KEKASIH PALSU

KEKASIH PALSU
Bertemu Calon Mertua


__ADS_3

Ketiganya berjalan beriringan memasuki ruang rawat VVIP yang Opa tempati. Dengan hati riang gembira Mayra menghampiri Opa yang ternyata telah bersiap akan pulang.


" Loh Opa sudah mau pulang ? beneran udah sehat ?"


Opa tersenyum hangat, " Iya.. Semua berkat Mayra."


" Opa bisa aja.." dengan menampakkan rona merah jambunya. Membuat otak Zio traveling entah kemana karena Mayra tampak sangat menggemaskan di matanya, bahkan ia sampai memegangi mulutnya dengan tangan dan mengalihkan pandangan.


Hingga Pak To akhirnya selesai mengemas barang. Mayra nampak memberi kode untuk Zio agar segera meminta maaf. Sebenarnya ia nampak sangat enggan, namun merasa sedih juga karena kelakuan kekanakannya sampai membuat penyakit jantung Opa kambuh. Ia mulai duduk di samping kanan Opa.


" Aku minta maaf Opa. Semoga Opa lekas sembuh." dengan tatapan mengarah pada lantai, seperti seorang anak kecil yang memohon ampun karena menyesali perbuatannya. Namun sayangnya sama sekali tak di dukung dengan raut juga intonasi berbicara. Jadi sulit membedakan ia sedang meminta maaf atau menghitung ubin.


Opa yang sudah terbiasa dengan sikap Zio memakluminya, " Opa bahagia, jika kamu bahagia Zio." dengan menepuk pundak Zio. Zio nampak terhenyak beberapa saat, walaupun tak ada yang melihat karena ia menunduk.


" Kutunggu dimobil." Ucap Zio dengan beranjak setelah berhasil menetralkan rautnya. Ia segera melenggang dengan Radit di belakangnya.


Isshh... Dasar cucu ga ada akhlak !


Mayra nampak mengulas senyum hangat untuk Opa, " Ya udah Opa, Mayra pamit ya ? Opa sehat-sehat ya ? hati-hati di jalan. Mayra pamit dulu..." meraih tangan Opa untuk memberi salam. Di jawab anggukkan kepala juga senyum penuh kebanggan dari Opa. Akhirnya tujuannya berhasil. Sungguh Ia bahagia tak terkira.


Setelah beberapa jam perjalanan akhirnya sampailah mereka di Rumah Mayra, saksi bisu kehangatan dari sang keluarga cemara.


Zio nampak mulai melangkah mengikuti Mayra, kecil juga rumahnya pikirnya.


" Assalamu'alaikum ..."


" Walaikumsalam ..." Jawab Ibu dari arah dapur.


Mayra nampak melenggang menuju suara Ibu, meninggalkan Zio dan Radit yang menelisik sekeliling Rumah dengan berbagai pemandangan yang dirasa cukup Indah dalam rumah tak begitu mewah tersebut.


Mayra segera menyambar panci untuk merebus air, " Kamu jadi bawa calonmu May ?" tanya Ibu yang melihat gerakan gesit Mayra.

__ADS_1


" Iya ..."


Dengan segera Ibu melongok, ingin melihat rupa sang calon menantu.


" Ibu ngapain ?" tanya Mayra dengan terheran melihat kelakuan konyol Ibunya.


" Nggak keliatan May ... Ketutup bufet, aduhh kok jadi Ibu yang nervous gini ..." dengan menautkan kedua tangan yang terasa mendingin.


" Dihh kaya ABG aja Ibu ni nervous segala, kaya May dong biasa aja. O.. ya Bapak dimana Bu ?" dengan menuang air dari panci ke dalam cangkir.


" Lagi ngajar les, kan bentar lagi UN." dengan merapikan penampilan lalu berjalan mengiringi Mayra yang membawa nampan berisikan dua cangkir kopi.


Mereka berjalan beriringan, hingga akhirnya pandangan Ibu tertuju pada dua orang pria yang sedang duduk dengan manisnya dalam kursi tamu.


Suasana terasa begitu tegangnya, bahkan Ibu sedikit tergugup saat mendudukkan diri, " Jadi nak Zio yang mana ?" ucapnya membuka pembicaraan, dengan menatap bergantian kedua lelaki dihapannya yang terlihat sama tampannya. Kalau tidak ingat umur ingin rasanya Ibu menjerit.Hihi


Zio terkesiap seketika, " Saya."


" Silahkan diminum, terus yang sebelah itu siapa ?"


" Saya Radit Nyonya."


" Eehh ... Panggil Ibu aja nak, jangan gitu gak enak saya." Ibu dengan cepat menolak panggilan Radit.


" Baik." dengan menundukkan kepala.


Ibu nampak terkejut, hidup orang gedongan memang beda pikirnya.


Zio terlihat biasa saja dalam pandangan Mayra, sama sekali tak menampakkan raut ketakutan seperti orang lainnya saat pertama kali menemui calon mertua.


Dasarrr ... Harusnya digugupin dikit napa itu muka. Ibu ga bakalan curigakan ? eh, tapi malah bagus juga kalo nikahannya ga jadi gegara sifat manekinnya.Hihihi .. Kekeh Mayra dalam hati, yang langsung tertangkap mata elang Zio.

__ADS_1


Bisa-bisanya tertawa seperti itu dalam suasana ini. Astaga ! Batin Zio yang sebenarnya sedang sekuat tenaga tak menampakkan kegugupannya. Ia mencoba menganggap ini adalah meeting dengan client untuk memenangkan sebuah tender besar. Dengan pikiran seperti itu, raut manekinnya jadi terstabilkan kini.


Suara mesin motor Bapak nampak terdengar memasuki pelataran Rumah. Mayra berlari untuk menyambutnya.


" Bapak ..." dengan senyum secerah mentari pagi, membuat Bapak seketika menyunggingkan senyumnya seolah lupa dengan kemurkaannya pada anak gadis di hadapannya beberapa hari lalu.


" Kamu sudah sampai May ?"


Mayra mengangguk dengan binar bahagianya, merasa senang sekali Bapak sudah tak marah lagi. Ia menunduk dan menyalami Bapak. Hingga tiba-tiba ia terdorong oleh tubuh seseorang yang meraih tangan Bapak untuk menyalaminya seperti yang ia lakukan barusan.Zio dan Radit bergantian bersalaman dengan Bapak di teras rumah Mayra.


" Ayo, masuk ... Masuk." dengan menepuk pundak Radit lalu beriringan memasuki ruang tamu kembali.


Ibu dan Mayra segera ke dapur untuk menyiapakan minum dan juga cemilan tambahan, Radit nampak pergi karena mendapat sebuah telepon. Hingga tinggallah Zio dan Bapak di ruang tamu.


" Jadi kamu yang mau menikahi Mayra ?"


Sebuah pertanyaan yang sukses menampakkan kegugupan Zio bahkan tangannya terlihat bergetar kini, dengan pandangan menunduk ia mengambil nafas teratur memikirkan jawaban yang paling tepat jika pertanyaan selanjutnya mengarah pada alasannya.


" Iya ..." Jawabnya setelah menetralkan segala degupan yang ada.


" Bapak hanya ingin berpesan. Jaga Mayra seperti kamu menjaga diri kamu sendiri. Dia adalah anak yang manja," ingatannya menerawang pada saat Mayra merengek di belikan es krim lagi dan lagi hingga berhenti menangis di saat kecilnya dulu. " Kamu harus selalu bersabar dengan semua keinginannya. Melindungi dia dari segala hiruk pikuk kehidupan fana ini. Menjadi imam yang baik yang bisa menuntun keluarga menjadi sakinah, mawadah dan warahmah. Kamu sanggup ?"


" Sanggup." jawab Zio dengan segala kemantapan dalam hatinya.


" Kamu adalah pilihan Mayra pada akhirnya, jangan kecewakan dia jika tak ingin Bapak merasa kecewa telah menyetujui hubungan kalian."


Zio nampak terdiam sejenak, benarkah setulus ini ? bahkan tak ada pertanyaan tentang alasannya, sungguh ketulusan Mayra tak didapat secara cuma-cuma pikirnya.


Bapak menghembuskan nafasnya panjang, membuat Zio langsung menatapnya. Dengan segera Bapak menepuk bahunya " Semoga kalian bisa bahagia." menampilkan rekah bahagia dengan airmata yang nampak telah menggenang membentuk kaca dalam mata Bapak kini. Membuat hati Zio terasa mencelos seketika.


Mampukah ia menghianati kepercayaan ini, tanggungjawab yang dirasa begitu berat ketimbang saat Opa memberinya jabatan Wakil CEO. Entah kenapa ada sebagian hati yang bersorak sorai juga meragu dengan bersamaan di salah satu sudut lainnya.

__ADS_1


》》》》


__ADS_2