KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Hilang


__ADS_3

Mayra lalu keluar dari kamar Tika setelah memastikan ia sudah terpulas bahkan sampai mengorok, positif thinking saja mungkin ia terlalu lelah menghadapi lara hati. Ah, lara hati. Lalu apa kabar dengan hatinya yang terasa patah setiap saat karena selalu saja di hantam berbagai masalah dengan tanpa permisi ini. Menyedihkan.


Ia juga ingin segera merebahkan diri dan terpulas sampai siang menjelang nanti. Tak apa kan ia pengangguran. Ia lalu membuka pintu kamar, namun ada seorang pria berpakaian serba hitam dengan masker yang menutupi wajahnya membekap mulut Mayra. Hingga membuatnya pingsan, dengan segera ia menggendong tubuh Mayra melongok ke kanan juga kiri tak ada seorangpun di sekitar, aman. Mengingat waktu memang telah menunjukkan pukul satu lebih tiga puluh menit.


Tak sia-sia mereka membuntuti Mayra sedari hotel tadi, pasti boss akan sangat senang. Pikiran mereka sudah di penuhi berapa angka yang akan mengisi rekening mereka, sangat bahagia akhirnya bisa menyelesaikan tugas dengan baik.


***


" Nona telah dipindahkan ke paviliun selatan Tuan."


" Bagus." Aldo nampak menyeringai, sekarang tak akan ada lagi yang menghalangi jalannya untuk memiliki Mayra. Ia nampak mengulas senyum penuh kepuasan.


" Persiapkan acara besok pagi dengan tanpa kesalahan. Mengerti ?!" titahnya pada anak buahnya.


" Baik Tuan." si anak buah tampak menunduk hormat, lalu undur diri.


Lihatlah Ziovano. Bahkan semesta mendukung kebahagiaanku dengan Mayra. Dia milikku Zio ! dari awal dia adalah milikku !


***


Fajar mulai menyingsing, cahaya mentari nampak menyelinap menyilaukan mata seorang gadis.


" Rindi, ayo bangun sayang ..."


Rindi tampak mengulet sejenak, meregangkan otot lalu membuka mata, " Apa sih Ma ?"


" Eyy ... Kamu lupa ? tadi malem kan Mama udah bilang ... Ayo sekarang bangun, mandi dan sarapan."


" Aaa Rindi masih ngantuk Ma ..." Ia kembali merebahkan tubuh dalam kasur empuk nan hangatnya.


" Ayolah Nak ... Setidaknya coba bertemu dengannya sekali. Bangunlah. Mama sudah pesankan kue di Tiara Bakery kamu harus bergegas. Dia orang yang sangat sibuk Rin... Kamu harus mengambil kesempatan untuk datang ke rumahnya sebelum dia kembali ke kota asalnya. Ayolah ... Sayang ..." ucap Mama dengan menepuk pelan betis Rindi.


" Maaaa ..." Rindi terlihat merengek, sebenarnya ia sangat tak setuju dengan perjodohan ini. Kenapa ? karena pria yang akan di jodohkan dengannya sudah berumur 39 tahun. Are you kidding me !? sedang yang kadang seumuran saja banyak yang berpisah apalagi ini. Ia menyetujui permintaan Mama tak lebih hanya untuk menghormatinya, dan nanti akan mencoba bernegosiasi jika bisa.


Kamu pasti bisa Rindi. Bersemangat lah ! ucapnya dalam hati meski dengan raut malas dan langkah gontai menuju kamar mandi.

__ADS_1


***


Suara denting garpu dan piring terdengar seirama, sarapan keluarga yang sangat kaku juga dingin sangat terasa di meja makan ini.


Sang kepala keluarga yang memimpin sarapan tampak telah selesai, meletakkan garpu dan sendok di atas piring kosong yang sebelumnya terisi nasi goreng dan telur ceplok setengah matang.


" Jadi sejak kapan ?" tanyanya pada sang putri setelah mengusap mulut dengan tisu.


Shanon nampak tertegun sesaat, waktu seakan berhenti untuknya. Ia sangat cemas dengan reaksi sang Papi nantinya.


" Tak apa jawablah Shanon..." ucap Mami menenangkan.


" A..Akuu ..." Ia tampak semakin menunduk, benar-benar takut. Ia memang tak terlalu dekat dengan sang Papi, " Sejak kuliah Pi, dia sering mengirim hadiah. Tapi, dia terlihat biasa saja saat bertemu. Jadi, aku tak terlalu menganggapnya serius."


Ya, saat kuliah dulu Zio memang sering mengiriminya hadiah. Bahkan ia sendiri bingung apa maksud dari hadiah tersebut. Hingga mengambil kesimpulan mungkin karena ia adalah adik dari sahabat dekatnya. Ia lalu tak ambil pusing. Melanjutkan kuliah sebagai gadis cantik yang begitu mempesona. Ia tak punya waktu untuk meladeni sebuah ketidak pastian itu, hingga memilih mengabaikan dan bercengkerama bersama teman seangkatannya di manapun dengan penuh suka cita.


Shanon memang gadis yang sangat mempesona, mata biru yang di turunkan dari sang Papi juga garis wajah ayu dari sang Mami membuatnya menjadi idola kampus, dan tentu saja membuat hari-harinya di penuhi berbagai kesibukan.


" Sekarang, dekati dia lagi. Papi lihat ada sorot penuh arti dari matanya untukmu. Jangan menyiapkan kesempatan. Kamu mengerti kan ? " Ucap sang Papi, lalu beranjak akan berangkat ke kantor. Kondisi Rose jewelery memang sedang tidak stabil kini. Hingga melihat kedekatan putrinya dan sosok pebisnis tangguh seperti Zio tentu tak akan disiakan. Harus dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Inilah sifat sang Papi, licik dan angkuh.


Papi Jordan meliriknya sebal, " Dasar anak tidak berguna ! bahkan adikmu bisa menjadi sangat berguna. Tapi lihat dirimu ? setiap hari berganti wanita. Pemalas, bodoh. Aku sangat menyesal memiliki anak sepertimu. Setidaknya lakukan sesuatu yang berguna, membuatku sakit mata saja."


" Heh ..." Fabio menyeringai, " Seperti yang Papi lakukan berguna saja."


" Kau !!" Papi nampak naik pitam bahkan telah melayangkan tangan untuk menampar Fabio, namun segera terhenti oleh usapan lembut tangan Mami yang kini telah berada di belakangnya. " Sudah Pi, Fabio memang seperti itu. Papi harus bergegas sebelum terlambat. Hmm ?" ucap Mami menenangkan, seraya mengantar Papi hingga ke mobil.


" Dasar ! aku heran kenapa kak Zio mau berteman denganmu ! tidak berguna." Bahkan Shanonpun enggan berdekatan dengannya. Dia seperti seorang tak di anggap di rumah ini. Semua berawal dari pemaksaan Papi yang mengharuskannya berkuliah S2 di London hingga bertemu juga berteman dengan Zio. Namun, sebenarnya mimpinya adalah menjadi seorang chef. Ia sangat bahagia bisa menghidangkan masakan dan meracik resep baru. Wajah bahagia setiap orang yang memakan masakannya menjadi sesuatu yang cukup memuaskan bagi dirinya. Dan tentu saja, sang Papi melarangnya mentah-mentah. Dan tetap pada pendiriannya agar Fabio bisa melanjutkan bisnis keluarga. Bukan menjadi tukang masak tak berguna.


Dan sikap otoriter sang Papi, bukan membuatnya pandai dan mempelajari ilmu bisnis tapi malah membuatnya semakin stress dan melampiaskannya pada sembarang wanita, dan mendapat julukan playboy hingga saat ini. Kuliahnya terbengkalai bahkan saat Zio telah lulus ia masih saja tak lolos dalam pembuatan skripsi. Sesuatu yang dipaksakan memang tak selamanya berakhir baik dan bahagia.


***


Dewi tampak keheranan melihat pintu kamar Mayra yang terbuka namun tak ada orang di dalamnya. Lalu mengetuk pintu kamar Tika.


Tok... Tokk .. Tokk

__ADS_1


"Tik ? Mayra ada di dalem ya ?" tanyanya hati-hati, lalu kembali mengetuk pintu kamar Tika.


Tika yang mendengar mulai menggeliat, " Apa sih pagi-pagi udah berisik." desisnya kesal.


" Buka dulu dong !"


Ia segera berdiri dan membuka pintu. Lalu terkaget saat Dewi melongokkan kepala untuk mencari keberadaan Mayra. " Kok ga ada ? trus Mayra dimana ?"


" Lahh ? ya di kamarnya lah. Ee ... Tapi tadi malem emang Ama gua sih.." Ucap Tika menggaruk kepala, tak yakin.


Ia segera mendapat sebuah ide, segera meraih ponsel dalam meja rias mininya lalu menelepon Mayra.


Tuttt ... Tuutt... Tuut


Senyap, tak ada jawaban. Kekhawatiran mulai merambati hatinya. Mayra dimana ? adalah satu pertanyaan besar yang mengikat benaknya kini.


Ia kembali menelepon Mayra, Hingga akhirnya terangkat.


" Ya ampun May. Kemana sih ? tadi malem Masi Ama gua, main ilang udah kaya jalangkung. Sekarang Lo dimana ?"


' Apa maksud anda Nona ?'


Tika terhenyak, bukan suara Mayra yang menyaut di seberang sana. Tapi ...


' Halo ... Nona ? apa anda masih di sana ?'


" Ouhh... Ya. Mayra tidak ada di kost. apa sedang bersama anda ?" ia malah balik bertanya.


Zio tampak mengerutkan dahi, jika Mayra tak ada di kost, jangan-jangan ... Dengan segera ia mematikan ponsel Mayra, menghubungi Radit untuk mencari keberadaan Mayra sekarang juga.


Sial ! kenapa ponselnya juga harus tertinggal. Kamu dimana May ? pikirannya dikerubuti berbagai kecemasan entah kenapa. Ia hanya berharap semoga tak terjadi apapun pada Mayra. Ia memandang nyalang pada sekitar dengan mata yang mulai menggenang, rasa bersalah untuk Mayra terasa semakin membesar membuat hatinya bergejolak tak menentu. Seperti akan ada suatu hal besar yang akan terjadi. Tapi, entah apa.


~


Walopun lompat-lompat kek pinjal semoga klean ga bingung Yee ... Eheheheh

__ADS_1


__ADS_2