
Seluruh keluarga Mayra nampak sibuk mempersiapkan hari pertunangan yang begitu di damba Ibu, gelak tawa sanak saudara terdengar menggema mengiringi aktivitas memasak berbagai menu hidangan juga menata ruangan.
Mayra yang sedang dirias oleh Ibu sendiri terlihat merungut tak suka, hah... Kenapa ia harus sampai dititik ini bukan dengan lelaki yang dicintai, bukan. Lelaki yang tidak mencintainya lebih tepatnya.
Bahkan Ibu sampai berulang kali memaksanya menarik ujung bibir membentuk senyum, namun selalu dilakukan dengan setengah hati. Haruskah sepasrah ini menerima takdir ? kini ia dapat merasakan pilunya kisah ku menangis di serial TV kesukaan Ibunya. Semenyedihkan hidupnya inilah ternyata. Huhuhu ...
" May .. Ayo jangan merengut aja, senyum gini." dengan menampakkan senyumnya pada Mayra, " Ayo dong .. Anak Ibu cakep-cakep masa jadi kaya otan di acara tunangan sehh ?"
" Ihh... Ibu mah !"
" Nanti," menepuk pundak Mayra," Kalo sudah dijalani gak akan terasa May. Pasti hanya bahagia yang akan selalu tersisa. Percaya sama Ibu. Zio adalah jodoh yang tepat buat kamu." dengan menatap penuh keyakinan pada Mayra.
Ibu ga tau aja, Zio tuh jodoh orang Buk. Ya kali musti jagain jodoh orang yang statusnya calon suami sii ? ga keren amat. Uhh !
" Ini udah May .. Kamu tinggal ganti baju, Ibu mau cek calon mantu udah hadir belom nih." lalu beranjak meninggalkan kamar Khadija.
" Ciiiee ... Ka May sold out !!! CIEEE !" si Adik yang biasa pendiampun sampai meledeki Mayra tiada henti, mengetahui bahwa si Kakak ternyata setengah hati melakukan pertunangan ini.
" Diem lu ! sono lu aja dah yang nikah jah ! dihh males banget !!" dengan menghentakkan kaki menendang lantai tak berdosa.
" Helloo .... Bisa di dakwa Ka Seto loh, nikahin anak di bawah umur !! Hahahaa .... Cuciaan deh lu ?!!" masih terkekeh dengan asyiknya.
" DASARR ... Kenapa sifat nyebelin tuan manekin bisa nular kesemua orang sih !?"
" Udah Kak nikmatin aja, kan enak dapet calon suami ganteng plus tajir pula dimana lagi nemu gituan ye kan ??"
" Sana ahh brisik banget si bocil !" dengan mendorong Khadija keluar lalu dengan segera menutup pintu. Terdengar beberapa protes bahkan gedoran pintu dari luar namun Mayra sengaja mengabaikan dan segera mengganti baju karena hari telah petang kini.
Seharusnya memang Zio sudah sampai, namun belum ada tanda-tanda kedatangannya ketika Mayra melongok jendela.
****
Sopir nampak melirik tajam spion kanan dan kiri bergantian memastikan bahwa kini mereka benar-benar sedang diikuti entah oleh siapa. Radit yang amat pekapun melihat gerak-gariknya lalu memastikan sendiri dengan menatap spion.
__ADS_1
" Kita sedang diikuti Tuan." Seketika Sopir merasa terhenyak, takut karena tak segera melaporkan keganjalan yang difikirnya hal biasa.
Dengan segera Zio menatap tajam spion dan mendapati sebuah mobil jeep hitam memang sedang mengikuti arah mobil sport putih yang kini ditumpanginya.
" Siapa mereka ?" terdengar datar namun menahan sulutan ribuan emosi didalamnya.
" Akan segera saya cari tahu." lalu mengambil ponsel dalam saku jasnya. Terlihat sangat serius bahkan ia sampai harus melayangkan ancaman beberapa kali.
" Lebih baik kita memutar, jangan menuju Rumah Mayra." Titah Zio.
" Baik Tuan." Mobil hanya mengitari area kota, pengintai yang menyadari segera melajukan mobil untuk mencegah laju mobil Zio bahkan menangkap Zio jika bisa sesuai arahan sang Boss besar.
Hingga terjadilah balapan sengit antara kedua mobil tersebut, kemampuan mereka terlihat seimbang. Membuat Zio bertanya-tanya sebenarnya apa yang mereka inginkan. Karena selama ini jika itu saingan bisnis tak akan pernah menyerang secara terang-terangan seperti ini. Pasti ada orang lain, tapi siapa. Hingga akhirnya pikirannya tertuju pada Aldo, hanya dia satu-satunya orang paling berpotensi menggagalkan pertunangannya dengan Mayra. Tapi, seberani itukah si anak ingusan itu padanya ? tidakkah dia tahu apa akibat yang akan didapatnya nanti ? Bedebah !!
" Berhenti."
" Tapi Tuan ?!" Radit nampak tak setuju, ini bisa berbahaya bahkan sangat.
Namun Sopir yang masih sayang dengan pekerjaannya segera menghentikan laju mobil, hingga mobil jeep di belakang mereka kini turut berhenti lalu menampakan sekitar tujuh preman yang keluar dari dalamnya.
Dugh... Daghh.... Brukk
Dengan segera ia melayangkan kaki kanannya hingga mampu melibas tiga preman hingga tersungkur, keahlian beladiri yang diajarkan Opa sedari dini ternyata memang sangatlah berguna.
Tak berhenti ia segera meninju beberapa preman yang maju untuk membalasnya. Dengan gesitnya ia dan Radit menghalau serangan hingga melayangkan tinju juga tendangan maut yang membuat ketujuh preman tersungkur.
" Hehh !!! Boss besar tak akan membiarkan pertunanganmu !! Lihat saja nanti. Bodoh !!! Haha." seringai salah satu preman yang mampu terduduk meski menahan nyeri diperut akibat tendangan Zio.
" Siall !!" pekik Zio lalu menghantam kepala si preman dengan kaki kirinya.
Daghh !!
" Sebaiknya anda segera pergi dan bawa Nona Mayra ke tempat yang aman Tuan. Para pengawal akan datang sebentar lagi." ucapnya masih dengan waspada dengan posisi saling berpunggungan dengan Zio.
__ADS_1
Zio dengan segera berlari ke arah mobil, ia hanya memikirkan bagaimana cara menyelamatkan Mayra. Ia masih berfikir keras bahkan saat malajukan mobil dengan kecepatan penuh karena berada diantara hutan belantara yang begitu sepi senyap.
Hingga sampailah ia di Rumah Mayra yang begitu banyak terdapat orang. Hah.. Bagaimana ia mau menyelamatkan Mayra jika masih harus berkutat dengan trauma pada wanitanya ini. Ia menghembuskan nafas kasar setelah melihat berbondong orang dengan suara riuhnya telah memenuhi Rumah mungil sang keluarga cemara.
Hingga sepasang mata elangnya menangkap sosok Fahmi yang bermain bersama teman sebayanya, dengan segera ia turun dan menghampirinya.
" Antar aku menemui kakakmu." suara rendahnya seketika membuat bulukuduk Fahmi merinding, " Tinggal masuk, itu juga sudah di tunggu Ibu dan Tante di teras." tak peduli, kembali berlari mengejar gundu yang menggelinding menjauhinya.
" Ini darurat. Dimana keberadaan kakakmu ?"
Fahmi nampak menatapnya penuh curiga, " Come on !" pekik Zio akhirnya, hingga membuat Fahmi terperanjat dan menunjuk sebuah jendela kamar Khadija.
" Thanks bro !" menepuk pundak Fahmi dan segera berlari menuju jendela yang tadi di tunjuk Fahmi.
Tok ... Tok ..Tokk
Ketukan pada jendela kaca yang terdengar amat tak sabar, membuat Mayra sedikit merasa semakin gugup. Sudah sedari tadi perasaannya tak menentu seperti mengganjal di hati, ingin menangis, sedih hah entah semua rasa terasa mengaduk hatinya kini. Ia lalu berdiri dan membuka hordeng, " Ziio !!" pekiknya dengan membelalakkan mata.
" Ssstt," Zio mengisyaratkan untuk diam, " Bukaa, " lalu menyuruhnya agar segera membuka jendela. Mayra segera membukanya, " Apa-apaan sih Ziio ?! emang kamu tuh maling apa ?! sana lewat pintu !" seru Mayra yang melihat Zio masuk melewati jendela.
" Tak ada waktu." Lalu menenggak segelas penuh air di meja rias.
" Kamu kenapa sih kaya dikejar setan aja." mrlihat nafas Zio yang memburu tak beraturan dengan penampilan acak-acakannya." Itu kenapa lagi bajunya ? kamu abis berantem ?" Zio tak menjawab dan segera mengarah pada jendela dengan menggandeng Mayra.
" Ehhh ... Mo apa ?!" Tangannya menahan Zio yang telah melompati jendela," Ayo ! kita harus pergi." lalu mengangkat tubuh Mayra agar melewati jendela.
" Kemana ? acaranya gimana ? sebenernya ada apa sih Zio ?!" pertanyaan merentet Mayra sama sekali tak di gubris Zio, karena sibuk berlari dengan menggandeng Mayra menuju mobil sportnya yang terparkir di balik pagar hingga tak terlihat oleh Ibu dan yang lainnya.
》》》 》》
Holla Readers kesayangan author 🤗🤗
Ada yang kangenkah ? 🤭
__ADS_1
Makasih loh udah mau nungguin Kekasih Palsu up Hehe...
Jangan lupa jejak sama dukungannya yess 😘