
Radit masuk ke dalam cafe dengan terburu, namun Fabio yang melihatnya melintas segera menyapa.
" Heyy Radit, kau sedang mencari Tuanmu ? dia sedang bersama seorang wanita. Dengan amarah yang sangat memuncak. Ternyata sifat monsternya sama sekali tak berubah ! Hiii ...." Fabio tampak bergidik ngeri, mengingat dulu betapa Zio tak seperti manusia saat emosi merasuki dirinya. Memutari lapangan hingga seratus kali dalam waktu kurang dari dua jam saja, sangat gila !
Radit segera bergegas tanpa menjawab ocehan Fabio. Ternyata ia terlambat, inikah yang dinamakan telepati itu. Bisa-bisanya sang Tuan lebih dulu menemukan Mayra dibanding dirinya yang melihat CCTV. Ia nampak menghembuskan nafas pelan. Lalu segera menghubungi seorang perias untuk mendandani Mayra kembali. Ini sangatlah melelahkan !
Lalu berbalik, dan menepuk bahu Fabio yang masih berdiri mematung mengamati tingkahnya.
" Mari Tuan ..."
" Sebenarnya ada apa Radit ? ternyata selera Zio gadis yang seperti itu ? tapi katanya dia memiliki wanita yang dicintai, siapakah ?"
Tak menjawab, Radit hanya menepuk pelan bahu Fabio kembali dengan senyum simpulnya.
Lalu kembali melanjutkan langkah.
Akan semakin rumit jika Anda mengetahuinya Tuan.
***
Zio berjalan dengan begitu cepatnya, kilatan amarah masih saja terlihat dalam rautnya. Mayra masih terlihat sangat kepayahan menyelaraskan langkah Zio yang berkaki jenjang.
Hingga sampailah keduanya pada ruang istirahat yang Zio gunakan, tempat khusus yang memang dipersiapkan untuk beristirahat di sebelah ballroom.
Jblesss
Zio menutup pintu dengan kasarnya. Menghempaskan Mayra pada dinding setelah berjalan beberapa langkah. Mengunci tubuh Mayra dalam dekapan, sungguh amarah telah merajai jiwanya hingga berlaku seperti seorang yang kesetanan.
" Zio sakit ... Kamu mau apa ? Ziiio ...." Mayra memelas dalam dekapannya. Bahkan air mata Mayra tak mempan lagi untuknya kini.
__ADS_1
" Mau kamu ! dari awal sudah kubilang kan."
" Zio jangan .. Ja ... Mmmhh" terlambat, Zio telah membungkam mulut Mayra dengan sentuhan bibir nan kasarnya. Semakin dalam, dengan rakusnya ia meraup bibir Mayra tanpa ampun.
Membuat Mayra terhenyak oleh sentuhannya dalam beberapa saat, tak tahu harus melakukan apa. Tubuhnya seakan mengudara, terombang-ambing bagai jiwa tak beraga. Hingga merasakan sentuhan yang semakin kasar membabi buta bahkan tangan Zio sudah bergerilya menjelajahi tubuhnya. Ia segera memukul dada Zio dengan sekuat tenaga, namun beribu sayang Zio sama sekali tak mengindahkan bahkan sampai menggiring Mayra pada sebuah sofa. Gila, ia benar-benar dirasuki amarah yang akan menjadi petaka bagi Mayra.
Mayra menangis tersedu dibalik pagutan yang Zio lakukan, haruskah berakhir seperti ini. Zio benar-benar seperti seseorang yang kerasukan dan tak dapat dihentikan. Apa yang harus ia lakukan ? air mata semakin menderas tak terkira, bahkan pukulannya melemah karena sentuhan demi sentuhan yang Zio berikan. Rasa yang sangat bertolak belakang dengan nalar bahkan akal sehatnya. Hasrat yang membuat tubuhnya memanas bergairah namun dalam satu waktu juga merasakan kebencian yang teramat pada Zio.
Jahat ! kamu jahat Zio. Tak cukupkah mengambil hatiku ? bahkan kini kamu juga akan mengambil satu-satunya hal berharga yang tersisa dalam diriku ?
Menyerah, Mayra semakin melemah tak berdaya dengan air mata yang semakin meleleh tak berjeda.
Hancur . Hancur sudah ...
Zio yang merasakan tubuh Mayra tak lagi memberontak, seketika tersadar. Melepas dekapan eratnya pada Mayra. Merutuki kebodohan oleh amarah sesaat dalam diri.
" Maafkan aku May ..." rautnya tampak sangat menyesali perbuatannya barusan.
Mayra semakin tersedu dalam tangisnya. Takut, ia sangat takut pada Zio saat ini. Bahkan sampai berteriak histeris saat Zio memegang tangannya. Membuat Zio terhenyak. Bodoh ! bodoh !! Bodoh Zio bodoh !!!
Ia berdiri dalam diam hingga beberapa saat, menatap pada Mayra yang tak kunjung berhenti menangis.
Aarghh ! aku bisa gila !!
Tokk ... Tokk ... Tokk
Siapa.
" Permisi ... Saya perias yang dikirim oleh Tuan Radit."
__ADS_1
Zio kembali menatap pada Mayra yang nampak sudah terdiam. Menyusut hidung juga mengusap air mata. Menegakkan wajah seperti tak terjadi apa-apa. Zio nampak mengurungkan niat untuk menghampirinya. Berjalan menuju pintu lalu membukanya.
" Sepertinya dia juga membutuhkan satu gaun."
Perias nampak bingung, namun segera mengiyakan titah Zio." Akan kami siapkan Tuan."
Dengan segera, ketiga perias tersebut mendadani Mayra kembali. Memberinya gaun baru, menata kembali rambut yang awut-awutan. Lalu sampailah pada merias wajah sembab yang masih saja mengalirkan air mata.
" Ayolah Nona. Jika seperti ini kita tak akan pernah selesai. Sebenarnya untuk apa anda bersedih Nona ?" lolos juga pertanyaan yang sejak tadi mengganjal.
" Aku itu sangat berbahagia tahu. Bahagia mendapatkan seorang calon suami seorang Ziovano. Kenapa memarahiku ? ini tangis haru. Kenapa kalian tidak bisa membedakan ?!" elaknya dengan nada yang masih sedikit tersedu.
Astaga ! kalau anda sangat bahagia. Selesaikan ini segera Nona !
" Baiklah Nona. Kami tahu anda sangat berbahagia. Maka, ayo selesaikan ini secepatnya. Orang-orang telah menunggu anda sedari tadi."
Mayra nampak menghela napas dengan dalamnya, meski dadanya sedang penuh sesak oleh sejuta rasa campur aduk tak terkira. Tapi ia tak bisa egois, karena acara ini memang sudah dirancang sedemikian rupa oleh Radit juga karyawan lainnya. Ia harus kuat, tegakkan kepala. Hidup adalah tentang hari ini, dan untuk bahagia. Entah dengan esok hari. Ia hanya harus melewati jalan yang terpampang di depan mata saat ini.
***
Acara berjalan dengan sangat sempurna dalam pandangan setiap tamu undangan dalam ballroom. Akhir bahagia dari sepasang sejoli yang saling mengikat janji menjadi penutup yang sangat manis dalam acara pendirian perusahaan tersebut. Rekah bahagia tak pernah surut dari setiap mereka yang datang bergantian bersalaman, memberi selamat pada sejoli yang terlihat sangat serasi.
Mereka tak tahu saja, betapa hancur hati Mayra di balik rekah secerah mentari yang ia pancarkan. Jika ingin bersikap egois, bisa saja ia pergi begitu saja meninggalkan pesta ini. Tapi, itu bukanlah sifat seorang Mayra. Lari dari kenyataan memang menenangkan. Tapi, sama sekali tak menyelesaikan masalah.
Shanon tampak menghela napas panjang melihat pemandangan tersebut, " Jangan bersedih. Ini hanyalah tunangan. Artinya ... Masih ada kesempatan untukmu menjadi istrinya." ucap Kalista dengan seringai liciknya. Kebencian Kalista tampak semakin menggila.
Apalagi kini Aldo telah memutuskan hubungan pertunangan mereka, bahkan keluar dari perusahaan milik Papanya. Ia mengiyakan saja ketika Aldo mengucapnya, berpikir bahwa Aldo akan kembali bahkan mengemis cintanya jika terdesak suatu masalah nantinya.
Tapi nyatanya, sampai satu bulan berlalu tak ada kabar apapun darinya. Bahkan pengawal yang ia tugaskan untuk mencari Aldo selalu saja gagal. Membuatnya semakin bertanya-tanya tentang apa yang direncanakan Aldo. Entahlah, Apapun itu. Tapi jika itu untuk mendapatkan Mayra kembali. Ia akan sangat murka, dan menghabisi Mayra tanpa ampun saat itu juga.
__ADS_1