KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Ulang Tahun


__ADS_3

Mayra dan Tika tengah berbincang-bincang ria di area taman dengan latar gemuruh suara para anak yang bercanda tawa riang gembira. Membahas kado terbaik yang bisa di upayakan untuk membuat Aurora berbahagia di hari ulang tahunnya esok hari.


" Bikin apa May ... Yang berkesan. Tak terlupakan. Bantuin mikir dong May ..."


" Ya apa ? gua juga bingung kali. Bikin apa kek gitu yang Lo bisa, baju ato apa gitu."


" Lo lagi ngehina apa pegimana sehh ?! tau ndiri gua kaga bisa bebikinan. Bikin orok doang kali bisa gua ... Hahhah"


Mayra melotot sebal pada Tika, sungguh mulutnya benar-benar tak terkondisikan.


" Dasar ! otak Lo musti didaur ulang keknya biar ga gesrek !"


" Elahh.. Lu May ! jadi bikin apa nihh ?"


" Bentar ..." ia nampak mulai berfikir dengan menjilati es krim yang tampak seperti adegan slow motion di mata Tika.


" Ee .. Lampir ! gosah kelamaan ! lagi mikir apa ngebayangin si Lo nikmatin amat !" pekik Tika yang tak sabar.


Plakkk


Melayanglah tangan mulus Mayra hingga mendarat dengan sempurna di lengannya kini.


" Sakit kali ! dasar Mak Lampir Yee ! main ngegeplak sembarangan !"


" Makanya kalo ngomong itu di selarasin antara otak kanan ama kiri ! biar ga bentrok jadi gesrek gini !"


" Iih .. Ngomong apa sih ! Uda Nemu belom idenya ?"


" Untung gua Baek ye, kalo gak udah gue ceburin di kali Sono lu !"


" Elahh ! buru idenya apaan ?"


Mayra nampak tersenyum menyeringai menatap penuh arti pada ponselnya, " pokonya Lo bakalan punya utang seumur idup sama gua. Siap ga Lo ? Hahha ..."


" Siap aja gua mah. Apaan si idenya ?"


" Tunggu aja nanti ..." dengan tersenyum jail lalu mengedikkan sebilah alisnya.


" Yee ... Cucur pertigaan gua jadinya, apa si tinggal ngomong !"


" Liat besok aja, Lo siapin aja yang bener pestanya. Masalah kejutan gua yang urus." ujarnya dengan senyum penuh kemenangan.


Tika masih saja menatap penuh curiga pada Mayra, sama sekali tak bisa menebak apa yang akan dilakukan sahabatnya itu besok. Hah.. Biarkan saja, toh selama ini Mayra tidak pernah mengecewakannya. Aahh ... I'am coming my future daughter ❤️

__ADS_1


...----------------...


Meski traumanya sudah membaik, bahkan kini sudah mulai tak takut pada wanita bahkan kadang bisa bersentuhan juga. Namun, kehidupan kerja bahkan kesehariannya tak ada yang berubah begitu total. Mungkin karena julukan monster yang sudah melekat erat, hingga tak ada seorang wanita pun yang berani mendekat apalagi statusnya yang kini tengah memiliki calon tunangan membuat para pegawai wanita semakin waspada hingga menjaga jarak dengannya.


" Bagaimana perencanaan untuk acara besok ?" tanya Papa Ardhi yang kini tengah terduduk di sofa ruangan Zio.


" Hanya tinggal hal-hal kecil."


" Selamat Zio. Dan terima kasih telah tumbuh dengan baik hingga menjadi kebanggaan keluarga." Ungkap Papa dengan meluapkan segala perasaannya. Kebanggaan jelas terpancar dalam rautnya kini, bisa menyaksikan kantor yang dulu terbengkalai bisa menjadi semegah ini dan semua berkat usaha Zio. Sungguh Zio memiliki jiwa pebisnis yang bahkan lebih besar dari dirinya.


Zio nampak terdiam sejenak, " Semua juga berkat Papa. Aku tak akan ada jika tanpa Papa bukan ?"


Papa tersenyum kecut, bagaimana jika kamu tahu bahwa ternyata Papa tidak sebaik itu Zio. Entah sampai kapan Papa menyimpan rahasia ini. Mungkin sampai mati.


" Pa ..." panggilnya ketika melihat Papa termenung dibalik senyum kecutnya.


Papa menghela napas, lalu mengangguk. " Bagaimana traumamu ?"


" Membaik berkat Mayra."


" Mayra ? calon istrimu ?"


Zio mengangguk, " Bawalah menemui Papa sesekali, Papa juga ingin mengenal calon menantu." jawab Papa kemudian.


Papa mengangguk, " Baiklah. Dan selamat bisa sembuh dari traumamu." Papa mulai berdiri dan melenggang dari ruangan Zio. Kesembuhan Zio ini merupakan sesuatu yang sama sekali tak terlintas dalam pikiran Papa namun juga bukanlah suatu hal mustahil. Ia hanya bisa bersyukur dalam hati bahwa putranya bisa menjalani kehidupan normal kini.


Zio melepas kepergian Papa dengan sorot penuh arti, jika itu dulu ia tak pernah berani mengusik segala kejadian pilu yang menimpa Mama. Tapi kini berbeda, ia sudah dewasa dan punya segalanya apalagi traumanya juga telah sembuh. Ia akan mengusut tuntas kasus Mama hingga tanpa sisa.beri pelajaran setimpal pada yang bersalah, agar Mama mendapat keadilan meski terlambat.


" Masuklah." panggil Zio pada Radit via telepon.


Cklekk


Radit nampak menundukkan kepala, " Anda perlu sesuatu Tuan ?"


" Ada tugas. Tapi sepertinya lebih baik membicarakannya setelah acara."


Apalagi ! astaga !


" Hanya tinggal sedikit persiapan. Saya akan mengeceknya sekarang."


Zio tampak mengibaskan tangan, " Tapi Tuan," potong Radit sebelum undur diri.


" Bolehkah saya pulang setelah pengecekan ? hari ini putri saya ulang tahun."

__ADS_1


Zio menatapnya, " Oh ya ? si hamster itu ? sudah sebesar apa dia sekarang ?"


Beraninya mengatai putri imutku hamster ! batin Radit dengan tangan kiri mengepal. Namun ia masih nampak memperlihatkan senyum ramah, " Dia sudah besar dan tubuh dengan baik Tuan."


" Baiklah, aku akan ikut." dengan mengambil jas lalu memakainya.


" Maaf Tuan, tapi ..."


" Kenapa tidak boleh ?"


Radit tersenyum simpul, tentu saja tidak dengan mengingat betapa benci putrinya pada sang Tuan karena selalu membuatnya sibuk bekerja. Tapi apa daya. Keinginan sang Tuan adalah segalanya. Hah ! astaga !


...----------------...


Mayra dan Tika terlihat sedang berselonjor karena amat lelah menghias segala keperluan pesta di rumah Aurora. Pesta yang mengusung tema 'frozen' dengan berbagai tatanan balon juga selendang berwarna biru dan putih yang mendominasi. Mereka tata dengan sedemikian rupa. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul satu tiga puluh, makanan yang dipesan dari tempat katering istri pak Anwar mulai berdatangan. Mereka tampak kembali sibuk menata berbagai hidangan juga bingkisan untuk para anak nantinya.


" Haduhh .. Makasih ya nak jadi merepotkan kalian." Nenek nampak tak enak hati melihat peluh bercucuran dari keduanya.


" Ahh .. Ga pa pa Bu, saya juga seneng kok kalo Aurora seneng."


Dih modus. Batin Mayra dengan tersenyum pada Nenek.


" Sebenarnya Aurora memang selalu protes ingin diadakan acara seperti teman-temannya, tapi, Papanya selalu sibuk dan Nenek juga tidak mengerti apa-apa. Jadi, ya sering terlewati begitu saja." ucap Nenek dengan memandangi Aurora yang berjalan ke sana kemari dengan riang gembira, berbahagia karena pesta ulang tahun berjalan sesuai impiannya.


" Ra .. Yuk kita mandi dulu ..." panggil Tika setelah melihat jam menunjukkan pukul dua lebih lima belas menit.


" Iyaa ... Mau mandi sama Tante ..." Tika nampak menoleh pada Nenek, " Biar mandi sama saya ya Bu ?" ia lalu menggendong Aurora.


" Iyaa ..." jawab Nenek dengan seulas senyuman.


" Tante, aku seneeeeng deh. Makasih ya Tante baik deh ... Muachh" dikecupnya pipi Tika dengan rekah bahagia.


" Iyaa sayang ..."


GPP hari ini dapet dari anaknya, besok-besok bapaknya. Hihii ... Batin Tika, dengan tersenyum geli.


" Dia gadis yang baik ya Nak Mayra ?"


Baik sih, tapi kalo lagi bocor uda beda lagi jalurnya Bu.


" Iyaa Bu ...." menampakkan senyum profesionalitasnya.


Assalamu'alaikum ....

__ADS_1


Seorang tamu nampak memasuki ruang tamu yang telah di ubah sedemikian rupa oleh Mayra dan Tika, dengan senyuman tulusnya.


__ADS_2