " Ambillah..." dengan mengeluarkan sebuah kunci dari kantong celananya.


Mayra segera menghambur pada Zio berusaha sekuat tenaga untuk bisa meraih kunci dari tangan Zio, tak pelak malah membuat Zio semakin menikmati kejailannya sendiri. Ia selalu saja menaik turunkan kunci seperti sedang menggoda seekor kucing saja, membuat Mayra semakin tersulut hingga menggigit tangan Zio.


Tak menyerah Zio segera bangkit dan berlari kesana-kemari mengelilingi apartemen dengan Mayra yang begitu menggelora mengejarnya, hingga sampailah mereka dalam kamar dengan berdiri berseberangan di antara kasur king size.


" Siniin dong Zioo... Cape nih !" seraya mendudukkan diri dalam kasur.


" Aku juga lelah..." dengan merebahkan diri dalam kasur.

__ADS_1


" Ehh... Nagapin ? tidur di luar sana !"


" Hanya sebentar." lalu memejamkan mata dan tertidur. Mayra yang merasa kelelahanpun akhirnya hanya membiarkan dan ikut terpulas di ujung kasur tersebut.


__ADS_2