
" Tuan, Tuan Besar belum pulang juga sedari pagi keluar tadi." Lapor Pak To pada Zio.
" Nanti juga pulang sendiri." dengan raut ala manekinnya.
" Tapi...." terhenti karena kibasan tangan dari Zio.
" Baik, permisi."
Zio terlihat merenung di meja kerjanya, ia mengetahui jika sang Opa sedang gencarnya mencari tahu tentang Mayra. Namun berkat asissten nan kompeten yang sangat bisa di andalkan hingga informasi tentang Mayra tersembunyi dengan baiknya. Ia beranjak ketika merasa kepalanya semakin memberat saja. Ia mulai menuruni anak tangga dan berencana akan berenang di kolam yang terletak di samping rumah megahnya tersebut.
***
Mayra nampak terbengong-bengong dengan tampilan Rumah megah dengan desain modern industrial tersebut, sudah seperti hotel bintang lima versi mini saja, bahkan sampai ada basement di bawah tanahnya. Benar-benar konglomerat pikirnya.
Hingga memasuki rumahpun ketakjubannya belum juga usai, dengan berbagai ke eleganan juga kemewahan yang begitu tertata pas sesuai tempatnya, bukan main. Mulut mungilnya tak pernah absen mengucap wah ketika memandangi ruangan yang nampak lengang dengan berbagai properti yang begitu menawan. Mayra sampai tak mendengar kekhawatiran yang di lontarkan Pak To pada sang Tuan Besar karena baru pulang setelah melewatkan waktu makan siang.
Hingga tibalah mereka pada ruang makan, Mayra meraba meja dan kursi yang nampak mengkilat dan begitu halusnya, terang saja karena di buat dari kayu jati kualitas terbaik juga desain yang di modifikasi sedemikian rupa untuk menambah kesan keelegannannya.
" Silahkan duduk Nona.." Pak To mempersilahkan.
Mayra hanya mengangguk dan tersenyum dengan canggungnya. Merasa begitu tak enak sebenarnya.
" Jangan sungkan Mayra, tadi katanya kamu lapar." Opa mengingatkan obrolan mereka di jalan tadi, dimana Mayra yang selalu mengeluh lapar dan ingin segera mengisi perut yang mendapat berbagai bentuk demo di dalamnya.
Mayra hanya merenges saja mendengar ucapan kakek. Memalukan. Batinnya.
Pelayan datang dengan berbagai menu yang terhidang. Membuat perut Mayra semakin keroncongan saja.
__ADS_1
Sebodo teinglahh. Batin Mayra yang tak kuasa menahan bunyi perutnya.
Masih dengan senyum canggung Mayra mulai mengambil nasi dan lauk seperlunya, harus menjaga image di depan orang kaya pikirnya. Mayra makan dengan lahapnya membuat selera makan Opa ikut meningkat, bahkan keduanya sampai kembali mengambil nasi dan mengobrol seru di tengah sesi makan tersebut, membuat para pelayan terheran karena tak pernah melihat sang Tuan berlaku seperti itu sebelumnya.
Hingga sesi makanpun usai, Opa nampak mengajak Mayra melihat-lihat koleksi Moge miliknya di basement. Ketakjuban Mayra semakin bertambah saja melihat deretan Mobil dan Moge mewah tertata dengan rapinya. Namun pandangannya segera tertuju pada Moge Hitam mengkilat persis seperti yang di tumpanginya beberapa saat lalu, mungkin hanya kebetulan pikirannya segera menampik segala hal yang berhubungan dengan Zio.
" Kenapa ?" tanya Opa yang terlihat seperti mengenali Moge tersebut.
" Nggak kek, mungkin cuma mirip."
" Kamu pernah naik yang seperti itu ?"
" Sekali.. Hehee"
" Wahhh... Hebat juga kamu. Itu Moge edisi terbatas lho. Hanya ada 10 di Dunia."
Mayra nampak terduduk di sofa tamu dengan melihat lembar demi lembar potret Opa bersama dengan berbagai ikan hasil tangkapan pancingnya, dengan berbagai warna juga berbeda bentuk dalam setiap fotonya membuat Mayra begitu takjub ternyata ada begitu banyak jenis ikan di Dunia ini.
Sembari menunggu Opa membersihkan diri, Mayra nampak memiliki ide untuk berterima kasih pada Opa. Dengan segera ia menghampiri Pak To untuk meminta izin.
" Pak saya mau bikinin risoles buat Kakek boleh gak ya ?" tanya Mayra dengan semangat penuh binar di matanya. Membuat Pak To tak kuasa hingga menganggukkan kepala.
" Makasihh....." lalu mengambil langkah melenggang ke dapur, mulai mengambil bahan-bahan yang di butuhkan. Dengan lincahnya ia membuat kulit risoles hingga isiannya.
Para pelayan laki-laki terlihat saling berbisik, sebenarnya siapa wanita tersebut. Pak To yang melihatnya segera membubarkan mereka. Bahkan Pak To sendiri sedang di landa gundah karena tak biasanya tuan besarnya sembarangan memasukkan orang apalagi wanita, dan sekarang Tuan Mudanya sedang berada di kolam renang yang berjarak hanya beberapa meter dari dapur. Akan semarah apa ia jika mengetahui ada wanita di rumah ini. Pak To nampak menghela nafas dengan kasarnya. Tak tahu harus berbuat apa kini.
Mayra yang telah selesai memasakpun membawa masakannya menuju sofa yang menghadap kolam renang, nampak begitu sejuk dan segar karena berdekatan dengan taman namun tak berisi bonsai seperti yang tadi dilihatnya, membuat tempat tersebut akan terasa nyaman untuk berbincang pikir Mayra. Karena ingin buang air iapun meletakkan sepiring risoles tersebut di meja, kemudian melenggang mencari toilet.
__ADS_1
Zio terlihat terduduk dengan kaki menyelonjor di sebuah kursi di tepi kolam, karena posisinya yang menghadap kolam, jadi Mayra tak melihatnya. Ia mulai mencium harum masakan, makanan ringan setelah berenang boleh juga pikirnya, lalu mengambil langkah menuju risoles buatan Mayra. Ia mulai mengambil dan memasukkan risoles pada mulutnya.
Hmm.. Enak. Good job. Batin Zio yang mengira makanan tersebut di buat oleh pelayan untuk dirinya. Bahkan ia melahapnya hingga habis, lalu mulai beranjak untuk membersihkan diri.
Mayra yang kembali dari toilet nampak terkejut dengan piring risolesnya yang telah kosong melompong kini, dan melihat Pria berjalan menjauh setelah memakan habis semua risolesnya.
" Hehh... Tunggu ! Kenapa kamu abisin ! ini aku bikinin capek-capek buat berterima kasih sama Kakek tauk !!" pekik Mayra dengan lantangnya.
Zio terhenti seketika, mendengar suara yang begitu familiar juga ia rindukan. Apa ini hanya bayangannya saja seperti biasa pikirnya, lalu mulai melanjutkan langkah kembali. Mayra yang merasa di sepelekanpun segera menghampirinya.
Kok kaya kenal. Batin Mayra yang semakin mendekat pada Zio.
Lalu menekan punggung telanjang Zio dengan telunjuknya, " Hehh... Aku tu ngomong sama kamu tau !!"
Ziopun menoleh, dan betapa terkejutnya mereka berdua. Benak keduanya di penuhi dengan berbagai pertanyaan khayalan atau kenyataankah pertemuan tak terduga ini. Hingga Mayra berbalik arah dan berjalan menjauh.
Gila... Gilaaa... Itu beneran Zio apa cuman bayangan sih ? astaga ... Sadarr Mayra. Batin Mayra dengan mengetuk kepalanya sendiri, Sialnya ia malah menginjak bekas air Zio yang berserak di lantai oleh langkah setelah berenang tadi.
Dugghh
Mayra terpeleset bahkan kakinya mengenai kaki meja, dengan segera Zio menghampirinya dan menahannya agar tak jatuh ke lantai.
Oh My...... Zioooo ??? Batin Mayra dengan mata membelalak, begitu tak percaya bahwa laki-laki di hadapannya adalah Zio. Ia masih tak percaya bahkan sampai memegangi wajah Zio dengan kedua tangannya, mencoba memastikan ini kenyataan atau khayalan, dengan posisi tubuh yang masih tertopang oleh lengan kiri Zio.
Membuat Pria yang bertelanjang dada dengan lipatan handuk di pinggangnya itu berusaha keras menetralkan degupnya agar tak terdengar Mayra. Matanya nampak sedikit bergetar, begitu terkejut menyadari bahwa ini bukanlah bayangan namun kenyataan. Bagaimana Mayra bisa sampai disini pikirnya.
Bukan hanya Mayra dan Zio yang nampak begitu terkejut, bahkan Opa yang baru datang dan Pak To yang mengiringinya juga ternganga tak percaya dengan pemandangan di hadapannya kini. Pemandangan yang seperti gerhana Matahari total saja. Begitu langka. Dan menakjubkan.
__ADS_1