
' Kau dimana Radit ?' terdengar suara dari seberang telepon dari earphone yang berada di telinga kiri Radit.
" Saya sedang menjemput putri saya tuan."
' Si gadis cilik itu, siapa namanya ?'
" AURORA tuan ..."
' Ahh ... Yaa, dia baik saja kan ? jika sudah selesai kemarilah banyak berkas yang harus di periksa.'
" Iya tuan, Baik tuan."
Tutt.... Tutt ... Tutt
Aurora nampak merungut, baru saja sang Papa ada waktu menjemputnya tapi sudah ada telepon, Gadis cilik itu sampai hafal sekali setelah mengangkat telfon pasti sang Papa akan pergi dengan alasan sibuknya.
" Sayaang ... Ko mukanya di tekuk gitu, kenapa ?"
" Papa mau sibuk lagi kan ?! Aku mo main aja sama tante Tika ! Papa jahat !"
Ooh ... Mungkin gadis tadi.
" Papa kan cari uang buat beli susu kamu sayang ... Nanti kalo Papa ga kerja kamu ga minum susu gimana ?"
Makin bersungut saja Aurora, " Makanya Papa cali Mama balu buat aku, temen-temen aku punya Mama semua, aku kesel di ledekin meleka teluss !!" ucapnya berteriak dengan menahan gumpalan kemarahan dalam dada.
" Kan Rara punya Nenek sayang."
" Nenek itu beda Papa ! Papa ga ngelti-ngelti sih !!"
Radit nampak menghela nafasnya begitu dalam, mencoba merangkai kata dalam kepalanya untuk menjelaskan kepada sang putri agar tak semakin bersungut.
Radit memahami bahwa putri kecilnya masih sangat membutuhkan begitu banyak kasih sayang, sedang ia harus selalu sibuk dengan tuan macam singa itu, hal ini sungguh membuatnya frustasi. Sekalipun ada Neneknya Aurora masih saja ingin memiliki Mama seperti teman lainnya. Radit bukan tak bisa mencari istri namun, Ia masih memendam rasa cinta yang begitu dalamnya untuk Mama Aurora yang mungkin sudah berbahagia di atas sana, hingga sama sekali tak melirik wanita apalagi berfikir untuk merajut cinta baru, sama sekali tak terlintas di kepalanya.
Namun kerewelan sang Putri yang tak pernah melihat sang Mama sedari lahirnya semakin menjadi saja kini, membuatnya gamang harus mengambil sikap yang seperti apa pada malaikat kecilnya ini.
***
Mayra telah menceritakan kejadian kencan dadakannya bersama Zio kemarin, hingga berakhir dengan ke pingsanan Zio di area bermain.
" Ko bisa si May ?" tanya Rindi dengan menyedot ice cappucino miliknya.
__ADS_1
Mayra hanya mengedikkan bahu dan mencebikkan bibirnya. Membuat kening Rindi semakin berkerut mencoba menelaah situasi. Namun entah kenapa ia tak bisa menyimpulkan apapun.
" Ehh.. Tapi boleh juga pasangan pupuk ZA. Kkkkk"
" Iii lo apaan si ..." dengan mencubit asal pinggang Rindi.
" Aaww... Hhhh" Masih dengan terkekehnya.
Mayra yang telah selesai makanpun segera mengambil ponsel yang berada di kantung blezernya, lalu dengan segera menelfon Zio.
' Haloo ?'
" Zioo kamu gimana, uda baikan ? sekarang lagi dimana ? uda makan ? jangan lupa minum obatnya loh !"
" Dih.. Katanya bukan siapa-siapa tapi perhatian gitu. Huh..." gumam Rindi yang mungkin tak terdengar oleh Mayra.
' Sepertinya aku tidak baik-baik saja karena di tinggal seseorang di pagi buta.'
" Kan aku harus kerja Zioo. Tapi kamu udah gpp kan ?"
'Hmm.'
Tut... Tutt... Tut
Gadis aneh ! Batin Zio dengan menarik sudut bibirnya ke atas.
Tok .. Tok ..Tokkk
Suara ketukan pintu mengagetkan Zio, hingga menjatuhkan ponsel yang di pegangnya sembari tersenyum tadi, ia mulai menetralkan rautnya setelah mengambil ponsel.
" Masuk "
Kepala HRD nampaknya, " Bapak Wakil ada berkas yang harus di tanda tangani." ucapnya lalu menyodorkan berkas ke meja Zio.
" Pak ada hal yang i.... " belum sampai ia menyelesaikan ucapannya Zio sudah mengangkat tangan pertanda ia harus diam.
" Saya tidak menerima pembahasan pribadi di kantor , kamu mengerti ?" titah Zio dengan dinginnya bahkan sorot matanya sudah seperti akan memakan mangsa, membuat Kepala HRD melenggang secepatnya.
Cihh ! gara-gara tak ada Radit, semua orang seenaknya saja masuk ruanganku, menawarkan hal gila yang tak jelas. Sialan !
Ketika tak ada Radit memang banyak para petinggi di kantornya sengaja mendatanginya untuk berbincang hangat, menawarkan anak bahkan keponakan mereka untuk di peristri Zio.
__ADS_1
Karena iming-iming sang Opa yang akan memberinya jabatan CEO ketika menikah, sudah menjadi rahasia umum di kalangan atas hingga kesempatan sekecil apapun untuk bertemu Zio mereka gunakan dengan sebaik-baiknya. Walaupun di tanggapi acuh oleh Zio mereka tetap tak jengah jua.
***
Zio melangkah memasuki Rumah kebesaran keluarga WIJAYA, dengan Radit yang berada satu langkah di belakangnya.
Terlihat Opa sedang memberi makan pada ikan-ikan di Aquarium yang nampak begitu besarnya. Melihat langkah Zio, Opa langsung menghampirinya dan menepuk pundaknya hangat, " Kamu sudah pulang Zio, ayo kita makan malam, Opa sudah menunggumu dari tadi." dengan menggiring Zio menuju ruang makan.
Nampak begitu banyak makanan yang menggugah selera, Entah kenapa malah mengingatkan Zio pada Mayra saat makan dengan rakusnya, membuatnya menarik sudut bibir melekuk senyum indahnya.
Opa yang melihatnyapun keheranan sendiri, cucunya yang seperti singa bisa melekuk senyum seindah itu, pasti ada sesuatu pikirnya. Dengan wajah penuh kelegaannya. Mungkin rencananya memasang umpan jabatan CEO berhasil membuat sang cucu memikirkan cinta dan siap memulai kehidupan rumah tangga yang bahagia. Sungguh membahagiakan hati pria yang telah lewat usia paruh baya tersebut.
Sesi makan pun selesai, nampak Zio akan beranjak namun terhenti karena pertanyaan Opa," Zio, kata Dokter Heris kemarin traumamu kambuh ?"
Zio nampak terdiam lalu menghela nafasnya kasar, " Yaa ..."
" Apa kamu sudah baikan ? jangan terlalu memaksakan diri Zio ..." Ucap Opa lalu menghela nafas dalam.
" Aku sudah tak apa, Opa tak perlu khawatir." lalu mengambil gelas berisi air putih dan meminumnya hingga habis. Pura-pura tak apa butuh kekuatan.
Opa mengangguk, lalu berfikir untuk tak menyiakan kesempatan. " Ya sudah, jika kamu dalam kondisi baik datanglah ke pesta Ulang tahun QR Group minggu ini. Opa malas sekali ... Fyuhhh . . ." ucap Opa lalu melenggang meninggalkan Zio yang masih terduduk di ruang makan.
Astaga ! benar-benar !
Radit yang baru menyelesaikan makannyapun tak kuasa menahan tawanya hingga menutup mulut dengan tangan agar tak terlihat oleh sang tuan.
Sungguh , memang hanya Tuan Besar yang bisa membuat tuan singa tak berkutik. Batin Radit masih dengan menahan tawanya.
" Kau fikir jika di tutupi aku tak akan tahu ?!"
" Maaf tuan."
" Sudahlah, kau boleh pulang."
" Tapi, kata anda kita harus membahas tentang proyek baru tuan."
" Kau tidak dengar ucapan tuan besar ? Sudah pulanglah gadis cilikmu pasti sudah menunggu kan."
" Ia sudah menggapai alam mimpi tuan."
Zio hanya meliriknya dengan tajamnya, Raditpun segera melenggang sebelum benar-benar di mangsa.
__ADS_1