
Mayra, Rindi, Tika, Anton, Bu Meta, juga Pak Anwar tengah membahas penyelesaian masalah tentang keluarga para anak yang terkena dampak penggusuran di sebuah restoran sepulang kantor.
Mayra semakin miris dengan keadaan mereka yang kini menempati kolong jembatan untuk tempat berteduh, ia ingin segera menumakan jalan keluar terbaik untuk masalah ini.
Walaupun dengan berbagai perselisihan pendapat juga keributan yang di perbuat Anton juga Tika, akhirnya mereka sepakat untuk membuat penggalangan dana dengan pertunjukan drama yang bertema tentang putri salju dan tujuh kurcaci. Niatnya untuk menarik perhatian orang agar mau menonton dan berdonasi untuk keluarga para anak di Rumah Pelita.
" Oke.. Jadi sepakat ya nanti dramanya di pasar malem deket rumahnya Pak Anwar, Anton lo urusin penata tempatnya, trus Rindi bagian promosi, trus Tika bagian kostum, Pak Anwar bagian konsumsi sama Bu Meta bagian perizinan. Nanti soal dana yang masuk kita urusin bareng-bareng karna udah bikin rekening khususnya. Trus biar entar dramanya gue yang handle. Gimana setuju ?" jelas Mayra dengan panjang lebarnya, lalu menatap mereka bergantian. Merekapun saling mengangguk.
" Okee ... Semoga ini bisa berjalan lancar dan kita bisa dapetin dana buat beli tanah bahkan bikin tempat mereka berteduh... Fyuuuuhh..." harap Mayra dengan menggesekkan kedua tangan yag terasa begitu dingin, karena kegugupan mungkin.
" Iyaa ... Emm tapi tema penggalangan dananya apa nih ? yang cocok gitu ..." tanya Rindi.
Mayra nampak berfikir dengan mengetukkan jari telunjuk pada meja, hingga sebuah ide muncul dalam kepalanya, " Gimana kalo 'Satu Rupiah Membawa Berkah' ??" ucapnya dengan bersemangat.
" May ... Kalo mereka donasi satu rupiah beneran gimana ? nggak nggakk ah ! Peduli Rumah Pelita aja bagus." Anton berpendapat.
" Yee... Itu mah uda biasa keles ! Bener yang punya Mayra aja deh, sengklek aja pake sok-sok an lu !" Tika menimpali.
" Gimana yang lain setuju idenya siapa ?" tanya Anton dengan semangat menggebunya.
" E..hhmm" Pak Anwar mengambil suara," Punya Mayra lebih berkesan sih." ucapnya kemudian, yang di iringi angguk an dari semua peserta rapat dadakan tersebut.
" Ya udahh..." ucap Anton dengan raut masamnya.
***
Hari demi hari terlewati dengan berbagai kesibukan yang di berikan pada masing-masing penanggung jawab, dan sampailah kini di hari Jum'at di mana esok hari adalah waktu untuk pertunjukkan drama tersebut.
__ADS_1
Promosi Rindi ternyata begitu berguna, hingga semua lapisan masyarakat mau membantu untuk kesuksesan drama ini nantinya dari Mahasiswa, pemilik salon, hingga penata tempat yang rela menjadi sukarelawan.
Dan disinilah Mayra, di taman untuk bertemu para anak dan memastikan kemampuan mereka dalam drama yang akan di tampilkan esok hari. Untungnya ada para mahasiswa yang mau mengajari mereka jika Mayra tak ada, Membuatnya bersyukur ternyata masih terdapat begitu banyak orang baik di dunia ini.
Mayra nampak bertepuk tangan dengan kemampuan para anak yang memainkan drama, berbangga ternyata mereka juga memiliki kemampuan jika di asah dengan benar.
" Oke... Toni,Lia ini udah bagus tapi kalian harus hafalin ya jangan bawa teks kalo bisa, gimana ? bisa kan ?" Mereka nampak menggaruk-garuk kepala asal, agak tak yakin.
" Ka May yakin pasti kalian bisa. Harus semangat pasti bisa !!" dengan mengangakat tangan yang mengepal dengan senyum yang tak pudar.
" Iya Ka May ..." ucap mereka kemudian.
Mayra nampak mengusap lembut kepala mereka satu- persatu. Benar-benar berharap mereka mendapat kehidupan yang lebih baik.
Lalu ia nampak mengahampiri seorang mahasiswa yang sibuk berkutat dengan kamera di tangannya, mengingatkan Mayra pada sang adik yang meminta kamera DSLR yang belum Mayra penuhi.
" Iya ka.. Tenang aja nanti aku bikinin film dokumentasi paling keren dehh ..." Ucap si mahasiswa laki-laki yang begitu banyak mendapat arahan dari Mayra untuk acara ini.
Mayra nampak mengangguk, lalu menghembuskan nafasnya kasar dan menyenderkan diri di sandaran kursi taman. Merasa lelah dengan semua kegiatan padatnya selama seminggu ini, yang membuatnya terlena akan kisah rumit yang melandanya bahkan membuatnya lupa jika sama sekali tak ada Zio yang datang menyapa sekalipun lewat ponselnya.
Mayra memejamkan mata,menikmati angin malam yang berhembus menimpa wajah lelahnya. Si Mahasiswa yang melihat ada daun kering yang menimpa rambut Mayra berinisiatif mengambilnya. Namun posisi mereka yang bisa membuat semua orang yang melihat salah paham karena terlihat begitu intens, apalagi mereka yang menghadap di jalan raya, membuat sudut hati seseorang di dalam sedan mewahnya terbakar api cemburu.
Ia nampak menghampiri dengan raut geramnya, inginnya memastikan ego sendiri dengan tak menghubungi Mayra, tapi berhari-hari ini ia masih saja melihat bayang-banyang Mayra yang selalu mengelilinya. Tapi seseorang yang selalu memenuhi isi kepalanya itu malah dengan santainya berduaan dengan berondong di taman yang gelap ini, sungguh membuat hatinya panas dan berkobar.
Bughh... Bughh ...Bughh
Dengan tanpa Ampun ia memukuli si Mahasiswa, Mayra yang mendengar suara keributan membuka mata lalu terbelalak dengan apa yang di lihatnya kini. Lalu segera berlari menghampiri Zio yang masih terlihat memukuli si mahasiswa.
__ADS_1
" Astaga ... Zioo kamu ngapain siiih ??!! Stoppp !! Kasian dia !!" ucapnya menengahi.
" Dia mau macam-macam denganmu, Hah... Astaga !!"
Aku benar-benar sudah gila !!!
" Kamu gpp San ?" Sandy menggeleng lalu mengibaskan tangan, walaupun terasa begitu nyeri tapi harus tetap menjaga harga diri di hadapan senior pikirnya.
Mayra memanggil salah satu mahasiswa untuk mengobati Sandy. Lalu berjalan menghampiri Zio yang terduduk di kursi taman.
" Kamu ni sebenernya kenapa ? dateng-dateng mukulin anak orang ! kasian tau dia ! dia tuh uda baik jadi sukarelawan tau gak ?!" kemarahan yang menggumpal dalam hatinya ia keluarkan walaupun bukan kekesalan sebenarnya, namun cukup melegakan juga pikirnya.
" Sukarelawan apanya. Dia hanya mencari kesempatan mendekatimu !" ucap Zio dengan ketusnya.
Seleramu itu apa tak bisa di ubah, kenapa harus anak ingusan macam itu !! sama sekali tak sebanding denganku !! Batin Zio menggerutu dengan wajah memaling dari Mayra.
" Dia cuma mahasiswa tahun pertama yang mau membantu untuk donasi ini Zio, kamu tu anah banget ! berhari-hari ga ada kabar kemana ?! kenapa sekarang baru muncul pake mukulin anak orang pula. Anehh !!"
Aku memastikan perasaan !
" Kenapa diem aja ? ga bisa jawab kan ? ya udah kita juga ga ada hubungan apa-apa. Kamu pasti sibuk kan ? pulang sana ! ga usah peduliin aku mo ngapain kek, pergi sana !!"
Zio menatap Mayra dengan raut gamangnya, harus menjelaskan bagaimana pada Mayra agar tak semakin salah paham dengannya. IQ di atas rata-ratanya sama sekali tak bergerak, untuk membantunya memberi jawaban pada Mayra.
Membuat Zio semakin geram saja. Kelemahan utamanya adalah berurusan dengan wanita apalagi itu Mayra, sungguh membuatnya tak bisa berkutik. Hingga berakhir mengambil langkah kembali pada mobilnya.
Loh... kok beneran pergi sih ? bukannya jelasin ! dasar manekinnn !!! ngesellin !! Batin Mayra dengan raut cemberut dan tangan yang melipat di dada, melihat kepergian Zio dari pandangannya.
__ADS_1