
" May !! Stop !" Aldo menampakkan kelima jari tangan menghadap wajah Mayra.
" Kenapa ? katanya kamu masih cinta sama aku kan ? tapi dimana kamu saat aku di begal preman ? dimana kamu waktu aku nyaris dilecehkan oleh pak tua Bangka ?! dimana kamu saat aku kehilangan pekerjaan ? Dimana kamu saat aku dalam keadaan terpuruk ? DIMANA ?!" Mayra terlihat semakin tak bisa menahan emosi. " Bersama Kalistakan ? bermesraan dengannya. Iya kan ?" suaranya terdengar melemah.
Aldo terhenyak, benarkah Mayra mengalami semua hal buruk itu seorang diri, bukan lebih tepatnya bersama Ziovano disisinya. Tapi semudah itukah dia melupakan kebersamaan indah selama satu tahun bersamanya hanya dengan lima bulan saja ? meski demikian, ia tak dapat berhenti merutuki kebodohannya yang tak bisa berada disisi Mayra saat ia terpuruk.
Aku memang jahat May. Tapi tak bisakah kamu memaafkan ku untuk semuanya. Kita mulai membuka lembaran baru dan lupakan masa lalu.
" Dan yang berada di sisiku adalah Zio. Jadi salahkah aku mencintainya ? dia yang selalu ada saat keterpurukan ku. Dia yang selalu berkorban untuk melindungiku. Dia yang selalu menyiapkan bahu untuk tempatku bersandar. Dia..."
" May ! kamu tahu aku hanya memanfaatkan Kalista ! aku hanya memanfaatkan koneksi perusahaan Papanya agar aku semakin mudah menemukan keluargaku. Dan sekarang kamu lihat aku menemukannya May. Dan aku kembali padamu dengan cinta yang masih utuh. Tapi apa ? semudah itu kamu bilang mencintai pria lain ?"
" Al ! Cinta nggak sebercanda itu ! sampai kamu bisa memanfaatkan Kalista, bahkan kembali padaku setelah semua ambisi kamu tercapai. Kamu ambisius Al ! ? semua itu bukan sebuah pembuktian ! tapi bentuk keegoisan !" Mayra terhenti sejenak, mengusap sendiri air mata. Lalu kembali berbicara, " kemana Aldo yang dulu kukenal ? dia sangat manis dan juga baik hati. Bukan pria ambisius dan angkuh seperti yang ada di hadapanku saat ini. Aku udah gak kenal lagi sama kamu Al."
Aldo tampak terdiam, masih dengan menatap Mayra intens.
" Kamu pikir dunia ini berputar hanya untuk membuatmu bahagia ? Enggak Al ! gak bisa semua orang hanya diam dan menuruti segala inginmu ! semua orang punya hati dan pikiran bergerak yang tak akan pernah bisa kau atur seenak jidatmu !!" serunya penuh amarah, hingga napasnya terdengar begitu memburu setelahnya.
Dia berubah. Sorot matanya. Setiap kata yang diucapnya. Bahkan pola pikirnya. Kamu yang berubah Mayra. Sampai aku hampir tak bisa mengenalimu. Tapi, tatapan beranimu itu semakin membuatku ingin memilikimu selamanya.
" Terserahmu saja. Yang jelas kita akan segera menikah. Persiapkan dirimu dengan baik untuk menjadi istriku." ucapnya dengan berbalik, lalu mengambil langkah keluar dari kamar yang disediakan untuk Mayra. Dan mengunci kamar tersebut kembali setelahnya.
Hahh ? apa katanya ?!
" Aldo kita gak bisa nikah !" seru Mayra dengan memburu langkah Aldo.
" Al !!! Dengerin aku kita gak bisa ... Semua udah selesai. Kisah kita, cinta diantara kita semua udah berakhir saat kamu pergi ninggalin aku dan memilih Kalista. Kita udah beda Al ! kita punya jalan masing-masing sekarang ! kamu gak bisa egois seperti ini ! aku gak mau ! aku gak bisa ! dan gak akan pernah mau nikah sama kamu !!!!"
Dugg !! Duggg !!! duugg !!!
" All !!! kamu denger aku kan ? batalin semuanya Al !! aku gak bisa !!! ALDOOO !!!!!" Mayra berteriak dengan menggedor pintu, berusaha agar Aldo mendengarnya. Namun sama sekali tak menerima tanggapan, hanya sepi senyap. Hingga tubuhnya merosot menggapai lantai, terduduk meringkuk dengan berbagai rasa sedih, cemas, kecewa bahkan masih sempat merindukan Zio. Benar-benar gila !
Astaga ! hidup macam apa yang sebenarnya sedang kujalani ini ? kenapa sangat sesak dan selalu berakhir tangis. Tidakkah ada bahagia yang tersisa untukku. Sungguh aku lelah. Lelah mencintai dia seorang diri dan kini masih harus terjebak obsesi mantan kekasih. Bagaimana ? aku harus bagaimana ?
__ADS_1
***
Suasana tegang amat terasa, hawa dingin dalam ruangan luas ini juga semakin menusuk tulang rusuk Rindi yang tengah terduduk menunggu sang empu pemilik rumah.
Hingga suara tapak kaki tenang mulai terdengar mendekat, seketika ia berdiri menunduk untuk memberi salam. Lalu memberikan sebuah paperbag berwarna putih tulang dan sebuah logo berwarna coklat di tengahnya. Namun ia tak menerima, mengibaskan tangan pada pelayan hingga pelayan bergerak menerima paper bag Rindi.
Rindi tampak tertegun sesaat, ia tahu bahwa ini sebuah sikap pengacuhan. Namun ia harus tetap bersabar, karena memang ia yang membutuhkan.
" Ada apa ?" tanya laki-laki tersebut yang kini telah terduduk di sofa seberang Rindi dengan menyilang kan kaki.
Rindi tampak terkesiap, lalu kembali duduk seanggun mungkin.
" Saya ... hanya ingin berkunjung."
" To the point saja. Karena aku bukan orang yang sesantai itu."
Rindi terlihat menelan Saliva dengan penuh kehati-hatian. Sungguh jantungnya seperti akan melompat saja. Tentu saja, laki-laki yang katanya berumur 39 tahun ini ternyata masih terlihat begitu bugar. Dengan tampilan super maskulin hingga ke parfumnya. Ini adalah kali pertama ia bertemu seorang pria dengan benar seperti ini, ternyata sangatlah mendebarkan. Sungguh perasaan panas, tubuh melemah, hingga hati yang nyeri seakan terkombinasi tanpa memberi dirinya sendiri ruang. Perasaan yang aneh.
" Sebenarnya saya ..." lalu menengok ke kanan dan kiri yang terdapat beberapa pelayan mengelilingi di ruang tamu yang cukup luas ini.
" Tidak bisakah kita ke ruang kerja anda saja ?"
Si pria tampak menarik ujung bibir, " Ternyata kamu gadis yang cukup berani. Aku cukup terkejut."
Hah ? berani katanya ? emang Lo kira mo apa di ruang kerja !? dasar !
Namun ia tetap berdiri dan mulai melangkah, " Ikutlah denganku calon istriku ..."
Hiii ! ogah !
Hingga akhirnya keduanya sampai di ruang kerja, " Bicaralah." titahnya setelah terduduk di kursi kerjanya.
" Sebenarnya ..." Ia nampak memberanikan diri menatap mata si pria." Saya kurang setuju dengan perjodohan ini. Tak bisakah kita bekerja sama tanpa hubungan itu ?" ucapnya dengan mata yang sedikit menyipit, sungguh sebenarnya ia sangat takut.
__ADS_1
Si pria tampak terdiam beberapa saat, menatap pada Rindi yang tengah berdiri dari atas sampai bawah. Sebenarnya ia sendiri juga tak mau menikah, tapi bujuk rayu Mama Rindi telah mempengaruhinya dan akhirnya menerimanya. Tapi sang anak malah menolak. Ini sedikit rumit.
" Aku adalah seorang pria bebas yang tak ingin terkekang. Tapi, tak dipungkiri aku memang membutuhkan seorang istri untuk menunjang perluasan bisnis dan tak ada gosip miring yang akan merugikan ku nantinya. Dan Mamamu bersedia memberikanmu. Aku hanya menerima tawaran. Jadi bicarakan sendiri dengan Mamamu jika ada penolakan. Mengerti Nona ?"
Dia benar-benar tak terkalahkan.
" Baiklah saya mengerti."
Ternyata memang tak mudah. Sudahlah, lebih baik aku mencari Mayra.
" Permisi Tuan." ucapnya hormat, lalu keluar dari ruangan.
Namun yang tak di sangka, ada seorang wanita paruh baya yang masih terawat dan terlihat begitu cantiknya memasuki Rumah tersebut.
" Heii ada siapa ini ?" ucapnya dengan senyum manis, menghampiri Rindi dan mengelus pelan lengannya.
" Saya ..." sebenarnya ia cukup bingung harus memperkenalkan diri sebagai siapa.
" Atau kamu yang mau nikah ...."
" Rekan bisnis Mbak." si pria tampak memotong ucapan sang Kakak.
" Ouhh ... Lalu ? pacarmu Yaa ?" masih dengan tersenyum, senyum menggoda lebih tepatnya.
" Ya sudah Tante saya permisi ..."
" Eeiii... Mau kemana ? hari ini anak Tante mau MENIKAH," ia memekik dengan sangat riang gembira. Ia langsung terbang ke Ibu Kota begitu mendengar kabar itu. Dan ternyata masih belum terlambat. Ia sangat gembira, walaupun awalnya kesal karena di beritahu mendadak.
" Kamu di sini saja ya ... Wahh ... Jarang sekali Lo dia membawa wanita ke rumah. Salut Tante sama kamu ..."
" Tapi Tan ... Itu ... Anu ..." Rindi tampak sangat kebingungan untuk memilih kata yang tepat. Tapi Mama Linda tak perduli dengan tenang tetap menggandengnya menuju lantai dua.
Mayra bagaimana ? seseorang tolong aku !!
__ADS_1