
" OPAAA ....." suara Kalista melengking memenuhi ruang tamu tempat Opa terduduk sambil memandangi ikan-ikan hiasnya.
Ia dengan segera menghambur pada Opa setelah menaruh paper bag di meja, " Opa udah sehat ? beneran udah sembuhkan ? jangan sakit lagi nanti aku sedih." ucapnya dengan suara manjanya.
Opa hanya mengelus lembut punggung Kalista dengan senyum hangatnya. Mama Rena yang baru sampai melenggang menuju meja makan dan mengambil bubur di taruh pada mangkuk untuk makan Opa yang di bawanya dari Rumah tadi.
" Pa ... Makan dulu, nanti minum obatnya biar gak telat." Suara yang cukup terdengar meski tak berteriak, karena posisi ruangan tanpa sekat.
" Ayo Opa makan dulu, biar cepet seger lagi." Kalista menggandeng Opa menuju meja makan, " Opa tau gak ? setelah denger Opa sakit akutu langsung wushh kesini. Padahal niatnya aku mau liburan sama Rian loh Opa. Aku sayang sama Opa, jangan sakit lagi yaa ?" sudah seperti anak kecil yang meminta di belikan permen, ya memang seperti itulah Kalista, anak manja yang bahkan sangat tak disukai Mamanya. Karena terlalu kelewatan bahkan sudah melebihi anak kecil saja katanya.
Opa makan bubur dengan disuapi Kalista, sementara Mama Rena menyiapkan obat untuk diminum Opa setelah makan nanti.
" Yang kemaren itu beneran calon istri Zio Pa ?" Mama Rena memberanikan diri untuk bertanya, setelah Opa selesai minum obat.
Opa mengangguk, namun Kalista langsung heboh merasa ketinggalan berita besar, " Siapa Ma ? Ka Zio punya calon istri ? seriously ??" dengan raut tak percayanya.
" Iya, namanya Mayra." jawab Opa, hingga membuat Kalista terbengong-bengong.
" Mayra ?! Opa kok setuju siih ?!" rajuknya pada Opa.
" Memang kenapa dengan Mayra ? dia gadis baik ceria, apalagi Zio juga suka."
" Diakan gak jelas bibit, bebet, bobotnya Opa ! harusnya Opa jangan kasih restu tauk buat dia ! cih .." seketika raut aslinya terpampang nyata.
" Memangnya Aldo jelas bibit, bebet, bobotnya ? Kamu itu !" entah kenapa Mama Rena merasa ada yang mengganjal dalam hubungan Kalista dan Aldo, ia sebenarnya tak begitu menyukai Aldo.
" Aldo itu bedalah Ma, dia karyawan berprestasi di kantor. Buktinya karena Aldo kantor jadi bisa memenangkan hati beberapa investor untuk menanam saham. Mama nih kenapa deh, negative thinking terus kalo sama Aldo." sangkalnya tak kalah sengit.
" Ya berarti sama aja, Opa gak mungkin setuju sama Mayra kalau gak ada alasan sebesar itu juga."
__ADS_1
Dan alasan sebenarnya adalah karena hanya dia wanita yang tak menimbulkan trauma bagi Zio, astaga ... Gadis yang malang. Semoga Zio memang benar mencintaimu nak. Batin Mama Rena mendo'akan dengan tulusnya, melihat Mayra yang terlihat begitu menyayangi Opa bahkan merawatnya hingga kondisi Opa membaik kini membuat sudut hatinya ikut merasa bersalah jika ia hanya di jadikan kelinci percobaan untuk Zio.
Karena Mama Rena tau jika Zio mencintai Shanon, sebenarnya tanpa sengaja karena waktu itu ia sedang tak sengaja lewat hingga memasuki kamar Zio yang sedikit terbuka. Sedikit rasa penasaran mendorongnya untuk masuk, agar mengetahui kehidupan yang di jalani sang keponakan. Dan yang begitu membuatnya tercengang ada sebuah foto perempuan cantik di dalam laci samping tempat tidur, bahkan di belakang fotonya terdapat tulisan 'i love you' . Sedikit banyak Mama Rena memahami perasaan Zio yang tak jauh beda dari teman sebayanya yang juga bisa merasakan jatuh cinta, namun bersamaan ia merasa sangat kasihan karena trauma Zio sama sekali tak menunjukkan kemajuan bahkan hingga saat ini.
Mama Rena tersadar oleh tepukan Kalista pada bahunya, " Mama aneh tauk Opa, ngelamun terus !"
Mama Rena terlihat menghembuskan nafas dengan kasarnya, " Kamu itu yang aneh suka kok sama berondong gak jelas bibit, bebet, bobotnya."
" Mama ih !! cinta itukan gak memandang dari segi keberondongnya !"
" Sok tau ! anak kemaren sore kamu itu, belum tau seluk beluk cinta yang sesungguhnya."
Opa hanya menggeleng pelan mendengar cuitan Ibu dan anak yang dirasanya tak pernah akur jika disatukan itu.
***
Ia memegangi wajah Mayra perlahan, di usapnya pipi mulus dalam wajah oval Mayra. Senyum tersungging dalam bibirnya, melihat Mayra yang tertidur pulas hingga menampakkan wajah damai tanpa kemarahan juga tangisan yang selama ini di tampakkan padanya.
Entah apa nama untuk rasa ini. Tapi aku sama sekali tak bisa jika harus jauh atau bahkan kehilanganmu Mayra.
Hingga akhirnya perjalanan panjang yang cukup melelahkan Raditpun usai, karena mereka telah sampai di apartemen Zio kini.
***
Mayra nampak menggeliat di bawah selimut, kasur super empuk dan hawa dingin kamar membuatnya terlena hingga terbangun saat burung-burung sudah saling bersautan di luar sana.
Lagiii ? Batin Mayra, lalu melenggang menuju dapur untuk mengambil minum.
Zio nampak sudah terbangun, atau memang tak tertidur yang jelas ia sudah berkutat dengan laptop di meja makan dengan secangkir kopi.
__ADS_1
" Kamu sudah bangun ?" tanyanya yang mendengar langkah kaki Mayra mulai mendekat.
" Kamu tu kebiasaan ! masa aku ditidurin di apartemen kamu terus ! Kalo Bapak tau bisa dipecat tak bersyarat !" lalu menenggak habis setengah gelas air yang diambilnya dari dispenser.
" Kurasa bukan dipecat, tapi malah dipercepat menuju akad." dengan senyum tak terelakkan, " Sepertinya kamu sudah tidak sabar sekali menjadi istriku."
" Zio, aku mo ngomong serius deh sama kamu." ia tak menggubris dan mendudukkan diri di sisi kanan Zio.
" Dari tadi juga kamu terus saja bicara."
" Isshh !" Mayra nampak membuang muka, jengah dengan segala ucapan Zio yang dingin tak berperasaan tapi juga benar.
" Kamu kok diem aja sih di suruh nikah sama aku ? harusnya tu kamu nolak tau gak ? alesan apa kek, o.. ya kamukan udah punya pacar. Kamu cinta diakan ? harusnya kamu tu ga boleh gitu !"
" Siapa ? aku tidak punya."
" Aah yaa... i see !" pekik Mayra yang teringat sekilas tentang trauma Zio.
" Kamu ga bisa sentuh dia karna trauma kamu itukan ? kasiannya ..." dengan raut mengiba.
Hening, raut Zio berubah seketika. Merasa dongkol dengan rasa kasihan Mayra yang nyatanya memang benar adanya. Dengan cepat ia berpikir pasti Mayra telah mengetahui semua kisah kelamnya dari Opa.
Mayra yang mengetahui perubahan suasanapun segera berucap, " Gak apa Zio... Aku bakalan bantu. Kamu bisa sentuh akukan, jadi seenggaknya punya satu teman wanita yang akan mengajari kamu banyak hal tentang cinta." ucapnya dengan menepuk punggung tangan Zio lalu menampakkan senyum secerah mentari pagi diluar sana.
" Kamu saja diselingkuhi."
Set dah bang, mo ditolongin malah ngatain.
" Itukan yang salah pihak lakinya, ga bisa jaga iman !" sungutnya dengan meremat roti tawar di tangannya, karena kembali mengingat kemesraan yang diumbar di tempat umum oleh mantan kekasihnya beberapa saat lalu.
__ADS_1