
Keesokan harinya, Mayra sudah disibukkan dengan berbagai rangkaian perawatan sedari habis sarapan.
Dari hair Spa, fecial, menicure&pedicure, bahkan pijat relaksasi dan berakhir berendam di bath-up dengan air susu hangat dan taburan mawar yang harumnya kian menyelinap kalbu. Sangat damai dan menenangkan hingga membuat Mayra terpulas di balik gundukan busa halus nan lembut yang kini memenuhi seluruh tubuhnya.
Hingga suara dering dalam ponselnya, bersenandung riang gembira. Mayra terlonjak kaget seketika, mengedipkan mata dengan kecepatan sepersekian detik lalu segera meraih ponsel dan mengusap tombol biru di sana.
Ia kembali terlonjak ketika menyadari panggilan tersebut adalah sebuah Vidio call dari Zio, yang kini telah mengulas senyum mautnya melihat pemandangan di hadapannya. Tentu saja, Mayra dengan bahu putih nan mulusnya terpampang nyata dihadapannya kini.
Dengan segera Mayra membuang ponsel asal.
Braakkk
' Hei !!' pekik Zio yang tak melihat pemandangan kesukaannya lagi. Hanya layar gelap gulita yang kini nampak di ponselnya.
" Dasar mesum ! aku lagi mandi ! nanti aja telfonnya kenapa sih ?!" pekik Mayra pada si handphone yang tergeletak di lantai, namun masih menyambung pada si penelepon di seberang. Suara Mayra bahkan sampai menggema memenuhi toilet ala sultan di apartemen Zio.
' Mana kutahu kamu sedang apa. Aku menelfon karena ingin bertanya.' sangkalnya dengan seringai licik.
" Ya kan sekarang udah tau lagi mandi. Udah cepetan matiin !" suaranya kembali memburu tak sabar.
' Matikan saja sendiri.'
" Hehh !! gila ya !! dasar manekin konslett !!!" matikan sendiri katanya, yang benar saja. Itukan artinya ... Benar-benar gesrek !!
" Mbaaa .... Hello ?? ada orang ga ya di luar ?"
' Memangnya kenapa ? aku juga tidak bisa melihatmu.'
__ADS_1
" Mengganggu tau gak !? mengganggu sekali !"
Terdengar suara tawa nan renyah di seberang telepon, ' Baru kali ini aku tahu istilah pengganggu teriak pengganggu itu. Ternyata kamu. Hahaha..'
" Apa ?!" kekesalannya mulai memuncak merambat memenuhi ubun-ubun.
Suara tawa semakin renyah saja terdengar. Tak lama seorang karyawan yang tadi memijatnya membuka pintu.
" Mba tolong matiin dong itu HPnya !"
Si karyawan nampak linglung kebingungan mencari si ponsel yang sebenarnya ada di belakang kakinya.
" Itu ... Itu .. Di belakangmu !" pekik Mayra sambil menunjuk-nunjuk ponselnya.
Karyawan perempuan tersebut akhirnya berhasil menemukannya lalu memberikan pada Mayra. Secepat kilat Mayra menyambar ponsel tersebut, namun panggilan telah di akhiri di seberang sana ternyata. Membuatnya sedikit menghembuskan nafas lega.
***
Acara peringatan berdirinya RD Group sudah di mulai sedari pagi, Zio nampak disibukkan dengan berbagai susunan acara yang berpuncak nanti malam. Yang sekaligus menjadi acara pertunangannya. Hari ini Sungguh hari yang sangat membahagiakan baginya. Ia bahkan tak lupa menghubungi Mayra untuk sekedar mendengar suara nyaringnya, namun malah semakin membuatnya berbunga dengan semua tingkah konyol Mayra. Benar-benar kehidupan yang di penuhi sinar mentari yang di rasanya kini. Sangat berbanding terbalik dengan hidupnya dulu yang hampa dan gelap. Sungguh ia tak ingin merasakannya kembali.
Matahari sudah mulai menggelincir memasuki peraduan malam nan syahdu. Kesibukan mulai semakin terasa di ballroom Wijaya Hotel kini. Tamu-tamu nampak berdatangan dengan balutan gaun nan indahnya. Juga setelan jas menawan bagi para lelaki tentunya. Acara yang di buat se-spektakuler mungkin untuk memperlihat seberapa besar eksistensi yang dimiliki perusahaan sebesar RD Group tersebut. Begitu membuat rasa penasaran publik mencuat. Tak ayal, banyak wartawan di luar hotel yang saling berhimpit juga berdesakan demi bisa melihat siapa saja tamu spektakuler yang menghadiri acara nan berkelas ini.
Suasana semakin terasa heboh, dengan kedatangan rombongan Zio. Tak seperti biasanya, kali ini Zio nampak menyapa para wartawan. Tak mengeluarkan raut monster yang selama ini melekat dalam dirinya. Para wartawan nampak terkejut beberapa saat, namun mereka segera memberondong berbagai pertanyaan meski tak dijawab karena Zio telah memasuki Lobby hotel dengan penjagaan super ketatnya.
Namun itu sama sekali tak menjadi masalah, karena akhirnya mereka bisa menangkap kamera sosok monster mengerikan dalam bidang bisnis tersebut kini. Mereka menyebutnya, Monster Kutub Utara Go public !! sungguh ini akan menjadi berita yang menggemparkan.
***
__ADS_1
Suasana tenang nan indah dengan paduan lampu yang menggantung nan anggun di bagian atas ballroom. Membuat para hadirin terlena sesaat dengan alunan lagu yang seolah membawa mereka melayang menikmati keindahan setiap hiasan yang kini tersaji. Sungguh kualitas bintang lima yang tak dapat diragukan. Sangat mewakili seberapa menjulangnya perusahaan RD Group tersebut.
Hingga acara ramah tamah di mulai dari Opa lalu Papa dan Zio pada akhirnya. Menyongsong hari baru yang bahagia adalah tema yang di ambil untuk tahun ini. Segala harapan kesuksesan tak lupa tersemat. Tak lupa mengucap syukur dengan segala pencapaian yang telah di dapatkan. Juga ucapan terimakasih untuk usaha para pegawai dengan segala loyalitasnya. Tepuk tangan riuh mengakhiri sesi ramah tamah tersebut.
Hingga lantunan lagu selamat ulang tahun mulai sayup-sayup terdengar, dan memperlihatkan seorang gadis dan sebuah kereta dorong makanan di belakangnya mulai mendekat ke arah Zio berada. Para hadirin nampak terpana dan membuka jalan untuk si gadis.
Hingga akhirnya ia sampai, mengulas senyum terindahnya pada Zio lalu membuka penutup di kereta dorong yang berisi sebuah kue ulang tahun dengan berbagai bentuk hiasan otomotif. Persis seperti selera Zio. Namun, terasa mengganjal dalam hatinya kini. Jika yang membawa Mayra, tentu tak akan ada rasa mengganjal sedikitpun itu.
Lantunan lagu selamat ulang tahun nampak khidmat terdengar, tak heboh tak meriah. Hanya suara elegan para hadirin yang menggema begitu tenangnya.
Hingga potongan kue pertama yang juga di siapkan untuk Shanon, sebagai penghormatan. Tepuk tangan meriah terdengar begitu riuhnya kini. Shanon pun memberikan sebuah kotak hadiah pada Zio.
" Ini untukmu Kak. Selamat Ulang Tahun. Kakak memang selalu menjadi yang terbaik, sampai kapanpun." siapa yang tak mengagumi seorang Ziovano, tapi sebenarnya ia cukup sadar diri bahwa tidak sepantas itu. Namun Kalista, begitu gencarnya memberi semangat bahkan menciptakan kesempatan untuknya. Tentu tak akan disiakan.
Zio nampak menerimanya, tepuk tangan kembali terdengar.
" Bukalah Kak ..."
Zio nampak memandangnya, sungguh gadis bermata biru muda yang sangat menakjubkan. Bahkan garis wajahnya begitu terlihat melemahkan dan mendebarkan jiwa pastinya. Dia memang wanita yang dulu sempat mencuri hatinya. Tapi kenapa sekarang terasa biasa saja, bahkan hatinya selalu menanyakan dimana Mayra. Ada apa dengannya sebenarnya.
Zio nampak membuka kotak hadiah pemberian Shanon, " Pin ?"
Shanon tampak mengangguk riang, " Iyaa ... Bagus gak ? aku sendiri yang desain Kak. Sini aku pasangin." Lalu tangannya meraih pin dasi tersebut dan menyematkan pada dasi biru muda yang kini dipakai Zio.
" Wow ... Dia berada di tempat yang tepat." lalu menepuk pelan dada Zio setelah mematut keberadaan pin dasi darinya.
Bisik-bisik para hadirin yang menganggap Shanon sebagai calon istri Zio pun semakin membising saja.
__ADS_1
Membuat hati seorang wanita yang baru tiba dengan balutan dress biru mudanya terhenyak seketika dengan pemandangan dihadapannya. Hatinya terasa ditimpa puluhan ton batu, begitu berat hingga air mata tak terasa telah lolos begitu saja memenuhi raut piasnya kini.