KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Masalah


__ADS_3

Mayra dan Zio telah sampai di tempat pembangunan rumah ala kerajaan yang diminta Mayra, meski pada akhirnya tak seperti Disney Land. Yang benar saja, Mayra juga masih bisa berpikir rasional. Meski melewati perdebatan yang begitu panjangnya dengan sang Arsitek, bahkan Mayra beberapa kali menolak segala desain yang di buatnya. Namun ia dengan telaten selalu membuat lagi dan lagi sama sekali tak merasa direndahkan, bukti nyata sebuah nama populer tak didapatnya hanya dengan sebuah kata, namun juga kelapangan hati yang selalu melekat erat. Tak seperti manusia biasa yang sudah sombong dengan hanya satu keberhasilan saja.


Hingga akhirnya Mayra menunjuk sebuah desain klasik yang menurutnya indah, rumah impian persis seperti bayangannya yang sebelumnya tak pernah terlintas dalam kepala.


Dan kini mereka sedang mengunjungi bangunan tersebut untuk melihat progres pembuatannya hingga tata letak ruangan yang akan menjadi sasaran hujatan Mayra.


" Ko kaya gini sih, aku ga mau. Ganti."


" Ini posisinya ga gini di gambar, gimana si ? gak profesional banget."


" Jendelanya harusnya dibikin dua sisi dong biar leluasa liat pemandangannya."


" Loh ini kolam renang besar banget, dikira buat renang se-RT. Ubah !"


Tidak mau ini tidak mau itu dan banyak lainnya, sungguh ia mengucapnya dengan hati teriris ingin menangis. Namun apadaya inilah jalan satu-satunya pembatalan pernikahannya dengan Zio. Membuatnya membulatkan tekad pantang mundur selama tempur.


Zio hanya terdiam, dengan manggut-manggut mencoba mengerti meski dalam hati sedang berusaha agar tawanya tak pecah. Membuat Mayra semakin geram, padahal selama di mobil tadi ia sudah memberitahu jika ia sedang melakukan banyak protes Zio harus berpura-pura marah, tapi dia malah diam bak manekin. Nyebelin ! jadi aku yang keliatan jahat ! Huhuhu ... Maafkan aku Pak Arsitek luar negri Pak pekerja. Aku sungguh tak punya pilihan lain. Batinnya dengan menatap tajam pada Zio.


Zio nampak menoleh dan menarik sebelah alis, bertanya dengan isyarat wajah ada apa dengan Mayra. Mayra membuang muka, mendengus kesal.


" Nona saya tidak tahu tentang masalah anda, tapi saran saya jika anda berniat untuk menggagalkan pembangunan rumah ini, semua itu, tidak akan terjadi." ucap sang Arsitek yang membuat Mayra bergidik, ternyata gak cuman Rindi yang cenayang disini Pak Arsitek juga. Hiii


Membuat Mayra melenggang pergi tanpa sepatah katapun. Dasar ! lewat Opa tak bisa bahkan Rumah inipun juga, lalu bagaimana ? kehidupan pernikahan dengan Zio ? Seketika membuat bulukuduknya meremang dengan wajah yang kian memanas saja. Memikirkan segala kemungkinan yang akan di alaminya juga berbagai kewajiban istri yang terngiang tiada lelahnya.


Sesungguhnya impiannya bukanlah memiliki rumah mewah nan megah dalam pernikahan. Tetapi, cukup memiliki keluarga yang saling menyayangi, mengerti juga memahami hingga menjadi keluarga bahagia dengan penuh kasih sayang di dalamnya. Tapi bagaimana bisa ? sedang Zio saja mencintai wanita lain. Sungguh hatinya terasa tertusuk seketika memikirkannya.


Impian sesederhana itu tak akan bisa ia dapatkan bahkan miliki jika masih saja bersinggungan dalam kehidupan Zio.


" Kita pulang ?" tanya Zio yang telah terduduk di sampingnya kini.


Hening tak ada jawaban, Mayra hanya membuang muka tak berniat menjawab Zio.

__ADS_1


" Hei ..."


Mayra masih diam tak berkutik menatap keluar jendela.


" May..." suaranya terdengar rendah, mencoba bersabar sepertinya. Namun Mayra masih tak bergeming. Hingga Zio menarik lengannya dan membuat keduanya saling bersitatap kini.


" Ada apa ?"


" Ga pa pa." ketusnya dengan tatapan beralih dari mata Zio.


" Lalu kenapa diam saja ?"


" Ya kamu aneh !"


" Aku biasa saja. Kamu yang aneh diam saja kutanya dari tadi."


" Tuh kan. Ngmongnya aja ga nyambung gini gimana mau nikah coba ?!" Mayra mulai menarik suara, " Tadikan aku udah bilang kalo kamutu harus marah pas aku protes ke Mr. Xerefan tadi tapi kamu malah diem aja. Akutu gak mau nikah sama kamu ! Ngerti gak sih ?!" pekiknya yang tak mampu menahan gumpalan amarah dalam dada. Ia sudah bertekad untuk berenang ketepian sebelum tenggelam pada dalamnya samudra yang bernama cinta. Namun usaha kemarahannya malah terbuang sia-sia.


Pak Sopir yang merasakan kobaran tak kasat mata hanya menggeleng pelan, sedari tadi ribut tiada henti, tapi kini berdiam seribu bahasa tanpa ada niat memulai kata.


...----------------...


Mayra,Rindi dan Tika nampak terduduk menyantap makanan di restoran ala Jepang ini, berkat siapa lagi jika bukan kartu unlimited yang bertengger manis dalam dompet mungil Mayra kini.


" Sering-sering May, ajakin makan beginian. Enak juga ternyatah.. Haha.."


" Dasar ! maen Lo kurang jauh si."


" Kenapa sih May ?" Tanya Rindi yang melihat Mayra tak berhenti menyuapkan berbagai makanan dalam mulutnya.


" Kesel gue ! pengen nelen orangnya aja kalo bisa mah."

__ADS_1


" Dihh ... Sumanti dong."


" Siapa tuh ?"


" Ngmong apa si Tik ? GJ deh !" menyeruput minuman hingga separuh lebih.


" Itu lakinyakan Sumanto nah Cewenye Sumanti gitu May..."


" Apa lagian ? segala Sumanto Sumanti." jengahnya memutar bola mata dengan malasnya.


" Lah gitu aja kaga tau, Maen Lo kurang jauhh ! Hahaha. Kenakan Lo !"


Mayra dan Rindi nampak saling bertukar pandangan, merasa aneh sendiri dengan kelakuan Tika.


Hingga suasana tentram tersebut menegang seketika, oleh kedatangan Kalista juga Shanon.


" Wah ... Wahh ... Wahh ... Rombongan Upik Abu lagi reuni ya ? Kalian salah tempat." dengan berjalan semakin mendekat, lalu memelankan suara seolah sedang berbisik, " Disini mahal, nanti gak sanggup bayar malah cuci piring lagi," Menoleh pada Shanon, " Ya nggak ? Hahaha ..." lalu tertawa bahagia, akhirnya bisa membalas perbuatan Mayra saat di pesta.


Tika sudah mulai geram, hingga akan bangkit dan menoyor Kalista namun secepat kilat Mayra mencegahnya, " Gak usah dengerin cicak lagi bercicit." ucapnya menirukan Zio saat menghadapi Kalista dulu.


" Hei !! Berani ya Lo sama gue !!" mulai melayangkan tangan akan menampar Mayra,namun segera ditahan oleh pengawal yang menjaga Mayra sesuai perintah Zio.


" Ouhh !! sok-sok an jadi Putri Lo ! Putri butut kaya Lo ga pantes dapetin Kak Zio ! Ngaca ! Dasar Upik abu !" ucapnya dengan menarik tangan dari pengawal, lalu merogoh kedalam tas mewahnya.


Dan,


Bruukk


Melempar segepok uang berwarna merah hingga menghambur menimpa wajah Mayra, ia nampak tersenyum puas. Rasakan itu !


" Lo butuh duit kan ?! ambil itu. Dan jangan beraninya Lo deketin Kak Zio apalagi Aldo. Ngerti cewek rendahan ?!!"

__ADS_1


Semua nampak terkejut, melihat kelakuan buruk Kalista tersebut, bahkan kasak-kusuk pengunjung Resto tak terbantahkan, terdengar bising membengungkan telinga.


__ADS_2